Inter vs AC Milan: Duel Guru vs Murid yang Akan Balaskan Sakit Hati Inter

spot_img

Kota Milan membara. Romantisme pertemuan Derby Della Madonnina musim ini terwujud kembali di pentas teratas Eropa, Liga Champions. Bentrok sesama tim dari kota mode tersebut siap digelar dalam tajuk babak semifinal Liga Champions.

Rasa sakit hati masih menggumpal dalam hati Nerazzurri. Kala mengingat Rossoneri sering mengalahkannya dalam beberapa pagelaran termasuk Liga Champions. Kini, dengan ditambah bumbu rivalitas guru dan murid yakni Stefano Pioli dan Simone Inzaghi, perseteruan itu akan segera menemui babak baru.

Dendam Lama Inter di Liga Champions

Adakah yang masih ingat Inter asuhan Hector Cuper bertemu dengan AC Milan asuhan Carlo Ancelotti di babak semifinal Liga Champions 2002/03?

Bayangkan bagaimana sengitnya bentrok mereka kala itu di dua leg demi memperebutkan tiket final. Sampai-sampai dari dua laga tersebut tak ada pemenangnya. Sehingga harus ditentukan dengan menggunakan agresivitas gol tandang. Dan Rossoneri lah yang beruntung kala itu bisa lolos ke final dan menjadi juara.

Bagi Inter kegagalan itu merupakan hal yang tak bisa dilupakan. Maka dari itu, mereka selalu siap menanamkan pembalasan dendam, kapan pun mereka bersua lagi di Liga Champions.

Kesempatan itu benar adanya. Ketika mereka berjumpa kembali di babak perempat final Liga Champions musim 2004/05. Namun nahas, dengan segala daya dan upaya, pembalasan dendam Inter itu gagal terwujud. Justru yang terjadi kekalahan telak dengan agregat 5-0, membuat makin parah saja rasa sakit hati Inter.

Pioli vs Inzaghi Dari Serie C

Nah, kesempatan pembalasan dendam Inter itu datang lagi untuk ketiga kalinya pada musim ini. Yang lebih menariknya lagi, tajuk pembalasan dendam Inter musim ini akan diwarnai oleh rivalitas kedua juru taktik.

Ya, mereka adalah Stefano Pioli dan Simone Inzaghi. Yang perlu diketahui, kedua pelatih itu ternyata ibarat guru dan murid. Kalau merujuk sejarahnya, menarik untuk diperhatikan.

Pertemuan mereka sudah terjalin sejak lama, tepatnya pada tahun 1997 di laga Serie C antara Fiorenzuola vs Brescello. Dulu Stefano Pioli adalah seorang bek yang sudah berusia 32 tahun milik Fiorenzuola. Sedangkan Simone Inzaghi adalah striker wonderkid yang meroket dari Brescello.

Laga itu berkesudahan 1-1, dan Inzaghi tak mampu mencetak gol berkat ketangguhan tembok pertahanan yang digalang Stefano Pioli. Kegagalan Inzaghi menaklukan Pioli itu, bagaimanapun masih terngiang hingga mereka menjadi pelatih.

Pioli vs Inzaghi di Lazio

Kisah mereka berlanjut di Lazio pada musim 2014/15. Hubungan awalnya terjalin baik-baik saja ketika Simone Inzaghi menjadi pelatih primavera Lazio, sedangkan Pioli adalah pelatih tim senior Lazio.

Dilansir dari La Gazzetta, Simone Inzaghi terlihat ketika itu sering mengamati permainan Pioli dari tribun sambil mencatat di buku catatannya. Inzaghi diam-diam meresapi ilmu yang diajarkan Pioli.

Namun semuanya menjadi berbeda pada 2016. Perkarannya satu, yakni sikap manajemen yang menyerahkan tongkat estafet kepelatihan Lazio kepada Simone Inzaghi. Pioli kaget ketika dirinya dipecat dan yang diangkat menjadi pelatih malah Inzaghi, bukannya mencari pelatih lain.

Simone Inzaghi dianggap Pioli sudah dipersiapkan manajemen untuk mencutat dirinya dari kursi pelatih. Dan benar saja setelah menjadi pelatih interim, Inzaghi langsung diangkat menjadi pelatih permanen di musim berikutnya.

Pioli vs Inzaghi di Derby Della Madonnina

Tak mau ambil pusing, bagi Pioli itu hal yang biasa. Kalau dipikir, sebenarnya Pioli lah orang yang paling berjasa membukakan jalan bagi karir kepelatihan Simone Inzaghi.

Nah yang menarik, dalam perjalanannya, mereka berdua dipertemukan kembali dalam bingkai perseteruan kala melatih duo Milan. Mulailah rivalitas head to head langsung mereka berdua terjadi. Pioli vs Inzaghi di Derby Della Madonnina sudah bertemu tujuh kali. Empat kali di Serie A, dua kali di Coppa Italia, dan satu kali di Piala Super Italia.

Hasilnya, Simone Inzaghi masih unggul dengan tiga kali menang, sedangkan Pioli dua kali menang, serta dua kali hasilnya imbang. Apakah dengan hasil itu sudah cukup menandakan bahwa sang murid sudah melangkahi gurunya?

Tentu belum. Karena bagaimanapun Inzaghi masih menyimpan dendam lain yang lebih besar. Yakni kegagalan meraih gelar Scudetto di musim lalu.

Apalagi kini Inzaghi dititipkan beban berat pembalasan dendam masa lalu Inter Milan terhadap AC Milan di Liga Champions. Bisa jadi aura pembalasan dendam dalam diri Inzaghi makin membara. Namun dengan cara apa Simone Inzaghi mampu menuntaskannya?

Adu Kuat Taktik Kedua Pelatih, 4-2-3-1 vs 3-5-2

Ia harus melangkahi dulu kesolidan pasukan Pioli musim ini yang perlahan mulai bangkit setelah kembali ke pakem formasi awal 4-2-3-1. Mampukah racikan khas Inzaghi menandingi taktik Pioli itu?

Jawabannya, mampu ketika merujuk pada hasil di Piala Super Italia Januari 2023 lalu. Ketika itu 4-2-3-1 Pioli takluk oleh 3-5-2 Inzaghi dengan skor telak 3-0. Sementara bagi Pioli, kekalahan terakhir di Serie A atas Inzaghi dengan menggunakan pola 3 bek pada Februari 2023 lalu, tentu juga tak akan diulangi lagi.

Kunci Permainan

Menarik jika melihat dua strategi berbeda disuguhkan dalam satu laga. Begitupun kekuatan kunci mereka masing-masing. Dari skema Pioli, kunci permainan mereka di depan ada pada Rafael Leao yang akan lebih agresif masuk ke area kotak penalti berkat pergerakan dari tembok bernama Olivier Giroud.

Sedangkan di Inter, kunci permainan menyerang mereka terletak pada duo striker yang saling melengkapi, baik itu Lautaro Martinez dengan Lukaku atau Dzeko. Variasi serangan dari duo wingbacknya Dumfries, maupun Di Marco juga patut diperhatikan.

Dari segi bertahan, Milan juga patut disorot. Milan makin seimbang dalam bertahan ketika trio Tonali, Bennacer dan Krunic terbentuk. Apalagi keperkasaan duo bek mereka Tomori dan Kjaer yang ditopang tembok kokoh di bawah mistar bernama Mike Maignan. Lini serang Napoli yang perkasa saja bisa dibuat bertekuk lutut.

Pembeda

Lalu apa dong yang harus dilakukan Simone Inzaghi? Mempertahankan konsistensi mereka juga menjadi penting. Karena secara kondisi terkini, sejak lolos atas Benfica di perempat final dan sebelum menjamu AS Roma di Serie A, mereka tak pernah mengalami kekalahan. Nerazzurri bahkan telah menyingkirkan Juventus dan berhak lolos ke final Coppa Italia.

Rotasi pemain Inter dengan 3-5-2 makin menemui formula yang tepat. Barella di sini akan jadi pembeda bagi Inter. Beberapa kali pemuda Italia ini kerap menjadi pemain penting Inter di Liga Champions.

Sementara di Milan, pembeda justru ada pada pemain macam Brahim Diaz. Ketika semua mata terfokus pada penjagaan Leao dan Giroud, pemuda Spanyol itu bisa mengubah keadaan dengan skill-nya seperti apa yang ia peragakan kala mengandaskan Napoli.

Bukan Semifinal Biasa

Dari semua analisis tadi, tetaplah menganggap bahwa laga ini tak hanya sebuah semifinal biasa. Selain momen pembalasan dendam masa lalu serta pembuktian rivalitas kedua pelatih, laga ini juga mempertaruhkan siapa yang akan mewakili supremasi Serie A di final nantinya.

Memori pencapaian final Istanbul dan DNA Milan di Eropa menjadi kekuatan eksternal yang menghantui langkah Simone Inzaghi dan Inter Milan untuk menuntaskan misi pembalasan dendamnya. Kalau menurut Football Lovers, siapa nih yang bakal melaju?

https://youtu.be/i_fbOBZ6hy4

Sumber Referensi : sportingnews, uefa, pledgetimes, aisscore

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru