Jungkir Balik Djarum Membangun Kembali Como 1907

spot_img

Kedatangan Cesc Fabregas hanyalah secuil kisah dari klub asal Lombardia, Italia, Como 1907. Fabregas memang akan merapat ke Como. Ia berpeluang besar akan dilatih oleh mantan pemain Timnas Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto.

Klub yang sejatinya tidak berada di kasta tertinggi Italia itu, sudah cukup lama menjadi sorotan publik sepakbola tanah air. Tentu saja bukan karena prestasinya yang dahsyat. Bukan pula karena memiliki sejarah, yang tergores dengan tinta emas laiknya FC Parma.

Namun, Como masyhur di kalangan masyarakat Indonesia sejak Grup Djarum mengakuisisi klub tersebut. Apalagi pengakuisisian itu ternyata berdampak luas. Como jadi terangkat derajatnya. il Lariani yang sebelumnya sekadar duduk di Serie D bisa naik ke Serie B.

Kedatangan Djarum Group

Ekspansi Grup Djarum ke klub Italia itu dimulai tahun 2019. Ketika itu, Djarum Group membeli Como yang terseok di Serie D melalui anak perusahaannya, SENT Entertainment. Basis anak perusahaan tersebut sendiri sejatinya berada di Inggris.

SENT Entertainment mengakuisisi Como pada April 2019. Nilai akuisisinya ternyata tidak cukup mahal, yaitu Rp10 miliar rupiah. Itu kalau menggunakan mata uang euro, nilai akuisisinya tidak sampai 700 ribu euro. Paling-paling hanya di angka 655 ribu euro lebih sedikit.

Salah satu petinggi klub, Mirwan Suwarso seperti dikutip Liputan6, mengatakan, nilai akuisisi FC Como ternyata tidak semahal klub-klub di Liga Indonesia. Bahkan tak hanya itu, Mirwan juga menuturkan bahwa gaji pemain Como tidak lebih mahal dari pemain di liga penuh canda.

“Investasi di Como tidak lebih besar dari Liga Indonesia. Gaji pemain juga tidak lebih mahal. Kami tidak akan belanja jor-joran untuk Como,” kata Mirwan Suwarso.

Datang Ketika Kondisi Klub Nyaris Hancur

Grup Djarum datang mengakuisisi Como 1907 di waktu yang tepat. Pada tahun 2019, kondisi finansial klub Italia itu sedang tidak baik-baik saja. Como sedang berdarah-darah berjuang agar tidak bangkrut.

Ketika masuk ke Como, Grup Djarum menjadi dewi penyelamat. Hanya dengan nilai akuisisi sekitar Rp10 miliar, Djarum bisa membangkitkan kembali nilai valuasi Como. Pada saat Djarum masuk ke sana, nilai valuasi Como 1907 melesat di angka 30 juta euro atau sekitar Rp488 miliar.

Padahal sebelum Grup Djarum mengakuisisi, nilai valuasi Como tak sampai 1 juta euro. Sebuah lonjakan finansial yang sangat fantastis. Pertanyaannya, apa yang membuat Como bisa bangkit secepat dan sesignifikan itu?

Pemisahan Urusan Bola dan Bisnis

Dari sekian banyak faktor, ada satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap kemajuan atau kemunduran sebuah perusahaan mengembangkan klub sepakbola. Faktor itu adalah, bagaimana mereka bisa mengatur urusan bisnis dan urusan sepakbola.

Perusahaan yang gagal memisahkan urusan bisnis dan sepakbola, maka bukan tidak mungkin alih-alih berkembang, klubnya justru hancur. Kita tak usah mencari-cari contohnya, karena tentu saja kamu bisa mencarinya sendiri di sekitarmu.

Well, Grup Djarum mengembangkan Como dengan cara memisahkan urusan sepakbola dan bisnis. Hal itulah yang disampaikan Mirwan dalam sebuah diskusi bertajuk Understanding Football Club’s Business Model pada Februari 2022 lalu.

Dilansir situs Kontan, Mirwan mengatakan, Djarum sangat ketat dalam pengelolaan klub sepakbola Como. Saking ketatnya, urusan sepakbola dan urusan bisnis atau di luar sepakbola dipisah. Dalam mengurus sepakbola, nama yang sangat akrab di telinga kita, Dennis Wise ditunjuk sebagai CEO.

Di bawah kendali mantan pemain Chelsea tersebut, Como berencana mengembangkan banyak pemain hebat dan berkualitas. Mereka tidak akan mengandalkan transfer pemain. Melainkan justru berupaya untuk membangun akademi, dan melakukan pembinaan pada pemain muda.

Urusan Sepakbola yang Cemerlang

Como 1907 sungguh-sungguh melakukan pekerjaan yang matang, dengan perencanaan yang tidak seperti PSSI. Dalam membangun akademi sepakbola, ada nilai-nilai menarik yang ditawarkan Como dalam kendali Grup Djarum.

Mirwan bilang, salah satu yang menarik adalah prioritas pendidikan dan pembinaan pasca karier sepakbola. Jadi, ketika ada pemain yang menimba ilmu di Como, selain mendapat ilmu sepakbola juga mendapat pendidikan sekaligus pembinaan ketika karier sepakbola mereka tamat.

“Itulah kenapa banyak yang tertarik dengan value kita,” kata Mirwan Suwarso dikutip Kontan.

Dengan mantap Mirwan mengatakan, program tersebut bahkan membuat Direktur Akademi Sepakbola Inter Milan menyekolahkan anaknya di FC Como. Tentu saja bukan karena menghindari nepotisme. Kata Mirwan, itu dilakukan karena memang sang direktur tertarik dengan nilai-nilai di Como 1907.

Peran Dennis Wise

Dennis Wise adalah sosok yang memiliki pengaruh di Como 1907, khususnya dalam urusan sepakbola alias urusan teknis. Ia yang sebelum menjabat sebagai CEO, pernah mengisi posisi sebagai direktur teknik. Kiprahnya sebagai direktur teknik sangat cakap.

Como 1907 dan Djarum yang memisahkan urusan sepakbola dan bisnis, membuat Dennis Wise bekerja lebih leluasa. Wise bertugas untuk urusan mendatangkan dan menjual pemain. Salah satu kebijakan cerdas Dennis Wise adalah melepas pemain mahal yang tidak produktif.

Uniknya lagi, Como 1907 memiliki standar khusus untuk pemainnya. Dilaporkan Liputan6, Mirwan mengatakan, bahwa paling tidak pemain Como harus mendapatkan tingkat intelegensi di atas rata-rata. Ya minimal memiliki pendidikan S1.

“Di Italia, barangkali cuma Como yang punya tiga pemain lulusan S2. Salah satunya adalah Alessandro Gabrielloni,” kata Mirwan Suwarso.

Dengan kebijakan-kebijakan tersebut, Como sebetulnya memiliki target bisa ke Serie B dalam kurun waktu minimal tiga tahun. Namun, seperti apa yang terjadi, belum juga tiga tahun, Como sudah bertengger di Serie B. Bahkan musim 2022/23 adalah musim kedua mereka di kompetisi kasta kedua.

Bisnis Como 1907 yang Tak Kalah Moncer

Dari tahun 2019 hingga sekarang, total dana yang diinvestasikan Grup Djarum ke Como sudah menyentuh angka 12 juta euro atau sekitar Rp183 miliar rupiah. Nilai investasi yang naik itu menandakan satu hal: bisnis Como 1907 dirasa menguntungkan buat Grup Djarum.

Di lain hal, dengan investasi yang naik, kita bisa menduga bahwa Djarum begitu hebat dalam mengelola klub sepakbola. Selain mengembangkan sisi teknik, Djarum juga mengelola bisnis. Djarum tahu betul lokasi Kota Como hanya 20-30 menit dari Kota Milan.

Mereka mencoba memanfaatkan itu untuk daya tarik wisatawan. Pengembangan brand Como jadi solusinya. Namun, Djarum tidak hanya mengandalkan pemasukan dari tiket. Karena Stadio Giuseppe Sinigaglia kapasitasnya hanya sekitar 13 ribu kursi.

Nah, salah satu caranya adalah dengan membangun gerai souvenir. Karena letak stadion dekat dengan Danau Como, bus pariwisata mau tidak mau akan parkir di depan stadion Como 1907.

Tentu strategi tersebut bisa mendatangkan keuntungan. Apalagi Djarum juga menggali dan mengembangkan industri fesyen di Como. Belum lagi Djarum juga mulai “menjual” sahamnya. Dan salah satu pemiliknya dikabarkan adalah Cesc Fabregas.

Kebanggaan Indonesia

Dengan mengembangkan Como ke arah yang lebih baik, Grup Djarum bisa dibilang membanggakan Indonesia. Apalagi dengan perbaikan klub ke arah positif membuat penggemar lokal Como, mulai mencari tahu tentang Grup Djarum.

Bahkan sosok Bambang Hartono menjadi perbincangan hangat para fans. Indonesia pun akhirnya katut terkenal. Selain itu program The Italian Job: Como 1907yang diusung membawa keuntungan lain buat Indonesia.

Karena dengan program tersebut, para pelatih Indonesia bisa belajar langsung di Como. Itulah mengapa kita tahu ada Si Kurus di sana. Tentu belajar di negeri yang sudah pasti serius menangani sepakbola akan lebih baik, daripada terus-terusan menunggu PSSI menyadari ada kata “sepakbola” di nama organisasinya.

Sumber: Kontan, IDNTimes, Liputan6, Mancode

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru