Istilah Spice Boys Yang Membuat Liverpool Lebih Dikenal Karena Gaya Bukan Performa

spot_img

Ada banyak hal menarik dalam sepak bola. Tidak hanya menyoal tentang pemain, aksi diatas lapangan, ataupun hasil pertandingan, beberapa hal termasuk istilah-istilah tertentu juga layak menjadi sorotan. Di Brazil ada sebuah istilah Class of ’82, yang berisi tentang para pemain hebat dengan aksi menawan bernama Jogo Bonito.

Di Inggris, tepatnya di klub Manchester United, kita juga pernah mendengar kalimat Class of ’92 dimana hal tersebut merujuk pada sekelompok pemuda yang dianggap sebagai bagian dari era kesuksesan United. Berbeda dengan MU, lain lagi isitilah yang tersemat pada kubu rival, yakni Liverpool.

Dahulu, tepatnya di era 90an, Liverpool memiliki istilah tersendiri untuk para pemainnya. Adalah Spice Boys.

‘Spice Boys’ adalah nama yang diberikan kepada sekelompok pemain Liverpool yang bermain untuk klub tersebut pada pertengahan 1990-an. Kelompok ini berisikan nama-nama seperti Robbie Fowler, Steve McManaman, Jason McAteer dan Jamie Redknapp, serta orang-orang seperti John Scales, Phil Babb dan David James.

Lebih lanjut, nama seperti Stan Collymore dan Paul Ince, juga dianggap sebagai bagian dari grup ‘Spice Boys’ Liverpool.

Lantas mengapa sebutan Spice Boys itu muncul?

Julukan ‘Spice Boys’ yang melekat pada para pemain Liverpool di periode itu merupakan sebuah olokan yang ada kaitannya dengan grup band wanita pada masa itu, Spice Girl. Secara umum, ‘Spice Boys’ adalah julukan yang diberikan oleh media-media Inggris untuk sekumpulan pemain Liverpool yang dinilai punya kehidupan glamor alias suka kemewahan.

Ejekan tersebut pertama kali diciptakan oleh surat kabar Inggris, Daily Mail. Kata itu pertama muncul saat mereka memberitakan isu asmara antara Robbie Fowler dengan salah satu personel grup ‘Spice Girls’, yakni Baby Spice alias Emma Bunton.

Sekali lagi, julukan tersebut memiliki konotasi negatif dan cenderung menyudutan para pemain Liverpool.

Kala itu, para pemain yang tergabung dalam kelompok Spice Boys memang banyak beraksi diluar lapangan. Ada Jason McAteer yang membintangi iklan Head & Shoulders, David James yang membintangi pakaian dalam Armani, serta masih banyak lagi.

Sorotan yang diberikan media kepada Spice Boys jelas berbanding terbalik dengan apa yang tersemat pada para pemuda United. Nama pemain seperti David Bekcham hingga Gary Neville tenar dengan segala prestasi dan penghargaan lainnya. Sementara Spice Boys hanya diberitakan secara negatif. Artinya, prestasi mereka diatas lapangan masih kalah dengan segala hal berbau kemewahan yang mereka lakukan diluar lapangan.

Namun hal ini terasa sedikit wajar. Pasalnya, seperti yang kita tahu, di masa tersebut, Manchester United dibawah asuhan Sir Alex Ferguson memang masih membangun era kejayaan. Mereka begitu digdaya dan melahap segala gelar yang ada. Para pemainnya pun tergolong luar biasa, termasuk sekumpulan anak muda dalam balutan Class of ’92.

Sementara Liverpool, di era 90 an tergolong miskin gelar. Mereka yang terakhir kali memenangkan trofi liga sebelum era Liga Primer dimulai belum pernah sekalipun naik ke panggung juara. Tercatat hanya trofi Piala FA dan Piala Liga saja yang berhasil disumbangkan, di akhir 90 an.

Perjalanan Spice Boys di era Liga Primer Inggris sebenarnya tidak terlalu buruk. Mereka sempat finis di urutan keenam pada tahun 1993, meski kemudian merosot ke urutan ke delapan pada tahun 1994. Pada tahun 1996 dan 1998, mereka juga berhasil menduduki posisi ketiga.

Satu hal yang menjadi sorotan adalah pada taun 1996, tepatnya di gelaran final Piala FA. Deretan pemain yang dijuluki Spice Boys ini menggemparkan jagad sepak bola ketika kompak mengenakan setelan jas putih saat hendak melakoni partai puncak tersebut.

Mereka dianggap terlalu berlebihan dalam bergaya. Pasalnya, tidak hanya para pemain berstatus Spice Boys saja, namun seluruh skuad Liverpool turun masuk kedalam ‘racun’ ini. Bermain di kandang “Home of Football”, para pemain Liverpool bergaya hanya untuk tampil dalam sebuah kekalahan melawan Manchester United.

Ya, di pertandingan tersebut, laga dimenangkan oleh MU, dimana Eric Cantona sukses menjadi bintang yang sesungguhnya setelah mencetak gol pada menit ke 85. Dari situ, pemain berjuluk Eric The King itu seolah memberi tahu bahwa menonjolkan penampilan secara fisik saja tidak cukup untuk memenangkan sebuah gelar. Para pemain harus punya skil dan ketampanan nyata diatas lapangan.

Praktis, kekalahan tersebut selalu diingat oleh para pecinta sepak bola dunia, khususnya di Inggris.

Di era tersebut, Liverpool menjadi tim yang masih kalah pamor dengan United. Era Spice Boys bahkan hilang tak berbekas, selain meninggalkan jejak glamour dalam diri mereka. Perlahan, para pemain pergi meninggalkan Anfield, menyusul penunjukkan pelatih Gerard Houllier pada tahun 1998.

Kepergian Roy Evans dari kursi kepelatihan tim saat itu diikuti oleh kepergian para anak asuhnya.

Mengenang tentang era unik yang pernah ia lakoni, mantan penyerang Liverpool, Robbie Fowler, mengatakan bahwa era dimana Liverpool terkanal karena gaya merupakan hal yang langka. Ia juga mengklaim bahwa Liverpool melakukan hal luar biasa. Hal itu dilontarkan usai kekalahan The Reds dari rival abadi mereka pada partai final Piala FA 1996.

Fowler dengan tegas berkata bahwa Liverpool yang mengalami kekalahan saja bisa terkenal, bagaimana jika mereka berhasil mengangkat piala dengan setelan andalan pada saat itu.

“Orang-orang masih mengingatkan ku tentang jas putih pada waktu itu. Jika kami memenangi final itu, tidak ada yang akan membicarakannya, tetapi kami kalah dan malah menjadi terkenal.” kata Fowler (via Daily Mirror)

Setelah era Spice Boys habis, para pemain pergi termasuk pelatih saat itu, Liverpool seolah mengalami masa transisi baru. Di era 2000 an, The Reds mulai kembali ke jalur juara. Meski masih belum mampu angkat trofi Liga Primer Inggris, sejumlah piala seperti Piala UEFA hingga Liga Champions Eropa berhasil mereka sabet.

Kini, di generasi yang lebih baik, Liverpool sangat berkesempatan dapatkan trofi Liga Primer Inggris untuk kali pertama. Diisi pelatih sekelas Jurgen Klopp dan nama-nama populer semacam Virgil van Dijk, Jordan Henderson, Sadio Mane, Mo Salah, hingga Roberto Firmino, Liverpool sukses kembali ke jalur dimana mereka seharusnya berada.

Tak banyak gaya, namun untuk semua yang terjadi diatas lapangan, sangat layak mendapat sanjungan.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru