Wolverhampton Wanderers kini berhasil mendatangkan eks preman Atletico dan Chelsea, Diego Costa. “Si Bengal” yang penuh kontroversi ini akan kembali merumput di Liga Inggris. Ia akan mengenang masa-masa indahnya ketika sukses di Inggris.
Namun, di usianya yang sudah uzur apakah ia masih bertaji untuk klub barunya? Atau jangan-jangan malah hanya membuat gaduh klub?
Here’s Diego Costa in Wolves shirt as contract until June 2023 has been signed, as revealed yesterday — he will be unveiled as new signing soon. 🟠🔛 #WWFC
📸 @generalLv0 pic.twitter.com/NBsowrSqS7
— Fabrizio Romano (@FabrizioRomano) September 9, 2022
Daftar Isi
Mengembara Di Sejumlah Klub Sejak Muda
Sebelum bercerita lebih tentang apakah dia cocok kembali di Liga Inggris, alangkah baiknya kalau menapaki perjalanan karir “preman” yang satu ini. Diego muda notabene berasal dari anak jalanan di Brazil yang mencoba peruntungannya ketika usia belasan tahun dengan merantau ke Portugal. Siapa yang membawanya ke Portugal?
Ya, dia adalah agen ternama, Jorge Mendes, agen yang kita tahu banyak membawa para pemain Portugal ke Wolves. Mendes kagum pada talenta Costa ketika melihatnya yang sedang bersekolah di klub sepakbola Barcelona Esportivo Capella, sebuah klub kecil di Sao Paulo.
Mendes pun membawanya ke Braga pada 2006. Namun dalam perjalanannya, ia sempat dipinjamkan ke Penafiel di Liga Dua Portugal. Setelah 5 gol dari 13 pertandingannya bersama Penafiel, Mendes mendapat kabar kalau Atletico Madrid kepincut pada kliennya itu.
.@diegocosta began his career with @SCBragaOficial and Penafiel in Portugal #TopFootballFacts pic.twitter.com/U6YrRm8AgN
— Top Football Only (@TopFootball0nly) February 7, 2016
Mendes pun akhirnya mengatur transfer Costa ke Atletico. Costa pun akhirnya hijrah ke Atletico pada 2007. Namun, ia tidak serta merta langsung menjadi pemain Atletico karena masih muda dan minim jam terbang. Ia malah dipinjamkan ke beberapa klub oleh Atletico.
Ia mengembara ke sejumlah klub di Spanyol. Tercatat sejak dari tahun 2007 sampai 2012 ia malang melintang di sejumlah klub seperti Celta Vigo, Albacete, Real Valladolid sampai Rayo Vallecano. Pengalaman di 4 klub itu sudah cukup menjadi modal bagi “Si Bengal” menempa mental dan kualitasnya. Tak heran kalau Atletico sebagai sang pemilik memilih untuk ia kembali dan berkontribusi lebih bagi tim.
¿Sabías que… antes de debutar con el @Atleti , @diegocosta jugó como cedido en @SCBragaOficial , @RCCelta , @AlbaceteBPSAD y @realvalladolid y que, tras lesionarse gravemente en el verano de 2011, fue cedido al @RayoVallecano al carecer de sitio en el Atleti?#VuelveCosta pic.twitter.com/9I3mp2bI2O
— Peña Bendita Locura (@BenditalocuraAt) December 27, 2017
Ditempa Simeone
Meroketnya karier Diego Costa ini tak dipungkiri berkat tempaan pelatih Diego Simeone. Simeone baru mengambil musim penuhnya pada 2012/13, setelah datang pertengahan musim 2011/12. Ia langsung membawa pengaruh berarti bagi tim. Termasuk karir Diego Costa yang dipercaya menjadi bomber andalan.
Diego Costa for Atlético Madrid under Diego Simeone:
◉ 176 games
◉ 75 goals
◉ 4 trophiesNo.5 in our ranking. 👇
— Squawka (@Squawka) December 30, 2020
Duetnya bersama Radamel Falcao mampu membawa gelar UEFA Super Cup dan Copa Del Rey bagi Atletico pada musim 2012/13. Begitu pun di musim keduanya. Diego Costa berganti duet dengan David Villa dan kembali meraih prestasi dengan membawa Atletico juara La Liga dan mengantarkan Los Colchoneros ke partai puncak Liga Champions.
Pernah Bersinar Di Liga Inggris
Moncernya Diego Costa di Atletico, membuat namanya melambung. Ia pun menjadi komoditas panas bursa transfer musim 2014/15. Dan benar saja, talenta Costa mampu ditebus dengan mahar besar oleh klub kaya Inggris, Chelsea.
89 games, 52 goals, 2 Premier League titles, that’s some record! 🤯
Would you like to see Diego Costa back in the Premier League?🤔 pic.twitter.com/K6cBT2u64d
— Sky Sports Premier League (@SkySportsPL) September 6, 2022
Costa memulai kariernya di Inggris bersama tempaan Jose Mourinho. Ia berfungsi baik di bawah taktik Mourinho, bersama Hazard dan Willian. Costa menjadi bomber andalan sekaligus top skor dengan 21 gol di musim pertamanya. Gelar juara Liga Inggris dan Piala Liga pun ia raih di musim pertamanya bersama The Blues.
Namun, di musim keduanya, Costa gagal menolong The Blues dari keterpurukan, meskipun dirinya mampu menjadi top skor tim dengan 12 golnya. Sampai di musim di mana ia bertemu pelatih baru Antonio Conte pada 2015/16.
Di bawah Conte, ia meraih sukses kembali meskipun hanya satu musim. Bersama Conte, ia kembali menjadi top skor dengan 20 golnya sekaligus mengantarkan kejayaan The Blues menjuarai Liga Inggris kembali.
Beberapa Kisah Kontroversialnya
Perjalanan hebat Costa di tanah Inggris menyimpan cerita tersendiri. Meskipun sukses dalam hal prestasi, tapi Costa juga terkenal dengan sikapnya yang sering kontroversial. Pelabelan itu pun bukan tanpa sebab. Ya memang itulah Diego Costa. Nalurinya memang seperti itu, bahkan jauh sejak ia berseragam Atletico.
Beberapa sikap kontroversinya sudah mulai tampak ketika di Los Rojiblancos. Ia sering terlibat dalam beberapa pertengkaran di lapangan. Nah makanya tidak heran, jika sikap buruknya itu menular dan terbawa sampai ke Inggris.
Happy Diego Costa day 🔜 pic.twitter.com/ogj8ynHOCA
— Adama (@WolvesNumber37) September 5, 2022
Beberapa sikap kontroversialnya sebagai “tukang ribut” di lapangan juga kerap mewarnai perjalanan Costa di Chelsea. Sifat premanismenya kadang kala tersulut ketika di lapangan. Siapa pun ia lawan, termasuk pelatihnya sendiri. Sampai akhirnya Chelsea lelah dan melepasnya.
Premier League defenders aren’t ready for Diego Costa’s return 😤 pic.twitter.com/XYyTkkvD3v
— GOAL (@goal) September 4, 2022
Setelah kembali ke Atletico pada 2017/18 sampai 2019/20, Costa tidak menunjukkan sisi kontroversialnya. Barangkali karena ia bertemu kembali pawangnya, yaitu Diego Simeone. Costa pun kembali mampu menyumbangkan gelar bagi Atletico seperti Europa League dan gelar UEFA Super Cup.
Namun, sikap kontroversialnya kembali kumat di pertengahan musim 2019/20. Costa disebut sudah terlalu “toxic” untuk tim. Sehingga kontraknya harus diputus secara terpaksa. Atletico memutus kontrak Costa yang sebenarnya masih tersisa hingga 30 Juni 2021. Costa dan Atletico akhirnya sepakat mengakhiri kerja sama pada Desember 2020.
Sebelum kontraknya diputus, Costa juga sempat beberapa kali mangkir latihan. Los Rojiblancos mengungkap bahwa Costa ingin hengkang. Costa mengaku bahwa ia merasa iri karena dinomorduakan setelah kedatangan Luis Suarez. Selain masalah itu, ia juga punya masalah pribadi dengan Nelson Vivas, asisten pelatih Atletico. Ia bahkan sempat kepergok akan melakukan baku hantam dengan Vivas.
Diego Costa almost came to blows with Simeone’s assistant Nelson Vivas before asking Atletico to terminate his contract. The two have had a very tense relationship at the club.#DiegoCosta #AtleticoMadrid #atleticodemadrid #AtleticoMadridfc pic.twitter.com/yaVFm8iLqm
— Soccer Scoop (@SoccerScoop2) December 31, 2020
Kepepet, Apakah Cocok Dengan Taktik Bruno Lage?
Bicara track record-nya yang kontroversial itu, apakah Costa akan cocok dengan internal Wolves? Kenapa Wolverhampton membeli pemain yang bengal seperti Costa?
Wolves mendatangkan Diego Costa kembali ke Liga Inggris, setelah sang pemain mau menandatangani kontrak berdurasi satu tahun. Ia akan bertahan di Molineaux Stadium paling tidak sampai 2023. Soal gaji, Costa tidak terlalu mahal. Ya, bisa dikatakan ini good deal bagi Wolves saat mereka kepepet.
Diego Costa to Wolves, here we go! Been told contract until June 2023 has been signed right now after he successfully completed medical tests in the morning. 🚨🟠 #WWFC
Diego returns to Premier League as free agent to replace Kalajdzić after his ACL injury.
Official soon. pic.twitter.com/0gjP6EJngC
— Fabrizio Romano (@FabrizioRomano) September 8, 2022
Wolves memang kepepet dalam mencari striker pelapis Raul Jimenez yang mandul. Striker baru mereka, Sasa Kalajdzic diterpa cedera dan terancam absen cukup lama. Terpaksa Wolves harus mencari alternatif lain dan pilihannya tak banyak karena bursa transfer sudah ditutup.
Costa pun bukan tanpa sebab menerima pinangan Wolves. Selain masih belum punya klub setelah diputus kontraknya oleh Atletico Mineiro pada Januari lalu, ia bersikeras untuk bernostalgia dengan atmosfer Liga Inggris.
Namun sang pelatih, Bruno Lage harus hati-hati dalam memberikan menit pada Costa. Bruno harus siap menjinakan Costa dari perilakunya yang sering kelewat batas. Baik di dalam maupun luar lapangan. Namun terlepas dari itu, Bruno punya rencana lain dalam mendatangkan Costa.
Costa dapat menempati skema 4-3-3 Bruno sebagai The Real Striker ditunjang pemain-pemain asal Portugal macam Pedro Neto, Matheus Nunes, Joao Moutinho, Goncalo Guedes, maupun Ruben Neves yang notabene secara bahasa maupun budaya tak beda jauh antara Portugal dan Brazil. Jadi, dari segi adaptasi maupun komunikasi akan memudahkan Bruno Lage dalam memadupadankan Costa dengan teman-temanya.
Namun dari segi usia, ia patut dipertanyakan. Diego Costa sudah tidak muda lagi. Apalagi jika dihadapkan pada ketatnya bek-bek Liga Inggris sekarang. Kini, Bruno harus cerdas memanfaatkan kapasitasnya. Baik dari segi naluri maupun pengalamannya. Paling tidak dengan membuat bek lawan minder duluan, sudah menjadi nilai plus bagi keberadaan “Si Bengal” di lini depan Wolves.
Wolves will sign Diego Costa on a free transfer, per @FabrizioRomano
He’s back 😈 pic.twitter.com/szJWlrbYbj
— B/R Football (@brfootball) September 8, 2022
Sumber Referensi : thesun, skysports, planetsport


