Belgia datang ke Euro 2020 dengan status unggulan dan favorit juara. Hal itu tak lepas dari status mereka sebagai tim peringkat 1 dunia. Apalagi sejak ditangani Roberto Martinez, Belgia hanya tersentuh 4 kekalahan dalam 54 laga terakhir sebelum Euro 2020 bergulir.
Bukan hanya peringkat mereka di ranking FIFA yang membuat Belgia sangat diunggulkan. Namun juga karena dahaga mereka akan trofi juara. The Reds Devils tengah memburu trofi internasional pertamanya sepanjang sejarah. Kesempatan itu ada sejak skuad mereka dilabeli generasi emas.
Label itu disandang skuad Belgia sejak Piala Dunia 2014. Label tersebut merujuk pada banyaknya pemain bintang dalam skuad Belgia yang jadi andalan di klub-klub besar Eropa dan banderol mahal yang mereka miliki.
Sayang, meski sangat dijagokan di tiap turnamen, hasil terbaik mereka sejauh ini hanyalah juara tiga Piala Dunia 2018. Dengan usia para pemain kunci yang sebagian besar mulai menua, Euro 2020 disebut sebagai kesempatan terakhir generasi emas Belgia untuk meraih juara.
Gave it our all. ❤️ #EURO2020 pic.twitter.com/R2hRjhqPPb
— Belgian Red Devils (@BelRedDevils) July 3, 2021
Mulus di Babak Grup, Belgia Kandas di Perempat Final Euro 2020
Generasi emas Belgia lalu menjalani babak grup Euro 2020 dengan mulus. Mereka sukses melibas Rusia, Denmark, dan Finlandia. Selama babak grup, Romelu Lukaku dkk. berhasil mencetak 7 gol dan gawang Thibaut Courtois hanya kemasukan 1 gol. Keraguan yang sempat muncul akan kualitas para generasi emas yang mulai menua sedikit memudar.
Akan tetapi, ujian sesungguhnya ada di fase gugur dimana mereka langsung berjumpa dengan sang juara bertahan Portugal. Belgia memang menang tipis 1-0, tetapi permainan yang mereka tunjukkan di laga tersebut kurang meyakinkan.
The Red Devils bermain sangat pragmatis. Anak asuh Roberto Martinez cuma menguasai bola 42% saja. Gawang mereka bahkan dibombardir dengan 23 percobaan tembakan. Hal itu kontras dengan 6 tembakan yang mereka ciptakan sepanjang 90 menit.
Our #EURO2020 ends here. Congrats @azzurri. #BELITA pic.twitter.com/nuXFMWsemX
— Belgian Red Devils (@BelRedDevils) July 2, 2021
Apa yang Belgia tunjukkan di laga melawan Portugal membuat banyak pihak kembali ragu. Benar saja. Saat berjumpa dengan Gli Azzurri, The Reds Devils kalah kualitas. Mereka kandas dengan skor 2-1. Bila tak mendapat hadiah penalti, mungkin saja mereka gagal membobol ketatnya pertahanan Italia.
No player completed more take-ons (4) or fouled more times (4) than Eden Hazard in #POR vs. #BEL.
No wonder he was forced off through injury. pic.twitter.com/Ds24cEDRoK
— Squawka Football (@Squawka) June 27, 2021
Absennya Eden Hazard dicap jadi salah satu sebab kalahnya Belgia atas Italia. Belum lagi pernyataan Kevin de Bruyne yang mengaku bermain dengan kondisi engkel yang cedera. Namun, terlepas dari masalah cedera yang menggerogoti beberapa penggawanya, performa The Reds Devils memang menurun.
Penurunan performa sangat terlihat dalam statistik Belgia dalam 4 turnamen terakhir. Mengutip dari Opta, di Euro 2020 ini, generasi emas Belgia hanya mampu mencatat 48 tembakan atau 9,6 tembakan perlaga. Jauh dengan statistik jumlah tembakan mereka di Euro 2016 yang mencapai 19 tembakan perlaga. Jumlah tembakan per laga di Euro 2020 menjadi yang terendah bagi generasi emas Belgia dalam 4 turnamen terakhir.
48 – Belgium attempted only 48 shots in five games at #EURO2020 (9.6 per game), while they had 95 shots in five games at EURO 2016 (19 per game). Regression. #BEL pic.twitter.com/p2NIhfAt1C
— OptaJohan (@OptaJohan) July 2, 2021
Roberto Martinez Dinilai Tidak Tepat Untuk Menangani Timnas Belgia
Performa Belgia di Euro 2020 membuat kualitas Roberto Martinez sebagai juru taktik The Reds Devils mendadak dipertanyakan. Sebagian pihak secara tiba-tiba mengkritik federasi sepak bola Belgia yang berani menunjuk Martinez sebagai pelatih timnas meski rekam jejaknya kurang mentereng.
Sebelum menangani Belgia, pencapaian terbaik Roberto Martinez hanyalah memenangi trofi Piala FA 2013 bersama Wigan Athletic. Bahkan, Martinez dinilai gagal saat menukangi Everton. Oleh karena itulah, sosoknya dianggap tidak pas untuk menangani skuad Belgia yang berisi banyak pemain hebat dengan harga pasar tinggi.
Ninth match between Roberto Mancini and Roberto Martínez today. Mancini has the better record: seven wins, 13 goals scored and one conceded.
The one conceded was in the only defeat against Martínez in the 2013 FA Cup final, which was the last time they met.#EURO2020 pic.twitter.com/uJUici21x7
— Karan Tejwani (@karan_tejwani26) July 2, 2021
Ketimpangan antara kualitas pemain dan pelatih jadi hal yang dipermasalahkan. Namun kritik semacam ini sangat wajar keluar saat sebuah tim yang begitu diunggulkan gugur dini dari turnamen besar. Jangankan tinggal selangkah lagi, jalan Belgia untuk melepas dahaga juara di Euro 2020 masih sangat jauh.
Kursi Roberto Martinez di timnas Belgia akhirnya goyah. Meski pernah membawa negara kecil tersebut mencicip juara tiga Piala Dunia 2018, kegagalan di Euro 2020 terasa begitu menyakitkan. Mereka lagi-lagi tersingkir di perempat final dan yang jadi masalah, gaya permainan mereka tak bisa dibilang meyakinkan. Namun, meski rumor pemecatan sempat mencuat, ketua FA Belgia, Peter Bossaert berskireas bahwa posisi Roberto Martinez sebagai pelatih timns Belgia tetap aman.
“Hari ini kami memulai persiapan untuk pertandingan September dan Oktober. Roberto Martinez akan berada di sana. Tidak ada alasan untuk mengganti staf. Saya tidak punya firasat dia akan mundur. Tidak ada masalah dengan dia saat ini,” kata Bossaert dikutip dari SkySports.
🎙Belgium FA CEO: “Today we start preparations for the September and October games. Roberto Martinez will be there. No official communication will follow, but there is no reason to change the staff.” [Sky] #BEL #EURO2020 pic.twitter.com/v9zBqj9CSb
— RouteOneFootball (@Route1futbol) July 5, 2021
Walaupun hasilnya belum maksimal, sejatinya pekerjaan Roberto Martinez di timnas Belgia sudah sangat baik. Ia mampu mentransfer dan mengembangkan metode permainan sepak bola Belgia di level usia dini ke tim senior. Ia mampu meneruskan program revolusi sepak bola Belgia dengan baik.
Namun masalahnya, banyak pemain andalan Martinez yang mulai menua. Saat ini, Roberto Martinez masih banyak memakai pemain gaek dalam skuadnya. Wajar, sebab banyak pemain muda generasi baru Belgia masih belum matang. Bila kondisi yang sama terus berlanjut, nasib Belgia bisa saja terus bergantung kepada para pemain gaeknya di Piala Dunia 2022.
Peluang Belgia di Piala Dunia 2022
Hal itulah yang membuat sebagian pihak menilai bahwa generasi emas Belgia sudah habis. Euro 2020 dianggap menjadi kesempatan terakhir mereka untuk meraih trofi internasional. Lalu, apakah benar generasi emas Belgia sudah habis di Euro 2020 dan bagaimana peluang mereka di Piala Dunia 2022 nanti?
Rata-rata usia skuad Belgia di Euro 2020 sudah mencapai 29,1 tahun. Terdapat 10 pemain yang berusia di atas 30 tahun, termasuk Hazard dan De Bruyne. Sementara 7 lainnya akan berusia 30 tahun saat Piala Dunia 2022, termasuk Lukaku dan Courtois.
Kevin De Bruyne played a full 90 minutes with a tear in his ankle ligaments yesterday.
“I felt responsibility to play for my country.”
Warrior 💪 🇧🇪 pic.twitter.com/ICDpwd5HPD
— ESPN FC (@ESPNFC) July 3, 2021
Artinya, masih ada kesempatan bagi beberapa pemain generasi emas Belgia yang masih cukup umurnya untuk bertahan hingga Piala Dunia 2022. Hazard dan De Bruyne misalnya. Bila mereka mampu terus fit, di Piala Dunia 2022 nanti mereka masih berusia 32 tahun. Begitu juga dengan Courtois yang akan berusia 31 tahun, sementara Lukaku baru berusia 30 tahun saat Piala Dunia 2022.
Begitu juga sebaliknya. Tak banyak pemain dalam skuad Euro 2020 yang masih akan bertahan di Piala Dunia 2022. Dengan begitu, banyak slot kosong yang harus diisi dengan pemain pengganti yang kualitasnya tak kalah bagus. Maka dari itulah, Belgia perlu mematangkan para pemain mudanya bila ingin memetik hasil maksimal di Piala Dunia nanti.
Saat ini hanya Jeremy Doku, wonderkid Belgia yang masuk skuad Euro 2020. Ia baru berusia 19 tahun dan baru pindah ke Stade Rennais dari Anderlecht di musim lalu. Doku adalah satu-satunya pemain U-23 yang dibawa Martinez ke Euro 2020.
8 – Jéremy Doku completed eight dribbles against Italy, a record for a teenager since we have full data for the World Cup (1966+) and EUROs (1980+). Mesmerising. #EURO2020 pic.twitter.com/29oWdkr1Hh
— OptaJoe (@OptaJoe) July 2, 2021
Sebelumnya, Martinez telah mencoba beberapa pemain muda di laga uji coba jelang Piala Eropa. Salah satunya adalah Albert Sambi Lokonga. Pemain 21 tahun itu masuk skuad sementara Belgia sebelum dikerucutkan menjadi 26 nama. Ia bermain di Anderlecht musim lalu, tetapi kabar baiknya, Lokonga dikabarkan sudah ditebus Arsenal dengan mahar 17,5 juta euro.
Albert Sambi Lokonga is ‘about to leave Anderlecht’ & is ‘closer than ever’ to a move to Arsenal. Lokonga will not travel with Anderlecht for their pre-season camp in Alkmaar today & will sign for Arsenal later this week. [La Derniere Heure via @Sport_Witness] #afc pic.twitter.com/oEX9J5twLu
— afcstuff (@afcstuff) July 5, 2021
Inilah yang jadi perbedaan pemain muda Belgia sekarang dengan dulu. Banyak pemain muda sekarang yang masih merintis di klub besar Eropa. Selain Lokonga, pemain muda Anderlecht lainnya yang juga dilirik klub besar adalah Yari Verschaeren (19 tahun). Ia pernah dikabarkan menarik minat AC Milan dan Arsenal. Verschaeren juga masuk 20 besar nominasi Golden Boy 2021.
Di lini tengah, Belgia punya Charles De Ketelaere yang jadi kandidat kuat suksesor Kevin de Bruyne. Wonderkid 20 tahun itu punya posisi sama dengan De Bruyne dan sudah setahun terakhir dikaitkan dengan beberapa klub besar, salah satunya adalah Atalanta.
Probably our two best centerbacks for in the future.
Zinho Vanheusden (21), made his debut in 2020. Played 77 games in his senior career at Standard.
Sebastiaan Bornauw (22), debuted in 2020 too. Saved Köln from relegation with a header in the 86th minute. pic.twitter.com/g9FSgOo3wb
— Joren 🇧🇪 (@The__Raumdeuter) July 5, 2021
Di lini belakang, calon kuat suksesor trio Alderweireld, Vertonghen, dan Vermaelen adalah Zinho Vanheusden dan Sebastiaan Bornauw. Keduanya masih berusia di bawah 23 tahun. Bornauw sudah 2 musim di Bundesliga sementara Vanheusden yang merupakan produk akademi Inter dikabarkan kembali ditebus Nerrazzuri di musim panas ini.
Selain mereka, Roberto Martinez juga masih punya Adnan Januzaj, Youri Tielemens, dan Leander Dendocker yang segera masuk usia matangnya. Ia juga masih punya Alexis Saelemaekers yang sudah setahun terakhir bermain di AC Milan.
Saelemaekers debut ☑
Saelemaekers provided an assist to Batshuayi ☑
Kessie scored from the spot ☑FT : Belgium 1-1 Ivory Coast pic.twitter.com/UwCwyBoBPB
— Rade De Kruyne 🍥 (@Didi_Yasher) October 9, 2020
Maka dari itulah, anggapan bahwa timnas Belgia sudah habis di Euro 2020 tidaklah tepat. Tim nasional mereka aman di tangan para generasi barunya. Tugas para senior hanyalah menyerahkan tongkat estafet tersebut dengan baik. Sementara para pemain muda tadi masih punya waktu 2 musim untuk mematangkan diri sebelum Piala Dunia 2022.
Fakta para wonderkid tadi juga jadi sinyal bahwa tim nasional Belgia tidaklah dihuni satu generasi saja. Sepertinya, label generasi emas sudah tidak tepat. Pasalnya, The Reds Devils tak henti-hentinya memproduksi pemain kelas dunia.
Sebelum ke Piala Dunia 2022, ujian bagi skuad anyar Roberto Martinez adalah UEFA Nations League 2021. Di bulan Oktober nanti mereka akan berlaga di semifinal melawan Prancis dan bila menang akan berjumpa dengan Italia atau Spanyol di final. Meski level kompetisinya masih di bawah Euro atau Piala Dunia, Belgia diyakini takkan menyia-nyiakan peluang tersebut.
UEFA Nations League Finals dates:
🇮🇹 Italy 🆚 Spain 🇪🇸
📆 October 6, 2021
📍 Milan🇧🇪 Belgium 🆚 France 🇫🇷
📆 October 7, 2021
📍 Turin🏆 Final: October 10, 2021 in Milan#UEFANationsLeague pic.twitter.com/P6PCmlBY1q
— RouteOneFootball (@Route1futbol) December 3, 2020
Akan lebih baik jika Roberto Martinez juga segera menyertakan pemain muda dalam skuadnya. Semakin cepat ia membawanya semakin cepat pula regenerasi dalam tubuh The Reds Devils. Dengan begitu, anggapan generasi emas Belgia yang sudah habis dapat ia bungkam sempurna dan dapat menunjukkan pada dunia bahwa timnas Belgia masih layak ditakuti.
***
Sumber Referensi: SkySports, Forbes, Tirto, Vbetnews, Goal


