Alessandro Nesta mungkin sangat identik dengan AC Milan. Namun, dirinya pernah sangat diinginkan oleh Juventus. Bahkan Alessandro Del Piero sampai membujuknya berkali-kali dan menciptakan rumor tentang kepindahan Nesta dari strip merah hitam ke strip putih hitam.
Namun, sebelum proposal dari La Vecchia Signora datang, Nesta buru-buru menutup semua jalur. Nesta paham betul kualitas dan sejarah Juve, tapi menurutnya Juve tak becus mengurus pemain yang telah berjasa pada klub. Mereka tak tahu caranya berterimakasih pada legenda. Benarkah demikian? Berikut adalah bukti Juve “mengusir” pemain-pemain legendanya.
Daftar Isi
Gianluigi Buffon
Pertama ada Gianluigi Buffon. Kurang legenda apa lagi pemain yang satu ini? Buffon sudah memberikan segenap jiwa dan raga untuk Juventus. Bahkan ketika ia pergi jauh ke Prancis untuk membela PSG, mantan punggawa Timnas Italia itu tahu ke mana harus pulang, yakni kembali ke pelukan La Vecchia Signora.
Namun, ketika sedang menjalani periode keduanya bersama Juventus suasana klub sudah tak sama lagi. Klub sudah tak terlalu menaruh hormat kepada Buffon yang sudah termakan usia, mengingat dia kembali ke Juve pada usia 41 tahun. Menariknya, Buffon tak diberikan kesempatan untuk pensiun di Juventus. Buffon justru dibiarkan pergi begitu saja dan akhirnya Parma mau menampung sang pemain.
Padahal Buffon merupakan pemain yang mendatangkan banyak kesuksesan untuk Juventus. Buffon juga tercatat sebagai penampil kedua terbanyak dengan koleksi 685 laga di semua kompetisi bersama Juve. Ia bahkan tetap berseragam Juve ketika klub tersandung Calciopoli tahun 2005. Tapi, Juve tak menunjukan gelagat untuk memberikan penghargaan lebih kepadanya.
Alessandro Del Piero
Tak kalah legend dari Buffon, ada Alessandro Del Piero. Pemain yang dikenal dengan nomor punggung sepuluhnya itu boleh dibilang merupakan kekasih sejati Si Nyonya Tua. Ia merupakan penampil terbanyak klub dengan koleksi 705 laga di lintas kompetisi. Jumlah tersebut ia catatkan dalam rentang 19 tahun dari 1993 sampai 2012.
Sama seperti Buffon, Del Piero juga rela turun ke Serie B kala tim terkena kasus Calciopoli pada 2005. Belasan gelar bergengsi pun sudah diraihnya bersama Juventus. Salah satunya yang paling sulit untuk diulangi di era sekarang adalah trofi Liga Champions musim 1995/96. Oleh karena itu, status Del Piero sebagai legenda Juventus sudah tak terbantahkan lagi.
Namun, kisah cinta Del Piero dengan Juventus berakhir suram. Pada tahun 2012, Juve tak memberikan perpanjangan kontrak dengan alasan usia. Sontak, hal ini membuat gempar Juve dihujani kritik karena tak berusaha lebih untuk mempertahankan sang pemain. Del Piero yang enggan bermain di klub Eropa selain Juve akhirnya hijrah ke Australia bersama Sydney FC.
Leonardo Bonucci
Hubungan Leonardo Bonucci dengan Juventus memang cukup kompleks. Kita tak bisa melupakan sejarah kalau sang pemain pernah berkhianat saat memutuskan membelot ke AC Milan pada tahun 2017 silam. Tapi, sejauh-jauhnya Bonucci pergi rumah yang ia tuju tetaplah Juventus.
Setelah kembali bergabung dengan Juve pada tahun 2018, Bonucci tak langsung diterima oleh fans. Beberapa ada yang menolak kehadirannya karena enggan menerima pemain yang sudah berkhianat. Namun, Bonucci tetap jadi andalan di lini belakang. Sang pemain juga membuktikan komitmennya dengan bermain apik dan menolak tawaran-tawaran dari klub lain.
Meski telah bermain untuk Juventus selama hampir 13 tahun, masalahnya dengan Massimiliano Allegri tak kunjung usai. Allegri lebih memprioritaskan pemain muda ketimbang Bonucci. Puncaknya, pada awal musim 2022/23, Juve memutus kontraknya yang masih tersisa satu tahun. Hal itu sulit diterima karena sang pemain masih ingin berseragam Juve. Tapi pada akhirnya Bonucci hanya pasrah dan gabung Union Berlin.
Giorgio Chiellini
Sebelum Bonucci, Giorgio Chiellini sudah merasakan lebih dulu bagaimana buruknya Juventus dalam memperlakukan pemain yang telah berjasa pada klub. Datang dari Fiorentina pada tahun 2005, Chiellini langsung dihadapkan dengan kasus Calciopoli yang melanda Juventus.
Di saat banyak pemain enggan bertahan dan membantu Juve bangkit, Chiellini tetap bersama untuk berusaha dari nol di Serie B. Kala itu, Chiellini yang masih muda dipandang sebagai bek masa depan Timnas Italia. Dan itu ia buktikan dengan terus bermain apik bersama Juventus. Beberapa gelar bergengsi termasuk sembilan gelar Serie A pun telah diraih.
Sayangnya, Juventus enggan memperpanjang masa bakti Chiellini dengan alasan yang cukup sepele, yakni gagalnya Timnas Italia lolos ke Piala Dunia 2022. Ternyata Chiellini dan Juve punya kesepakatan tidak tertulis kalau Juve akan mempertahankan Chiellini apabila berhasil membawa Italia ke Piala Dunia 2022.
Paulo Dybala
Habis manis sepah dibuang mungkin jadi peribahasa yang tepat untuk menggambarkan karir Paulo Dybala bersama Juventus. Bergabung dari Palermo pada tahun 2015, Dybala awalnya langsung menjadi andalan di skuad Juventus. Ia bahkan menjadi bagian penting dalam meraih gelar Serie A selama lima musim beruntun sejak 2016 hingga tahun 2020.
Namun, perlakuan Juventus terhadap Dybala mulai berbeda saat Cristiano Ronaldo datang pada tahun 2018. Dybala mulai tersisih. Ia tak lagi jadi pilihan utama di skuad Juventus. Kehadiran Ronaldo membuat peran yang diemban Dybala terus tergerus, entah di dalam maupun luar lapangan.
Juve merasa Ronaldo lebih layak dipertahankan karena bisa memberikan motivasi lebih kepada tim. Hal itu semakin menegaskan kalau sudah tak ada tempat lagi bagi Dybala. Kontrak yang sempat disodorkan Juve pun malah ditarik lagi. Perpisahan Dybala pun cukup emosional. Sang pemain tampak tak kuasa menahan air mata.
David Trezeguet
David Trezeguet adalah pemain selanjutnya yang tak mendapat penghargaan lebih dari Juventus. Bergabung pada tahun 2000 dari AS Monaco, Trezeguet jadi ikon baru Juventus kala itu. Pemain berkebangsaan Prancis bahkan sangat betah bermain di Serie A. Itu dibuktikan dengan sepuluh tahun kebersamaannya dengan La Vecchia Signora.
Dalam rentang waktu tahun 2000 hingga 2010, Trezeguet telah menghadirkan dua trofi Serie A dan tercatat pernah menjadi top skor Serie A musim 2001/02. Ia juga jadi salah satu pemain yang tetap bertahan di Juventus saat harus turun kasta akibat kasus pengaturan skor.
Namun, setelah Trezeguet mengalami cedera lutut pada tahun 2008, perannya mulai terabaikan. Ia bukan lagi pilihan utama di skuad Juventus. Dilansir Tribal Football, Trezeguet merasa Juve bisa saja mematikan karirnya karena tak pernah memainkannya. Oleh karena itu, Trezeguet memutuskan hengkang dan bergabung klub Spanyol, Hercules pada tahun 2010.
Claudio Marchisio
Yang terakhir ada Claudio Marchisio. Lahir dan besar di Kota Turin, Marchisio adalah definisi terbaik dari Juventini sejati. Dia lebih dari sekedar pemain biasa bagi sebagian besar fans Juve. Ia bahkan mendapatkan julukan sebagai Pangeran Turin.
Marchisio sendiri merupakan produk akademi Juventus. Total, Marchisio telah berseragam hitam putih selama 25 tahun lamanya. Namun, cedera ligamen yang dideritanya pada tahun 2016 jadi titik balik berubahnya pandangan manajemen kepadanya. Meski Marchisio telah berusaha mati-matian untuk pulih, Juve tak menghargai usahanya.
Menurut ayah Marchisio, Stefano Marchisio, Juventus sering meremehkan sang pemain. Dalam dua musim terakhirnya, Marchisio hanya dipandang sebagai opsi terakhir di sektor lini tengah. Pengabdiannya selama ini seakan tak ada harganya saat tim memutuskan untuk melepasnya ke Zenit Saint Petersburg tahun 2018.


