Kebangkitan Kepa Arrizabalaga Di Bawah Graham Potter

spot_img

Brace Mason Mount mengunci kemenangan Chelsea atas Aston Villa akhir pekan lalu. Namun, aksi heroik dari Kepa Arrizabalaga saat menjaga kesucian gawang Chelsea juga tak bisa dikesampingkan. Kepa seperti kerasukan Petr Cech. Ia menepis segala macam peluang dari skuat asuhan Steven Gerrard.

Setelah peluit panjang dibunyikan, tepuk tangan penonton mengiringi langkah kaki Kepa menuju ruang ganti. Kepa pun larut dalam suasana, karena momen seperti ini sudah lama tak ia dapatkan. Ya, sejak musim ketiganya bersama Chelsea, posisi Kepa sempat tergusur oleh Mendy. Namun, perlahan ia mulai bangkit dan berusaha merebut kembali apa yang seharusnya jadi miliknya. Yakni penjaga gawang nomor satu Chelsea.

Datang Sebagai Pemecah Rekor!

Penjaga gawang berkebangsaan Spanyol itu sebetulnya merupakan pemain yang tak diinginkan oleh manajemen Chelsea. Klub London tersebut terpaksa mendatangkan Kepa Arrizabalaga pada tahun 2018 lantaran sang kiper utama mereka saat itu, yakni Thibaut Courtois menekan klub untuk melepasnya ke Santiago Bernabeu.

Dilansir ESPN, awalnya Chelsea tak mengincar Kepa sama sekali, tapi mengincar Alisson Becker dari AS Roma. Namun, karena Chelsea enggan memenuhi bandrol yang diminta Roma yakni 62 juta euro (Rp943 miliar), Liverpool berhasil menikung Chelsea untuk mendapatkan Alisson.

Chelsea yang panik akhirnya menembus budget transfer demi mendapatkan Kepa. The Blues rela menebus klausul pembelian sang penjaga gawang dari Athletic Bilbao yang berada di angka 80 juta euro atau setara Rp1,2 triliun. Angka itu bahkan memecahkan rekor transfer dunia untuk seorang penjaga gawang.

Luar Biasa di Musim Perdana

Mantan punggawa Bilbao itu tak perlu menunggu lama untuk menjadi kiper utama Chelsea yang masih ditangani oleh Maurizio Sarri. Bahkan dari 10 laga awal Premier League musim 2018/19, Kepa selalu menjadi starter dan membantu Chelsea meraih 10 laga tak terkalahkan. Kepa juga mencatatkan 5 clean sheet.

Musim 2018/19 juga jadi salah satu musim yang luar biasa bagi Kepa. Meski ia sempat berselisih paham dengan sang allenatore karena menolak untuk digantikan di babak adu penalti saat final Piala Liga kontra Manchester City. Kepa nyatanya berhasil membayar kesalahannya dengan penampilan apik sepanjang musim. Ia berhasil mengantarkan timnya finis di urutan ketiga di bawah City dan Liverpool. 

Keunggulan yang dimiliki Kepa adalah refleks dan kepiawaiannya dalam menghadapi tendangan penalti. Ini persis dengan kemampuan yang dimiliki oleh kiper Chelsea terdahulu, Petr Cech. Jadi ketika menghadapi situasi adu tos-tosan, Kepa selalu menjadi tulang punggung The Blues guna menepis setiap sepakan lawan.

Kecakapannya itu terbukti di laga semifinal leg kedua Europa League musim 2018/19. Bermain melawan Eintracht Frankfurt, Chelsea hanya mampu bermain imbang 2-2 sehingga laga harus dilanjut ke babak adu penalti. Kepa berhasil menepis dua penalti pemain Frankfurt sehingga Chelsea berhasil lolos ke final dengan skor akhir 5-4.

Selain itu, Kepa juga jadi sosok vital di balik keberhasilan ​Chelsea menjuarai Europa League musim itu setelah mengalahkan​ Arsenal dengan skor 4-1. Pemain kelahiran Ondarroa ini juga mencatatkan 7 clean sheet dan hanya 8 kali kebobolan dari 13 pertandingan yang ia mainkan di Liga Malam Jumat.

Hati Ambyar, Bikin Performa Kepa Ikut Ambyar

Di musim kedua, meski kursi kepelatihan berganti ke tangan Frank Lampard, Kepa masih menjadi andalan The Blues di bawah mistar. Namun, Kepa tak mampu menghadirkan satu trofi pun untuk klubnya. Satu-satunya final yang dicapai oleh Chelsea adalah Piala FA. Namun, mereka harus mengakui keunggulan Arsenal dengan skor 2-1.

Penurunan performa Kepa justru terjadi di awal musim 2020/21. Ketika itu Kepa kerap melakukan blunder-blunder yang menggelikan, alih-alih penyelamatan-penyelamatan heroik seperti dua musim sebelumnya.

Kepa bahkan sudah kebobolan 32 gol dari 24 penampilannya di Liga Inggris musim tersebut. Tentu ini jadi catatan yang buruk bagi seorang penjaga gawang dari tim yang menargetkan gelar setiap musimnya. Catatan buruknya itu membuat Kepa diistirahatkan selama beberapa pertandingan.

Buruknya performa Kepa di lapangan disebut-sebut buah dari hati yang ambyar karena hubungannya dengan Andrea Perez, kekasih yang telah dipacarinya selama tujuh tahun kandas di tengah jalan.

Hal itu dikuatkan oleh pernyataan dari salah satu teman Kepa. Diwartakan Mirror, teman Kepa yang tak disebutkan namanya itu pernah mengungkapkan bahwa kandasnya percintaan membuat kesehatan mental Kepa berada di titik terendah. Bahkan kedua orang tuanya yang terbang langsung dari Basque tak berhasil meningkatkan motivasi bermain anaknya.

Mendy Bikin Kepa Makin Tenggelam

Dengan performa Kepa yang tak kunjung membaik, Chelsea pun mendatangkan Edouard Mendy dari Rennes pada tahun 2020. Penjaga gawang berusia 30 tahun itu berhasil menggeser Kepa dari line up utama Chelsea di dua musim berturut-turut yakni 2020/21 dan 2021/22.

Kepa benar-benar tak mendapat menit bermain yang cukup bersama Chelsea. Ia hanya bermain di Piala Domestik. Di Liga Inggris, ia hanya memainkan 7 pertandingan dan kebobolan 8 gol. Total ia hanya memainkan 14 pertandingan di seluruh kompetisi musim 2020/21. Sedangkan di musim 2021/22, Kepa hanya memainkan satu pertandingan lebih banyak dari musim sebelumnya.

Kepa yang mulai putus asa pun sempat menyatakan bahwa ia rela dipinjamkan ke klub lain agar mendapat menit bermain. Dipinjamkan ke mana pun katanya, asal jangan dilepas oleh Chelsea. Napoli sempat menunjukan minat di bursa transfer musim panas lalu. Namun, kesepakatan tak berjalan dengan baik, yang akhirnya membuat Kepa bertahan di Chelsea.

Bangkit Bersama Graham Potter

Menyambut musim 2022/23, Kepa tetap setia mengisi bangku cadangan. Di awal musim, pelatih Chelsea, Thomas Tuchel lebih menggemari Mendy daripada Kepa. Namun, ketika kursi kepelatihan berganti ke Graham Potter, mantan pelatih Brighton itu memiliki selera yang berbeda soal pemilihan penjaga gawang.

Dengan mengejutkan, Potter berani mencadangkan Mendy yang sempat memberikan gelar juara Champions League. Ia lebih memilih Kepa sebagai kiper utama Chelsea. Potter merasa Kepa lebih tenang dalam memainkan bola ketimbang Mendy. Jadi, Kepa akan sangat membantu ketika tim tengah membangun serangan dari bawah.

Keputusan Potter memilih Kepa terbilang tepat. Dalam enam pertandingan awal Potter, Kepa turun dan Chelsea sama sekali belum menerima kekalahan. Bahkan The Blues hanya sekali imbang saat menghadapi RB Salzburg di Liga Champions. Kepa terus meroket di tangan Potter. Total dari 6 laga, Kepa sudah mengemas 4 kali clean sheet dan hanya kebobolan dua gol.

Penampilan Kepa kian menawan. Namanya makin melambung ketika sukses mengamankan gawang Chelsea dari gempuran pemain Aston Villa beberapa hari lalu. Di laga itu, Kepa mengoleksi 7 penyelamatan, tiga di antaranya secara beruntun pada menit ke-21.

Itu jadi yang terbanyak selama karirnya di Liga Inggris. Graham Potter dalam hal ini benar-benar menjadi Harry Potter yang mampu mengembalikan kekuatan Kepa dengan sentuhan sihirnya.

https://youtu.be/9pmHAg6I_bw

Sumber: The Athletic, 90min, The Guardian, Bolasport

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru