Ketika Shaqiri Tak Mau Jadi Sorotan dan Memilih Menepi dari Eropa

spot_img

Keputusan yang cukup mengejutkan datang dari salah satu talenta terbaik Switzerland, Xherdan Shaqiri. Minggu lalu ia memutuskan untuk meninggalkan sepak bola Eropa dan memilih bermain di Liga Amerika Serikat, bersama Chicago Fire.

Shaqiri merupakan pemain yang sudah malang melintang di kompetisi Eropa. Shaqiri tercatat telah memenangkan tujuh belas trofi selama karier profesionalnya. Ia juga sempat berstatus pemain terbaik yang pernah dimiliki oleh Swiss. Kini ia sudah mengukuhkan 100 caps bersama Timnas Swiss.

Sama halnya seperti Liga Jepang, MLS juga menjadi pilihan yang masuk akal bagi beberapa pemain yang sudah memasuki masa-masa akhirnya di dunia sepak bola. Andrea Pirlo, Ricardo Kaka, hingga Wayne Rooney. Mereka pergi ke MLS untuk mencari uang pensiunan.

Namun, Xherdan Shaqiri bisa dibilang belum memasuki masa-masa akhir di sepak bola. Pasalnya usia Shaqiri masih 30 tahun, tentu angka tersebut adalah usia yang masih produktif bagi pesepakbola Eropa. Lantas apa yang menjadi motivasi Shaqiri untuk bermain di MLS bersama Chicago Fire? 

Karier Shaqiri

Sebelum kita membahas alasan Shaqiri bergabung dengan Chicago Fire, kita akan mengulas sedikit tentang perjalanan karier sang “Magic Dwarf” atau yang berarti Kurcaci Ajaib. Julukan ini disematkan kepada Shaqiri karena tubuhnya yang mungil karena mengidap kekurangan hormon pertumbuhan. Namun, memiliki kemampuan olah bola yang sangat mengesankan.

Meski mengalami keterbatasan, Shaqiri percaya selama seorang pesepakbola memiliki potensi yang besar, selalu bekerja keras dan tak kenal menyerah, bukan tidak mungkin ia bisa menjadi pesepakbola yang sukses. Tapi tentu saja Shaqiri menyadari bahwa semuanya harus dimulai secara bertahap.

Hal ini juga dialami oleh Shaqiri, ia bermigrasi dari Kosovo ke Swiss pada usia yang masih muda dan memulai kariernya di dunia sepak bola dari bawah. Ayah Shaqiri mendorong anak-anaknya untuk memulai sepak bola setelah melihat imigran muda lainnya memilih jalur sepak bola untuk segera keluar dari kemiskinan.

Shaqiri memulai karier profesionalnya bersama klub raksasa Swiss, FC Basel. Ia menandatangani kontrak profesional pertamanya dengan FC Basel pada Januari 2009. Bersama Basel, Shaqiri mencatatkan sejumlah prestasi. Termasuk meraih double winner dengan menjuarai Liga dan Piala Domestik sebanyak dua kali pada 2009/2010 dan 2011/2012.

Bersama FC Basel nama Xherdan Shaqiri mulai dikenal dunia. Akhirnya, tawaran untuk bermain di Liga Jerman bersama Bayern Munchen pun datang. Ia direkrut Bayern pada tahun 2012.

Pembawa Keberuntungan

Karier Sepak Bola Shaqiri semakin meningkat tajam di Jerman. Bersama Bayern Munchen, Shaqiri kembali menorehkan prestasi. Ia telah memenangkan trofi Bundesliga dalam tiga tahun berturut-turut, yaitu pada musim 2012/2013, 2013/2014, dan 2014/2015.

Ia juga telah memenangkan DFL-Supercup pada tahun 2012, lalu DFB-Pokal pada tahun 2013 dan 2014, Liga Champions pada musim 2012/2013, Piala Super Eropa tahun 2013, hingga Piala Dunia Antarklub tahun 2013.

Sempat membela Inter Milan pada tahun 2015, Shaqiri justru pindah ke Stoke City. Kurang lebih selama dua musim Shaqiri minim prestasi. Namun, pada awal musim 2018/2019 Liverpool datang dengan minat ingin merekrut Shaqiri untuk memperdalam skuad Liverpool kala itu.

Di Anfield, Shaqiri kembali bersinar. Ia membantu The Reds mengakhiri puasa gelar selama hampir 30 tahun lamanya dengan menjuarai Liga Inggris pada musim 2019/2020. Sebelum itu, Shaqiri juga memiliki peran penting dalam mengantarkan Liverpool menjuarai Liga Champions 2018/2019. Lalu, ia juga meraih trofi Piala Super Eropa 2019 dan Piala Dunia Antarklub 2019.

Menariknya, Shaqiri yang dibeli Liverpool dari Stoke City dengan harga 13 juta euro atau sekitar Rp 211 miliar itu bak jimat keberuntungan bagi The Reds kala menjuarai Liga Champions. Pasalnya, Shaqiri datang satu musim setelah Liverpool mengalami kekalahan dari Real Madrid di final Liga Champions tahun 2017/2018.

Situasi tersebut, setali tiga uang dengan yang dialami Shaqiri di Bayern Munchen. Ia datang dari FC Basel ketika Munchen baru mengalami kekalahan dari Chelsea di Final Liga Champions musim 2011/2012.

Tak ayal jika Shaqiri kerap disebut sebagai jimat keberuntungan bagi klub yang ingin menjuarai Liga Champions, setelah mengalami kekalahan di final musim sebelumnya. Dengan segala pencapaian Shaqiri di level klub, ia dianggap sebagai pemain internasional Swiss tersukses sepanjang sejarah.

Menghindar Dari Hingar Bingar Sepak Bola Eropa

Setelah Xherdan Shaqiri malang melintang di dunia sepak bola Eropa, ia sudah menjadi salah satu fenomena dalam sepak bola yang tak bisa dilupakan begitu saja. Dengan keterbatasan fisik namun berbadan kekar, Shaqiri dapat membuktikan bahwa ia tak kalah saing dengan pemain-pemain Eropa lainya. Ia bahkan menjadi ikon bagi Timnas Swiss di berbagai kompetisi antar negara.

Kini Shaqiri lebih memilih untuk berkarier di Liga Amerika Serikat bersama Chicago Fire. Transfer ini cukup mengejutkan, karena dalam beberapa tahun terakhir ia masih tampil prima dan memenangi beberapa trofi bersama Liverpool.

Tentu Shaqiri memiliki alasan tersendiri mengapa ia meninggalkan hingar bingar sepak bola Eropa, meski usianya masih cukup produktif. Alasan utamanya adalah ia sudah lelah menjadi sorotan publik.

Tentu wajar apabila Shaqiri beralasan demikian, mengingat ia pernah membela tim seperti Bayern Munchen, Inter Milan, hingga Liverpool yang mana merupakan klub-klub papan atas di masing-masing liganya. Tentu sorotan media dan para fans tak bisa dihindarkan.

Di usia 30 tahun, sepertinya Shaqiri ingin bermain bola dengan sedikit lebih tenang, ia tak ingin selalu ada kamera dan perhatian berlebih dari media maupun para fans.  

Kawan Lama

Selain alasan tadi, ternyata ada alasan lain yang menjadi pertimbangan Shaqiri untuk melanjutkan karier sepak bolanya di MLS terutama dengan Chicago Fire. Ada faktor personal yang melandasi Shaqiri bersedia menerima tawaran dari tim asal Liga Amerika Serikat tersebut.

Itu terkait keberadaan Direktur Olahraga Chicago Fire, Georg Heitz. Dia merupakan orang yang sangat berjasa pada awal karier profesional Shaqiri di Basel.

Meski ada beberapa klub yang berminat untuk mendatangkan Shaqiri muda, ia memutuskan untuk tetap bersama basel dan bermain untuk tim cadangan dari tahun 2007 hingga 2009. 

Nah, disinilah peran besar Heitz terhadap awal karier Shaqiri. Ia melihat dedikasi dari seorang Shaqiri dan akhirnya Heitz memberikan kontrak profesional pertama untuk Xherdan Shaqiri. 

Sekarang, Shaqiri dan Georg Heitz bereuni di Chicago Fire. Mereka menebus Shaqiri dari Lyon dengan mahar 5,5 juta pounds atau sekitar Rp 107 miliar dengan durasi kontrak hingga 2024 mendatang.

https://youtu.be/O9yfz4L_BqI

Sumber: MLSSoccer, FootballParadise, Transfermarkt, Liverpoolecho

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru