Jurgen Klopp dan Thomas Tuchel telah menata reputasinya sebagai dua pelatih hebat asal Jerman. Keduanya terakhir bertemu di ajang Carabao Cup, dan Jurgen Klopp yang kali ini memenangkan pertandingan dengan membawa Liverpool naik podium.
Mais uma conquista para esse grupo que trabalha muito por isso. Vamos por mais. Sempre por mais! Toda a Gloria é de Deus!🙏🏾👊🏾
One more title to this group that works a lot for it. Let’s go for more. Always for more! All glory to God! 🙏🏽👊🏾 pic.twitter.com/1fuoFeVBqd
— Fabinho (@_fabinhotavares) February 27, 2022
Terlepas dari itu, kedua pelatih ini memiliki jejak karier yang hampir sama. Mereka sama-sama mengawali karier di kompetisi Bundesliga. Namun, hubungan keduanya tidaklah terlalu dekat. Mereka justru enggan dibanding-bandingkan.
Sebagaimana yang kita lihat sekarang, kedekatan mereka hanya sebatas kolega, tak lebih. Bahkan faktanya Thomas Tuchel lah yang selama ini mengekor bagi Jurgen Klopp. Dengan kekalahan Tuchel di final kemarin, itu menandakan bahwa Tuchel belum bisa lolos dari bayang-bayang Jurgen Klopp.
Daftar Isi
Awal Karier Klopp dan Tuchel
Sebelum membahas kiprah Thomas Tuchel yang tak bisa lepas dari bayang-bayang Jurgen Klopp. Kita akan ulas sedikit tentang perjalanan karier dari pelatih asal Jerman tersebut. Karier Thomas Tuchel dan Jurgen Klopp tercatat memiliki beberapa kesamaan.
Jurgen Klopp mengawali karier sebagai pemain sepak bola. Setelah dirasa cukup, pelatih berusia 54 tahun ini memutuskan gantung sepatu sebagai pemain profesional di klub Mainz 05 pada tahun 2001. Sama halnya dengan Klopp, Thomas Tuchel juga berstatus sebagai pensiunan pemain sepak bola. Namun, Tuchel memutuskan gantung sepatu lebih dulu pada tahun 1998 bersama tim SSV Ulm 1846.
Baik Tuchel maupun Klopp sama-sama mengawali karier kepelatihan di Bundesliga. Jurgen Klopp pertama kali menjadi manajer di klub yang terakhir ia bela, yaitu Mainz. Sedangkan Thomas Tuchel mengawali karier kepelatihan sebagai pelatih tim muda VfB Stuttgart, yang kala itu dimentori langsung oleh Rangnick yang melatih tim utama. Tuchel pun turut berjasa dalam mengembangkan pemain masa depan Stuttgart seperti Mario Gomez dan Holger Badstuber.
Tuchel Dibalik Bayang-bayang Klopp
Karier Tuchel bersama tim muda Stuttgart cukup mengesankan. Ia berhasil mengantarkan tim muda Stuttgart menjuarai Bundesliga U-19. Dengan prestasinya tersebut, Tuchel direkrut FC Augsburg sebagai pelatih U-19, kemudian Tuchel dipromosikan ke FC Augsburg II pada 2007.
Dengan membawa FC Augsburg II tampil cukup apik, Tuchel akhirnya direkrut oleh Mainz untuk kembali melatih tim junior. Hebatnya, baru semusim bersama Mainz junior ia kembali meraih gelar Bundesliga U-19 pada musim 2008/2009.
Pada musim berikutnya, kala Mainz berhasil kembali ke kasta tertinggi Bundesliga. Tuchel ditunjuk oleh manajemen klub untuk mengisi posisi sebagai pelatih tim utama yang ditinggalkan oleh Jurgen Klopp lantaran ia ditunjuk untuk melatih Borussia Dortmund.
Debut Tuchel dengan tim utama pun cukup menjanjikan, tak mengalami satu kekalahan pun dalam tiga pertandingan awal, termasuk berhasil mengalahkan raksasa Bundesliga, Bayern Munchen di pertandingan ketiga. Bersama Mainz, Tuchel mengandalkan metode latihan yang berbeda dengan Jurgen klopp.
Thomas Tuchel has lost more games against Jürgen Klopp (9) than any other manager in his career.
Friends become rivals once again this weekend. 🫂#CHELIV pic.twitter.com/ap2fjJRLMC
— Squawka Football (@Squawka) February 25, 2022
Berbekal ilmu dari sang guru, Ralf Rangnick, Tuchel menyajikan permainan sepak bola yang variatif dan kuat dari segi taktis. Bahkan Tuchel berhasil membawa Mainz finis di peringkat lima Bundesliga 2010/2011, sehingga Mainz mengamankan satu tiket untuk bermain di Europa League.
Namun, semua pencapaian ini nyatanya tak bisa mengeluarkan Tuchel dari bayang-bayang Klopp. Lantaran publik Mainz belum bisa melupakan sang pendahulunya, sosok kharismatik dan energik di pinggir lapangan serta genre heavy metal football milik Jurgen Klopp.
Komparasi ini cukup menjengkelkan bagi Tuchel, ia ingin memberikan warna baru di tubuh Mainz, tentu dengan gaya Tuchel sendiri bukan gaya Klopp. Namun, bagaimanapun ia mencoba, kharisma dari Jurgen Klopp tetap mengakar di benak fans Mainz 05.
Terulang Kembali di Dortmund
Sialnya, hal serupa terulang kembali di Signal Iduna Park. Tepatnya pada tahun 2015, Tuchel kembali mewarisi skuad peninggalan Jurgen Klopp di Dortmund. Kala itu Dortmund mengalami musim yang cukup mengecewakan pada musim terakhir bersama Klopp. Dengan datangnya Tuchel, manajemen klub berharap ia memberi angin segar ke skuad Die Borussen.
Para pemain yang harus bekerja dengannya terbiasa dengan gaya sepak bola heavy metal milik Jurgen Klopp. For your information saja, sepak bola heavy metal adalah tekanan agresif, serangan balik tujuh hari tujuh malam dan memberikan permainan dengan intensitas tinggi hingga menit terakhir.
Lagi-lagi, Tuchel ingin lepas dari bayang-bayang seniornya tersebut dengan mengubah sistem yang sudah dibangun oleh Klopp. Tuchel bergerak cepat dengan mendatangkan Julian Weigl di musim pertamanya.
Layaknya Xavi atau Andrea Pirlo, Julian Weigl menjelma sebagai kunci lini tengah Dortmund dan kehadirannya membuat Die Borussen berubah dari tim yang menyerang balik cepat menjadi tim yang lebih menguasai bola.
Tentu banyak yang mengapresiasi tindakan Thomas Tuchel yang berani mengubah sistem sepak bola heavy metal yang sudah matang pada era Jurgen Klopp. Dia lebih mendorong pemain untuk membangun serangan dari bawah ketimbang melakukan counter-pressing dan memaksa lawan membuat kesalahan.
Soal Hasil Drawing #FACup
Keduanya banyak sekali bertemu saat Tuchel masih menangani Mainz 05 dan kemudian Borussia Dortmund, dan Guardiola tengah mengasuh Bayern Munchen. Bagaimana rekor pertemuan kedua manajer ini? Catatan Tuchel adalah 1x draw dan 5x kekalahan. pic.twitter.com/FMXmY0LNxa
— Pantau Man City Indonesia (@PantauManCity) March 22, 2021
Segala usaha Tuchel untuk meloloskan diri dari bayang-bayang Klopp tampaknya tak berjalan sesuai ekspektasinya. Meskipun dapat menampilkan pola permainan yang ciamik mirip-mirip dengan pola permainan milik Pep Guardiola. Namun, Tuchel hanya menghasilkan satu buah trofi DFB Pokal pada musim 2016/2017 bagi Die Borussen.
Sangat jauh berbeda apabila dibandingkan dengan yang sudah Jurgen Klopp dapat sewaktu masih melatih Borussia Dortmund. Klopp berhasil meraih dua titel juara Bundesliga, satu DFb Pokal, dua kali German Super Cup, serta satu kali menembus final Liga Champions pada tahun 2013.
Kembali Bertemu di Liga Inggris
Sejatinya Tuchel memiliki kesempatan untuk melepaskan diri dari nama besar Jurgen Klopp ketika ia hijrah ke kota Paris untuk melatih Paris Saint Germain. Di Liga Perancis, ia tak lagi kesal lantaran selalu dibanding-bandingkan dengan Jurgen klopp.
Akan tetapi, mungkin kedua pelatih Jerman ini memang berjodoh. Bagaimana tidak? Kala Tuchel ditunjuk sebagai penerus Frank Lampard untuk pelatih Chelsea pada tahun 2021, ia kembali dipertemukan dengan Klopp yang sudah terlebih dahulu malang melintang bersama Liverpool di sepak bola Inggris.
Kini, Persaingan lama antara dua teman dekat telah dihidupkan kembali dalam beberapa waktu terakhir, dengan Klopp sekarang menjadi lawan yang paling sering dihadapi Tuchel dalam beberapa kompetisi.
Tercatat, pertemuan Thomas Tuchel dengan Jurgen Klopp sudah tersaji sebanyak 18 kali, dengan sepuluh kemenangan untuk Klopp dan tiga kemenangan bagi Tuchel dan sisanya berakhir imbang.
Satu-satunya hal yang bisa diunggulkan oleh Tuchel adalah perolehan trofi. Ia telah mengoleksi sepuluh trofi sedangkan Jurgen Klopp baru mengumpulkan sembilan trofi. Sialnya dengan kekalahan Tuchel di final Carabao Cup, Jurgen Klopp berhasil menyamai perolehan trofi milik Tuchel.
Persaingan kedua pelatih asal Jerman ini telah menunjukkan selama bertahun-tahun bahwa mereka mampu memberikan inspirasi dari pinggir lapangan bagi persepakbolaan dunia.
https://youtu.be/u9lqw7f7bek
Sumber: Panditfootball, Goal, Eurosport, SI


