Pada November lalu, Liga Super China baru saja kedatangan juara baru, yaitu Jiangsu Suning. Klub yang bermarkas di Nanjing Olympic Sports Centre resmi dinobatkan sebagai juara pada November 2020 lalu. Gelar juara tersebut didapat setelah mereka berhasil mengandaskan perlawanan sang juara bertahan musim sebelumnya, Guangzhou Evergrande dengan skor 2-1.
Di laga itu, nama Eder dan Alex Tereira menjadi penentu kemenangan Jiangsu dengan gol yang diciptakan, sedangkan satu gol Guangzhou dicetak oleh Wei Shihao.
Gelar ini pun menjadi hadiah bagi penantian panjang Jiangsu Suning setelah pada tahun 2012 dan 2016 mereka hanya duduk di posisi runner up, tepat dibawah Guangzhou Evergrande.
Dengan kemenangan itu pula, tim asal Italia, Inter Milan, turut memberi ucapan selamat kepada Jiangsu Suning. Ucapan dari Inter itu terjadi karena memang kedua tim bekerja sama dengan Suning Group.
Menjadi juara, selain menaikkan reputasi klub, juga tentunya akan kebanjiran sejumlah uang hadiah, seperti dari sponsor maupun hak siar televisi. Namun bagi Jiangsu Suning, hal tersebut tidaklah berlaku. Mengapa? Seperti yang dikabarkan oleh banyak media, Jiangsu Suning menjadi tim yang harus mengalami banyak kerugian meski berstatus sebagai sang juara liga. Mereka dikabarkan bangkrut setelah Suning yang selama ini menjadi penopang dana terbesar mengalami krisis finansial.
Klub yang dimiliki investor Inter Milan itu bangkrut dan secara sepihak membubarkan diri pada 28 Februari 2021.
Jiangsu Suning sendiri pertama kali didirikan pada tahun 1958 oleh pemerintah daerah Provinsi Jiangsu untuk mengikuti Pekan Olahraga Nasional pada tahun berikutnya.
Setelah dibentuk, klub yang dibentuk oleh pemerintah setempat itu masih terus berjalan meski tampil di kompetisi semi profesional. Seperti diketahui, kompetisi China ketika itu memang belum memungkinkan mereka untuk menjadi profesional. Barulah pada tahun 1994, kompetisi profesional baru dibentuk dan membuat Jiangsu ikut serta didalamnya.
Karena sudah tampil di kompetisi profesional, Jiangsu Suning langsung mendapat tawaran dari berbagai sponsor dan mengganti nama menjadi Jiangsu Maint. Kompetisi China yang ketika itu bernama Jia-A League terus melakukan perkembangan dan membuat klub-klub di dalamnya juga turut membangun diri sendiri.
Namun begitu, tidak mudah bagi Jiangsu untuk terus bertahan. Ada banyak hal yang harus diikuti demi memajukan kompetisi China. Mereka ketika itu mulai kesulitan dan mendapat banyak masalah, termasuk kehilangan sponsor.
Jiangsu Suning won the Chinese league last season but announced on Sunday they would immediately cease operations due to massive financial troubles 🤯
This means the following players will become free agents:
🇧🇷 Alex Teixeira
🇧🇷 Miranda
🇮🇹 Éder
🇬🇭 Mubarak Wakaso pic.twitter.com/W8vbmq0xyN— FifaCMTips (@FifaCMTips) March 2, 2021
Perlahan tapi pasti, Jiangsu mulai memperbaiki apa yang harus diperbaiki setelah mendapat tawaran dari beberapa sponsor. Ketika itu sejumlah perusahaan seperti Jiangsu TV, Jinling Petrochemical Company turut membantu Jiangsu secara finansial.
Berganti sponsor berarti juga harus berganti nama. Setelah kembali bekerja sama dengan sponsor, nama Jiangsu berubah menjadi Jiangsu Jiajia. Namun kembali, mereka harus mengalami masa-masa sulit seperti terjun ke divisi ketiga pada tahun 1996, sebelum akhirnya berhasil naik kembali pada tahun 1997.
Seakan begitu akrab dengan berbagai masalah. Dari tahun 2000 sampai setidaknya 2009, mereka dibekap dengan berbagai isu seperti penyuapan dan sulit naik ke kompetisi tertinggi.
Barulah saat pria bernama Pei Encai ditunjuk sebagai pelatih pada 2007, klub mulai mengalami perkembangan dan tampil di divisi utama pada tahun 2009. Sejak saat itu, Jiangsu tidak pernah terdegradasi dan konsisten tampil di kasta tertinggi. Pada tahun 2015, mereka bahkan didatangi oleh Suning Appliance Group dengan memberikan dana senilai lebih dari 1 triliun rupiah.
Seperti kebanyakan klub China lainnya, melalui dana dari Suning, Jiangsu resmi mendatangkan pemain-pemain dunia seperti Ramires dari Chelsea dan Alex Teixeira dari Shakhtar. Dengan deretan pemain hebat, Jiangsu langsung menjelma menjadi tim yang semakin kuat. Selain tampil hebat di kompetisi domestik, Jiangsu Suning juga sukses masuk ke fase knock out Liga Champions 2017 untuk pertama kali dalam sejarah.
Puncak tertinggi mereka tentu saat menjadi juara seperti yang sudah dijelaskan. Mereka menjadi juara Liga Super China untuk pertama kalinya dalam sejarah, meski pada akhirnya harus membubarkan diri.
Apa yang dialami Jiangsu Suning tak ubahnya menjadi fenomena yang amat langka dalam dunia sepakbola. Tidak hanya tim sepakbola pria saja, tim sepakbola wanita dan juga akademi mereka juga turut berhenti beroperasi.
“Sebenarnya kami enggan berpisah dengan para pemain yang telah memenangkan penghargaan tertinggi bagi kami, dan penggemar yang telah berbagi solidaritas dengan klub. Tapi, kami dengan menyesal harus membuat pengumuman,” kata Jiangsu
Apa yang terjadi dengan Jiangsu Suning pun banyak mengundang komentar. Salah satunya adalah dari mantan pemain Inter Milan, Eder. Eder mengungkap bila ada banyak sekali borok yang terdapat di tubuh Suning Group. Oleh sang pemain, Suning disebutnya tak membayar gaji dan mengurung pemain Jiangsu di hotel.
Lebih dari itu, Eder menyebut bila Suning tak menghormati para penggawa Jiangsu yang sudah membawa klub ini berprestasi.
“Suning tidak akan lagi berinvestasi dalam sepakbola. Mereka tidak menghormati semua pekerja dan pemain. Mereka membiarkan kami tanpa gaji dan mencegah kami bermain untuk klub lain,” ujar Eder via sempreinter)
“Mereka semua adalah pembohong. Kami melakukan hal yang hebat untuk Suning Group, bahkan mampu menjuarai Liga China China. Namun kami tidak mendapatkan perlakuan dan rasa hormat yang pantas kami terima.”
“Jika Suning Group bangkrut, aku bisa menerimanya, tapi tidak dengan cara mereka memperlakukan kami. Kami dikurung di hotel selama beberapa bulan. Kami turut menyebarkan nama Suning ke seluruh dunia, tetapi kami menerima perlakuan seperti itu dengan tidak hormat!,”
Pembubaran yang dilakukan Suning kepada klub Jiangsu pun membuat Inter Milan yang juga bekerja sama dengan perusahaan tersebut turut khawatir. Malah banyak yang menyebut bila Inter akan mengalami nasib yang sama.
Apalagi, kini mereka baru saja kehilangan kontrak dengan salah satu sponsor mereka selama bertahun-tahun, Pirelli. Seperti yang dilaporkan oleh banyak media, kepala Eksekutif Pirelli, Marco Tronchetti Provera, menyebut bila kesepakatan sponsorship kaos mereka, yang dikabarkan bernilai sekitar 10 juta pounds atau setara 199 miliar rupiah per musim, plus bonus tidak akan diperpanjang setelah akhir musim ini.
Meski begitu, dalam hal ini, kekhawatiran Inter tidak perlu dibesar-besarkan mengingat di Italia dan Eropa, klub sepakbola tidak terlalu bergantung pada pemilik klub. Mereka bisa mendapatkan pemasukan dari aktivitas ekonominya sendiri. Apalagi, UEFA memiliki regulasi Financial Fair Play (FFP), yang menjaga klub tetap sehat, meski sang pemilik sedang kolaps.
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=ctqp7c0Zt9Q[/embedyt]
Sumber referensi: espn, libero, wildeastfootball


