Jose Mourinho resmi bereuni dengan mantan anak asuhnya, Nemanja Matic. Mou kembali menjalin kerjasama dengan Matic di klub Serie A, AS Roma. Bergabungnya Matic ke dalam skuad Jose Mourinho membuat mereka kembali bekerjasama untuk kali ketiga, setelah sebelumnya pernah bekerjasama di Chelsea dan Manchester United.
Berpindah-pindah klub adalah hal yang sangat lumrah dilakukan oleh seorang pemain dan pelatih. Tapi untuk bermain dan dilatih oleh pelatih yang sama hingga tiga kali, itu baru fenomena yang tak lumrah.
Namun, selain kebersamaan antara Nemanja Matic dan Jose Mourinho, ternyata masih ada pelatih dan pemain yang memiliki ikatan seperti mereka. Alasannya tentu karena sang pelatih selalu ingin membawa pemain kesayangannya ke mana pun mereka melatih. Kira-kira siapa saja mereka?
Daftar Isi
Fabio Capello dan Christian Panucci
Fabio Capello adalah seorang pelatih sepakbola terkenal era 90-an. Dari klub papan atas hingga level tim nasional, semua sudah pernah ia tangani. Meski terus berganti-ganti klub, cuma ada satu pemain yang hampir selalu mengikutinya ke mana saja Capello melatih.
Pemain itu bernama Christian Panucci. Seorang bek kanan, mantan pemain Timnas Italia. Dinginnya sikap Capello yang seperti es karena sulit sekali kagum terhadap seorang pemain, berhasil meleleh setelah melihat begitu hebatnya bakat Christian Panucci. Fleksibilitas, kemampuan dalam bertahan, dan naluri mencetak gol milik Panucci, jadi atribut favorit bagi Capello.
Kerjasama pertama antara Capello dan Panucci terjalin saat sang pelatih masih menangani AC Milan. Ia mendatangkan Panucci dari Genoa pada tahun 1993. Keduanya, Capello dan Panucci menyulam kisah manis bersama Rossoneri. Mereka mampu menghadirkan dua scudetto dan satu trofi Liga Champions selama 4 musim di San Siro.
Lalu, Capello membawa Panucci ke Real Madrid pada tahun 1996, dengan bek kanan tersebut menjadi orang Italia pertama yang memenangkan Liga Champions dan gelar La Liga bersama Real Madrid.
Dirasa masih membutuhkan Panucci, Capello membawa pemain kesayangannya itu ke Roma pada tahun 2001, kerjasama mereka hanya bertahan tiga tahun. Sebelum akhirnya Capello pergi ke Juventus.
Maurizio Sarri dan Gonzalo Higuain
Kecemerlangan Gonzalo Higuain di Napoli mungkin jadi masa paling indah selama karirnya. Bersama Napoli, Higuain berhasil mencatatkan rekor dengan mencetak 36 gol dalam satu musim Serie A 2015/2016.
Kesuksesan Higuain di Napoli tak lepas dari campur tangan Maurizio Sarri. Ia mampu memaksimalkan potensi Higuain di Napoli. Meski berstatus striker buangan dari Madrid, Sarri tetap percaya bahwa Higuain masih jadi salah satu striker terbaik.
Oleh karena itu, ketika Sarri melatih di Chelsea, ia menekan manajemen Chelsea untuk mendatangkan Higuain walau hanya sebagai pemain pinjaman. Sayangnya, Higuain kewalahan dengan tempo sepakbola Inggris, sehingga ia tak maksimal di Chelsea.
Pun demikian ketika Higuain bergabung dengan Juventus. Kembali bermain di Italia dan reuni dengan Sarri, ternyata tak membuat performa terbaiknya kembali. Ia hanya mencetak 8 gol dari 32 pertandingan Serie A.
Terlebih, Sarri juga tak mampu menghindarkan Juve dari hasil minor. Hal itu membuat Sarri dipecat, dan Higuain memilih untuk bermain di MLS bersama Inter Miami.
Rafa Benitez dan Salomon Rondon
Rafael Benitez telah bekerjasama dengan Salomon Rondon sebanyak tiga kali. Benitez mengandalkan Rondon sebagai ujung tombak di tiga klub berbeda, yaitu Newcastle, Dalian Pro dan Everton.
Hubungan mereka cukup aneh, Benitez senang dengan kecepatan dan kekuatan Rondon, tapi secara statistik Rondon tak begitu mentereng. Ia hampir tak pernah mencetak lebih dari 10 gol dalam satu musim.
Bertemu di Newcastle, Benitez langsung cocok dengan Rondon. Ia menganggap Rondon sebagai pemain yang profesional dan menghargai setiap apa yang ia ucapkan. Dan sepertinya Rondon juga cocok dengan metode kepelatihan Benitez.
Mengutip The Athletic, Benitez mampu mengubah cara pandang Rondon terhadap sepakbola. Benitez memudahkan Rondon dalam memahami skema permainan.
Puncaknya pada awal musim lalu. Meski Rondon tak memiliki catatan apik, Benitez kembali mendatangkannya ke Everton. Namun sayang, kerjasama mereka di Everton terbilang singkat lantaran Benitez dipecat di pertengahan musim.
Harry Redknapp dan Niko Kranjcar & Peter Crouch
Harry Redknapp memang dikenal sering menggunakan pemain-pemain lama. Tak jarang ia menyatukan kembali pemain-pemain yang pernah ia tangani di klub yang sedang ia latih. Contohnya Peter Crouch dan Niko Kranjcar. Mereka berdua adalah anak emas Harry Redknapp.
Hal itu dibuktikan dengan Redknapp yang pernah melatih kedua pemain tersebut di tiga klub yang berbeda. Crouch dibawa ke Southampton, Portsmouth dan Spurs. Sedangkan Kranjcar dibawa Redknapp ke Tottenham, Portsmouth dan QPR.
Meski Peter Crouch bukanlah striker yang mencetak puluhan gol dalam semusim, performa terbaiknya selalu ia tunjukan kala dilatih Redknapp. Bersama Southampton dan Portsmouth, ia selalu mencetak lebih dari 15 gol. Bahkan Crouch mencetak 34 gol di semua kompetisi kala bermain untuk Portsmouth.
Sedangkan Kranjcar, di mana pun Redknapp melatih ia selalu menjadi andalannya di lini tengah. Kranjcar bahkan sempat menyumbangkan gelar FA Cup kala bermain di Portsmouth era Redknapp.
Carlo Ancelotti dan James Rodriguez
Carlo Ancelotti juga mempunyai hubungan spesial dengan salah satu pemainnya, James Rodriguez. Setelah tampil luar biasa di Piala Dunia 2014, Ancelotti mendatangkan James ke Real Madrid.
Tak butuh waktu lama bagi James untuk nyetel dengan permainan Ancelotti. James mencapai top perform bersama Real Madrid dengan mencetak 17 gol di musim pertamanya. Namun, ketika Ancelotti digantikan oleh Zidane, James mulai kesulitan mengamankan posisi di skuad utama.
Ancelotti yang pindah ke Bayern Munchen, tak mau menyia-nyiakan James. Ia memboyongnya ke Jerman dengan status pinjaman selama dua musim. Sayang, Ancelotti tak bertahan lama di Bayern. Setelah kembali berpisah dengan Ancelotti, performa pemain Kolombia itu tak membuat Die Roten terkesan. Sehingga ia dipulangkan ke Spanyol.
Terkatung-katung di Madrid, karir James kembali diselamatkan oleh Ancelotti. Kala pelatih 63 tahun itu menukangi Everton, ia membawa James ke Inggris. Di bawah asuhan Ancelotti, James kembali jadi andalan. Sebagai pemain bernomor “10” ia memberikan warna berbeda di lini tengah Everton.
Namun, kebersamaan mereka hanya bertahan semusim. Everton yang dikenal kerap gonta-ganti pelatih pun akhirnya memecat Ancelotti dan ia kembali berpisah dengan pemain kesayangannya itu.
José Mourinho dengan Ricardo Carvalho
Selain dengan Matic, ternyata Mourinho juga memiliki hubungan spesial dengan bek asal Portugal, Ricardo Carvalho. Mereka berdua tergabung dalam tim FC Porto yang menjuarai Liga Champions 2004. Berkat prestasi fenomenal itu, Mourinho mendapat pekerjaan untuk melatih Chelsea.
Ketika menangani Chelsea, Mou langsung mendatangkan Carvalho dari FC Porto. Mourinho yang menduetkan Carvalho dengan John Terry membuat Chelsea jadi tim yang memiliki pertahanan paling kokoh di Inggris. Mourinho dan Carvalho berhasil menghadirkan dua gelar Liga Inggris untuk The Blues.
Sempat berpisah, pada tahun 2011 reuni kembali tersaji. Mereka dipertemukan kembali di Real Madrid. Sempat sukses dengan Inter, Mourinho yang ditunjuk untuk menangani Madrid, langsung meminta Madrid untuk mendatangkan Carvalho.
Carvalho kembali menunjukan kepiawaiannya mengawal pertahanan Madrid. Pengalaman Carvalho melengkapi lini bertahan Madrid yang sudah diisi Pepe dan Ramos. Carvalho bahkan berhasil membawa El Real menjuarai La Liga dan Copa del Rey.
https://youtu.be/D2iYqRp3Hs8
Sumber: Football365, Chronicle, Sportskeeda, Bolasport, Box2Box


