Jadi Pelatih Chelsea, Momen Pembuktian Graham Potter

spot_img

“Chelsea Football Club dengan senang hati menyambut Graham Potter sebagai Pelatih Kepala baru kami, bergabung dengan kami dalam kontrak lima tahun untuk membawa sepak bola progresif dan pelatihan inovatifnya ke Klub”.

Begitulah bunyi pernyataan Chelsea yang akhirnya resmi menunjuk Graham Potter sebagai pelatih baru mereka. Sebelumnya, The Blues secara mengejutkan memecat Thomas Tuchel tak lama setelah mereka dikalahkan wakil Kroasia, Dinamo Zagreb pada matchday pertama Grup E Liga Champions.

Penunjukan Graham Potter sebagai suksesor Thomas Tuchel tak butuh waktu lama. Sejak awal, nama Graham Potter memang jadi kandidat utama untuk mengisi kursi panas manajer Chelsea.

Demi merekrut pelatih asal Inggris berusia 47 tahun itu, Chelsea dikabarkan harus membayar biaya kompensasi hingga 15 juta pounds kepada Brighton & Hove Albion. Dalam kesepakatannya, Graham Potter membawa serta orang-orang kepercayaannya ke Stamford Bridge. Mereka adalah asisten Billy Reid, pelatih tim utama Bjorn Hamberg dan Bruno, pelatih kiper Ben Roberts dan asisten kepala rekrutmen Kyle Macaulay.

Graham Potter, Pelatih Terbaik Inggris Saat Ini

Nama Graham Potter memang terus naik daun dari musim ke musim. Ia mendapat pujian atas keberaniannya menerapkan gaya sepak bola menyerang nan atraktif di tim sekelas Brighton & Hove Albion.

Hasil bagus dengan Brighton yang notabene hanyalah tim papan tengah ke bawah di Liga Inggris membuat Graham Potter dipuji dan disebut sebagai pelatih terbaik Inggris saat ini. Salah satu yang mengakui pujian tersebut adalah legenda Chelsea, John Terry.

“Saya suka bagaimana Brighton bermain dan dia harus menjadi salah satu manajer muda terbaik,” kata John Terry dikutip dari Metro.

Sementara itu, dalam kesempatan berbeda di musim lalu, manajer Manchester City Pep Guardiola pernah mengaku sebagai penggemar berat Graham Potter.

“Brighton menyenangkan untuk ditonton, menyenangkan untuk dianalisis. Pada saat yang sama, ketika Anda melihatnya, Anda khawatir tentang kualitasnya. Kami harus berada pada standar dan level tertinggi untuk bersaing dengan mereka. Saya benar-benar penggemar berat Graham Potter,” kata Pep Guardiola dikutip dari Metro.

Graham Potter memang punya daya magisnya sendiri. Sama seperti kebanyakan pelatih hebat lainnya, dahulu Graham Potter tak punya karier mentereng sebagai pesepakbola. Berposisi sebagai bek kiri, Potter lebih banyak menghabiskan kariernya di divisi 2 dan divisi 3 Liga Inggris.

Setelah pensiun, Graham Potter memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya. Ia mendapat gelar ilmu sosial dari Open University dan gelar master dalam bidang kepemimpinan dan kecerdasan emosional di Leeds Metropolitan University. Di institusi terakhir itu pula, Potter nyambi sebagai asisten pelatih. Pekerjaan serupa juga ia lakukan di tim sepak bola University of Hull dan English Combined Universities.

Graham Potter kemudian bertindak sebagai direktur teknis untuk timnas Ghana di Piala Dunia Wanita 2007 sebelum akhirnya memasuki karier profesionalnya sebagai pelatih di penghujung tahun 2010. Potter hijrah ke Swedia dan menandatangi kontrak dengan tim divisi 4 Liga Swedia, Ostersunds.

Singkat cerita, nama Graham Potter harum bersama Ostersunds. Ia berhasil membawa Ostersunds memenangi divisi 4 pada tahun 2011, divisi 3 pada tahun 2012, dan menjadi runner-up divisi 2 pada 2015. Ia juga membawa Ostersunds menjuarai Piala Swedia pada musim 2016/2017 dan membawa klub tersebut lolos hingga babak 32 besar Liga Europa musim 2017/2018. Selama lebih dari 7 tahun di Liga Swedia, Potter 2 kali terpilih sebagai manajer terbaik.

Sempat semusim melatih Swansea City, Graham Potter kemudian ditunjuk sebagai pelatih Brighton di musim 2019/2020. Dalam 3 musimnya menukangi The Seagulls, Potter berhasil membawa klub tersebut mencatat rekor tertingginya di Premier League.

Di musim pertamanya, Potter berhasil mengantar Brighton finish di peringkat 15 dan membuat mereka meraih rekor poin tertingginya di Liga Premier. Di musim keduanya, Brighton hanya finish di peringkat 16. Namun, di musim tersebut, Potter sukses memecahkan rekor Brighton untuk jumlah gol yang dicetak, jumlah kebobolan, dan clean sheet di Premier League.

Musim lalu, rekor Brighton kembali pecah di tangan Potter. Mengumpulkan 51 poin, Brighton dibawanya finish di peringkat 9. Itu jadi pencapaian tertinggi The Seagulls di kasta teratas Liga Inggris.

Terbaru, sebelum bergabung ke Chelsea, Graham Potter sukses membawa Brighton bertengger di peringkat 4 klasemen Premier League berkat raihan 13 poin hasil dari 4 kali menang dan sekali imbang. Di pekan pertama, mereka juga sukses membuat sensasi kala memetik kemenangan 2-1 di kandang Manchester United.

Graham Potter adalah tipikal pelatih yang fleksibel dan adaptif. Formasinya kerap berganti menyesuaikan siapa lawannya. Sejumlah formasi pernah Potter terapkan, mulai dari 4-2-3-1, 4-4-2, 4-1-4-1, hingga 3-4-3. Namun, yang jadi favoritnya adalah 3-4-2-1 atau 3-5-2. Dari susunan formasi, taktik Graham Potter punya kemiripan dengan Thomas Tuchel sehingga harusnya ia bisa langsung nyetel dengan Chelsea.

Taktik Graham Potter juga ofensif dengan berani menerapkan high pressing di sepertiga akhir area lawan. Berbasis penguasaan bola, pasukan Graham Potter membangun serangan dengan mengalirkan bola dengan cepat, baik lewat umpan pendek kaki ke kaki atau long ball dari bek maupun kiper.

Taktik tersebut terbukti ampuh di tim semacam Ostersunds dan Brighton, tetapi belum terbukti di tim besar. Bergabung ke Chelsea adalah momen tepat bagi Graham Potter untuk membuktikan diri sebagai pelatih terbaik Inggris saat ini. Di Chelsea, ia bakal disokong dengan dana yang lebih melimpah dan skuad yang lebih mewah.

Tantangan Graham Potter di Bawah Kepemilikan Todd Boehly

Akan tetapi, Potter juga sudah ditunggu setumpuk masalah di Stamford Bridge. Jika di Brighton ia didukung penuh oleh Tony Bloom dan jajarannya yang sudah berpengalaman, di Chelsea ia akan bekerja di bawah kepemilikan Todd Boehly yang belum berpengalaman mengelola sebuah klub sepak bola.

Tugas Graham Potter juga bakal lebih berat dan berlipat. Potter yang biasa bekerja sama dengan direktur olahraga atau dirtek untuk sementara akan bekerja sendirian. Pasalnya, di Chelsea, jabatan tersebut masih kosong.

Yang lebih penting lagi, Potter bakal mewarisi skuad peninggalan Thomas Tuchel yang tengah bermasalah. Lini belakang mereka yang dihuni nama-nama baru belum padu. Gawang The Blues sudah bobol 9 kali hanya dalam 6 pertandingan, semetara lini depan mereka baru menghasilkan 8 gol saja.

Lini tengah The Blues juga belum menemukan komposisi yang tepat sepeninggal Kante yang cedera. Potter juga punya PR untuk mengembalikan Mason Mount ke performa terbaiknya serta mengembangkan bibit muda semacam Armando Broja dan Conor Gallagher. Disinilah ujian bagi Graham Potter yang terkenal mampu memotivasi dan memaksimalkan potensi anak asuhnya.

Bersama Brigthon, Potter berhasil mengorbitkan banyak nama. Sebut saja Robert Sanchez, Leandro Trossard, Alexis Mac Allister, Enock Mwepu, hingga Marc Cucurella yang kini juga telah berseragam Chelsea.

Potter sendiri punya metode tak biasa dalam membangun chemistry skuadnya. Ia pernah mengatakan pentingnya memiliki kecerdasan emosional. Potter yang memang punya gelar master di bidang kepemimpinan dan kecerdasan emosional menerapkan keahlian tersebut untuk melatih dan membangkitkan potensi anak asuhnya.

Dalam sebuah dokumenter The Guardian berjudul “The Comfort Zone”, Potter mengajak skuad dan staffnya mengikuti berbagai acara team-building seperti kelas menyanyi, kelas menari, hingga mengajak timnya tampil di teater.

“Tentu kami memiliki beberapa tujuan taktis dan Anda bekerja untuk mencoba dan berkembang secara tim agar segala sesuatunya berfungsi, tetapi pada dasarnya Anda ingin seorang pemain pergi keluar dan mengekspresikan diri mereka dan bersikap alami dan bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan,” kata Graham Potter dikutip dari Sportingnews.

Berdasarkan rekam jejak dan metode latihannya, Graham Potter bukanlah tipikal pelatih instan. Ia butuh waktu untuk membangun chemistry dan pondasi yang kokoh demi meraih kesuksesan di Stamford Bridge.

Pertanyaannya, apakah Todd Boehly mampu untuk bersabar?

Banyak yang sangsi dengan durasi kontrak yang diberikan kepada Graham Potter. Tanpa kepercayaan, tanpa kesabaran dan proses yang tekun, kontrak 5 tahun yang diberikan The Blues kepada Graham Potter bakal jadi gimmick belaka.

Meski telah berganti kepemilikan, Chelsea ternyata tetaplah Chelsea. Tak ada standar prestasi yang jelas di Stamford Bridge. Siapapun pelatihnya dan apapun prestasinya, semua rawan dipecat. Oleh karena itulah, Graham Potter harus senantiasa menjaga hubungan baik dengan seluruh jajaran manajemen Chelsea.

Jika Chelsea dan para pendukungnya percaya akan proses dan memberi pelatih baru mereka cukup waktu, niscaya The Blues akan segera kembali ke jalur juara bersama Graham Potter.

https://youtu.be/Us54SU-8l6E
***
Referensi: Sportbible, Metro, Chelsea FC, The Guardian, Sporting News, Bolasport, The Guardian.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru