Kisah Treble Horror Bayer Leverkusen Musim 2001/02

spot_img

Berjalan-jalan di Kota Leverkusen Jerman menemui klub yang dikenal sebagai “si paling nyaris”, Bayer Leverkusen. Sebuah klub yang akhir-akhir ini menyita perhatian lewat penampilan atraktifnya bersama pelatih baru Xabi Alonso. Namun yang perlu dicatat, perjalanan klub yang satu ini unik dan menarik untuk dibahas. Terutama apa yang mereka alami di musim 2001/02. Memangnya ada apa dengan Leverkusen di musim itu?

Klub Karyawan Farmasi

Sebelumnya, kita mengenal dulu klub berlogo dua singa ini. Singkatnya, klub ini didirikan oleh beberapa usulan karyawan pabrik farmasi terkemuka bernama Bayer yang ada di pinggiran kota Leverkusen. Tuntutan dari para karyawan tersebut akhirnya direalisasikan oleh manajemen perusahaan. Maka dari itu pada 1 Juli 1904, lahirlah klub bernama Bayer Leverkusen.

Seiring dengan kucuran dana lebih dari perusahan, klub ini tak hanya sekedar bermain bola untuk mengisi waktu luang, namun mulai mengikuti beberapa kejuaraan untuk mencari uang serta popularitas. Maka dari itu, klub yang berjuluk Die Werkself ini akhirnya resmi terdaftar di kompetisi Liga Jerman yang dimulai dari level bawah.

Tak Punya Sejarah Prestasi Mentereng

Sejak berdiri mereka hanya berkutat di level kompetisi level bawah di Jerman. Tak banyak prestasi yang diukir klub ini. Mungkin prestasi terbaik mereka adalah meraih trofi sebagai juara Bundesliga 2 pada musim 1978/79.

Karena momen itulah yang mengantarkan Die Werkself tampil untuk pertama kalinya di Bundesliga pada musim 1979/80. Sejak saat itu uniknya klub ini tak pernah sekali pun terdegradasi lagi ke kasta kedua.

Namun sejak di Bundesliga nasibnya tak ubahnya seperti klub-klub lainnya yang melongo menyaksikan kedigdayaan Bayern Munchen menguasai liga. Usaha Leverkusen untuk mengusik hegemoni Die Roten baru terlihat pada era 90-an. Ketika itu mereka pernah beberapa kali intens bersaing ketat merebut tahta Bundesliga.

Walau gagal, setidaknya lemari trofi mereka sudah pernah terisi. Meskipun itu hanya Piala UEFA dan DFB Pokal. Piala UEFA mereka raih pada musim 1988. Ketika itu Leverkusen dengan pemain macam Cha Bum-Kun, dan kiper Rudiger Vollborn berhasil mempersembahkan gelar Eropa pertama sepanjang sejarah.

Sedangkan trofi DFB Pokal mereka raih di musim 1992/93. Ketika itu mereka mengalahkan Hertha Berlin 1-0 lewat gol Ulf Kirsten.

Klaus Toppmoller dan Harapan

Sampailah pada era 2000-an awal, tepatnya musim 2001/02. Ketika itu mereka kedatangan pelatih baru bernama Klauss Toppmoller menggantikan pelatih sebelumnya Berti Vogts. FYI aja, Toppmoller ini bukannya salah satu pelatih beken kala itu. Ia hanyalah mantan pelatih klub Bochum dan Sarrebruck.

Justru uniknya, di bawah sentuhan Toppmoller Leverkusen disulap menjadi tim yang perkasa dalam satu musim. Dengan gaya khas Jerman serta pengalaman Toppmoller sebagai pemain, Leverkusen mengais asa yang tinggi di tiga kompetisi sekaligus musim itu.

Ia membangun tim dengan pemilihan pemain yang tepat. Pembelian kiper Jorg Hans Butt, maupun gelandang lincah asal Turki, Yildiray Basturk menjadi pelengkap generasi emas Leverkusen seperti Lucio, Ze Roberto, Michael Ballack, Carsten Ramelow, Bern Schneider, Oliver Neuville, maupun Dimitar Berbatov.

Perjalanan Istimewa Di Tiga Kompetisi

Dengan formasi andalan 4-1-3-1-1, 4-4-2, atau 4-1-2-1-2 Toppmoller sukses meracik dan memadupadankan para pemain yang ia punya menjadi satu kekuatan kolektif yang solid di beberapa kompetisi musim itu.

Dimulai dari Bundesliga. Tanda-tanda performa mereka menuju perebutan juara Bundesliga itu semakin nyata dengan tak terkalahkan di 14 pertandingan awal. Beberapa kemenangan mereka juga diraih dengan cara meyakinkan seperti dengan selisih empat atau tiga gol.

Hal itu membuat mereka selalu duduk manis di papan atas klasemen Bundesliga. Hingga akhirnya mereka di empat spieltag terakhir menduduki posisi puncak klasemen dengan selisih lima poin atas Dortmund.

Sementara itu di DFB Pokal, langkah Die Werkself juga mulus-mulus saja. Mengandaskan para musuhnya sejak ronde pertama seperti Jans Regensburg, Bochum, Hannover, TSV 1860 Munchen, serta FC Koln, membuat anak asuh Toppmoller melenggang ke partai puncak menantang Schalke 04.

Tak hanya sampai level domestik saja, performa gacor Leverkusen ternyata juga menular di kompetisi Eropa. Musim itu mereka secara mengejutkan menjadi underdog yang ditakuti di Liga Champions.

Di babak grup pertama, mereka lolos sebagai runner up bersama Barcelona yang sempat mereka kalahkan. Kemudian di babak grup kedua mereka menjadi juara grup dengan menyingkirkan klub hebat seperti Deportivo La Coruna, Arsenal, maupun Juventus.

Musim itu Die Werkself dikenal pembunuh wakil Inggris. Setelah menyingkirkan Arsenal di fase grup kedua, Leverkusen mengalahkan Liverpool di perempat final dan MU di semifinal. Akhirnya sebuah sejarah pun tercipta. Leverkusen menempuh final pertamanya di Liga Champions dengan menantang wakil Spanyol, Real Madrid.

Mr Runner Up dan Neverkusen

Harapan besar meraih “Treble Winner” pun seketika menyeruak di publik BayArena. Namun apa yang terjadi? Sebuah pencapaian istimewa itu kemudian sirna dan berakhir pilu.

“Treble Winner” yang mereka impikan seketika berbalik nama menjadi “Treble Horror”. Mereka tak menyangka hanya dalam 11 hari mereka kehilangan kesempatan meraih trofi di tiga kompetisi sekaligus.

Dimulai dari lepasnya gelar Bundesliga. Kekalahan mengejutkan di spieltag 32 dan 33 melawan Werder Bremen dan Nuernberg membuat peta persaingan berubah. Dari yang ketinggalan 5 poin, Dortmund berbalik arah menduduki posisi puncak dengan selisih 1 poin di spieltag ke 33.

Di Spieltag terakhir 4 Mei 2002 melawan Hertha Berlin, selain harus menang Die Werkself juga harus berharap Dortmund tersandung melawan Werder Bremen. Namun naas, Dortmund tetap meraih tiga poin. Berkat hasil itu Leverkusen akhirnya harus puas kembali menjadi runner up dan menyerahkan gelar Bundesliga pada anak asuh Matthias Sammer.

Selang tujuh hari, tepatnya pada 11 Mei 2002, laga final DFB Pokal melawan Schalke 04 di Berlin juga berakhir pilu. Schalke asuhan Huub Stevens secara mengejutkan mampu mengalahkan Leverkusen dengan skor 4-2. Lepaslah lagi trofi yang sudah mereka diidam-idamkan sejak 1992 itu.

Selang empat harinya, kisah pilu itu kembali hadir menyelimuti kubu Leverkusen. Tepatnya terjadi di Glasgow 15 Mei 2002, pada laga final Liga Champions melawan Real Madrid. Die Werkself ketika itu harus menyerah oleh gol sensasional Zinedine Zidane dengan skor 2-1.

Lepasnya tiga gelar sekaligus Leverkusen itu akhirnya dikenal dengan sebutan “Bayer Neverkusen”. Julukan plesetan yang berakar dari seringnya mereka menjadi runner up. Namun dalam kisah pilu tersebut, bagaimanapun pencapaian Leverkusen musim itu istimewa dan patut diapresiasi.

Berkat tuah pelatih Klaus Toppmoller dan generasi emas mereka, kisah perjalanan istimewa Leverkusen itu patut untuk dirindukan bagi publik BayArena. Walaupun itu sebenarnya pahit adanya.

Sumber Referensi : fourfourtwo, kicker, breakingthelines, sportingnews, thefalse9, dfbpokal

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru