Jasa-Jasa Michael Edwards Kepada Liverpool

  • Whatsapp
Jasa-Jasa Michael Edwards Kepada Liverpool
Jasa-Jasa Michael Edwards Kepada Liverpool

Liverpool pernah mengalami masa kelam kala kondisi keungan mereka berada di ujung tanduk. Pada musim 2010/2011, laporan audit KPMG menunjukkan bahwa Liverpool memiliki beban utang senilai 350 juta poundsterling dan mengalami kerugian hingga 55 juta poundsterling. Tak ada cara lain untuk menyelamatkan Liverpool selain menjual sahamnya.

Fenway Sports Group kemudian datang dan membeli The Reds senilai 300 juta poundsterling. Perusahaan investasi asal Amerika Serikat tersebut kemudian diputuskan secara resmi oleh pengadilan menjadi pemilik baru Liverpool FC sejak 15 Oktober 2010.

Bacaan Lainnya

Liverpool kemudian perlahan membangun ulang kekuatan mereka. Langkah pembenahan di berbagai sektor mulai dilakukan. Sebagi pemilik, John Henry bos Fenway Sports Group ingin Liverpool dijalankan dengan konsep yang sama seperti klub bisbol miliknya, Boston Red Sox. Konsep tersebut adalah moneyball.

Untuk menjalankan konsep moneyball, Liverpool membutuhkan seorang ahli analis data yang paham akan data dan statisik sepak bola. FSG kemudian menugaskan Damien Comolli, direktur sepak bola The Reds saat itu untuk mencari sosok yang tepat.

Pada November 2011, pilihan mereka jatuh kepada Michael Edwards yang ditunjuk sebagai Head of Performance and Analysis. Singkat cerita, sedekade kemudian, ia menjadi sosok vital di balik keberhasilan The Reds merengkuh Trofi Liga Champions, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub 2019, serta gelar juara Premier League 2020.

Pertanyaannya, siapa Michael Edwards dan mengapa kesuksesan Liverpool tak lepas dari jasanya?

Michael Edwards bukanlah sosok yang tenar. Bahkan wikipedia tak punya informasi khusus tentang dirinya. Maklum saja, Edwards dikenal sebagai pribadi yang tertutup dan tak suka tampil di depan publik. Selain itu, ia merintis karier di dunia sepak bola lewat jalur yang sangat tak biasa.

Dilepas oleh akademi Peterborough United saat berusia 18 tahun, Michael Edwards kemudian memilih melanjutkan kuliah di University of Sheffield dan mendapat gelar sarjana Bisnis Manajemen dan Informatika pada 2002. Setelah lulus, ia bekerja sebagai seorang guru IT di sekolah menengah di Peterborough.

Takada yang menyangka, setahun kemudian ia ditawari bekerja di ProZone, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang data dan statistik sepak bola. Sudah akrab dengan dunia IT dan mengenal baik sepak bola membuat Edwards mantap bekerja sebagai analis data. Pekerjaan inilah yang mengantarnya mendapat jabatan sebagai Head of Performance and Analysis di Portsmouth pada periode 2003 hingga 2008 dan Head of Performance and Analysis di Tottenham Hotspur pada periode 2009 hingga 2011.

Di dua klub tersebut, Michael Edwards punya tugas untuk menganalisis performa pemain dan calon lawan mereka di tiap pekannya. Serta membantu sporting director klub dalam menganalisis calon pemain incarannya. Tentu saja, semua analisis tersebut berbasis data dan statistik. Tugas itulah yang kemudian ia teruskan di Liverpool.

Kepindahan Edwards dari Spurs ke Liverpool sempat membuat Daniel Levy, pemilik Tottenham Hotspur marah besar. Levy sadar betul seperti apa kinerja Michael Edwards sehingga ia merasa sangat kehilangan. Namun, tawaran Damien Comolli, sporting director Liverpool saat itu yang sekaligus mantan bosnya di Spurs sangat sayang untuk dilewatkan. Bekerja dengan konsep moneyball di bawah kepemilikan Fenway Sports Group tentu sangat menarik.

Edwards mengawali karier sebagai Head of Performance and Analysis The Reds dari November 2011 hingga Mei 2013. Dia kemudian menjabat sebagai Director of Technical Performance pada periode Juni 2013 hingga Juli 2015, dan Technical Director pada Agustus 2015 hingga November 2016 sebelum mendapat naik jabatan menjadi Sporting Director hingga sekarang.

Akan tetapi pekerjaannya di Liverpool tak semulus yang dibayangkan. Iklim sepak bola Inggris yang belum akrab dengan analisis berbasis data serta peran seorang direktur olahraga yang masih asing sedikit menyulitkan pekerjaan Edwards. Periode 2012-2015 saat Liverpool dimanajeri oleh Brendan Rodgers menjadi masa tersulitnya.

Mengutip dari Bleacher Report, seorang agen pemain yang pernah berurusan dengan Liverpool pada musim panas 2014 lalu menyebut bahwa pengaruh Edwards seperti tidak dianggap. Hal tersebut tak lepas dari hak veto yang dimiliki oleh Rodgers terkait transfer pemain. Meski begitu, Edwards yang masuk dalam anggota komite transfer Liverpool tetap dianggap bertanggung jawab atas beberapa perekrutan gagal, seperti Mario Balotelli, Christian Benteke, Iago Aspas, Luis Alberto, hingga Lazar Markovic.

Situasi mulai berubah ketika The Reds memecat Brendan Rodgers di tahun 2015. Sebagai gantinya, Liverpool menunjuk Jurgen Klopp sebagai penggantinya. Penunjukan tersebut ternyata tak lepas dari jasa Michael Edwards yang lebih merekomendasikan Jurgen Klopp sebagai manajer anyar Liverpool. Rekomendasi Edwards memang tepat. Klopp sudah tak asing dengan sistem moneyball atau bekerja bersama dengan seorang sporting director, sesuatu yang sudah akrab di sepak bola Jerman.

Pengaruh Edwards sebagai pembuat keputusan makin besar tatkala ia diangkat menjadi Sporting Director. Hal tersebut membuatnya punya kendali atas kebijakan transfer Liverpool. Klopp sendiri juga senang bisa bekerja sama dengan Edwards. Keduanya juga kerap terlibat diskusi di kantor Liverpool yang terletak di Melwood.

Transfer Terbaik Michael Edwards

Tak bisa dipungkiri bahwa Michael Edwards adalah salah satu tokoh paling berpengaruh di Anfield. Dialah dalang dibalik transfer cerdas yang sukses mengantarkan The Reds kembali berjaya. Salah satu buah dari hasil analisis jeli Michael Edwards adalah trio Roberto Firmino, Mohamed Salah, dan Sadio Mane yang masing-masing dari mereka dibeli dengan harga tak lebih dari 50 juta euro. Ada pula Andrew Robertson yang sukses ditebus dengan harga 9 juta euro dari Hull City.

Selain ahli dalam transfer pemain, Edwards juga cerdik dalam menjual pemain. Ia sukses melego Dominic Solanke yang dibeli gratis dari Chelsea dengan harga 21,20 juta euro ke Bournemouth. Ia juga berhasil menjual Rhian Brewster dari Tim U-23 dengan harga 26 juta euro ke Sheffield United.

Namun penjualan terbaik Edwards jatuh kepada Philippe Coutinho yang dilepas ke Barcelona di musim panas 2018. Menurut Daily Mail, 142 juta poundsterling berhasil dikantongi Liverpool dari hasil penjualan Coutinho yang dulu hanya dibeli dengan harga 13 juta euro.

Pemasukan dari penjualan Coutinho kemudian digunakan untuk membeli beberapa pemain anyar yang akhirnya menjadi kunci di balik kejayaan Liverpool saat ini. Virgil Van Dijk, Alisson Becker, Naby Keita, hingga Fabinho adalah beberapa pemain yang datang pasca penjualan Coutinho. Bersama dengan rekrutan sukses lainnya, mereka membentuk skuad yang sangat mengerikan.

Hasilnya seperti yang sudah kita tahu, Liverpool kemudian berhasil menjuarai Liga Champions untuk keenam kalinya di edisi 2019 dan mengakhiri penantian selama 30 tahun untuk kembali menjuarai Liga Inggris di musim 2019/2020.

Kontrak Habis, Michael Edwards Siap Tinggalkan Liverpool di Akhir Musim

Dalam 2 musim terakhir, Edwards juga terbilang sukses dalam mendatangkan Diogo Jota dan Ibrahima Konate. Meski terlihat pasif di bursa transfer 2021, The Reds terhitung berhasil mengamankan pemain bintangnya setelah sukses memperpanjang kontrak pemain, seperti Jordan Henderson, Alisson, hingga Virgil Van Dijk.

Sayangnya, para pendukung The Reds mungkin tak dapat melihat lagi transfer Michael Edwards di masa mendatang. Sebab ia berencana untuk mundur dari kursi sporting director Liverpool di akhir musim 2021/2022. Kontraknya habis dan Edwards yang sudah mengabdi selama 1 dekade untuk Liverpool disebut ingin mencari tantangan baru.

Kepergian Edwards jelas akan merugikan Liverpool. Edwards tak hanya sukses dalam hal transfer saja. Ia juga berhasil membentuk skuad yang kompetitif dengan tetap menjunjung tinggi efisiensi ekonomi.

“Saya pikir dia membantu pemilik Liverpool melihat bahwa mereka dapat mengelola perdagangan pemain, pengembangan pemain, dan perekrutan staf secara lebih efektif,” kata Barry McNeill, CEO Sportsology, mantan rekan Edwards di Prozone.

Jika tawaran perpanjangan kontrak gagal menemui kata sepakat, maka bisa dipastikan bahwa Michael Edwards bakal jadi rebutan tim lain, mengingat telah begitu banyak jasa Michael Edwards kepada Liverpool. Pendukung The Reds patut bersedih. Namun yang pasti, apa yang telah Edwards berikan untuk Liverpool harus diberi apresiasi tinggi.

“Saya pikir apa yang telah dia capai di Liverpool akan menjadi impian setiap klub sepak bola. Untuk mengubah klub seperti itu, dengan cara yang berkelanjutan, pemain muda berdatangan, pengeluaran bersih dan rendah, serta meningkat setiap tahunnya. Liverpool menjadi klub yang paling dikagumi, dan Michael telah menjadi bagian besar dari itu.” kata Simon Wilson, direktur olahraga Stockport City, mantan rekan Edwards di Prozone.

***
Sumber Referensi: Goal, Daily Mail, Liverpool Echo, Linkedin, Bleacher Report.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *