Inovasi Bisnis dan Scouting Cerdas, Kunci Sukses Udinese Bertahan Hidup

  • Whatsapp
Inovasi Bisnis dan Scouting Cerdas, Kunci Sukses Udinese Bertahan Hidup
Inovasi Bisnis dan Scouting Cerdas, Kunci Sukses Udinese Bertahan Hidup

Udinese Calcio bukanlah tim langganan juara di sepak bola Italia. Namanya juga tak setenar klub-klub besar di Negeri Pizza. Sejak berdiri pada 1896, klub berjuluk Le Zebrette itu bahkan tak punya banyak koleksi trofi di lemari mereka. Gelar tertinggi mereka hanyalah Piala Intertoto pada tahun 2000 silam.

Udinese memang pernah memenangkan Prima Divisione musim 1929/1930, kompetisi kasta tertinggi Italia di masa lampau. Namun sejak Serie A terbentuk, Udinese belum pernah mencicip gelar juara Serie A dan belum pernah menjuarai Coppa Italia. Meski begitu, mereka bukanlah tim medioker.

Bacaan Lainnya

Sebut saja Oliver Bierhoff, David Pizarro, Marcio Amoroso, Marek Jankulovski, Samir Handanovic, Sulley Muntari, Gokhan Inler, Mehdi Benatia, Juan Cuadrado, Alexis Sanchez, Antonio Di Natale, hingga Bruno Fernandes adalah sebagian bintang sepak bola dunia yang pernah berseragam Udinese. Para pemain tadi bahkan bisa dibilang mekar saat membela Le Zebrette.

Inilah yang membuat Udinese spesial dan tak bisa disepelekan. Sebutan tim penghasil talenta sepak bola dunia rasanya sangat tepat. Selama ini, bakat-bakat hebat tak pernah absen ditemukan dan dihasilkan oleh klub asal Kota Udine tersebut.

Keluarga Pozzo dan “The Udinese Model”

Semua itu bemula di tahun 1986. Udinese yang terpuruk karena skandal pengaturan skor diakuisisi oleh Giampolo Pozzo. Kehadiran keluarga Pozzo yang memimpin Udinese seketika mengubah wajah klub tersebut, khususnya sejak sang anak Gino Pozzo ikut dalam kepengurusan klub di musim 1994.

Le Zebrette yang sebelumnya seperti klub yoyo yang rajin naik turun kasta sukses terus bertahan di Serie A sejak 1995. Tak hanya itu, Udinese juga mulai rutin lolos ke ajang Piala UEFA. Di kancah eropa, pencapaian terbaik mereka adalah mencapai babak grup Liga Champions 2006 dan menjadi perempat finalis Piala UEFA 2009. Semua pencapaian tersebut adalah buah dari manajemen cerdas yang dikenal dengan sebutan “The Udinese Model”.

Udinese Model merujuk kepada jaringan scouting yang dimiliki oleh Udinese. Sistem scouting atau jaringan pemandu bakat yang dimiliki Udinese sangat luas dan tersebar di seluruh dunia, bahkan bisa dibilang salah satu yang terbaik di dunia. Pernyataan Magda Pozzo, koordinator pemasaran strategis Udinese berikut ini dapat membuktikan hal tersebut.

“Udinese benar-benar tim pertama di Italia yang didasarkan pada strategi kepanduan internasional. Ketika kami mulai, bahkan klub terbesar di Serie A tidak ada yang melakukan itu. Jadi, kami benar-benar unik dalam hal itu. Kami sudah memiliki jaringan scouting yang sangat besar.” kata Magda Pozzo, dikutip dari Goal.

Lewat cara itulah Udinese menemukan banyak pemain muda berbakat. Para talenta hebat itu direkrut dengan nominal kecil untuk kemudian dipoles menjadi calon bintang dunia. Ketika sudah mekar, mereka kemudian dilepas dengan harga mahal demi meraup keuntungan yang akan diinvestasikan kembali ke klub.

Metode perekrutan dan penjualan pemain seperti itu masih diterapkan Udinese hingga sekarang. Jauh sebelum klub lain mengandalkan video scout, Udinese sudah lebih dulu memakainya. Kini, mereka juga mengkombinasikan jaringan scout mereka yang luas dan berdedikasi dengan platform teknologi seperti Wyscout dan Instat untuk memantau calon rekrutan mereka.

Hasil “The Udinese Model”

Salah satu contoh kesuksesan model tersebut adalah Alexis Sanchez. Scout Udinese mengendus bakat hebatnya saat berusia 16 tahun. Kala itu, Sanchez masih membela klub lokal Cobreloa. Mantan direktur teknis Udinese Fabrizio Larini mengungkap bahwa mereka telah mengintai Sanchez sejak lama.

“Kami telah mendengar tentang Alexis saat masih remaja. Kami memiliki pusat di mana kami menerima rekaman dari pertandingan dari semua liga dunia dan dia kami tandai. Kami mengirim beberapa pengintai untuk melihatnya secara langsung dan mereka mengkonfirmasi apa yang telah kami dengar,” kata Fabrizio Larini dikutip dari gentlemanultra.com.

Namun, Udinese tak terburu-buru mengangkut Sanchez ke Italia ketika mereka telah sepakat membelinya dengan harga 3 juta euro pada 2006 silam. Udinese meminjamkannya terlebih dahulu ke raksasa Chile, Colo Colo selama setahun kemudian meminjamkannya lagi ke River Plate di musim berikutnya. Tujuannya agar bakat, skill, dan fisiknya telah siap ketika mentas di sepak bola Eropa.

Sanchez kemudian resmi berseragam Udinese mulai musim 2008. Ia lalu bertahan selama 3 musim dan mencatat 112 caps serta mencetak 21 gol dan 20 asis di semua ajang sebelum dilepas Udinese ke Barcelona pada tahun 2011 dengan harga 26 juta euro.

Alexis Sanchez bukanlah satu-satunya pemain yang menghasilkan keuntungan finansial. Udinese telah meraup banyak keuntungan dari penjualan pemain mereka sendiri. Di musim panas ini, mereka juga kembali berhasil mencatat keuntungan yang fantastis.

Le Zebrette bertengger di posisi 4 sebagai tim dengan keuntungan transfer terbesar di Eropa. Berdasarkan catatan transfermarkt, Udinese hanya kalah dari Inter Milan, Borussia Dortmund, dan Red Bull Salzburg.

Udinese berhasil mencatat keuntungan sebesar 53 juta euro. Keuntungan tersebut didapat setelah mereka hanya mengeluarkan 9,3 juta euro untuk membeli beberapa pemain anyar dan mendapat pemasukan sebesar 62,3 juta euro dari penjualan beberapa pemainnya.

Penjualan terbesar berasal dari Rodrigo de Paul dan Juan Musso. De Paul yang dulu dibeli Udinese dari Valencia dengan harga 10 juta euro dilepas ke Atletico Madrid dengan harga 35 juta euro. Sementara Juan Musso yang dulu dibeli dengan harga 4 juta euro dari Racing Club dilepas Udinese ke Atalanta dengan harga 20 juta euro.

Selain karena jaringan scouting mereka yang luas, keberhasilan Udinese mendapat banyak pemain berbakat juga tak lepas dari sosok Keluarga Pozzo itu sendiri. Selain memiliki Udinese, anggota keluarga Pozzo juga memiliki klub Liga Primer Inggris, Watford. Klub berjuluk The Hornets itu dimiliki Gino Pozzo, anak dari Giampaolo Pozzo sejak 2012 silam.

Watford juga dioperasikan mirip dengan Udinese sehingga jangan heran bila kedua klub tersebut saling bersinergi dan kerap terlibat kesepakatan transfer. Perpindahan pemain dari Udinese ke Watford atau sebaliknya sudah jadi pemandangan umum. Seperti di musim ini, Udinese membeli Isaac Success dari Watford dengan harga 1,8 juta euro.

Begitulah cara Keluarga Pozzo mengelola klub sepak bolanya, khususnya Udinese. Selain bermodalkan jaringan scouting yang sangat luas dan tersebar di seluruh dunia, Le Zebrette juga dijalankan dengan manajemen bisnis yang inovatif.

Model Bisnis Udinese

Tahukah kamu, Udinese adalah satu dari sedikit klub Liga Italia yang punya stadion sendiri. Itu terjadi setelah pada tahun 2013 Udinse mengeluarkan biaya sekitar 4,55 juta euro kepada pemerintah kota Udine yang kemudian memberikan jaminan kepemilikan Stadio Friuli kepada Udinese Calcio selama 99 tahun.

Udinese kemudian merenovasi stadion tersebut dan menambah kapasitasnya menjadi 25.144 kursi dengan biaya sekitar 50 juta euro. Renovasi tersebut selesai pada tahun 2016 dan Udinese langsung menjual “naming rights” Stadio Friuli kepada Dacia, produsen mobil asal Rumania. Sejak saat itu, Stadio Friuli dikenal pula dengan sebutan Dacia Arena.

Di saat pandemi lalu, Udinese jadi tim Serie A yang sangat inovatif. Mereka adalah tim pertama di Italia yang menawarkan dukungan via Zoom untuk para penggemarnya. Bisa dibilang, Udinese adalah sebuah kombinasi cerdas antara manajemen yang cerdik, pemain-pemain muda berbakat, serta rencana bisnis yang cerdas dan inovatif.

Pertanyaannya adalah, mengapa masih banyak sponsor yang mau bermitra dengan Udinese meski klub tersebut tak memiliki prestasi yang mentereng?

Jawabannya sederhana, Udinese tak semata-mata berfokus kepada hasil. Apa yang mereka tawarkan adalah sebuah proyek yang nilainya lebih dari sekadar sepak bola.

“Saya selalu mengatakan kepada mitra kami: ‘Jangan berinvestasi di Udinese jika Anda hanya memikirkan hasil di lapangan. Investasikan di klub kami karena Anda yakin ini adalah proyek yang solid dan menarik.’” kata Magda Pozzo dikutip dari Goal.

Udinese sadar bahwa mereka bukanlah tim besar. Sehingga mereka tak dapat menawarkan genggi bahkan juga tak dapat menggaji mahal para pemainnya. Namun Udinese menjamin pengelolaan klub yang jujur dan profesional. Jauh dari gangguan dan tekanan menjadikan Udinese tempat yang sangat bagus sebagai batu loncatan bagi para pemain muda berbakat.

Itulah mengapa mereka dapat menghasilkan ratusan juta euro dari penjualan pemain di bursa transfer. Cara itulah yang menjadikan Udinese kuat dan dapat bertahan di kerasnya sepak bola Eropa hingga detik ini.

***
Sumber Referensi: These Football Times, Si, SBNation, Goal, Gentemanultra.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *