Ketika Real Madrid Kena Karma Usai Memecat Vicente del Bosque

spot_img

Sudahi sedihmu wahai fans Real Madrid. Gagal di Liga Champions musim ini bukan akhir dari segalanya. Toh, sudah terlalu banyak gelarmu, sampai-sampai dijuluki “King UCL”. Julukan “King UCL tak serta-merta didapat.

Mereka berjuang keras mendapatkannya musim demi musim. Termasuk di era peralihan pada tahun 90-an ke 2000-an. Di periode itu, banyak cerita awal mula El Real kembali bangkit merengkuh trofi Liga Champions setelah puluhan tahun lamanya hilang dalam pangkuan.

Madrid Pasca Jupp Heynckes

Ya, sebelum Madrid bangkit di era 90-an, terakhir kali mereka juara Liga Champions adalah tahun 1966. Artinya sudah tiga dekade lamanya El Real menanti.

Hadirnya pelatih asing Jupp Heynckes pada 1997 menyulam cerita baru El Real di Eropa. Di bawahnya, Madrid sukses mengakhiri puasa gelar Liga Champions sejak 1966. Namun setelah gelar ke-7 Liga Champions Real Madrid itu terwujud, Heynckes malah dipecat. Pasca Heynckes, justru pelatih asing yang ditunjuk Madrid makin tak karuan hasilnya.

Dari Guus Hiddink hingga John Toshack, sama-sama tak mampu menyamai prestasi Heynckes. Hasilnya, manajemen El Real pasrah, dan hanya menunjuk pelatih lokal yakni Vicente Del Bosque.

Siapa Vicente Del Bosque?

Siapa Del Bosque? Ia adalah mantan pemain Real Madrid era 70-an hingga 80-an. Awalnya Del Bosque menerima pinangan melatih para bibit muda di Castilla dari 1987 hingga 1990. Ia bahkan sempat promosi sesaat ke tim senior Real Madrid ketika jadi pelatih interim pada 1994 ketika Benito Floro dipecat.

Ia tak hanya sekali menjadi pelatih interim. Ia dipercaya kembali mengisi kekosongan pelatih Real Madrid pada 1996 ketika Jorge Valdano dipecat. Artinya, penunjukan Del Bosque pada 1999 menggantikan John Toshack, adalah kali ketiganya menjadi pelatih interim.

Hal itu membuktikan bahwa Del Bosque bukan orang baru. Ia sudah banyak mengerti seluk beluk Real Madrid. Meski, pada awalnya hanya dianggap sebagai pelatih lokal yang masih bau kencur.

Gelar Liga Champions Dari Pelatih Lokal

Siapa bilang pelatih lokal tak bisa berbuat banyak? Hal itulah yang terus coba dibuktikan oleh Vicente Del Bosque. Menangani Los Blancos hanya di sisa paruh musim 1999/00, namun justru hasilnya mengejutkan.

Bermaterikan pemain baru peninggalan Toshack seperti Steve McManaman, Helguera, Salgado, maupun Anelka, ditambah dengan talenta lokal seperti Raul dan Morientes yang makin gacor, ia mampu mengubah permainan Real Madrid ke mode menyeramkan.

Lalu dengan cara apa ia melakukannya? Ia ketika itu dikenal pelatih yang tak banyak bicara. Ia lebih sering terdiam sambil meracik strateginya. Salah satu hal yang sangat menonjol dari Del Bosque adalah, strateginya yang pragmatis.

Artinya, ia mengajari anak asuhnya tak sekadar main bagus dan cetak banyak gol. Akan tetapi, mempertahankan keunggulan dengan sedikit gol pun sangat penting. Keberhasilan perubahan mindset skuad Real Madrid itu terbukti di Liga Champions.

Di babak gugur, mereka mampu mengandaskan klub yang masih sangar-sangarnya bermain menyerang seperti MU dan Munchen. Sampai akhirnya, Del Bosque mampu mengantarkan Real Madrid meraih juara Liga Champions ke-8. El Real mengalahkan sesama tim Spanyol Valencia di final.

Los Galacticos Dan Pemain Spanyol

Setelah Del Bosque dipermanenkan pada 1999, ia diuji kemampuan melatihnya dengan dibebani proyek baru bernama Los Galacticos. Ya, Real Madrid di bawah presiden baru Florentino Perez tengah membuat proyek baru mendatangkan para pemain bintang. Mendatangkan pemain seperti Luis Figo dan Zinedine Zidane menjadi buktinya.

Tak mudah bagi Del Bosque menyatukan beberapa bintang di skuad Real Madrid. Biasanya, ego besar dari masing-masing bintang sering menjadi kendala. Apalagi di skuad Madrid ketika itu masih banyak juga bintang lokal yang tak kalah gacor seperti Raul dan kawan-kawan.

Akan tetapi hal itu tak diambil pusing oleh Del Bosque. Ia berusaha mencari jalan tengah dengan cara menggabungkannya. Dan benar saja, dengan strategi pragmatis yang masih ia jalankan, racikan Del Bosque itu terbukti sukses.

Ego pemain bintang mampu diredam, sedangkan para pemain lokal justru makin meroket namanya. Justru bisa dibilang, musim 2001/02 adalah musim dimana para pemain Spanyol mendominasi kerangka tim Real Madrid. Mereka diantaranya Casillas, Hierro, Salgado, Helguera, Pavon, Karanka, Raul Bravo, Pedro Munitis, Guti, hingga Raul.

Gelar Kedua Liga Champions

Dengan cara itu, Del Bosque mampu meraih gelar keduanya di Eropa. Real Madrid perkasa di Liga Champions musim 2001/02. Tak terkalahkan di babak grup kedua, Los Blancos kembali menggugurkan para raksasa seperti Munchen dan Barcelona di babak gugur.

Del Bosque akhirnya menjadi pelatih Spanyol berikutnya setelah Miguel Munoz dan Jose Villalonga yang berhasil mengoleksi dua gelar Liga Champions di Real Madrid. Di final, El Real menundukan tim kejutan asal Jerman, Bayer Leverkusen dengan skor 2-1.

Dipecat Setelah Berbeda Jalan Dengan Perez

Makin populernya julukan Los Galacticos dengan sederet prestasinya, sang presiden Perez pun semakin menggila membangun proyeknya itu. Di beberapa musim berikutnya, banyak bintang kelas wahid yang kembali didatangkan Perez. Seperti halnya Ronaldo Nazario maupun David Beckham.

Namun, setelah Del Bosque mengantarkan El Real meraih gelar La Liga 2002/03, cerita seketika berubah. Pelatih yang sukses mengembalikan kejayaan Real Madrid itu secara mengejutkan menjadi korban pemecatan. Kejadian mengejutkan itu pun sempat berimbas pada tim.

Menurut penuturan Helguera, sebagian besar pemain ketika itu bahkan sempat tak ingin ikut dalam perayaan gelar juara La Liga karena tindakan pemecatan tersebut. Lalu apa alasan sebenarnya pemecatan Del Bosque?

Usut punya usut, Del Bosque ini dianggap sudah berbeda jalan dengan pendekatan Presiden Florentino Perez yang menggebu-nggebu soal proyek Los Galacticos. Berdasarkan pengumuman yang diterangkan oleh Perez, Del Bosque dipecat karena tak sesuai dengan target pemasaran yang dicanangkan oleh manajemen Madrid.

Del Bosque dianggap sudah kuno oleh Perez dari segi pendekatan sepakbola di era industri yang serba modern. “Del Bosque sudah renta. Pemikirannya juga masih tradisional. Maka dari itu skuad Los Galacticos ini harus mempunyai visi kedepan yang lebih maju” kata Perez.

Real Madrid Puasa Gelar Liga Champions

Hal itu pun ditanggapi Del Bosque dengan nada dendamnya. “Saya tak akan pernah menjadi modern. Dan tak akan kembali lagi ke sini,” katanya. Pernyataan tegas Del Bosque itu ternyata mendatangkan tuah.

Madrid yang ditinggalkannya terpuruk. El Real gonta-ganti pelatih, dan tak mampu berbicara banyak lagi di kancah Eropa. Boro-boro Liga Champions, di La Liga saja mereka puasa gelar sampai tahun 2007.

Mereka yang sedang getol mencari gelar La Decima di Liga Champions, tak pernah kesampaian. Sampai akhirnya mereka harus menunggu hingga satu dekade. Karena mereka baru mendapatkan La Decima pada tahun 2014.

Sumber Referensi : theathletic, uefa, eurosport, marca, transfermarkt

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru