Dalam sepakbola, keberadaan seorang penjaga gawang menjadi salah satu hal yang sangat penting. Tanpa penjaga gawang yang tangguh, tim dengan permainan menawan sekalipun mustahil untuk mendapatkan kemenangan. Hingga sekarang, telah banyak penjaga gawang hebat yang kualitasnya tak perlu diragukan lagi. Satu yang mungkin masih diingat adalah Peter Schmeichel.
Pemain asal Denmark itu menjadi salah satu penjaga gawang terbaik dunia pada dekade 1990-an. Saat itu, kiper kelahiran 18 november 1963 tersebut memperkuat tim raksasa asal Inggris, Manchester United. Schmeichel bergabung dengan tim Setan Merah selama sembilan musim yakni pada 1991 – 1999.
Selama memperkuat Manchester United, Kiper yang mengantarkan Denmark menjadi juara piala eropa 1992 itu mengemas 398 laga selama karirnya di Old Trafford. Tercatat, Schmeichel membantu Setan Merah merengkuh 5 titel Liga Inggris, 3 FA Cup, satu gelar Liga Champions dan beberapa trofi lain.
Kontribusi Schmeichel sangat besar kepada Manchester United. Berkat ketangguhannya di bawah mistar, jaring gawang Manchester United sulit untuk digetarkan oleh tim lawan. Performa Schmeichel sungguh luar biasa. Salah satu pertandingan terbaik dalam karirnya berseragam Manchester United adalah saat melawan Newcastle United di ajang Liga Inggris musim 1995/96.
Pada musim tersebut, Newcastle United yang dilatih oleh Kevin Keegan merupakan pesaing kuat Manchester United untuk memburu gelar. Betapa tidak, hingga 20 januari 1996, mereka sudah unggul 12 poin dari tim Setan Merah di papan atas klasemen Liga Inggris. Akan tetapi, kedigdayaan Newcastle lambat laun mulai melemah di paruh kedua kompetisi musim 1995/96.
Hingga puncaknya terjadi pada laga yang digelar pada 4 maret 1996 di stadion St James Park, ketika mereka kedatangan Manchester United. Skuad asuhan Sir Alex Ferguson datang ke markas Newcastle bermodalkan lima kemenangan secara beruntun, termasuk mengalahkan Bolton Wanderers 6-0. Sementara di kubu The Magpies, mereka menelan empat kali kekalahan dalam enam pertandingan pada rentang januari-februari. Selisih poin mengecil menjadi empat angka saat kedua tim bertemu pada 4 maret 1996.
Pada pertandingan inilah, momentum perebutan gelar juara pindah ke tangan Manchester United dan Schmeichel disebut-sebut sebagai pahlawan MU. Meski malam itu, Eric Cantona menjadi pahlawan kemenangan Setan Merah lewat gol tunggalnya. Tetapi, jika bukan karena ketangguhan Schmeichel, hal itu akan menjadi cerita yang berbeda. Pasalnya, Schmeichel berhasil mematahkan serangan demi serangan The Magpies.
Pada laga tersebut, United sebenarnya tidak menurunkan kekuatan terbaiknya. Khususnya di lini belakang, Fergie terpaksa menurunkan pemain yang tidak seperti biasanya, karena Gary Pallister harus absen akibat cedera kepala. Pelatih asal Skotlandia itu lalu menempatkan Denis Irwin yang pernah diandalkan di bek tengah bersama Steve Bruce, sementara Phil Neville mengisi bek kiri dengan saudaranya Gary di sektor bek kanan. Di kubu Newcastle, pelatih Kevin Keegan menurunkan sebagian besar pemain terbaiknya, termasuk duet lini depan Les Ferdinand dan Faustino Asprilla.
Sejak peluit pertama dibunyikan, Newcastle yang berhasrat merengkuh gelar Liga sejak 1927 langsung tancap gas melancarkan serangan. Sang striker Les Ferdinand mempunyai dua peluang emas dalam lima menit pertama. Sayang, upayanya masih dapat digagalkan oleh Peter Schmeichel.
Peluang pertama didapat Ferdinand setelah menerima umpan dari Asprilia. Ia mengontrol bola dengan pahanya dan menusuk ke kotak penalti United. Namun, timing yang tepat dari Schmeichel mampu menggagalkan peluang emas Ferdinand.
Tak berselang lama, Ferdinand kembali mempunyai peluang emas dan lagi-lagi Asprilia terlibat dalam penciptaan peluang emas tersebut. Asprilia yang menguasai bola di daerah pertahanan United lalu menyodorkan bola kepada Ferdinand yang tengah berlari dengan dikawal oleh Steve Bruce.
Striker asal Inggris itu berhasil menerima bola dengan baik,lalu melepaskan tendangan keras tapi masih bisa ditepis Schmeichel dengan tangan kirinya. Schmeichel yang melihat lini belakang timnya tampak lengah mencoba mengingatkan rekan-rekannya bahwa waktu pertandingan masih panjang dan meminta mereka untuk tetap fokus.
Schmeichel kemudian kembali melakukan penyelamatan gemilang dari upaya Peter Beardsley, Asprilla dan Rob Lee. Kiper berjuluk The Great Dane itu benar-benar tidak tergoyahkan pada laga itu, tetapi disamping hal tersebut, ia juga kerap dinaungi keberuntungan. Salah satunya seperti yang terjadi di babak pertama. Schmeichel mendapat keberuntungan ketika tendangan bebas pemain Newcastle Philippe Albert membentur mistar gawang.
Keberuntungan tak sampai disitu, bola rebound pun gagal dimanfaatkan dengan baik oleh Les Ferdinand.
Schmeichel melakukan banyak penyelamatan spektakuler sepanjang karirnya di Manchester United, salah satunya yang ia lakukan malam itu di St James Park. Ketangguhan Schmeichel di bawah mistar, membuat laga berakhir imbang 0-0 hingga babak pertama selesai.
Pada babak kedua, Manchester united berhasil memecah kebuntuan lewat aksi Eric Cantona di menit 51. Menerima umpan silang Phil Neville, Cantona melepas tembakan first time memantul ke tanah dan menjebol gawang Newcastle yang dikawal Pavel Srnicek. Pada sisa waktu yang ada, kedua tim saling berbalas melancarkan serangan. Namun, buruknya penyelesaian akhir membuat tak ada gol tambahan yang tercipta.
Striker Newcastle, Les Ferdinand sempat kembali memiliki peluang. Menerima umpan silang dari Peter Beardsley di sisi kanan, Ferdinand berhasil menanduk bola tersebut ke arah gawang. Tapi lagi-lagi kehebatan Schmeichel mampu menggagalkan upaya The Magpies untuk mencetak gol.
Beberapa saat kemudian, Schmeichel hampir saja membuat assist. Kiper Denmark itu menendang bola jauh ke area pertahanan lawan. Tetapi Andy Cole yang menerima bola tersebut gagal memanfaatkannya menjadi gol ketika sudah berhadapan dengan kiper lawan.
Jelang berakhirnya pertandingan, Schmeichel kembali melakukan penyelamatan gemilang. Kali ini dari ancaman Rob Lee yang berusaha memanfaatkan bola muntah hasil sundulan Ferdinand di kotak penalti United. Satu reflek tangan kanan Schmeichel menggagalkan peluang emas Newcastle tersebut.
Tim tuan rumah terus berupaya mencetak gol penyeimbang di waktu tersisa. Pemain asal Kolombia, Faustino Asprilla melakukan satu tendangan terakhirnya dari luar kotak penalti, tapi tembakannya cukup lemah dan dengan mudah ditangkap oleh Schmeichel.
Skor 1-0 untuk kemenangan United tak berubah hingga wasit meniup peluit akhir. Kalau bukan karena Schmeichel, mungkin saat itu gawang United sudah kebobolan banyak gol. Di sisi lain, kekalahan itu menghancurkan hati Newcastle yang sedang berupaya merebut gelar juara Liga Inggris.
Pada pertandingan itu, Newcastle sebenarnya memiliki 61% penguasaan bola da 16 upaya tendangan ke gawang tetapi tidak bisa mencetak gol. Ini adalah kekalahan kandang pertama Newcastle musim tersebut dan memangkas keunggulan mereka menjadi hanya satu poin.
Mengomentari kekalahan Newcastle tersebut, Schmeichel mengatakan Newcastle tak memiliki seorang manajer seperti Sir Alex Ferguson. Newcastle, menurutnya, sulit diprediksi dan memiliki tim yang fantastis. Namun, mereka tak memiliki kepercayaan diri seperti yang dimiliki Fergie.
“Dia tahu kami dapat bermain seperti yang kami inginkan dan kami dapat melakukan yang terbaik untuk mengalahkan mereka,” Ucap Schmeichel.
Kemenangan atas Newcastle di St James Park benar-benar mengubah peruntungan Manchester United. Sejak itu, United hanya kehilangan lima poin pada pertandingan tersisa. Klub yang bermarkas di Old Trafford itu pada akhirnya mengakhiri kompetisi sebagai juara dengan raihan 82 poin, unggul 4 angka dari The Magpies yang berada di urutan kedua.
Bagi Schmeichel, setelah mengantarkan United meraih gelar Liga Inggris 1996, ia tetap di Old Trafford selama tiga musim lagi dan baru meninggalkan The Reds Devils setelah memenangkan Liga Champions pertama klub sejak 1968 pada musim 1998/1999.


