Kesuksesan Leicester di Premier League merupakan mimpi dari tim-tim medioker Inggris. Kisah The Foxes menjuarai Liga Inggris pada musim 20015/16 masih terasa seperti dongeng hingga saat ini. Tak hanya itu, Leicester juga mencetak pemain-pemain bintang. Nama-nama seperti Ben Chilwell, Riyad Mahrez, dan N’Golo Kante kini jadi nama besar di Premier League.
Namun, layaknya roda kehidupan yang terus berputar, kesuksesan Leicester juga tidak abadi. Dan musim ini seperti jadi musim terkelam Leicester di Premier League. Enam pertandingan, lima kali kalah, satu kali imbang, dan tidak pernah menang membuat Leicester terpuruk di dasar klasemen Premier League. Seburuk itu performa The Foxes musim ini. Lalu mengapa Leicester bisa seterpuruk ini?
Daftar Isi
Tidak Membeli Pemain yang Tepat
Sang pelatih, Brendan Rodgers mengakui strategi transfer Leicester musim panas ini memang buruk. Pemain-pemain yang dibeli Leicester musim ini hanya pemain cadangan. Leicester hanya kedatangan dua pemain kelas menengah. Alex Smithies, penjaga gawang dari Cardiff dan Wout Faes, pemain dari klub Prancis, Stade Reims.
A first outfield signing of the window at the King Power, reports @CharDuncker
Leicester City have signed Wout Faes for about £15million. The 24-year-old centre back joins on a five-year deal pic.twitter.com/AznXKLMUMt
— Times Sport (@TimesSport) September 1, 2022
Alhasil skuad Brendan Rodgers tidak berubah dari musim lalu. Padahal di bursa transfer musim panas ini, klub-klub liga inggris sangat aktif dalam pembelian pemain. Leicester perlu menyegarkan kembali susunan pemainnya untuk bisa bersaing di Liga Inggris.
Buruknya transfer Leicester musim ini juga bukan salah dari Brendan Rodgers. Dirinya merasa tidak mendapat bantuan dan dukungan dari manajemen klub pada bursa transfer musim panas ini. Namun, apa mau dikata, bursa transfer sudah ditutup dan Leicester diharuskan memanfaatkan semaksimal mungkin skuad yang ada.
Kehilangan Pemain Krusial
Bermain dengan skuad yang masih sama dengan musim lalu, seharusnya tidak terlalu buruk bagi Rodgers. Sebab, mereka setidaknya menang di final Community Shield melawan Manchester City dan berhasil sampai ke semifinal UEFA Europa Conference League. Namun, banyak pemain krusial dari skuad itu yang hengkang musim ini.
Kehilangan terbesar Leicester adalah dengan melepas Kasper Schmeichel ke Nice. Ini tentu langkah buruk. Leicester tak hanya kehilangan seorang kiper berkelas, tapi juga kapten, panutan, dan pemain senior yang sudah membela klub selama 11 tahun.
Kasper Schmeichel’s 11 year spell at Leicester has come to an end.
The 35-year-old has joined Nice 🇫🇷 pic.twitter.com/KSzvIVtrfU
— GOAL (@goal) August 3, 2022
Danny Ward tidak sanggup jadi pengganti Schmeichel di bawah mistar gawang leicester saat ini. 16 kali kebobolan dalam enam laga jadi buktinya. Pelapis Ward, Daniel Iversen dan Alex Smithies juga masih belum bisa diandalkan.
Selain Schmeichel, Leicester juga kehilangan pemain krusial lain. Brendan Rodgers mengaku menyesal karena tidak bisa menjadikan pemain pinjaman, Ademola Lookman sebagai pemain permanen. Lookman pergi ke Italia untuk membela Atalanta. Padahal menurut Brendan Rodgers, Leicester bisa membeli Lookman secara permanen.
Kelemahan Leicester pun semakin diperparah setelah kepergian Wesley Fofana ke Chelsea. Meskipun musim 2021/22 diisi oleh cedera, tapi di musim 2020/21 Fofana cukup jadi andalan The Foxes dengan tampil sebanyak 28 kali di Liga.
Badai Cedera
Performa buruk Leicester musim ini juga tidak bisa lepas dari absennya pemain kunci karena cedera. Ricardo Pereira jadi salah satunya. Ia mengalami cedera di area tumit sejak laga pra musim Leicester melawan Sevilla. Pereira diperkirakan baru bisa memulai merumput pada Februari tahun 2023. Dengan absennya bek asal Portugal itu, lini belakang Leicester semakin rapuh.
Pemain lainnya yang masih mengalami cedera adalah Ryan Bertrand. Pemain asal Inggris itu mengalami cedera lutut sejak musim lalu bahkan tidak bermain di pra musim, dan belum bermain sampai hari ini. Belum ada kabar pasti kapan Ryan Bertrand akan kembali bermain untuk Leicester. Namun, hal yang pasti adalah lini pertahanan Leicester semakin rapuh dengan absennya Ryan Bertrand.
Manajemen Keuangan yang Buruk
Performa buruk Leicester musim ini juga tidak lepas dari buruknya manajemen klub dalam mengelola keuangan. Leicester menderita kerugian sebesar 120 juta poundsterling atau sekitar Rp2 triliun. Kerugian tersebut nyaris membuat Leicester kena sanksi UEFA, tapi untungnya tidak karena kerugian itu dinilai dampak dari COVID-19.
Akan tetapi, karena nyaris terkena sanksi UEFA Leicester panik. Mereka takut terkena denda yang lebih besar dan terancam tidak ikut kompetisi Eropa. Leicester pun injak rem dengan menjual pemain yang bergaji besar seperti Schmeichel meskipun dengan harga rendah. Mereka juga jadi semakin hati-hati dalam pembelian pemain.
Sebenarnya ini memang sudah jadi model bisnis Leicester. Yaitu menjual pemain bintangnya, lalu membeli pemain muda potensial sebagai investasi. Namun, kali ini Leicester belum siap. Mereka melepas pemain penting sebelum menemukan pemain muda potensial.
Formasi Tidak Konsisten
Selain masalah pemain dan manajemen klub, Brendan Rodgers sangat sering mengganti taktik di musim ini. Hal itu bisa mengisyaratkan bahwa Brendan Rodgers merupakan pelatih berpengalaman yang kaya taktik. Namun, itu juga bisa berarti bahwa dirinya masih belum menemukan formula yang pas untuk The Foxes musim ini.
Brendan Rodgers seperti masih kebingungan memilih formasi untuk bisa memanfaatkan semaksimal mungkin skuad yang saat ini. Dari formasi 4-3-3, pindah ke 4-2-3-1, berubah ke 4-1-4-1, lalu ke 3-5-2 dan 3-4-3.
Namun biasanya, Brendan Rodgers lebih sering memilih formasi 4-3-3 atau 4-1-4-1 seperti saat melawan Chelsea. Sayangnya, berbagai formasi yang sudah Rodgers lakukan tak berarti. Hasilnya bisa dikatakan nihil.
Rodgers sebenarnya lebih suka menggunakan formasi dengan mengandalkan bek sayap. Dengan bek sayap yang maju sampai setengah lapangan. Bahkan tak jarang masuk ke tengah seperti seorang gelandang tambahan. Namun, karena ia kehilangan pemain kuncinya, Ricardo Pereira akibat dari cedera, skemanya sulit berjalan maksimal.
Masa Depan Rodgers di Leicester
Performa Leicester musim ini memang buruk. Dan mungkin sangat sulit bagi The Foxes untuk sekadar naik ke papan tengah Premier League sampai akhir musim. Brendan Rodgers juga bukannya pura-pura tidak tahu. Ia pasti sadar posisinya terancam. Apalagi mengingat banyak manajer yang dipecat setelah satu performa buruk.
Brendan Rodgers memang jadi pelatih yang dicintai di King Power Stadium. Meskipun performanya tidak cukup baik di musim 2021/22 dan apalagi musim ini. Ajaibnya, pelatih asal Irlandia Utara itu masih mendapat dukungan dari para fans dan petinggi klub.
Brendan Rodgers has said that he will ‘fight to his very last breath’ amid talk that he’s ‘had enough’ Leicester City. pic.twitter.com/7xaNi1FiRn
— Bet9ja (@Bet9jaOfficial) September 10, 2022
Untuk saat ini pun, posisi Rodgers masih aman. Dirinya masih mendapatkan dukungan dari jajaran klub. Kepala rekrutmen baru yang dipekerjakan, Martyn Glover Leicester masih menaruh harapannya kepada Brendan Rodgers. Setidaknya kita bisa melihat performa Rodgers sampai Januari nanti.
https://youtu.be/iK83h-jnVh0


