Ketegasan Spalletti Yang Sampai Bikin Totti Pensiun

spot_img

Tidak banyak pemain bisa menyamai status Totti di AS Roma. Totti adalah Roma dan Roma adalah Totti. Publik Stadio Olimpico tak habis-habisnya mencintai Totti. Begitu pula Il Capitano, yang tidak pernah lelah membela serigala ibu kota.

Masa Terakhir Totti yang Janggal

Pemain seperti dirinya makin hari makin jarang ditemui di sepak bola modern. Kesetiaannya yang abadi selama 25 tahun bersama giallorossi tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apapun.

Sayangnya, kisah Totti di Roma berakhir dengan meninggalkan duri kecil yang mengganjal dalam hati Romanisti. Musim terakhirnya di Roma, yaitu musim 2017/16, tidak mencerminkan segala kisah romantis yang Totti ukir di Serie A.

Bukan karena Roma tampil buruk di musim itu. Malahan mereka mengakhiri musim 2017/16 sebagai runner up Serie A. Satu tingkat lebih tinggi dari musim sebelumnya. Musim terakhir Totti terasa janggal melainkan karena hubungannya dengan pelatih saat itu, Luciano Spalletti.

Ya, pelatih yang menjuarai Serie A bersama Napoli itu sempat berkonflik dengan Totti semasa ia masih jadi pelatih Roma. Spalletti jarang memainkan Er Pupone dan dituding menyingkirkannya dari skuad. Itu jadi pemantik perselisihan mereka. Bahkan di puncak konflik itu, Spalletti sempat mengusir Totti dari tempat latihan.

Secara Teknis, Spalletti memang punya hak penuh untuk memilih siapa pemain yang dimainkan, dan siapa yang dicadangkan. Tapi semua jadi lebih rumit ketika suatu klub punya pemain seperti Totti. Di satu sisi Spalletti berhak tidak memakai Totti karena alasan strategi. Tapi disisi lain, Spalletti tahu kalau tindakan itu akan membuatnya jadi musuh.

Bukan hanya musuh Romanisti. Tapi juga musuh pecinta Serie A pada umumnya. Itu karena Er Pupone dicintai seluruh penggemar sepak bola Italia. Ketika Roma berhadapan dengan AC Milan di bulan Mei 2017, para Milanisti bahkan membentangkan spanduk bertuliskan “Curva Sud memberi penghormatan pada rival kami, Francesco Totti.”

Tapi Totti malah dibangkucadangkan di pertandingan itu. Publik San Siro bahkan bernyanyi meminta Totti ditarik dari bangku cadangan. Mereka ingin melihat Er Pupone merumput untuk terakhir kalinya. Tapi sampai peluit panjang dibunyikan, Spalletti tak juga memainkan Totti.

Awal Yang Manis

Itu adalah salah satu dari banyak momen yang jadi duri di musim terakhir Totti. Peristiwa-peristiwa ini jadi lebih disayangkan jika mengingat bagaimana hubungan Spalletti dan Totti begitu manis pada awalnya. Kedua sosok itu sebelumnya bisa saling melengkapi sebelum jadi musuh dalam selimut.

Musim 2016/17 bukanlah kali pertama Spaletti menjadi pelatih Roma. Periode pertama Spalletti di Roma adalah tahun 2005 sampai 2009. Ia cukup meraih kesuksesan di masa itu dengan meraih dua Coppa Italia di musim 2006/07 dan 2007/08, juga Supercoppa Italia di musim 2007/08.

Di masa-masa itu, Totti adalah pemain andalan Spalletti. Bertahun tahun sebelum false nine dipopulerkan Pep Guardiola dan Lionel Messi di Barcelona, Spalletti sudah melakukannya bersama Totti di Roma. Spalletti juga menggunakan formasi 4-2-3-1 yang revolusioner di Italia saat itu.

Meskipun di atas kertas formasinya adalah 4-2-3-1, tapi Spalletti mengaku formasinya merupakan 4-2-3-0. Dengan Totti menempati posisi nomor Nol sebagai sumber kreativitas di lapangan. Tidak terbatas hanya sebagai penyerang tunggal.

Dikutip dari Goal, Spalletti saat itu berkata: “Saya punya pemain nomor Nol, dia adalah Totti. Dia menciptakan ruang dan selalu lolos dari kekangan bek lawan. Dia adalah master dalam menciptakan ruang.” Pujinya.

Itu jadi periode paling subur Francesco Totti di Roma. Dengan strategi yang digunakan Spalletti, Totti berhasil mendapatkan penghargaan European Golden Boot di tahun 2007. Namun sayang, Totti dan Spalletti belum bisa menghentikan dominasi Inter di Serie A saat itu.

Musim 2008/09 jadi musim terakhir periode pertama Spalletti di ibu kota Italia. Setelah hanya jadi runner up dibawah Inter di tahun 2006,2007, dan 2008 berturut-turut, ia malah bawa Roma ke finis di peringkat 6 di akhir musim 2008/09. Ia pun hengkang ke Rusia untuk melatih Zenit St. Petersburg.

Hubungan yang Retak

Setelah sukses di Rusia bersama Zenit dengan menjuarai dua gelar liga, Spalletti pulang ke Roma. Ia menggantikan pelatih Rudi Garcia yang didepak pada bulan Januari 2016. Reunian ini sebenarnya berjalan lancar untuk AS Roma. Spalletti mengangkat Roma yang tadinya terseok-seok di papan tengah Serie A, finis di peringkat 3.

Tapi hubungan antara Spalletti dan Totti malah jadi pahit di periode keduanya ini. Itu mulai terendus sejak bulan Februari 2016. Spalletti menegaskan kalau prioritasnya adalah Roma, bukan hanya Totti.

“Saya adalah manajer Roma, bukan hanya Totti. Saya punya tujuan mendapatkan hasil baik untuk klub. Itu dicapai dengan cara memilih skuad yang tepat bukan hanya latar belakang seorang pemain.”

Totti tersakiti dengan keterangan Spalletti itu. Ia juga mengaku kalau hubungannya dengan Spalletti sudah tidak seperti dulu lagi. “Saya tidak pernah bilang saya ingin dimainkan. Kami memang jarang berbicara. Keadaan ini membuat saya mengalami masa sulit.”

Buat Totti Menyerah

Tensi panas berlanjut di pekan ke-33 Serie A musim 2015/16. AS Roma dalam keadaan tertinggal 3-2 lawan tim tuan rumah, Atalanta. Sampai akhirnya di menit 85 Totti yang baru masuk dari bangku cadangan mencetak gol penyeimbang.

Meskipun pertandingan berakhir dengan hasil imbang. Tapi Roma bisa tetap di peringkat ketiga. Namun Spalletti sama sekali tidak kagum dengan kontribusi Er Pupone di laga itu. Dikutip dari AS, ia berkata: “Totti tidak menyelamatkan apapun. Tim-lah yang menyelamatkan laga. Mereka memberikannya gol.” Beberapa berita merumorkan kalau Totti dan Spalletti terlibat perdebatan panas di ruang ganti setelah pernyataan itu.

Di pertandingan setelahnya, yaitu melawan Torino, Totti kembali jadi penyelamat. Kali ini ia mencetak dua gol untuk memastikan comeback dengan skor 3-2. Di hadapan media, Spalletti memberikan pujian dan selamat kepada Totti. Tapi berdasarkan buku biografi Totti berjudul “Un Capitano”, malah terjadi yang sebaliknya.

“Ketika kami masuk ke ruang ganti, ia menutup pintu dan mulai berteriak kepada saya ‘Cukup, anda pura-pura jadi pemimpin padahal seharusnya anda pergi saja. Saya selesai denganmu’. Tulis Totti di buku biografinya.

Totti juga menuliskan dalam bukunya, kalau Spalletti pernah mengusirnya dari Trigoria, tempat latihan I Lupi. Bagi Totti, itu adalah sebuah penghinaan yang luar biasa. Itu terjadi setelah mereka terlibat argumen saat latihan.

“Dia bilang: ‘Cukup. Tidak ada gunanya, anda tidak mengerti. lebih baik anda pulang’ Saya diusir dari Trigoria, tempat yang saya anggap rumah. Itu hukuman yang sangat memalukan.” Tulis Totti.

Totti kemudian mengaku lelah akan pertengkarannya dengan Spalletti. Di fase ini lah untuk pertama kalinya Il Capitano menyerah pada sepak bola.

“Saya kemudian paham, saya tidak bisa melanjutkan lagi jika terus dalam kondisi seperti ini. Jadi, untuk pertama kalinya dalam 25 tahun, saya menyerah” Ungkapnya dikutip dari daily mail.

Tak Dimainkan di Musim Terakhirnya

Spalletti adalah tipe pelatih yang sangat tegas. Ia tidak ada masalah untuk menyingkirkan pemain yang meragukannya. Tidak terkecuali il capitano itu sendiri. Masuk ke musim 2016/17, Totti hanya jadi pemanis bangku cadangan. Tercatat hanya sekali Totti bermain 90 menit di Serie A musim itu dari 18 penampilannya di Liga. Padahal sudah diketahui sebelumnya kalau musim itu bakal jadi musim terakhirnya.

Tapi jika melihat skuad Roma saat itu, memang ini situasi yang sulit untuk Spaletti. Sebab tidak ada posisi yang nyata bagi Totti yang sudah berusia 40 tahun di Roma saat itu. I Lupi sudah punya Edin Dzeko sebagai pencetak gol utama. Ia bahkan jadi top skorer Serie A musim 2016/17.

Sumber kreativitas serangan juga sudah dipegang kendali oleh Mohamed Salah. Ia sudah jadi pemain sorotan di Serie A sejak kedatangannya dari Chelsea. Musim itu Salah mencetak 19 gol dan 13 assist untuk giallorossi di semua kompetisi.

Melihat situasi itu, memang masuk akal untuk tidak memainkan Totti. Spalletti juga berusaha menegaskan kalau sudah saatnya Roma harus segera move on dari Totti.

“Tim ini pantas dapat pujian, tapi kita malah selalu membicarakan hal yang sama. Jika saya memainkan dia lima menit, saya akan dihujat karena dianggap menghina. Jika saya tidak memainkannya sama sekali malah lebih dikritik lagi.”

Meskipun begitu, media dan publik Italia tetap mendukung Totti. Di pertandingan terakhir musim itu, yaitu melawan Genoa, publik Italia memenuhi Stadio Olimpico untuk menyaksikan perpisahaan Er Pupone.

Totti Pensiun, Spalletti Hengkang

Totti tidak dimainkan sebagai starter. Ia dimainkan dari bangku cadangan menggantikan Mohamed Salah di menit ke-54. Meskipun Totti tidak mencetak gol di laga itu, tapi Roma tetap menang 3-2 berkat gol dari Diego Perotti di injury time.

Itu jadi musim terakhir yang sulit untuk Totti dan para penggemarnya. Ia hanya bermain 18 kali di liga. 17 diantaranya adalah sebagai pemain cadangan. Tapi perpisahan tetap dilakukan dengan meriah. Pers Italia secara keseluruhan memuji dan merayakan karir Totti. Seakan untuk sejenak melupakan permasalahannya dengan Spalletti di musim itu.

Publik Stadio Olimpico memegang banner bertuliskan nama Totti dan nomor 10. Bersama dengan tangisan para pendukungnya, ia berjalan menyusuri stadion untuk menyapa fansnya untuk terakhir kali. Dari situ bisa dilihat bagaimana Totti sangat dicintai pecinta sepak bola Italia. Kesetiaannya dengan serigala ibu kota berlanjut di luar lapangan. Setelah pensiun, Totti melanjutkan pengabdiannya sebagai direktur klub.

Sedangkan untuk Spalletti, ia tahu Roma bukan lagi rumahnya. Ia sudah dicap sebagai musuh dan orang yang membuat Totti pensiun. Meskipun itu tidak bisa dipastikan dan dibantah sendiri oleh Spalletti. Tapi anggapan itulah yang melekat.

Padahal di musim 2016/17, Spaletti membawa Roma jadi runner up dengan 87 poin. Itu jadi rekor klub. Meskipun begitu, ia memilih hengkang. Ia pindah ke Inter di musim setelahnya. Tapi kebencian fans Roma masih terasa. Ketika Inter berjumpa dengan Roma di musim 2017/18, para fans roma di stadion bersiul dan mencemoohnya.

Itu tidak membuat Spalletti merubah karakternya. Ia tetap tegas dengan pemain yang tidak cocok dengannya. Di Inter, ia tidak segan mencopot ban kapten Mauro Icardi setelah berani bikin gara-gara. Mungkin itu memang rahasia ia bisa jadi pelatih yang sukses di Italia.

Sumber referensi: TFT, FootballItalia, Daily, Brief, Goal, As, 442

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru