Kiprah Sam Allardyce dan Davide Nicola, Pelatih Spesialis Penyelamat Degradasi

spot_img

Sudah selayaknya setiap tim sepak bola mengincar gelar juara. Begitu juga dengan pemain dan pelatih. Mengejar prestasi adalah sebuah keniscayaan. Namun, tak semua pihak mendapat kesempatan itu.

Akibat persaingan yang ketat, mustahil semua tim mendapat trofi di akhir musim. Bahkan, beberapa tim hanya mematok target minim, yakni sekadar bertahan di kasta teratas agar tak terjerembab ke jurang degradasi.

Situasi itu juga dialami pelatih sepak bola. Tentu, populasi pelatih berkelas lebih banyak dari jumlah klub papan atas. Untuk itulah tak semua pelatih dapat kesempatan berada di klub besar dengan target tinggi tiap tahun.

Jumlah pelatih yang punya tugas sederhana tapi krusial seperti mempertahankan klub di level atas justru lebih banyak. Cukup mempertahankan tim untuk sekadar bertahan agar tidak terdegradasi bukanlah tugas mudah. Bahkan pelatih bergaji mahal di Eropa belum tentu bisa mengemban tugas sulit itu.

Terdapat beberapa pelatih yang sering mendapat tugas untuk mempertahankan tim di kasta teratas dan menjadi pejuang degradasi tiap tahunnya. Salah satu yang sukses membangun reputasi sebagai pelatih spesialis penyelamat degradasi adalah Sam Allardyce.

Sam Allardyce, Spesialis Pejuang Degradasi dari Inggris

Sam Allardyce telah mendapatkan reputasi sebagai pejuang degradasi yang luar biasa selama 20 tahun terakhir. Pelatih asal Inggris yang kerap disapa Big Sam itu memulai karier kepelatihannya saat diminta rangkap jabatan sebagai pemain dan pelatih di West Bromwich Albion pada Februari 1989.

Awal karier Big Sam sebagai manajer di kasta teratas Liga Inggris dimulai pada musim 2001/2002 usai membawa Bolton Wanderers promosi ke Liga Primer Inggris. Di Bolton ia jadi pelatih legendaris. Big Sam jadi manajer Bolton sejak 1999 hingga 2007. Selama periode itu, ia berhasil menjadikan Bolton klub top 10 dengan tak pernah terancam degradasi dan membawa Bolton hingga babak 32 besar Piala UEFA di musim 2005/2006.

Setelah hengkang dari Bolton, Big Sam kemudian menjadi manajer di Newcastle United dan Blackburn Rovers sebelum menangani West Ham United yang baru saja turun kasta. Sam Allardyce langsung membawa The Hammers promosi kembali ke Liga Primer via jalur play-off. Ia bertahan di sana 4 musim hingga kontraknya habis.

Big Sam kemudian menerima misi sulit di musim dingin 2015/2016. Ia ditunjuk sebagai manajer pengganti di Sunderland dengan tugas berat. The Black Cats baru mengumpulkan 3 poin dan mendekam di urutan 19 ketika ia datang di bulan Oktober.

Setelah melewati rentetan laga tanpa kemenangan, segalanya terus membaik pasca bursa transfer musim dingin hingga akhirnya Sunderland finish di posisi 17 di akhir musim dan tak jadi degradasi. Big Sam kemudian sempat menangani timnas Inggris sebentar sebelum ditunjuk sebagai manajer pengganti Crystal Palace sebelum Natal 2016. Saat itu, Crystal Palace sedang terancam degradasi di peringkat 17.

Big Sam kemudian menghabiskan 30 juta pounds untuk membeli Luka Milivojevic, Patrick van Aanholt dan Jeff Schlupp. Sebuah harga sepadan yang membuat The Eagles aman di posisi 14 klasemen di akhir musim. Sam Allardyce kemudian mundur di akhir musim dan kembali melatih di akhir tahun 2017 bersama Everton.

Hingga kini, takada trofi prestisius yang dipersembahkan Sam Allardyce. Namun namanya tetaplah tenar dan masyhur. Prestasi terbaik Big Sam hanyalah membawa Bolton dan West Ham promosi ke Liga Primer Inggris.

Sam Allardyce diketahui pernah mengungkap resep kesuksesannya dalam meramu taktik dan strategi untuk tim yang ia latih agar terhindar dari degradasi. Big Sam mengungkap cetak biru keberhasilannya sebagai spesialis penyelamat degradasi pada acara Monday Football Show di Sky Sports, September 2017.

Terdapat 7 poin penting yang jadi fokus taktiknya, yaitu:

  1. Menjaga tetap clean sheets,
  2. Jangan kehilangan penguasaan di area sendiri,
  3. Mainkan umpan pertama ke depan sedini mungkin,
  4. Menangkan duel second ball,
  5. Memprioritaskan set pieces atau eksekusi bola mati, baik secara ofensif maupun defensif,
  6. Fokus untuk mengeksploitasi kelemahan lawan, dan
  7. Kualitas dan efektivitas penyelesaian di sepertiga akhir.

Dengan cetak biru itu, Big Sam berhasil menyelamatkan banyak tim yang ia latih dari ancaman degradasi. Gaya permainan Sam Allardyce memang dibenci para fans. Sebab, taktiknya bisa dibilang prakmatis. Namun dampak baiknya, rasio kebobolan tim yang dilatih Big Sam langsung turun signfikan.

Baru di musim lalu, ketika ia kembali menangani West Bromwich Albion, Sam Allardyce gagal untuk pertama kalinya. West Brom degradasi dari Liga Primer Inggris di akhir musim.

Davide Nicola, Spesialis Pejuang Degradasi dari Italia

Bila Inggris punya Sam Allardyce, maka Italia punya Davide Nicola. Namanya memang kalah tenar dibanding Big Sam. Namun, reputasi yang Nicola miliki hampir serupa. Bedanya, pendekatan yang dimiliki Nicola membuatnya tak begitu dibenci laiknya Sam Allardyce.

Davide Nicola mencuri perhatian dunia saat menjabat sebagai allenatore klub promosi Crotone di musim 2016/2017. Kala itu ia menggantikan posisi Ivan Juric yang membawa Crotone promosi ke Serie A untuk pertama kalinya dalam sejarah klub. Tentu itu merupakan sebuah tugas berat mengingat Nicola tak punya prestasi di klub yang ia tangani sebelumnya.

Benar saja, tim asal Italia Selatan itu cuma mengumpulkan 14 poin dari 29 pertandingan pertama mereka. Crotone mendekam di posisi 19 klasemen dan berjarak 8 poin dari tim di zona aman. Setelah meraih kemenangan tandang pertama atas Chievo pada awal bulan April, Davide Nicola membuat nazar yang nyaris mustahil.

Kepada wartawan, ia berjanji jika bisa menyelamatkan Crotone dari degradasi, dia akan merayakannya dengan bersepeda sejauh 800 mil atau sekitar 1300 km ke kampung halamannya di Vigone, Turin. Alasan dibalik aksi nekat itu sungguh mengharukan.

Pada tahun 2014, putra Nicola yang berusia 14 tahun, Alessandro, tewas dalam kecelakaan lalu lintas saat mengendarai sepedanya. Nicola akan melakukan hal tersebut sebagai bentuk dedikasinya kepada putra tercintanya.

Di luar prediksi banyak pihak, keajaiban terjadi. Dalam 9 sisa pertandingan musim 2016/2017, Crotone berhasil memperoleh 20 poin dan finish di posisi 17 alias lolos dari jeratan degradasi.

Nicola akhirnya benar-benar melaksanakan nazarnya. Dengan batuan banyak pihak, ia butuh 9 hari untuk bersepeda ke kampung halamannya di mana sang putra tercintanya meninggal dunia. Begitu sampai, Nicola langsung disambut para pendukungnya.

Davide Nicola kemudian mengulang kisah suksesnya di musim 2019/2020. Ia ditunjuk sebagai pelatih baru Genoa jelang bursa transfer musim dingin 2020. Tugasnya adalah menyelamatkan Genoa yang kala itu terjerembab di dasar klasemen. Singkat cerita, ia membawa Genoa finish di posisi 17 dan sukses memenuhi tugasnya.

Terbaru, Davide Nicola kembali mendapat tugas menyelamatkan tim dari jurang degradasi di paruh kedua musim 2020/2021. Pasca pemecatan Marco Giampaolo, Nicola mendapat tugas untuk menyelamatkan Torino yang terancam degradasi. Sebuah tugas yang ia impi-impikan.

Davide Nicola diketahui merupakan fans Torino. Ia tumbuh di kota tersebut, besar sebagai fans Il Toro, dan pernah berseragam Torino semasa menjadi pemain. Namun, tugas di klub kesayangannya itu tidaklah mudah. Jumlah kekalahan Torino memang berkurang, tapi mereka terlalu banyak memetik 1 poin saja.

Hingga akhirnya pada bulan Mei lalu, Davide Nicola menerima surat motivasi dari seorang siswa sekolah dasar bernama Luca. Surat tersebut berisi dukungannya agar Torino terhindar dari degradasi. Melalui instagramnya, Nicola mengucap terima kasih dan meminta anak asuhnya membaca surat tersebut tiap jelang pertandingan. Di akhir musim lalu, Torino finish di peringkat 17 dan tak jadi degradasi dari Serie A.

Setelah Jadi Juru Selamat, Sam Allardyce dan Davide Nicola Selalu Pergi di Akhir Musim

Kisah antara Sam Allardyce dan Davide Nicola memang mirip, tetapi pendekatan keduanya terhadap anak asuhnya agak berbeda. Namun, keduanya punya satu kemiripan sebagai pelatih spesialis penyelamat degradasi. Setelah menyelesaikan tugasnya, kontrak mereka di klub tersebut juga selesai. Inilah yang terjadi saat ini.

Baik Big Sam dan Davide Nicola masih menganggur jelang musim baru 2021. Mungkin keduanya baru akan mendapat panggilan kembali saat ada klub yang butuh diselamatkan dari jurang degradasi.

***
Sumber Referensi: Sky Sports, FourFourTwo, Italy24News, The Guradian, talksport, irishnews

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru