Kenapa Bundesliga Juga Ada di Austria?

  • Whatsapp
Kenapa Bundesliga Juga Ada di Austria
Kenapa Bundesliga Juga Ada di Austria

Christoph Waltz, seorang aktor peraih Academy Award tahun 2010 dan 2013 sejatinya adalah orang Jerman. Orang tuanya berasal dari sana. Namun, ia sendiri secara geografis lahir di Austria, sebuah negara di sebelah selatan Jerman dan orang-orangnya kerap dianggap mirip.

Waltz saat diwawancarai di sebuah acara talkshow “Conan O’Conner” mengatakan kalau sebenarnya orang Jerman dan Austria tidak bisa disama-samakan. Keduanya ibarat kapal perang dan tarian waltz. Namun baik orang-orang Jerman maupun Austria sebenarnya memiliki bahasa yang mirip, kendati tentu saja aksennya berbeda.

Bacaan Lainnya

Bahkan masyarakat Austria sendiri sering menyebut negaranya dengan nama Osterreich. Nama tersebut tampak Jerman-able. Kata Osterreich diambil dari bahasa Jerman kuno. Dokumen mengenai itu ditemukan sekitar tahun 996 Masehi.

Meskipun sering disamakan dengan orang Jerman orang Austria menolaknya. Waltz sendiri mengatakan kalau orang Austria lebih mempunyai sense of humor. Sementara orang Jerman menurutnya terkenal kaku. Susah banget buat bercanda. Ya mungkin ini karena pengaruh Hitler kali ya. Kendatipun sejak Perang Dunia I dan II, dua negara ini memang banyak kemiripan.

Munculnya Bundesliga

Baik Jerman maupun Austria, keduanya dipimpin oleh seorang kanselir. Presiden hanya sebatas kepala negara saja. Mengenai sistem pemerintahan, keduanya sama-sama menggunakan sistem federal. Wilayahnya berdasarkan negara bagian federal (bundes).

Nah, mulai dari sini istilah bundes muncul. Bundes dalam bahasa Jerman merupakan istilah yang dipakai di ranah politik. Namun istilah bundes ini juga dipakai untuk urusan nonpolitik, salah satunya adalah sepak bola.

Maka dari itu, lahirlah Bundesliga di kedua negara. Tujuan awalnya memang pengin mempertemukan klub-klub dari negara bagian federal (bundes). Akan tetapi, pada kenyataanya Bundesliga Jerman pamornya lebih mentereng daripada Bundesliga Austria.

Boleh jadi itu karena Bundesliga Jerman lebih dulu digelar pada 1963. Sebelas tahun setelah itu, baru Bundesliga Austria mulai digelar, tepatnya tahun 1974. Lantas apa yang membuat Bundesliga Austria tak semenakjubkan Bundesliga Jerman?

Bundesliga Austria

Bundesliga Austria diikuti lebih sedikit klub daripada Bundesliga Jerman. Jika di Bundesliga Jerman terdapat 18 klub partisipan, di Bundesliga Austria hanya diikuti oleh 12 tim. Bundesliga Austria tak dipenuhi klub-klub yang terbilang elit di kancah Eropa. Berbeda dengan Jerman yang dipenuhi dua kekuatan: Bayern Munchen dan Borussia Dortmund.

Rapid Wina menjadi klub yang paling produktif bahkan sejak pertama kali Bundesliga Austria digelar. Total, Rapid Wina sudah mengangkat trofi Bundesliga Austria sebanyak 32 kali. Awalnya kompetisi tertinggi di Austria ini hanya berkutat pada dua klub saja. Mungkin sama seperti saudaranya di Jerman. Sama-sama liga petani.

Jika di Jerman, Bayern Munich berhasil memonopoli kemenangan dengan mengoleksi gelar Bundesliga Jerman terbanyak, Austria dikuasai dua klub asal kota Wina. Selain Rapid Wina ada Austria Wina yang mengemas 24 gelar.

Sistem Bundesliga Austria

Bundesliga Austria juga sering disebut Tipico Bundesliga lantaran alasan sponsorship. Setiap tim di Bundesliga Austria menghadapi tim lain dalam satu musim sebanyak empat kali. Dua pertandingan kandang dan dua pertandingan tandang.

Ilustrasinya begini, Rapid Wina harus menghadapi Austria Wina sebanyak empat kali. Nah dua tim teratas berhak mengikuti kualifikasi UEFA Champions League atau Liga Champions Eropa. Sedangkan tim yang finis di peringkat ketiga dan keempat dikirim ke UEFA Europa League.

Sementara itu, klub yang bapuk dan berada di posisi juru kunci harus diusir ke kasta kedua Liga Austria. Sistem ini berbeda dengan Bundesliga Jerman. Kendati keduanya sama-sama menentukan juara dengan rekor di akhir musim, tapi Bundesliga Jerman mendapat jatah ke Liga Champions lebih banyak dengan peringkat empat teratas berhak ke Liga Champions. Sedangkan yang finis di posisi kelima akan dikirim ke Liga Malam Jumat.

Namun setelah musim 2013/14, format Bundesliga Austria diubah. Setiap tim bermain dua kali (tandang dan kandang) sebagaimana standar kompetisi 22 pertandingan. Akan tetapi bakal dilanjut dengan mini liga. Jadi, ada dua putaran per musimnya.

Enam tim di peringkat teratas akan diadu lagi di Putaran Kejuaraan dengan format dua kali main (tandang dan kandang). Itu untuk menentukan juaranya. Lalu enam tim terbongsor juga ditandingkan dengan format yang sama. Tim yang berada paling buncit berhak terdegradasi.

Uniknya, di format yang baru ini tim yang finis di posisi enam justru tidak mendapat keistimewaan. Malahan tim yang finis di posisi ke-7 atau ke-8 (dua teratas dari putaran degradasi) berhak ikut babak play off Europa League zona Austria. Jadi nanti peringkat 4,5,7, dan 8 diadu di babak play off untuk menentukan satu lagi wakil Austria di Liga Eropa musim berikutnya.

Mengenai Talenta

Untuk urusan talenta tentu tidak perlu ada yang dikhawatirkan dari Bundesliga Jerman. Meskipun talenta-talenta terbaik di Bundesliga Jerman sering kali diprediksi bakal memperkuat Bayern Munchen. Sebab, Die Rotten seolah menjadi klub impian para pesepakbola yang merumput di Jerman. Ambil contoh seorang Robert Lewandowski yang pernah berseragam Dortmund atau Leon Goretzka yang pernah memperkuat Schalke.

Well, sebelum abad ke-21, kekuatan Bundesliga Austria juga masih berpatok pada dua klub ibukota saja. Namun pada 2005, saat SV Salzburg dibeli Red Bull semua jadi tak sama.

Red Bull merenovasi ulang klub Salzburg. Terjadi perubahan di sana-sini, mulai dari staff, fasilitas, hingga branding. Ya, nama klub pun berubah menjadi Red Bull Salzburg atau RB Salzburg. Sejak 2005, justru RB Salzburg lah yang menguasai Bundesliga Austria.

Mereka menjuarai Bundesliga Austria sebanyak 15 kali. Bahkan hebatnya mulai musim 2013/14 tidak ada yang bisa merebut mahkota Bundesliga Austria dari RB Salzburg. Padahal sejak musim itu pula format liga berubah.

Talenta-talenta hebat juga muncul dari Bundesliga Austria, terutama yang pernah berseragam RB Salzburg. Jauh sebelum bermain untuk Liverpool, Sadio Mane pernah berseragam RB Salzburg pada musim 2012/13 dan 2013/14. Saat itu Salzburg membeli Mane dengan harga 4 juta euro atau kira-kira Rp 67,6 miliar kurs sekarang.

Ketika membela Salzburg, Mane tampil sebanyak 87 kali dan mencatatkan 45 gol. Wajar kalau harga Mane pun meningkat jadi 23 juta euro atau Rp 388 miliar saat dijual ke Southampton. Erling Haaland juga pernah memperkuat Salzburg.

Pada Januari 2019, saat usianya masih 19 tahun, Haaland memakai seragam RB Salzburg. Meski hanya membela Salzburg selama setahun, ia sudah membukukan 29 gol. Haaland juga sudah menjadi incaran klub-klub besar sejak dulu. Dortmund berhasil memenangkan perburuan setelah sukses mengangkut Haaland ke Signal Iduna Park dengan banderol 20 juta euro atau Rp 338,1 miliar.

Begitulah football lovers. Kendati Bundesliga Austria tidak begitu familiar, tapi Bundesliga Austria turut serta meramaikan khazanah sepak bola Eropa. Kamu juga tak perlu bingung. Ini bukan Austria menjiplak dan numpang tenar, tapi memang kedua negara punya kesamaan.

Sumber referensi: totalfootballanalysis.com, thelocal.de, german-way.com, wsj.com, wikipedia.org, roger.com, idntimes.com.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *