Jejak Cristiano Ronaldo di Piala Dunia, 2022 Bakal Jadi Anti Klimaks?

spot_img

Kebencian pun kini seolah tak terhindarkan terhadap seorang Cristiano Ronaldo. Sikapnya akhir-akhir ini sudah dinilai terlalu Offside. Ia kini bahkan sudah diputus kontrak oleh klubnya. Inilah kondisi yang tak diharapkan Portugal jelang bergulirnya Piala Dunia 2022.

Bicara soal jejak perjalanan Ronaldo di Piala Dunia bersama Timnas Portugal, sangat menarik untuk disorot. Baik sejak debut maupun hingga sekarang. Ia kini sangat berambisi di Piala Dunia kelimanya supaya bisa berakhir “happy ending” dengan meraih juara. Namun, apakah dengan berbagai masalah seperti sekarang ini justru akan jadi anti klimaks bagi dirinya?

Sorotan Sejak Debut Di 2006

Ronaldo sejak debutnya di Piala Dunia 2006, memang sudah menjadi sorotan. Ketika itu laga kontra Inggris menjadi ajang penuh emosi. Ronaldo seakan menjadi musuh sebagian besar publik Inggris, karena peran pentingnya dalam memulangkan Timnas Inggris di babak perempat final lewat adu penalti.

Selain itu, ia juga dipersepsikan sebagai provokator yang berujung pada kartu merah rekan satu timnya di MU, Wayne Rooney. Namun setelahnya, Ronaldo dan Rooney dipersepsikan media seolah tak bermasalah dan baik-baik saja hubungannya. Namun kalau ditarik ke era sekarang, dengan kritikan Rooney kepada Ronaldo akhir-akhir ini, apakah memang luka Rooney di 2006 memang benar-benar ada?

Ronaldo ketika itu masih debut di usia 21 tahun. Ia masih menggunakan nomor punggung 19. Ia dipanggil Luis Felipe Scolari sebagai rising star berkat penampilannya yang mulai berkembang di MU. Bersama bimbingan Luis Figo, ia termasuk dalam salah satu bagian dari alternatif penyerangan Portugal waktu itu.

Ia mampu tampil 6 kali selama debutnya. Meskipun ia tak selalu jadi starting eleven. Debutnya di Piala Dunia juga diwarnai dengan 1 kartu kuning, dan 1 gol debutnya di partai melawan Iran. Namun, debutnya itu berakhir dengan terhentinya Portugal di babak semifinal oleh Prancis. Di perebutan tempat ketiga pun mereka menyerah atas tuan rumah Jerman.

Beban Di 2010

Berlanjut pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Ronaldo berangkat ke Piala Dunia keduanya di usia 25 tahun. Lebih spesialnya lagi, ia berangkat ke Afrika Selatan dengan status pemain termahal di dunia setelah dibeli Real Madrid. Ban kapten pun mulai disematkan padanya.

Meskipun sukses di level klub, Ronaldo ketika itu di level timnas mengalami paceklik gol selama babak kualifikasi. Ronaldo ketika itu datang ke Piala Dunia 2010 tanpa didampingi mentornya Luis Figo.

Warisan nomor 7 Figo pun diserahkan padanya. Berkat itu, ia mulai didapuk menjadi salah satu tumpuan serangan Portugal oleh sang pelatih, Carlos Queiroz. Namun justru dengan beban seperti itu, Ronaldo terbukti tak mampu menanggungnya.

Di fase grup, memang Portugal melaju dengan menjadi runner up di bawah Brazil. Namun, Ronaldo hanya mencetak sebiji gol saja. Itupun ketika melawan Korea Utara. Meskipun lolos ke 16 besar, ia dan skuad Portugal pun tak luput dari kritik media Portugal berkat performanya yang kurang meyakinkan.

Klimaksnya terjadi pada babak 16 besar. Bertemu juara Piala Eropa 2008 Spanyol, langkah mereka akhirnya terhenti. Ronaldo sendiri tak mau disalahkan dengan kekalahan itu. Ronaldo menyarankan agar media bertanya kepada pelatih tentang kegagalan itu. Queiroz pun membalasnya dengan tak kalah tajam. “Jika seragam ini bikin pemain tertentu patah semangat, maka mereka tak punya hak untuk memakainya,” kata Queiroz.

Merana Di 2014

Setelah di dua Piala Dunia-nya yang berujung pada sorotan kontroversial, Ronaldo mencoba menghilangkannya di Piala Dunia ketiganya di 2014 Brazil. Ia ketika itu memasuki usia 29 tahun.

CR7 berangkat ke Brazil dengan kondisi mentereng bersama bimbingan pelatih Paulo Bento. Ronaldo ketika itu adalah petahana Ballon d’Or sekaligus petahana juara Liga Champions bersama Real Madrid.

Beberapa hal tersebut semakin memantapkan bahwa Ronaldo bisa membawa Portugal melangkah lebih jauh. Namun, kenyataannya tak seperti yang diharapkan. Nasib Ronaldo di ajang Piala Dunia ini kembali merana.

Berada di Grup G bersama Jerman, AS dan Ghana. Portugal di partai awal langsung dibungkam Jerman 4-0. Hal yang sangat memalukan bagi Ronaldo. Alhasil, inilah Piala Dunia terburuk Portugal dan Ronaldo. Setelah akhirnya mereka tak mampu lolos dari Fase Grup. Portugal berada di posisi tiga klasemen di bawah Jerman dan AS.

2018, Kegagalan Ulangi Kejayaan 2016

Menuju ke Piala Dunia 2018 di Rusia. Piala Dunia keempat Ronaldo di usia yang sudah menginjak 33 tahun. Saat itu Ronaldo dan Portugal datang ke Rusia dengan kepala tegak setelah menjadi juara Piala Eropa 2016. Tak perlu diragukan lagi, mereka adalah unggulan dan diharapkan mengulangi kesuksesan yang sama seperti di 2016.

Secara prestasi pribadi, Ronaldo pun masih mentereng. Menjadi petahana Ballon d’Or, sekaligus petahana juara Liga Champions untuk ketiga kalinya bersama Real Madrid.

Di edisi kali ini, Ronaldo pun akhirnya menjawab. Torehan empat golnya selama turnamen menjadi bukti penampilannya semakin menanjak di Piala Dunia sejak ia debut. Hattrick-nya ke gawang Spanyol, dan golnya ketika melawan Maroko cukup mengantarkan Ronaldo menciptakan rekor. Rekor melewati Ferenc Puskas, sebagai pencetak gol terbanyak di level timnas yakni sebanyak 85 gol.

Namun rekor yang diciptakan itu tak cukup bagi Portugal. Sebab Portugal akhirnya tak bisa melangkah lebih jauh di Rusia. Mereka harus takluk di tangan Uruguay di babak 16 besar. Ronaldo dan Portugal pun akhirnya tak bisa mengulangi kisah manisnya di 2016. Ia sekali lagi harus menunda impiannya meraih gelar juara dunia.

2022, Datang Penuh Dengan Masalah

Kini di Piala Dunia 2022, kondisi Ronaldo malah banyak menuai masalah. Ia berangkat ke Qatar setelah kontroversi wawancaranya yang menjadi biang masalah retaknya hubungan dia terhadap klubnya, MU. Tak hanya itu, performanya pun sering dikritik musim ini. Ia benar-benar sudah jauh menurun.

Simpang siur kondusifitas Timnas Portugal arahan Fernando Santos masih menjadi teka teki. Sikap dingin para rekan Ronaldo di timnas seperti Bruno maupun Cancelo menjadi indikasi. Namun, semua isu keretakan itu sudah dibantah.

Kondisi Timnas Portugal tak seburuk yang dibayangkan. Bahkan kata Ronaldo sendiri, tim ini baik-baik saja dan jauh lebih harmonis. Terlepas dari itu, yang jelas Ronaldo hadir di Qatar ini dengan segudang masalah. Bukan tidak mungkin, hal itu akan sangat berpengaruh pada jalannya kompetisi.

Sumber Referensi : theathletic, goal.com, olympics

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru