Akhirnya, setelah lama dirumorkan, pada 10 Agustus kemarin Paris Saint-Germain resmi mengumumkan Lionel Messi sebagai pemain barunya. Dalam keterangan resminya, La Pulga dikontrak selama 2 tahun dengan opsi perpanjang hingga Juni 2024.
Kabarnya, pemenang Ballon d’Or enam kali itu bakal menerima gaji bersih sebesar 35 juta euro permusim. Tak bisa dipungkiri bahwa kedatangan Lionel Messi memang sangat menguntungkan bagi PSG. Selain menguntungkan secara teknis, kedatangan La Pulga juga menguntungkan secara finansial.
Lionel Messi joins PSG… HERE WE GO! Total agreement completed on a two-years contract. Option to extend until June 2024. Salary around €35m net per season add ons included. 🇦🇷🇫🇷 #Messi
Messi has definitely accepted PSG contract proposal and will be in Paris in the next hours. pic.twitter.com/DiM5jNzxTA
— Fabrizio Romano (@FabrizioRomano) August 10, 2021
Pengaruh Lionel Messi Terhadap Sektor Finansial PSG dan Ligue 1
Bukti pertama terlihat di penjualan jersey Lionel Messi di official store PSG. Begitu diresmikan, jersey Messi langsung laku keras. Antrean panjang terjadi di luar toko resmi PSG. Tujuan mereka sudah pasti, yakni membeli jersey Messi dengan nomor punggung 30.
Fans lining up for the new Messi jersey outside the PSG club shop this morning.
This is what a superstar signing looks like 😍pic.twitter.com/6HUXm4EbMQ
— Owuraku Ampofo (@_owurakuampofo) August 11, 2021
Efek positif juga terlihat di media sosial. Hanya dalam waktu 48 jam pasca diresmikannya transfer Lionel Messi, pengikut akun instagram PSG langsung bertambah sebanyak 5 juta. Hal tersebut tentu akan berdampak sangat positif terhadap nilai brand PSG dan keuntungan komersial mereka.
PSG’s absurd follower growth is more than any American football franchise has total 📈 pic.twitter.com/5iP3oJfZTt
— ESPN FC (@ESPNFC) August 11, 2021
Selain memberi pengaruh positif terhadap finansial PSG, kehadiran Lionel Messi juga bakal menghadirkan keuntungan bagi Ligue 1 Prancis. Pasalnya, Ligue 1 yang sudah kickoff sejak 6 Agustus kemarin sebenarnya sedang mengalami krisis finansial. Dibanding liga top Eropa lainnya, pendapatan klub Liga Prancis dari sektor hak siar TV jadi yang paling kecil.
Masalah tersebut bermula dari batalnya kontrak kerjasama hak siar TV dengan Mediapro senilai 3,25 miliar euro selama 4 musim. Ligue 1 sempat kesulitan mencari pengganti Mediapro yang di musim lalu tidak membayar kewajibannya selama 4 bulan. Hal tersebut sempat membuat klub-klub Liga Prancis dikabarkan terancam bangkrut.
Kini, Ligue 1 Prancis memang punya Amazon yang membayar hak siar TV mereka senilai 275 juta euro pertahun. Sayangnya, angka tersebut masih sangat jauh dibanding nominal hak siar TV di Premier League, La Liga, Serie A, dan Bundesliga.
Dengan hadirnya Messi, Ligue 1 sangat diuntungkan, khususnya dari segi pamor. Liga yang kerap disebut “farmers’ league” alias “liga petani” itu kini punya mega bintang yang sangat menjual di sektor komersial dan akan meningkatkan daya tarik kompetisi.
The farmers have a new 🐐… pic.twitter.com/4Vd2N52z7v
— Ligue1 English (@Ligue1_ENG) August 10, 2021
Kedatangan Messi Membuat Kekuatan PSG Terasa “Overpower”
Akan tetapi, kedatangan Lionel Messi juga punya dampak buruk, yakni membuat peta kekuatan di Ligue 1 makin tidak seimbang. Kedatangan Messi jelas membuat skuad PSG terlihat sangat mengerikan, khususnya di hadapan klub Liga Prancis lainnya. Bagaimana tidak, sebelum kedatangan Leo Messi, di bursa transfer musim panas ini Les Parisiens sudah mendatangkan banyak pemain bintang.
Mulai dari Georginio Wijnaldum yang didatangkan secara gratis dari Liverpool. Lalu ada Achraf Hakimi yang ditebus dari Inter Milan dengan mahar 60 juta euro. Tak lama kemudian, Sergio Ramos datang usai kontraknya di Real Madrid tak diperpanjang.
Pasca Euro 2020, PSG juga meresmikan kedatangan Gianluigi Donnarumma, pemain terbaik Euro 2020 yang kontraknya juga tak diperpanjang AC Milan. Dan yang terakhir, Lionel Messi juga datang secara gratis dari Barcelona dan melengkapi skuad mengerikan PSG yang sudah dihuni banyak pemain bintang nan mahal, seperti Kylian Mbappe, Neymar, Marco Verratti, hingga Angel Di Maria.
PSG’s summer signings:
☑️ Hakimi – €60m
☑️ Wijnaldum – Free
☑️ Ramos – Free
☑️ Donnarumma – Free
☑️ Messi – FreeThe best transfer window ever? 🔥 pic.twitter.com/5Mwpz8XL2z
— Goal (@goal) August 10, 2021
Tak ayal, aktivitas transfer PSG di musim panas ini disebut jadi yang terbaik sepanjang sejarah sekaligus membuat skuad mereka terasa overpower. Rasanya, gelar juara Ligue 1 Prancis bakal jadi milik PSG lagi. Namun, apakah hal itu benar adanya?
Meski terlihat mewah, PSG tetap perlu membuktikannya di atas lapangan hijau. Pasalnya, masalah utama mereka adalah skuad cadangannya yang terasa kurang menjanjikan. Hal itu terbukti di ajang Trophee des Champions 2021. Berjumpa dengan juara bertahan Lille, PSG kandas 1-0.
Padahal di laga tersebut, Mauricio Pochettino sudah menurunkan sebagian pemain terbaiknya, seperti Presnel Kimpembe, Ander Herrera, dan Mauro Icardi. 2 rekrutan anyarnya, yakni Achraf Hakimi dan Georginio Wijnaldum juga ikut dimainkan. Akan tetapi, dengan skuad seperti itu, PSG tetap kalah.
Kekalahan PSG di ajang Piala Super Prancis itu mungkin bisa dimaklumi. Sebab, beberapa pemain andalan mereka masih absen. Bisa juga mereka belum nyetel dengan skema taktik Pochettino. Namun, hal itu sudah cukup jadi bukti bahwa Liga Prancis bukan milik PSG saja.
Lille lift the Trophee des Champions for the first time in club history 🏆 pic.twitter.com/WKQmxX119k
— B/R Football (@brfootball) August 1, 2021
Peta Persaingan Ligue 1 Musim 2021/2022
Hasil di musim lalu juga jadi buktinya. PSG gagal sapu bersih gelar juara kompetisi domestik. Les Parisiens gagal menjuarai Ligue 1 Prancis untuk keempat kalinya secara beruntun. Mereka hanya finish di posisi kedua, beda 1 poin dari Lille yang keluar sebagai juara.
Namun sepertinya, sang juara bertahan Liga Prancis itu tidak akan sekuat musim lalu. Meski sukses menjuarai Piala Super Prancis, secara komposisi skuad, Lille sedang tidak baik-baik saja. Mereka berganti kepemilikan, direktur olahraga Luis Campos sudah lama mundur, dan Christophe Galtier juga mundur dari kursi pelatih.
Beberapa pemain andalan Lille di musim lalu juga hengkang. Mike Maignan, Luiz Araujo, dan Boubakary Soumare sudah tidak ada dalam skuad. Satu-satunya harapan mereka adalah tangan dingin sang pelatih anyar Jocelyn Gourvennec yang baru saja mempersembahkan trofi pertamanya di Piala Super Prancis. Jika ia berhasil meramu sisa-sisa skuad juara Lille dengan bagus, mereka bisa kembali jadi ancaman utama PSG.
Namun, secara finansial dan capaian prestasi dalam beberapa musim terakhir, yang bisa menyamai kekuatan PSG di Ligue 1 adalah AS Monaco. Dimiliki oleh Dmitry Rybolovlev, miliarder asal Rusia, Monaco sebetulnya juga punya kekuatan finansial yang sangat luar biasa. Bedanya, mereka fokus mengembangkan pemain dan menjualnya di kemudian hari.
Musim lalu, Monaco yang sempat terseok-seok di awal musim berhasil finish di tempat ketiga usai ditangani Niko Kovac. Meski tetap menjual beberapa pemainnya seperti musim-musim sebelumnya, skuad AS Monaco masih terlihat menjanjikan.
🇳🇱👉🇫🇷 (again! 😂)@OnsOranje forward Myron Boadu has joined @AS_Monaco_EN 📝#Mercato pic.twitter.com/zM30JUlpsl
— Ligue1 English (@Ligue1_ENG) August 4, 2021
Mereka masih punya Kevin Volland dan Wissam Ben Yedder di lini depan. Cesc Fabregas juga masih bertahan. Ditambah lagi, Monaco telah memperkuat skuadnya dengan meminjam Alexander Nubel dari Bayern Munchen, mendatangkan Myron Boadu dari AZ Alkmaar, dan Ismail Jakobs dari FC Koln. Jika ditangani dengan baik oleh Niko Kovac, skuad Monaco yang rata-rata masih berusia 24 tahun bisa mencapai hasil yang lebih baik ketimbang musim lalu.
Selain Lille dan AS Monaco, Ligue 1 juga punya klub tradisional yang kekuatannya tak boleh diremehkan. Apalagi, beberapa klub Liga Prancis baru saja mengumumkan pelatih barunya. Seperti Lyon yang musim ini ditangani Peter Bosz, mantan pelatih Ajax, Borussia Dortmund, dan Bayer Leverkusen.
Ada pula OGC Nice. Musim ini, mereka ditangani Christophe Galtier, pelatih yang sukses membawa Lille juara Ligue 1 Prancis musim lalu. Sementara juara Liga Prancis 2009, Bordeaux kini dimiliki Gerard Lopez, mantan pemilik Lille. Mereka bakal ditangani Vladimir Petkovic, pelatih yang berhasil membawa timnas Swiss melaju hingga perempat final Euro 2020.
Jangan lupakan pula Marseille, rival abadi PSG di ‘Le Classique’. Dua klub tersukses Prancis itu membentuk derby terpanas di sepak bola Prancis dan pertemuan keduanya tak pernah berakhir tanpa bentrokan. Sejak menjadi kaya, PSG memang lebih superior ketimbang Marseille. Namun, dalam 2 musim terakhir, margin kekuatan keduanya makin menipis.
Jorge Sampaoli, chef du Cartel de Massalia. pic.twitter.com/wMqr7NI2Wa
— 𝐕𝐢𝐧𝐜𝐞𝐧𝐳𝐨 𝐓𝐨𝐦𝐦𝐚𝐬𝐢 (@Vincent_1393) August 4, 2021
Apalagi, sejak musim lalu, Marseille ditangani oleh Jorge Sampaoli, pelatih yang sukses mengantar timnas Chile menjuarai Copa America 2015. Marseille juga memperkuat skuadnya dengan mendatangkan Cengiz Under, William Saliba, Matteo Guendouzi, dan menebus Konrad de la Fuente, lulusan La Masia yang masih berusia 20 tahun.
Memang, tak bisa dipungkiri bahwa kekuatan tim-tim tadi masih berada di bawah level PSG. Namun, selama beberapa tahun terakhir, klub-klub Prancis mulai berbenah untuk memutus dominasi Les Parisiens. Dengan banyaknya tim yang berbenah dan makin berhasrat untuk menumbangkan PSG, secara langsung hal itu juga akan menambah level persaingan di Ligue 1 Prancis.
Mungkin, PSG masih akan jadi favorit juara. Akan tetapi, takada yang mustahil dalam sepak bola. Sebelum peluit panjang dibunyikan, segala kemungkinan masih sangat mungkin terjadi. Yang pasti, siapapun selain PSG, bila keluar sebagai juara di akhir musim, mereka akan disanjung setinggi langit. Namun sebaliknya, bila PSG gagal menjadi juara, mereka harus siap jadi pesakitan dan menanggung malu di akhir musim.
***
Sumber Referensi: Tifosy, France24, Get Football News France, Transfermarkt, PSG.


