Kisah Unik di Balik Kitman Tim-Tim Sepakbola Dunia

  • Whatsapp
Kisah Unik di Balik Kitman Tim-Tim Sepakbola Dunia
Kisah Unik di Balik Kitman Tim-Tim Sepakbola Dunia

Dalam sepakbola, kejadian di luar lapangan selalu menjadi sesuatu hal yang menarik untuk diangkat ceritanya. Salah satu dari sekian banyak hal unik adalah kisah dari seorang kitman atau petugas yang biasa “membantu” para pemain untuk mendapatkan perlengkapan dalam pertandingan.

Pada kesempatan kali ini, Starting Eleven akan coba bercerita tentang beberapa kisah unik para kitman tim sepakbola yang tersebar di seluruh dunia. Beberapa dari kisah orang yang juga kerap menjaga mood para pemain seusai lelah bertanding ini mungkin akan membuat kalian menyadari, bahwa ternyata sepakbola tak hanya terangkum sepanjang duel sembilan puluh menit saja.

Peter Crouch

Disamping tontonan berkelas, tidak ada keraguan bila sepakbola di era milenium baru juga banyak menghasilkan pundi-pundi uang. Salah satu pemain yang menyadari itu adalah Peter Crouch. Kita semua tahu bila Crouch merupakan pemain legendaris di kompetisi Liga Primer Inggris. Meski prestasinya tak benar-benar cemerlang, namanya sering mengisi sebuah pertandingan besar yang tersaji di kompetisi paling menggelegar.

Dalam salah satu momen perjalanannya, Peter Crouch pernah tampil bersama Portsmouth. Disana dia mengaku mendapat banyak pengalaman, termasuk ketika bertemu dengan kitman tim tersebut bernama Kev McCormack.

Dari obrolan keduanya, Crouch merasa sedih ketika mendengar Kev McCormack mengatakan bila pemain sepakbola mendapatkan terlalu banyak uang. Crouch sendiri setuju dengan hal itu. Dia mengaku pernah menghabiskan dana sebesar 800 pounds atau setara 15 juta rupiah hanya untuk membeli sebuah jumper yang bahkan tidak pernah ia sukai.

Lalu ketika tampil bersama Portsmouth, secara kebetulan klub tersebut ketika itu masih meminta para pemainnya untuk mencuci pakaiannya sendiri. Crouch yang mengaku tidak tahu cara menggunakan mesin cuci pun langsung meminta bantuan Kev McCormack untuk mencucikan pakaiannya.

Karena Crouch merasa dia sudah berteman baik dengan Kev McCormack, eks pemain Liverpool itu tak sungkan untuk mengeluarkan dana sebesar 60 pounds atau setara satu juta rupiah untuk Kev, yang sudah mau mencucikan pakaiannya dalam setidaknya sekali dalam seminggu. Jadi dalam sebulan, Crouch bisa mengeluarkan dana sebesar 4 juta rupiah hanya untuk membayar seseorang yang memasukkan pakaiannya ke dalam mesin cuci.

Mendengar hal tersebut, banyak orang yang merasa terheran, meski tak sedikit pula yang memuji aksi Crouch yang disebut sangat menghargai seorang kitman.

Dennis Bergkamp

Dennis Bergkamp yang jadi salah satu legenda terbaik Arsenal memiliki kisah unik bersama kitman the Gunners, Vic Akers. Seperti kitman pada umumnya, Vic yang sudah menghiasi ruang ganti the gunners sejak era 80 an juga bertugas mempersiapkan segala keperluan pemain. Dia juga diketahui mengurus tim sepakbola wanita Arsenal.

Bergkamp yang jadi salah satu pemain Arsenal mengaku begitu dekat dengan sosok Vic. Menurutnya, Vic merupakan pria yang ramah dan sopan. Pemain asal Belanda itu menyebut Vic sebagai seorang sahabatnya di Arsenal.

Kisah perkenalan mereka untuk pertama kalinya juga tercipta dari momen yang sangat menggelitik. Dalam buku biografinya, Bergkamp menceritakan bila dia pernah menarik celana Vic ketika sang kitman tengah menggoda sekelompok perempuan dalam acara makan siang.

Vic yang dijahili Bergkamp pun buru-buru “melindungi” dirinya. Ungkap sang pemain, orang-orang yang berada disitu sampai tertawa terbahak-bahak. Saking tak terlupakannya momen tersebut, Bergkamp mengatakan kalau momen menjahili Vic merupakan cuplikan terbaiknya semasa membela Arsenal.

Meski mendapat perlakuan yang sangat membuatnya malu, Vic tidak merasa dendam dengan Bergkamp. Bahkan sejak saat itu, keduanya berteman sangat baik.

Jose Mourinho

Jose Mourinho yang kita kenal sebagai sosok arogan ternyata sempat menciptakan sebuah momen yang akan membalikkan prasangka banyak orang tentangnya.

Kisah bermula dari seorang asal Meksiko bernama Abel Rodriguez yang bekerja sebagai tukang sapu di stasiun kereta bawah tanah Los Angeles. Suatu hari, dia sengaja mengambil cuti kerja untuk terbang ke Spanyol guna menyaksikan pertandingan el clasico. Rodriguez yang sempat jadi ball boy pra musim tim-tim Eropa di LA mengaku sangat mengagumi Real Madrid.

Namun ketika tiba di Madrid, dia tidak memiliki uang untuk menginap di hotel dan membeli tiket pertandingan el clasico. Dia pun memutuskan untuk menunggu para pemain el Real keluar dari kamp latihan. Setelah lima jam menunggu di atas tumpukan salju, Rodriguez akhirnya bertemu dengan para pemain Madrid.

Setelahnya, keajaiban terjadi ketika dia disapa oleh Jose Mourinho yang masih mengenali wajahnya saat menjadi ball boy di tur pra musim Real Madrid di LA. Mourinho yang merasa iba dan kagum dengan semangat juang Rodriguez langsung memberikannya sebuah kamar hotel untuk menginap plus tiket VIP laga el clasico.

Tak sampai disitu saja, Rodriguez juga diminta Mourinho untuk ikut ke Manchester ketika Real Madrid melakoni laga tandang Liga Champions Eropa. Di momen tersebut, Mou mempekerjakannya sebagai seorang kitman yang mengurusi perlengkapan para pemain Los Blancos.

Usai pulang dari Manchester, Rodriguez yang kembali ke Meksiko pun merasa sangat senang, meski hanya menjadi kitman sehari Real Madrid. Terlebih, ketika para pemain Madrid seperti Ozil, Essien, Chicharito, hingga Kaka menghadiahinya sebuah jersey sebagai kenang-kenangan untuk dibawa pulang.

Daniele De Rossi

Daniele De Rossi dikenal sebagai pemain yang memiliki karakter keras. Namun dibalik sikap garang nya ketika tampil di atas lapangan, De Rossi memiliki jiwa yang lembut. Untuk mengetahui kebenaran ini, cerita tentang nya dengan seorang kitman timnas Italia bernama Pietro Lombardi akan membuktikannya.

De Rossi mengaku sangat kagum dengan sosok Lombardi karena pria tersebut selalu memastikan kerapian peralatan yang akan digunakan para pemain, termasuk menggosok sepatu para pemain agar terlihat “kinclong”.

Pada 2016 lalu, De Rossi mendapat kabar bahwa Lombardi telah menghembuskan nafas terakhirnya di usia ke 92 tahun. Ketika De Rossi tengah berlatih, dia buru-buru pergi setelah sempat berpamitan dengan rekan setimnya.

Rekan setimnya ketika itu yang sempat bingung pun akhirnya sadar, bahwa De Rossi ingin mendatangi acara pemakaman Lombardi. Di momen terakhirnya bersama Lombardi, De Rossi dikabarkan sempat “menyapa” sang kitman terlebih dahulu, sebelum akhirnya meletakkan medali emas Piala Dunia 2006 miliknya ke dalam peti jenazah Lombardi.

Pos terkait