Ketika Manchester City Pertama Kali Rampas Gelar Liga Inggris dari Dominasi Manchester United

spot_img

Jika membicarakan sebuah dominasi di zaman dulu, barangkali Kerajaan Inggris jadi salah satu kisah yang melegenda. Bagaimana tidak? Pada puncak pemerintahannya pada abad ke-20, wilayah kekuasaan mereka hampir mencakup seperempat planet Bumi. Kerajaan Ekspansi maritim ke berbagai penjuru dunia didasari oleh kompetisi melawan Prancis dan ambisi perdagangan.

Jiwa ingin mendominasi dari masyarakat Inggris terus mengalir hingga sekarang. Bahkan, sampai menjalar ke dunia sepakbola. Kini, ada Manchester City. Mereka mendominasi kompetisi domestik dan bahkan menjadi wajah baru bagi sepakbola Inggris di kompetisi Eropa. 

Namun, dominasi City di Britania Raya tak didapat dengan cara mudah. Mereka harus menggulingkan penguasa terdahulu, yakni Manchester United. Lantas, bagaimana proses pertama kali City merampas dominasi sang Setan Merah di Liga Inggris? Berikut kita sajikan kisahnya.

Inggris Sedang Didominasi MU

Sebelum kita membahas prosesnya, alangkah baiknya kita sedikit memberikan penghormatan kepada Manchester United yang lama tak menjuarai Liga Inggris dengan cara menceritakan masa-masa keemasannya. Tak bisa dipungkiri, klub yang bermarkas di Old Trafford itu masih jadi yang tersukses di Liga Inggris dengan koleksi 20 gelarnya.

Sebagian besar kesuksesan United berada di era Sir Alex Ferguson. Bahkan, dari 20 gelar yang tertata rapi di lemari trofi, 13 diantaranya merupakan hasil kerja dari pria berkebangsaan Skotlandia itu.

Menurut catatannya, United juga pernah menjuarai liga sebanyak tiga kali secara beruntun. Yang hebatnya lagi, mereka melakukannya bukan hanya sekali, melainkan dua kali. Yang pertama dilakukan pada medio 1998/99, 1999/00, dan 2000/01. Lalu, Setan Merah kembali melakukannya pada musim 2006/07, 2007/08 dan 2008/09.

Serangkaian prestasi yang didapat United juga tak lepas dari materi pemain yang ciamik. Ketika meraih hattrick gelar Liga Inggris untuk kedua kalinya. Pemain-pemain yang terlibat dalam sejarah itu antara lain Cristiano Ronaldo, Rio Ferdinand, Nemanja Vidic, Paul Scholes, Wayne Rooney, Park Ji-sung, dan masih banyak lagi.

Bermodalkan skuad mumpuni, dominasi United tak berhenti di situ saja. Setelah trofi Liga Inggris musim 2009/10 jatuh ke tangan Chelsea, United kembali melanjutkan dominasinya dengan menjuarai Liga Inggris musim berikutnya. 

Di musim 2010/11, skuad asuhan Sir Alex Ferguson bahkan sudah menjadi pemuncak klasemen sejak November 2010 dan tak tergeser hingga berakhirnya musim. Di musim yang sama, mereka juga berpeluang menambah gelar Liga Champions. Namun sayang, United takluk oleh Barcelona racikan Pep Guardiola di partai final.

City Musim 2010/11

Lantas, di mana posisi Manchester City saat Manchester United tak terbendung di kompetisi domestik? Ada, tapi tak menonjol. The Sky Blue menjadi tim yang bersaing di papan atas. Konsisten menembus empat besar dan sesekali menjuarai piala domestik. Itu pun setelah dapat suntikan dana dari Abu Dhabi pada tahun 2008.

Meski demikian, pamor mereka saat itu belum seharum Manchester United. Kursi-kursi di stadion yang menjadi markas mereka pun masih banyak yang kosong karena fansnya belum sebanyak sekarang. Ya, walaupun sekarang masih sedikit juga sih. Kalah jauh dari MU yang jumlah fansnya sama dengan seperempat penduduk Bumi.

Nah, di saat Manchester United kembali merebut mahkota juara dari Chelsea, Manchester City yang kala itu masih ditukangi Roberto Mancini cuma bisa finis di urutan ketiga Liga Inggris musim 2010/11. Sebenarnya itu bukan hasil yang begitu buruk, karena mereka memenangkan Piala FA. Tapi itu bukan hasil yang diinginkan oleh petinggi klub.

Gelar Liga Inggris jadi target mutlak yang dipasang oleh Sheikh Mansour dan kolega bagi City dan Mancini di musim berikutnya. Tantangan pun disanggupi oleh Mancini. Namun dengan satu syarat, yakni ia minta diberikan kebebasan dalam memilih pemain yang akan dibeli pada musim panas musim tahun 2011. Manajemen dan Mancini pun sepakat soal itu.

Hadirnya Sergio Aguero

Konsentrasi Roberto Mancini adalah lini depan. Dirinya merasa bahwa skuad asuhannya sudah cukup kuat dalam menguasai bola. Namun, pelatih asal Italia itu merasa ada yang mengganjal di lini depan. Lini serang City seperti kurang gahar. Tidak ada predator haus gol yang siap memaksimalkan setiap peluang yang ada.

Musim 2010/11, The Citizens cuma mencetak 60 gol saja dari 38 pertandingan Liga Inggris. Padahal, peluang yang diciptakan oleh James Milner cs. Itu jadi yang terburuk jika dibandingkan dengan tiga tim lain di posisi empat besar. Sebagai kampiun, Manchester United saat itu mengemas 78 gol. Sementara Chelsea dan Arsenal masing-masing berhasil mencetak 69 gol da 72 gol.

Sebetulnya City sudah memiliki Carlos Tevez. Sosok penyerang yang memiliki tendangan gledek. Namun, menurut Roberto Mancini, Tevez bukan goal getter sejati. Pemain asal Argentina itu lebih cocok menyerang melalui sisi sayap atau berdiri di belakang striker utama sebagai false nine atau second striker.

Lantas bagaimana dengan Mario Balotelli? Hmmm, tau sendirilah ya pemain yang satu ini cukup spesial. Bintang berkebangsaan Italia itu moody dan kerap menimbulkan masalah. Maka dari itu, performanya di lapangan pun tak konsisten. Maka dari itu, striker papan atas adalah target utama City musim itu.

Beberapa nama pun muncul dalam daftar. Tapi ada satu nama yang menarik perhatian Mancini. Dia adalah Sergio Aguero, pemuda 22 tahun yang kala itu masih berseragam Atletico Madrid. Sejak usianya belasan tahun, Aguero sudah konsisten mencetak dua digit gol bersama Los Rojiblancos. Di musim terakhirnya, ia bahkan mengemas 20 gol di La Liga. Itu lebih baik dari Karim Benzema dan David Villa.

Dengan talenta yang menawan, City bukan satu-satunya klub yang menginginkannya. Saingannya pun tak tanggung-tanggung. Kala itu, Real Madrid juga memantau sang pemain. Namun, dengan kecakapan negosiasi dan penawaran proyek yang menarik di Inggris, Aguero akhirnya memilih City. Ia ditebus dengan bandrol 35 juta pound. Itu jadi transfer termahal City musim itu.

Kalah di Community Shield, Tapi Superior di Liga

Negosiasi yang panjang membuat Aguero belum bisa bergabung dengan Manchester City yang sedang melakoni tur pramusim. Ia bahkan belum bisa diturunkan saat timnya harus menghadapi Manchester United di final Community Shield. Tanpa Aguero, City takluk dengan skor 3-1 dari United.

Ini bak sebuah peringatan bagi pasukan Roberto Mancini. Dengan perombakan yang sudah dilakukan, City tetap tak mampu mengungguli keperkasaan United. Namun, Mancini paham bahwa piala berbentuk piringan itu bukan target sesungguhnya. Ia memilih untuk fokus pada kompetisi yang sebenarnya.

Dan benar saja, Community Shield tak ubahnya laga pemanasan bagi Manchester City. Tim berjuluk The Sky Blue itu langsung menggebrak di pekan pertama Liga Inggris musim 2011/12 dengan menghancurkan Swansea City lewat skor 4-0. Dua dari empat gol tersebut dicetak oleh Sergio Aguero yang bermain sebagai pemain pengganti.

Setelah kemenangan itu, Manchester City langsung tancap gas. Mereka tak menelan kekalahan sekalipun dari 14 pertandingan. Salah satu kemenangan itu bahkan diraih dengan cara yang spesial. Mereka mengalahkan Manchester United dengan skor mencolok, yakni 6-1 di Old Trafford.

Jelas ini sebuah balas dendam yang memuaskan atas kekalahan mereka di Community Shield. Serangkaian hasil positif itu pun membuat City melesat ke puncak klasemen sementara meninggalkan rival-rivalnya. Namun, Joe Hart cs tak bisa leha-leha, United yang membuntut di urutan kedua siap menggusur City kapan pun.

Pasukan Sir Alex Ferguson juga tak mau kalah dengan City. Meski sempat terpeleset di pekan-pekan tertentu, mereka terus berusaha mendulang kemenangan sebanyak mungkin agar tak jauh tertinggal dari City. Bulan Oktober hingga Desember jadi momen United meraup banyak poin. Dari sembilan pertandingan, hanya satu kekalahan yang diterima. Sisanya berhasil dimenangkan oleh United.

Poin yang Sama

Di awal paruh kedua musim 2011/12, Manchester City mulai oleng. Beberapa kekalahan pun dikantongi oleh mereka. Lucunya, City justru takluk dari tim-tim papan tengah macam Everton dan Sunderland. Sementara itu, United memanfaatkan situasi. Masih tertahan di posisi dua, tapi selisih poinnya cuma dua.

Momen titik baliknya pada Bulan Maret, tepatnya pekan ke-28. Dimana Manchester City kembali menelan kekalahan. Kali ini, dari Swansea dengan skor 1-0. Tampaknya The Swans tak terima dengan pembantaian yang dilakukan City di awal musim. Di pekan yang sama, United justru menang 2-0 atas West Bromwich Albion. Wayne Rooney jadi tokoh utama di balik kemenangan ini. Ia memborong dua gol di laga tersebut.

Hasil ini membuat United menyalip City untuk menduduki puncak klasemen sementara Liga Inggris musim 2011/12. Disaat membutuhkan poin untuk kembali merebut tahta puncak klasemen, City hanya mengantongi satu kemenangan di empat pertandingan berikutnya. Mereka kalah dari Arsenal dan dua kali ditahan imbang Sunderland dan Stoke City.

Baru di pertengahan April, City mulai bangkit. Ketika kompetisi tinggal menyisakan enam pertandingan, The Sky Blue menyapu bersih lima pertandingan. Salah satu pertandingan kuncinya adalah melawan Manchester United. 

Bermain di kandang sendiri, City membawa misi wajib menang. United datang tanpa Nemanja Vidic, ini jadi kesempatan City untuk mengeksploitasi pertahanan lawan. Namun, ternyata United memainkan sepakbola negatif. City kesulitan untuk menembus pertahanan mereka. Gol baru tercipta melalui Vincent Kompany yang memanfaatkan sepakan pojok dari David Silva.

Itu jadi satu-satunya gol yang tercipta di laga tersebut. Gol dari Kompany itu sekaligus memangkas jarak dari sang pemuncak klasemen, Manchester United. Kini, kedudukannya sama. Baik United maupun City telah mengumpulkan 86 poin di pekan ke-37. Cuman, City unggul agresivitas gol.

Aguerooooo!

Situasi ini pun membuat juara Liga Inggris musim 2011/12 harus ditentukan antara dua klub asal Manchester di pekan terakhir. Keduanya sama-sama menghadapi tim papan tengah. Manchester United akan bertandang ke Sunderland, sementara Manchester City akan menjamu Queens Park Rangers di Etihad Stadium.

Hanya kalah selisih gol, Manchester United masih memiliki peluang untuk mengungguli City. Kuncinya cuma satu, yakni City tak boleh menang atas QPR. United sempat di atas langit ketika berhasil mengalahkan Sunderland dengan skor tipis 1-0. Mendengar City yang masih imbang 2-2, pemain dan fans United bersorak kegirangan mengira telah menjuarai Liga. 

Namun, wajah sumringah seketika berubah menjadi mimik muka yang bermuram durja. Suara fans yang bersorak sorai di Stadium of Light mulai mengecil dan digantikan dengan dering ponsel dari beberapa fans. Mereka mendapat notif dari aplikasi live skor bahwa City telah mencetak gol ketiga.

Di saat waktu tambahan hanya menyisakan beberapa detik lagi, Mario Balotelli menyodorkan umpan kepada Aguero. Dan ketika seisi stadion sejenak menahan napas, Martin Tyler, selaku komentator yang bertugas meneriakan nama Aguero dengan nada yang khas. Tak lama, striker Argentina itu mencetak gol yang menghancurkan mimpi Manchester United.

Sampai sekarang, cara Tyler meneriakkan nama Aguero itu terus dikenang di seluruh dunia. Dia mungkin tidak sadar bahwa suaranya telah jadi bagian dari sejarah Manchester City dalam meraih gelar Liga Inggris untuk pertama kali di era Premier League. Gelar itu pula yang menjadi awal dari goyahnya dominasi Manchester United di Liga Inggris.

Sumber: Man City, ESPN, MEN, The Guardian, Independent

 

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru