Masih Belum Waras, Apa yang Salah dari Chelsea?

spot_img

Kirain Manchester United sudah sangat memalukan. Eh ternyata Chelsea jauh lebih jago mempermalukan diri. Kedua tim bukanlah rival sebagaimana Chelsea dengan Arsenal atau Manchester United dengan City. Berpisah jarak yang juga cukup jauh. Chelsea di London dan Manchester United di Kabupaten Manchester.

Namun kedua tim mengemban misi yang sama. Selain sama-sama berusaha untuk minimal tidak kalah, keduanya juga sedang berlomba jadi bahan meme di seluruh dunia. Asyik betul, hampir tiap pekan kita akan disuguhi hiburan dari dua klub itu.

Di antara dua tim itu, Manchester United sepertinya mendingan. Setidaknya walaupun tampil buruk, tapi masih bermain di Liga Champions. Kalau Chelsea, sudahlah cuti di kompetisi Eropa, hampir selalu membanyol di setiap pekannya. 

Padahal Chelsea juga sudah membeli banyak pemain. Tidak sampai di situ, The Blues juga sudah merekrut Mauricio Pochettino, pelatih yang katanya akan mereparasi tim. Tapi mana? Oke masih permulaan, namun apa yang disebut perubahan itu juga toh belum kelihatan. Chelsea masih jauh dari kata waras.

Catatan-Catatan Buruk

Sejauh ini Chelsea tampil sangat mengesankan, tapi buat lawan-lawannya. Dalam lima laga yang sudah dilakoni di Premier League, The Blues baru memperoleh lima poin saja. Hasil dari satu kemenangan, dua kali seri, dan dua kali menelan kekalahan. Satu-satunya kemenangan yang diperoleh Chelsea awal musim ini adalah menghadapi Luton Town.

Ya, Luton Town. Anda sama sekali tidak salah dengar. Itu lho klub yang kalau di Indonesia tidak jauh berbeda sama Persiraja. Tidak hanya itu, sebelum pekan ke-6 Liga Inggris bergulir, Chelsea baru memenangkan tujuh laga saja selama tahun 2023. Ya, hanya menang tujuh laga dalam sembilan bulan!

Hampir semua tim yang dikalahkan Chelsea tahun ini adalah tim-tim yang kekuatannya lebih lemah dari mereka. Crystal Palace, Leeds, Leicester, Bournemouth, Wimbledon, dan Luton Town. Paling hanya saat melawan Borussia Dortmund di leg kedua 16 Besar Liga Champions musim lalu yang bisa dibanggakan.

Selain karena Dortmund adalah tim papan atas Bundesliga, Chelsea meraih kemenangannya pun meyakinkan, yakni 2-0. Sisanya, ya Anda tahu sendiri. Laga melawan Nottingham Forest yang seharusnya dimenangkan, eh malah kalah. 

Padahal komposisi skuad Chelsea unggul. Sudah begitu mainnya di Stamford Bridge. Kalau begitu kan, kita jadi curiga jangan-jangan penggemar The Blues yang hadir justru menyemangati Nottingham Forest, alih-alih timnya sendiri.

Banyak Pemain Kena Kartu

Satu lagi rekor Chelsea yang menyenangkan lawan-lawannya adalah banyak dari para pemainnya mengoleksi kartu kuning. Menurut Transfermarkt, ada sembilan pemain yang sudah kena kartu kuning. Striker yang sangat tajam, Nicolas Jackson menjadi pengoleksi kartu kuning terbanyak sejauh ini, yaitu empat kartu kuning.

Sementara Ben Chilwell, Axel Disasi, Ian Maatsen, Enzo Fernandez, dan Carney Chukwuemeka masing-masing mendapat dua kartu kuning. Lalu Raheem Sterling; Conor Gallagher; dan sayap cepat dambaan kita semua, Mykhailo Mudryk sama-sama mengantongi satu kartu kuning.

Banyaknya pemain yang dikartu kuning menandakan bahwa para pemain The Blues lebih suka melakukan pelanggaran daripada mencetak gol atau asis. Ini selain menguntungkan bagi lawan, juga merugikan. Tidak hanya bagi lawan yang dilanggar, tapi juga merugikan buat Chelsea itu sendiri, terutama sang pelatih.

Lemah di Sektor Sayap

Dalam tulisannya di situs Premier League, penulis sepak bola Alex Keble menganalisis bahwa salah satu kelemahan Chelsea adalah di sektor sayap. Lebih spesifiknya sayap kiri. Kita semua tahu siapa pelakunya. Di laga kontra Liverpool, sayap kiri The Blues padahal cukup meyakinkan.

Pochettino menaruh Carney Chukwuemeka di sana. Pergerakan mantan pemain Aston Villa itu bisa membahayakan. Di laga kontra West Ham bahkan Chukwuemeka bisa mencetak gol. Sayang ia harus ditarik keluar karena cedera. Setelah kehilangan Chukwuemeka, sayap kiri Chelsea seperti terkena oyot mimang.

Di laga melawan West Ham, ketika Chukwuemeka ditarik keluar, Mudryk menggantikannya. Dengan harga yang lebih mahal, Mudryk punya kemampuan yang lebih hebat dari Chukwuemeka. Itu idealnya. Tapi Mudryk sejauh ini bukan tipe pemain yang suka memenuhi ekspektasi. Alhasil setelah Chukwuemeka ditarik, Chelsea justru kalah dari West Ham 3-1.

Sektor kiri Chelsea lemah dalam kreativitas. Chilwell saja baru enam kali berkontribusi dalam menciptakan peluang tembakan dari permainan terbuka. Enzo yang terkadang menggantikan peran Chukwuemeka justru lebih sering bergerak ke dalam. Kelemahan sektor kiri Chelsea ini terlihat di laga kontra Nottingham Forest.

Penyelesaian Bapuk, Bertahan Apalagi

Awal musim ini penyakit Chelsea masih sama. Tidak produktif dalam mencetak gol. Musim lalu The Blues mencatatkan rekor gol tersedikit mereka, yaitu 38 gol. Kini dalam lima laga Premier League, Chelsea hanya bisa mencetak lima gol saja. Itu artinya dalam setiap laganya, The Blues cuma mampu menceploskan satu gol saja.

Padahal jumlah tembakan Chelsea tidak buruk-buruk amat. Mengutip Fbref, dalam lima laga, Chelsea sudah mengemas 80 tembakan. Kalau dirata-rata 16 tembakan per laga. Banyak kan? Tapi masalahnya, para pemain Chelsea sekadar menendang saja tanpa bisa mencetak gol. Tak jauh beda dengan Alfeandra Dewangga atau Hansamu.

Alhasil, menurut The Athletic, Chelsea punya persentase dalam mengubah tembakan menjadi gol terendah ketiga di Premier League, yaitu 6,2% dari jumlah shot-nya. Angka itu hanya unggul dari Luton Town (4,7%) dan Everton (3%).

Nicolas Jackson menjadi pemain yang paling sering melepas tembakan yaitu 18 kali. Tapi pemain yang dibeli dari Villarreal itu baru mencetak satu gol saja. 17 bola hasil tembakan Jackson sisanya malah nyasar ke monas.

Selain lupa caranya nyetak gol, Chelsea juga lupa caranya bertahan. Apalagi ketika mendapat serangan balik. Transisi bertahan Chelsea sangat buruk. Menurut Keble masalahnya ada pada Colwill dan Thiago Silva. Kedua pemain ini masih belum memiliki komunikasi yang baik.

Lawan juga sering memanfaatkan celah di antara kedua pemain itu. Tiga gol yang masuk ke gawang Chelsea, plus satu gol offside Mohamed Salah semua terjadi saat momen transisi yang memanfaatkan celah yang dibuat Thiago dan Colwill. Chelsea juga lemah dalam mengantisipasi bola mati. The Blues kebobolan dua gol dari situasi bola mati.

Faktor Mauricio Pochettino

Chelsea sebetulnya memiliki kelebihan dari segi kedalaman skuad. Pochettino diberi kemudahan dalam mengatur taktik dan strategi dengan pemain yang tersedia. Namun, yang terjadi tidak semudah itu. Pochettino memang cepat dalam menentukan taktik, cepat pula dalam menerapkan gaya permainannya dan membangun formasi, tapi untuk menentukan 11 terbaik masih sulit.

Eks manajer Tottenham Hotspur itu masih meraba-raba. Tak ayal formasinya sering berubah-ubah. Kadang 4-3-3, di lain waktu menjadi 3-4-2-1. Para pemain juga acap kali dirotasi oleh Pochettino. Perubahan bentuk yang rumit semacam ini sengaja dirancang untuk mengelabui lawan.

Namun, yang terjadi di lapangan justru pemainnya sendiri yang terkelabui. Rotasi membuat pemain sulit dilacak bahkan oleh temannya sendiri. Pochettino juga sering mengandalkan improvisasi dari para pemainnya. Tapi para pemain Chelsea yang kebanyakan masih muda tak cukup baik dalam melakukan hal itu.

Anehnya, Pochettino justru berdalih bahwa penampilan buruk Chelsea disebabkan karena banyak pemain yang cedera. Wesley Fofana, Nkunku, Chalobah, sampai Chukwuemeka memang betul masih cedera. Namun, terasa wagu jika Pochettino berkata demikian. Toh yang kemarin melawan Bournemouth itu pemain bola, bukan batang korek.

Chelsea bagaimanapun mesti berbenah. Sebab kalau begini terus, bisa-bisa Chelsea menjelma bukan lagi klub sepak bola, melainkan komunitas siraman rohani, yang tiap pekan anggotanya diminta belajar bersabar dan tawakal di tengah keterpurukan.

Sumber: talkSPORT, PremierLeague, FootballTransfers, TheAthletic, TheAthletic, 90Min

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru