Lawan Madrid, PSG Jadi Macan, Dihadapan Chelsea, PSG Cuma Kucing Kampung

spot_img

Jika kalian terkejut, mimin pun demikian. Tim sekelas PSG yang baru saja mendapat julukan baru sebagai Raja Eropa, justru merasakan pahitnya kekalahan telak, 3-0 di partai puncak Piala Dunia Antarklub 2025. Terakhir kali raksasa Prancis itu dipermalukan dengan selisih tiga gol terjadi di bulan Oktober 2023. 

Saat itu, Newcastle membantai PSG dengan skor 4-1 di St. James’ Park. Dan kini, setelah dua tahun berselang, mimpi buruk itu datang lagi. Bukan dari Real Madrid, bukan dari Manchester City, tapi dari Chelsea, tim yang nama-nama pemainnya saja sulit untuk dihafal.

Begitulah sepakbola. Tak pernah ada hukum pasti. Tak pernah bisa diprediksi. Lantas, bagaimana Chelsea bisa membuat sang juara Liga Champions musim lalu bertekuk lutut di final Piala Dunia Antarklub? Mari kita bahas.

Keganasan PSG

PSG dan status calon juara di turnamen Piala Dunia Antarklub 2025 adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Apalagi, jika kita melihat performa anak asuh Luis Enrique itu di Amerika Serikat. Meski bermain di keadaan cuaca yang naudzubillah panasnya, PSG tetap bisa mempertahankan determinasi permainan.

Laga demi laga, PSG tak hanya menang, mereka mendominasi setiap lawan. PSG juga mampu membuat klub-klub raksasa lain mati kutu. Atletico Madrid jadi batu sandungan pertama. Tim yang memiliki DNA petarung siap menghentikan laju PSG. Namun, PSG bukan tim yang akan duduk manis menunggu keajaiban. Mereka membongkar blok pertahanan itu dengan sabar. 

Empat gol tanpa balas pun tercipta di Rose Bowl Stadium. Skuad asuhan Diego Simeone benar-benar diajarin main sepakbola sama Lee Kang-in cs. Menurut Fotmob, penguasaan bola PSG saja berada di angka 74% dengan akurasi umpan di angka 95%. Nyaris sempurna. 

Tak berhenti di situ, PSG juga mengalahkan Bayern Munchen dengan skor 2-0 di babak perempat final. Diwarnai dua kartu merah untuk pemain PSG, Munchen tetap tak bisa melawan. Gol kedua PSG malah terjadi di menit 90+6, di saat pasukan Luis Enrique hanya tersisa sembilan orang.

Puncaknya, mengalahkan sang raja Eropa sesungguhnya, Real Madrid dengan skor yang mimin pun tak tega menyebutnya. Madrid selalu punya sesuatu yang PSG tidak punya, yakni sejarah dan keagungan. Namun, PSG datang bukan untuk berlutut pada El Real, melainkan mengambil tahta. Menurut Fotmob, Madrid hanya mencatatkan 32% penguasaan bola dan hanya mencatatkan dua tembakan on target.

Diprediksi Bakal Juara


Dengan performa yang membabi buta itu, tak heran PSG dijadikan sebagai calon juara saat berhasil melangkah ke final. Bagaimana tidak? Lawannya cuma Chelsea. Tim yang tidak menghadapi lawan-lawan berat di laga-laga sebelumnya. Di semifinal saja, Chelsea hanya menghadapi wakil Brazil, Fluminense. 

Klub yang dihadapi sih masih familiar ya, Palmeiras, Los Angeles FC, atau Benfica. Namun, level mereka tak sebesar itu. Beda lah ya sama lawan PSG yang berada di tingkat Bayern Munchen dan Real Madrid. Kesamaan PSG dan Chelsea cuma satu, pernah dikalahkan klub Brazil. Jika PSG dikalahkan Botafogo, maka Chelsea dikalahkan Flamengo.

Secara perjalanan saja, PSG lebih berdarah-darah dan sudah teruji kehebatannya. Maka dari itu, Supercomputer memprediksi bahwa PSG lah yang akan menggondol trofi berbentuk globe itu. Dilansir Sport Illustrated, persentase kemenangan PSG atas Chelsea bahkan mencapai 64,42%. Cukup mutlak.

1 Tahun Persiapan

Tapi PSG lupa, kalau Chelsea juga berstatus juara Eropa. Yaaa, walaupun sekadar kasta ketiga. Secara mental dan DNA juara, Chelsea tak kalah dengan PSG. 

Mungkin, PSG tak pernah menyangka kalau The Blues telah mempersiapkan laga final ini sejak tahun lalu. Dilansir The Athletic, ketika Chelsea mempertimbangkan masa depan sang pelatih, Mauricio Pochettino pada Mei 2024, ada faktor yang dipertimbangkan dengan sangat, yakni keterlibatan di Piala Dunia Antarklub setahun kemudian.

Chelsea memandang Piala Dunia Antarklub adalah turnamen penting yang harus dimaksimalkan. Bahkan, sebelum FIFA memastikan stadion mana yang harus dipakai dan jumlah hadiah yang bisa didapat. Chelsea hanya dijanjikan kalau uang hadiah Piala Dunia Antarklub berpotensi setara dengan Liga Champions.

Bermodalkan informasi itu, Chelsea serius. Pilihan Chelsea cuma dua, bertahan atau memecat Pochettino saat itu juga. Sebab, mengulur waktu hanya akan mengganggu persiapan menuju CWC. Akhirnya Pochettino digantikan Enzo Maresca. Menimbulkan perpecahan memang, tapi semua sudah direncanakan. Maresca memimpin segala persiapan, dari membangun tim, hingga skema permainan.

Enzo Maresca

Saat pertama diperkenalkan sebagai manajer Chelsea, Enzo mungkin hanya berstatus pelatih medioker. Dia belum punya pengalaman sebagai pelatih kepala di Premier League. Namun, Maresca adalah mastermind. Seorang pemikir yang gemar memecahkan teka-teki. Mengetahui lawan mereka di final Piala Dunia Antarklub adalah PSG, Enzo justru bersemangat.

Tim kuat dan susah ditembus pertahanannya bak sebuah game arcade yang menggugah inner child-nya lagi. Analisa mendalam pun dilakukan oleh Maresca dan tim kepelatihannya. Beberapa sampel pun ditemukan. Ternyata PSG bukan tim tanpa kelemahan. Maresca menemukan sektor sayap sebagai area yang bisa dieksploitasi. 

Lalu, bagaimana cara mengeksploitasinya? Chelsea tak begitu mengandalkan lini tengah. Enzo Maresca meninggalkan paham sepakbola indah demi membongkar pertahanan PSG. Umpan-umpan pendek yang terstruktur pun tak terlihat, Chelsea lebih mengandalkan long ball. Namun, bukan hanya sekadar umpan jarak jauh, tapi ini perlu perhitungan yang matang.

Di luar akurasi dan teknik umpan, pemain-pemain Chelsea juga diminta paham akan pergerakan tanpa bola, timing yang pas untuk melepaskan umpan, dan kemampuan duel satu lawan satu. Kita bisa lihat, dalam proses gol pertama Chelsea, dimulai dengan umpan panjang Robert Sanchez yang membelah pertahanan. Lalu, gol kedua juga buah umpan lambung dari Levi Colwill.

Pemain Terbaik

Skema ini juga didukung dengan kematangan berpikir serta kepekaan soal ruang yang dimiliki Cole Palmer. Pemain yang satu ini memang spesial. Manchester City harusnya nyesel ngelepas Palmer. Larinya tak begitu kencang, tendangannya pun seakan lemah. Namun akurasi dan timingnya sangat pas. 

Pemain berkebangsaan Inggris ini jadi pemain yang paling berpengaruh di laga final ini. Ketiga gol Chelsea tak lepas dari kontribusi Palmer. Dua gol dan satu assist-nya sudah cukup untuk menghukum PSG di babak pertama. Performanya di laga final pun membawanya sebagai pemain terbaik turnamen ini.

Dengan begitu, tampaknya sudah layak untuk kita menjuluki Palmer sebagai pemain spesialis final. Opta mencatat dia terlibat dalam enam gol dalam laga final bersama Chelsea dan Timnas Inggris. Sebelumnya, Palmer mencetak satu gol saat Inggris melawan Spanyol di final Euro 2024. Kemudian ia membuat dua assist kala Chelsea mengalahkan Real Betis di final Conference League 2024/25.

Kesalahan PSG

Tapi, apakah faktor kemenangan Chelsea datangnya selalu dari Chelsea? Tentu tidak. PSG juga melakukan beberapa kesalahan yang berakibat fatal. Salah satunya, Luis Enrique tampaknya telat menyadari bahwa lini tengahnya menjelma jadi roti tanpa ragi. Trio Vitinha, Joao Neves, dan Fabian Ruiz justru masuk kantong Moises Caicedo dan Reece James.

Secara penguasaan bola, PSG memang unggul jauh. Namun, sebagian besar umpannya bersifat diagonal. Tidak horizontal. Suplai ke lini depan pun sangat minim. Tak heran, menurut Fotmob, PSG hanya mencatatkan dua peluang emas dan semuanya gagal dimaksimalkan.

Selain itu, lini pertahanan PSG pun underperform. Marquinhos dan Lucas Beraldo seperti meremehkan lini depan Chelsea yang dipimpin si pemain baru, Joao Pedro. Kita bisa melihat di proses gol ketiga. Bek PSG benar-benar tak memberikan pressing ketat kepada Pedro. Kayak masrahin ke Gianluigi Donnarumma aja gitu. 

Padahal, sang penjaga gawang pun sedang menurun. Kiper Italia itu hanya mencatatkan dua penyelamatan saja. Beda dengan Robert Sanchez yang justru tampil tanpa celah di laga ini. Menurut Fotmob, Sanchez mencatatkan enam penyelamatan. Itu berarti, semua tembakan on target PSG berhasil dimentahkan olehnya.

Gol cepat, pertahanan buruk, lini tengah yang gagal menerjemahkan apa mau Luis Enrique, membuat konsentrasi PSG buyar. Performa yang apik di babak kedua pun terasa percuma. Karena selisih gol yang teramat jauh. PSG diminta tak berlarut-larut dalam merayakan kejayaan di Eropa. Kini, mereka sadar. Di atas langit, masih ada Chelsea.

___

Sumber: The Athletic, SI, ESPN, Inews

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru