Dahulu, ketika masih sering menjadi kandidat juara, Arsenal yang dilatih Arsene Wenger punya pemain muda berbakat yang beroperasi di lini tengah. Bocah lugu yang datang dari Spanyol itu bernama Cesc Fabregas.
Kisah Fabregas dan Arsenal merupakan sebuah cerita klasik yang tak akan pernah tenggelam oleh masa. Romansa antar keduanya meninggalkan begitu banyak cerita. Fabregas dan Arsenal, adalah dua pasangan hebat yang pernah berjaya di panggung sepakbola termegah.
Lahir di Barcelona, Fabregas memulai karir sepakbolanya bersama dengan CE Mataro sebelum akhirnya hijrah ke akademi La Masia. Bakatnya dinilai begitu besar. Namun sayang, Barca tak terlalu pandai memanfaatkannya.
Pada tahun 2003, ketika tahu kesempatannya di Barcelona tidak akan banyak, Fabregas langsung menerima tawaran kontrak yang diajukan pelatih Arsene Wenger. Dia bersedia hijrah ke London dan menandatangani kontrak dengan Arsenal.
Pada awal kedatangannya di London, Fabregas merasa sulit beradaptasi. Beruntung, dia bertemu dengan Senderos yang selalu sabar menemani dan mengajarinya untuk bertahan hidup disana.
Di usianya yang masih menginjak 16 tahun, Fabregas tidak pernah berpikir untuk masuk ke dalam tim inti, namun dia terus belajar dari seniornya, seperti Patrick Vieira dan Gilberto Silva, sambil mengkonsentrasikan diri dalam pelatihan Bahasa Inggris.
Perlahan tapi pasti, Fabregas mendapat apa yang dia ingin. Ketika itu, dia melakoni debut bersama Arsenal di usia 16 tahun 177 hari. Dia menjadi debutan termuda dan langsung mencetak sejarah bersama Arsenal. Fabregas melakukan debut di pertandingan melawan Rotherham United di ajang Piala Liga pada 23 Oktober 2003.
Setelah menjadi debutan termuda, Fabregas masih belum berhenti torehkan rekor. Dia menjadi pencetak gol termuda dalam sejarah Arsenal di pertandingan Piala Liga berikutnya, setelah mampu mencetak gol dalam jarak yang dekat yang membawa timnya menang dengan skor 5-1 atas Wolves.
Sayangnya, meski sudah tampil bersama skuad senior Arsenal, dia tidak mendapatkan medali emas di kompetisi Liga Primer Inggris musim 2003/04, karena tidak pernah punya kesempatan main di liga.
Namun, perubahan kemudian didapat Fabregas pada musim berikutnya. Dia yang sudah mendapat cinta luar biasa di usia muda, langsung masuk ke dalam salah satu pemain inti meriam London untuk musim 2004/05. Pertandingan pertamanya di awal musim tersebut adalah dalam pertandingan ajang Community Shield pada tahun 2004, melawan Manchester United. Saat itu, dia mampu membawa Arsenal menang dengan skor 3-1.
Dengan cederanya Patrick Vieira, Fabregas lantas masuk dan menggantikan posisi seniornya itu untuk kemudian tampil secara berturut-turut dalam 4 pertandingan Liga Inggris. Dia meraih pujian dalam pertandingan tersebut, dan bahkan berhasil mencetak gol dalam pertandingan melawan Blackburn Rovers, dengan kemenangan 3-0. Saat itu juga, Fabregas menjadi pemain termuda Arsenal yang mencetak gol dalam pertandingan Liga Inggris.
Sedari muda dulu, Fabregas dikenal sebagai sosok gelandang kreatif. Thierry Henry masih ingat betul ketika melihat Fabregas pertama kali melakoni debut dengan Arsenal. Legenda asal Prancis itu mengatakan bila Fabregas terlihat sangat kecil dengan jersey Arsenal berukuran besar. Meski begitu, hal tersebut dinilainya tidak membuat langkah Fabregas tersendat. Henry malah sudah yakin bila anak muda itu akan menjadi sosok tanggung jawab dan dicintai oleh para penggemar.
Fabregas, ketika berada di atas lapangan adalah sosok konduktor orkestra. Dia adalah kreator dan perajin, tipe pemain yang hanya muncul puluhan tahun sekali. Dia adalah playmaker yang menghubungkan permainan dengan mudah.
Dia adalah sosok luar biasa dan layak disebut sebagai pemuda artistik. Tepat setelah Arsenal ditinggalkan Patrick Vieira, pandangan Arsene Wenger saat itu hanya melihat pada satu sosok yang meyakinkan dirinya. Adalah Fabregas.
Wenger sama sekali tidak meragukan kemampuan Fabregas meski masih berusia muda. Bersama Gilberto Silva yang juga memegang wilayah tengah, Fabregas dengan mudah dan lihai mengolah bola serta mengatur permainan tim gudang peluru.
Ya, kepergian Vieira menuju Juventus membuat Fabregas punya lebih banyak kesempatan bersama Gilberto Silva di lini tengah. Mendapat nomor punggung 4 warisan Vieira, dia menjadi salah satu pemain utama musim 2005/06 dan tampil dalam 49 laga di semua ajang.
Meski sempat diragukan menjadi pengganti Vieira menyusul tubuhnya yang kecil, fabregas berhasil membungkam anggapan itu semua. Dia bermain dengan nyaman dan luar biasa. Bahkan, kegemilangannya berlanjut hingga pertandingan Liga Champions Eropa.
Dia berhasil tampil luar biasa di laga melawan Juventus, Villarreal, hingga Real Madrid. Sayangnya di partai puncak dia tidak bisa membendung pergerakan mantan klub masa kecilnya, FC Barcelona. Arsenal kalah dengan skor 1-2 dan mereka harus puas berada di posisi kedua.
Melanjutkan perjalanan emasnya bersama Arsenal, Fabregas akan selalu dianggap sebagai legenda. Di musim 2006/07, dia mengakhiri musim dengan beberapa penghargaan individu, termasuk penghargaan Golden Boy, yang disajikan oleh majalah Italia TuttoSport, berdasarkan jajak pendapat penulis terkemuka di seluruh Eropa.
Selain itu, dia juga terpilih dalam UEFA Team of the Year 2006 dan Premier League Player of the Month pada Januari 2007. Lebih dari itu, Fabregas masuk ke dalam nominasi PFA Players’ Player of the Year dan PFA Young Player of the Year meski pada akhirnya kalah dari CR7.
Lalu, pada bulan Juni 2007, ia dinobatkan sebagai Arsenal Player of the Season, setelah memenangkan sebanyak 60% suara.
Sayangnya, setelah bakal dianggap sebagai pemain yang setia dengan Arsenal, Fabregas merasa tidak sabar ketika harus dihadapkan dengan situasi rumit yang dihadapi Arsenal. Fabregas yang sudah memulai hubungan buruk dengan penggemar pada akhirnya memilih hengkang dan kembali ke Barcelona.
Keputusannya meninggalkan Arsenal pun bisa jadi merupakan keputusan terburuk dalam kariernya. Pasalnya, dia mengaku menyesal dan tidak percaya akan meninggalkan Arsenal.
Fabregas menjelaskan bagaimana dirinya menolak Pep Guardiola setahun sebelum memilih pindah di tahun 2011. Dia bicara soal bagaimana dia langsung jatuh cinta dengan Arsenal dan memilih menolak tawaran MU.
Fabregas bahkan mengakui bahwa dia terlalu dini pindah ke Barca, yang jadi awal kesalahan terbesarnya.
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=ltwkOLvD5jo[/embedyt]
Sumber referensi: planetfootball, sportskeeda


