[INCLUDE WAWANCARA EDIN TERZIC TAK USAH DI VO]
“THE DREAM IS NOT OVER” | Edin Terzić & Luis Enrique | PSG 0-1 Dortmund | UEFA Champions League
Edin Terzic: “Bila saya harus mencari dan memilih satu kata untuk menggambarkan pencapaian ini, itu adalah kebanggaan. Ini adalah momen yang sangat membanggakan bagi kami,”
Raut muka sumringah nan puas terpancar dari pria berpaspor Jerman tersebut. Ekspresi itu tak berlebihan mengingat tim asuhannya bukan tim yang diunggulkan di ajang ini. Dortmund tak ubahnya sebagai kuda hitam di Liga Champions. Namun, bersama skuad yang tak semewah PSG atau Real Madrid, Terzic membuktikan bahwa Dortmund bisa menciptakan sejarah.
Selain itu, kemenangan Dortmund ternyata juga melahirkan fakta-fakta baru yang menarik untuk dibahas. Tapi, sebelum kita ulas fakta-fakta tersebut, alangkah baiknya kalian subscribe dan nyalakan lonceng terlebih dahulu agar tak ketinggalan konten terbaru dari Starting Eleven.
Daftar Isi
Kembali ke Final Setelah 11 Tahun
Di tengah keraguan, mencapai final Liga Champions musim ini adalah kejutan yang diciptakan Dortmund. Bagaimana tidak? Yang mereka hadapi di babak edisi kali ini adalah tim-tim hebat. Mulai dari AC Milan, PSV Eindhoven, Newcastle United, Atletico Madrid, hingga yang terakhir PSG. Dortmund menyingkirkan lima tim dari lima negara berbeda.
Dejavu! Pada tahun 2013, Borussia Dortmund melaju ke final Liga Champions yang diadakan di Stadion Wembley
Nah pada tahun 2024, Dortmund kembali melaju ke final Liga Champions yang juga diadakan di Wembley.#UCL #Dortmund #MarcoReus pic.twitter.com/H1D59xTxA3
— Starting Eleven (@Starting11ID) May 8, 2024
Ini jadi final pertama Dortmund setelah sebelas tahun yang lalu. Terakhir kali Dortmund ke final Liga Champions adalah pada musim 2012/13. Kala itu, All German Final tercipta. Bayern Munchen jadi lawan Dortmund di Wembley Stadium. Sayang, Dortmund yang kala itu masih ditukangi oleh Jurgen Klopp takluk 1-2 dari Munchen.
Menariknya, musim ini Si Kuping Besar kembali diperebutkan di tanah Inggris. Ini seperti dejavu bagi Dortmund. Meski terus dihantui kegagalan sebelas tahun lalu, Marco Reus lantang percaya Dewi Fortuna sedang berpihak pada mereka.
Reus sendiri tercatat sebagai salah satu alumni final UCL musim 2012/13. Satu nama lainnya adalah Matts Hummels. Mereka jadi dua pemain yang tersisa dari kegagalan di Wembley tersebut. Berbeda dengan Hummels yang sudah berseragam Dortmund sejak tahun 2009, musim 2012/13 adalah tahun perdana Reus bersama Die Borussen.
Happy Ending Bagi Reus?
Ngomong-ngomong soal Marco Reus, kita semua tahu bahwa dia adalah sosok yang setia pada Borussia Dortmund. Ketika sejumlah bintang memilih hengkang, Reus bertahan di Signal Iduna Park. Bahkan ketika sang bestie Robert Lewandowski berkhianat ke Bayern Munchen, Reus tetap bangga mengenakan jersey kuning-hitam.
💛🖤👋🏻 Marco Reus’ last game as BVB player will be the Champions League final at Wembley. pic.twitter.com/SZNuZBT1zH
— Fabrizio Romano (@FabrizioRomano) May 7, 2024
Peluang mendapat gaji selangit dan meraih gelar juara lebih banyak seakan diabaikan begitu saja oleh Marco Reus. Siapa pun yang datang, entah itu Manchester United atau Bayern Munchen sekalipun, ia tetap teguh pada pendirian. Tak mengherankan jika kesetiaan yang ditunjukkan Reus membuat penggemar Dortmund sangat mencintainya.
Nah, setelah mengabdi hampir 12 tahun lamanya, akhirnya kisah cinta Marco Reus dan Borussia Dortmund telah mencapai episode terakhir. Reus memutuskan akan hengkang pada akhir musim ini. Kepergian Reus jelas menjadi momen emosional, baik bagi sang pemain ataupun Dortmund yang selama ini jadi rumah keduanya.
Di musim terakhirnya ini, Reus yang sudah berusia 34 tahun berambisi untuk mengakhiri musim dengan manis. Salah satu cara yang ditempuh adalah mengantarkan Dortmund juara Liga Champions. Membawa pulang Si Kuping Besar bakal jadi kado perpisahan yang sempurna dari Reus untuk klub kesayangannya itu.
Ketika sebagian besar penikmat sepakbola mengira Real Madrid yang akan kembali menjuarai turnamen ini, ada segelintir orang yang berharap bisa melihat Reus mengangkat trofi UCL musim ini. Tentu kita semua suka dengan kisah-kisah dongeng dalam sepakbola. Akan menarik jika pada akhirnya Reus yang tak terlibat dalam gelar Bundesliga terakhir, justru mengantarkan tim yang amat dicintainya itu juara Liga Champions.
Edin Terzic
Harapan yang sama juga tersemat di kepala Edin Terzic. Selain dapat memperbaiki CV-nya, melihat Borussia Dortmund kembali menjuarai Liga Champions musim ini adalah impian sang pelatih. Itu karena di balik profesionalitasnya sebagai pelatih Dortmund, Terzic ternyata seorang The Yellow Wall sejak kecil.
Edin Terzic was in the stands as a fan when Borussia Dortmund won the Bundesliga in 2012.
12 years later, he just led Dortmund to their first Champions League final in over a decade.
Dream big ❤️
(📸: edinterzic11/IG) pic.twitter.com/Bdj3Bokr41
— ESPN FC (@ESPNFC) May 7, 2024
Dari sekian banyaknya fans, Terzic salah satu yang berhasil mewujudkan mimpi untuk bekerja di Dortmund. Terzic sendiri adalah mantan pesepakbola profesional. Sayang, kesempatan untuk membela tim idolanya itu tak pernah datang hingga dirinya pensiun pada tahun 2013 silam.
Satu-satunya tawaran yang datang adalah sebagai staff scouting pada tahun 2010. Kesempatan itu pun tak disia-siakan oleh Terzic. Ia sudah menjadi scouting Dortmund meski masih aktif sebagai pesepakbola. “Double job tak apa lah, yang penting bisa kerja di Dortmund.” Begitu kira-kira batin Terzic.
Maka dari itu, kalau dipikir-pikir pria yang kini berusia 41 tahun tersebut bisa dibilang alumni final Liga Champions 2012/13 juga. Bedanya, Terzic tak hadir sebagai pelatih atau pemain, melainkan sebagai staf tim scouting. Jalan hidup memang tak ada yang tahu ya? Dulu cuma fans, kini membawa Dortmund ke partai puncak Liga Champions.
Beda Nasib Sancho dan MU
Selain Edin Terzic dan Marco Reus, jangan lupakan peran Manchester United yang meminjamkan Jadon Sancho pada musim dingin kemarin. Sancho yang sempat uring-uringan di Manchester bak menemukan sentuhan terbaiknya lagi di Jerman.
Jadon Sancho kerap terlibat dalam permainan apik Dortmund. Tak jarang ia juga jadi sosok paling berpengaruh saat tim sedang menghadapi pertandingan-pertandingan penting. Dribbling dan tusukan-tusukannya sangat merepotkan pertahanan lawan. Sancho bahkan sempat mencatatkan sebelas dribble sukses dalam satu laga di semifinal leg pertama melawan PSG
WEMBLEY HERE WE COME! pic.twitter.com/PL1OrxXTQC
— Jadon Sancho (@Sanchooo10) May 7, 2024
Catatan tersebut kabarnya yang terbanyak di UCL musim ini. Selain mengantarkan Dortmund mencapai final UCL, Sancho juga sudah mencatatkan 18 pertandingan dan mencetak tiga gol dan dua assist di semua kompetisi untuk Die Borussen.
Pencapaian dan kebangkitan Sancho begitu kontras apabila dibandingkan dengan nasib klub induknya, Manchester United. Musim ini, tim Erik Ten Hag sangat berantakan. Ironisnya, usai memastikan absen dari Liga Champions musim depan, United kini terancam gagal tampil di kompetisi Eropa (UEL atau UECL) karena hanya berada di urutan kedelapan klasemen sementara Liga Inggris.
30 Tembakan dan Matts Hummels
Laga Borussia Dortmund melawan PSG juga menciptakan dua rekor. Salah satunya adalah jumlah tembakan yang dilepaskan oleh Les Parisiens. Dortmund berhasil mengunci satu tiket ke Wembley dengan kemenangan agregat 2-0. Itu berarti lini depan PSG yang berisikan Randal Kolo Muani, Ousmane Dembele, hingga Kylian Mbappe gagal menjebol gawang Gregor Kobel.
Dalam dua leg, skuad asuhan Luis Enrique setidaknya melepaskan 44 tembakan dan 30 diantaranya tercipta di leg kedua. Melepaskan 30 percobaan tanpa menciptakan satu gol pun di babak gugur telah memecahkan rekor. Menurut Opta, jumlah tersebut jadi yang tertinggi sejak musim 2003/04.
Sementara itu, Dortmund mampu menciptakan dua gol. Satu gol di setiap pertemuan. Salah satu golnya lahir dari tandukan Matts Hummels. Menariknya, mengutip cuitan Opta, mantan pemain Bayern Munchen itu jadi pemain Jerman tertua yang mencetak gol di fase gugur Liga Champions. Ia menjebol gawang Gianluigi Donnarumma di usia 35 tahun lebih 143 hari.
Sumber: ESPN, Sportstar, Bein Sport, Opta


