Menjadi dermawan tak mengenal ras, suku, agama, usia, gender, ataupun profesi. Siapa saja berhak menebarkan kebaikan melalui aksi amal, tak terkecuali seorang pemain bola. Banyak dari para pesepak bola yang begitu dermawan dan menjadi inspirasi berkat aksi sosialnya.
Salah satu pesepak bola yang baru-baru ini dibicarakan karena kedermawanannya adalah Sadio Mane. Mane diketahui menyisihkan sebagian uang gajinya sebagai pemain bola untuk membangun kampung halamannya di Senegal.
Namun, berbeda dengan Sadio Mane yang melakukan aksinya secara personal. Beberapa pemain berikut ini menyalurkan jiwa sosialnya lewat yayasan amal yang mereka dirikan. Berikut ini adalah 5 pesepak bola yang punya yayasan amal. Siapa saja mereka? Berikut ulasannya.
Daftar Isi
1. Didier Drogba
Nama pertama dalam daftar ini adalah Didier Drogba. Legenda Pantai Gading itu mendirikan “Didier Drogba Foundation” pada 2007 silam saat dirinya masih aktif bermain di Chelsea.
– Contributed to the end of the civil war in 🇨🇮
– Built a hospital, made it available in the fight against Covid-19, distributed soap, hand-gel and food in Abidjan
– Created his own foundation to help children in AfricaDidier Drogba is a hero. 👏❤ pic.twitter.com/YJjUPqmWgL
— Football Tweet ⚽ (@Football__Tweet) February 22, 2022
Reputasi Drogba sebagai pesepak bola tak perlu diragukan lagi. Berbagai trofi bergengsi dari liga domestik hingga Liga Champions sudah pernah ia cicipi. Berbagai rekor individual juga sudah pernah ia buat. Drogba memanfaatkan dengan baik reputasinya untuk membuat yayasan amal yang ia dirikan jadi salah satu badan amal yang paling disegani dan terbesar di benua Afrika.
Menggalang dana untuk membangun Afrika secara luas, yayasan amal miliki Didier Drogba tak hanya berfokus untuk membantu masyarakat miskin saja. Pendidikan, kesehatan, anak-anak, perempuan, dan kepemudaan juga jadi prioritas utama Didier Drogba Foundation untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik bagi saudara-saudaranya di benua Afrika.
Kehadiran Didier Drogba Foundation di benua Afrika juga makin luas dari hari ke hari. Yayasan ini juga terlibat perang melawan penyakit dan virus yang mewabah di Afrika, seperti malaria, virus Ebola, hingga virus Corona.
Kepercayaan warga Afrika, khususnya Pantai Gading akan badan amal Didier Drogba memang sangat besar. Didier Drogba Foundation telah mendapat pengakuan utilitas publik melalui Keputusan Presiden tanggal 23 Desember 2015. Sungguh luar biasa bukan?
2. Michael Essien
Serupa dengan Drogba, mantan rekan setimnya di Chelsea, Michael Essien juga punya yayasan amal atas nama dirinya. Aksi sosial Essien mirip dengan apa yang dilakukan Sadio Mane yang menyisikan gajinya untuk membangun kampung halamannya. Bedanya, Essien melakukannya lewat yayasan yang ia beri nama, “Michael Essien Foundation”.
Mantan gelandang bertahan Persib Bandung itu mendirikan “Michael Essien Foundation” (MEF) dengan tujuan untuk membantu masyarakat kurang mampu di kampung halamannya di Awutu Breku dan sekitarnya. Yayasan yang didirikan pada tahun 2009 itu dikenal menyediakan berbagai kebutuhan dasar, seperti fasilitas kesehatan, toilet umum, listrik, air minum bersih, hingga perpustakaan.
Ada kisah pilu di balik berdirinya yayasan tersebut. Essien mengungkap bahwa kematian kakak laki-lakinya jadi sumber inspirasinya mendirikan yayasan amal. Saudara kandung Essien diketahui meninggal dunia saat mencari air untuk kehidupan keluarganya.
“Hal terpenting bagi saya untuk mendirikan yayasan ini adalah mendiang saudara laki-laki saya. Saya tidak pernah berkesempatan bertemu dengannya sebelum dia meninggal, tetapi saya mengetahui kemudian dia meninggal ketika mencari air untuk kehidupan keluarga.
Oleh karena itu saya datang dengan yayasan ini untuk membantu masyarakat, mengembangkan fasilitas dan memberi mereka peluang untuk melakukan sesuatu,” kata Essien dikutip dari Sport Brief.
3. Dirk Kuyt
Berikutnya ada Dirk Kuyt, mantan penggawa Liverpool dan timnas Belanda. Dirk Kuyt memang telah resmi pensiun pada 27 Mei 2018.
Di hari perpisahannya, Kuyt menggelar laga testimonial yang diselenggarakan secara khusus, di mana uang yang terkumpul di laga tersebut akan disumbangkan ke tiga badan amal sekaligus, yakni Support Casper, Feyenoord Foundation, dan “Dirk Kuyt Foundation” yang notabene merupakan yayasan amal miliknya. Usut punya usut, Kuyt mendirikan badan amal tersebut pada tahun 2005 saat dirinya masih bermain di Feyenoord.
“Pada tahun 2005 saya memutuskan untuk mendirikan Yayasan atas dorongan pribadi untuk memberikan sesuatu kembali kepada masyarakat. Saya membuat keputusan sadar untuk mendukung olahraga penyandang disabilitas di Belanda,” tulis Dirk Kuyt di laman dirkkuytfoundation.nl.
Dirk Kuyt en Jens Toornstra spelen(schuif-) tafeltennis op de Kampioene dag van de Dirk Kuyt Foundation! pic.twitter.com/cDwhU2BjYf
— paratafeltennis (@paratafeltennis) June 16, 2018
Berbasis di Kota Rotterdam, yayasan Dirk Kuyt memang berfokus untuk mendukung acara olahraga bagi penyandang disabilitas di Belanda. Mengutip dari website resminya, yayasan tersebut telah mendukung 175 acara olahraga di Belanda, mulai dari biliar untuk penyandang parkinson, tenis kursi roda, hingga G-football, sebutan untuk jenis sepak bola yang dimainkan oleh penyandang disabilitas fisik, mental, dan/atau intelektual.
4. Mamadou Sakho
Masih berkaitan dengan Liverpool, kali ini di daftar nomor 4 ada mantan pemain The Reds lainnya yang juga punya yayasan. Dia adalah Mamadou Sakho. Sakho pernah jadi pengawal lini pertahanan Liverpool selama 3 musim dari 2013-2016.
Bek keturunan Senegal yang kini berusia 32 tahun itu baru-baru ini mendapat sebuah piala UNFP Citizen Player of the Year atas komitmen dan aksi sosialnya terhadap anak-anak di Prancis dan Senegal lewat badan amal miliknya yang bernama, Amsak Donation.
Sakho diketahui mendirikan Amsak bersama istrinya ketika dirinya masih bermain untuk PSG. Amsak tak hanya melakukan aksi amal di Prancis saja, melainkan juga di Inggris dan Afrika.
🚨OFFICIEL: Mamadou Sakho reçoit le trophée « Joueur Citoyen » pour ses actions et son engagement auprès des enfants en France et au Sénégal avec son association Amsak! 👏🏆
📸@UNFP #TropheesUNFP #MHSC #PSG pic.twitter.com/4D7WaRyxlZ
— TortiFoot (@TortiFoot) May 15, 2022
“Jadi, Amsak berarti Asosiasi Mamadou Sakho. Saya memulai asosiasi saya ketika saya berusia 18 atau 19 tahun, ketika saya masih di PSG. Saya pikir penting untuk pergi ke Afrika dan membantu orang-orang di sini di Inggris,” kata Sakho dikutip dari CNN.
Sudah banyak proyek amal yang dilakukan Amsak. Salah satu proyek yang paling besar adalah pembangunan pusat olahraga dan pendidikan di wilayah Tambacounda yang berada di bagian pedesaan Senegal timur yang tak lain tak bukan adalah tanah air keluarga Sakho.
Proyek yang dimulai pada 2018 lalu itu diketahui menelan biaya hingga 2,2 juta euro. Berkat donasi dari berbagai pihak yang digalang langsung oleh Amsak, pusat olahraga dan pendidikan Mamadou Sakho yang berdiri di atas tanah seluas 3 hektar itu memiliki panti asuhan, pusat pendidikan, pusat magang untuk perdagangan tradisional, dan pusat olahraga untuk melatih pemain sepak bola muda di wilayah Tambacounda.
5. Andrew Robertson
Di daftar nomor 5 ada penggawa aktif Liverpool, Andrew Robertson. Sejak pindah ke Liverpool di musim panas 2017, bek kiri asal Skotlandia itu telah menuai banyak kesuksesan. Salah satunya adalah menjuarai Premier League musim 2019/2020.
Perjalanan The Reds menjuarai Premier League di musim tersebut digambarkan Robertson pada buku pertamanya yang berjudul, “Robbo: Now You’re Gonna Believe Us” yang dirilis pada September 2020. Menariknya, seluruh hasil penjualan buku tersebut disumbangkan ke yayasan amal miliknya sendiri untuk membantu anak-anak kurang mampu di Skotlandia.
Badan amal milik Andrew Robertson itu bernama AR26 Charity. Sejauh ini, AR26 sudah punya 3 proyek. Proyek pertama bertajuk, “Football for All”. Dalam program ini, para staff akademi AR26 akan memberi pelatihan sepak bola gratis kepada anak-anak dan remaja di seluruh Skotlandia.
Kemudian, proyek kedua diberi nama “Hope for Youths”. Dalam proyek ini, AR26 akan bekerja sama dengan badan amal/organisasi masyarakat lokal, otoritas lokal, sekolah, hingga penasihat karier untuk membantu memberikan akses ke pendidikan lebih lanjut, pelatihan, dan kesempatan kerja kepada anak-anak muda.
Lalu, proyek ketiga dari AR26 Charity diberi nama “Life Changing Experiences”. Tujuan dari proyek ini adalah untuk memberikan senyuman dan menciptakan kenangan indah bagi anak-anak yang sakit atau yang tengah menghadapi kesulitan melalui pengalaman sekali seumur hidup. Salah satu contohnya adalah mempertemukan anak-anak yang tengah sakit keras dengan selebriti atau tim olahraga favorit mereka.
That’s a wrap on the first week of summer camps, we hope you all have had a great time!!
We can’t wait to see you all again next week⚽️💯#summercamps #footballfun #footballforall pic.twitter.com/LoBsaDBX63
— AR26 Charity (@ar26charity) July 8, 2022
Itulah 5 pesepak bola yang diketahui memiliki yayasan amal. Di luar nama-nama tadi, masih ada banyak mantan pemain bola dan tokoh sepak bola dunia yang juga punya badan amalnya sendiri. Sebut saja Wayne Rooney dengan “Wayne Rooney Foundation”, David Beckham dan istrinya dengan “Victoria and David Beckham Charitable Trust”, atau Craig Bellamy yang menghabiskan 1,4 juta poundsterling untuk memulai “Craig Bellamy Foundation”.
Ada juga pemain bola yang secara terang-terangan menyisikan uang gajinya untuk beramal. Salah satunya Wilfried Zaha. Nominalnya tak main-main, setiap bulannya, penggawa Crystal Palace itu bisa menyumbang 10% dari uang gajinya kegiatan amal. Zaha juga diketahui telah mendirikan “Zaha Foundation” dan secara rutin menyumbang ke “Tomorrow’s Hope”, sebuah panti asuhan di Pantai Gading yang dikelola oleh saudara perempuannya.
Juan Mata has been awarded UEFA’s #EqualGame Award.
Mata picks up the award for his Common Goal project, which has seen players, coaches and other personalities commit 1% of their salaries to tackling the world’s greatest social challenges 👏 pic.twitter.com/jW0NDqFFJ7
— GOAL (@goal) December 15, 2021
Ada pula Juan Mata. Aksi Mata jauh lebih besar lagi. Bersama sebuah LSM bernama streetfootballworld, pada 2017 silam, ia menginiasi sebuah gerakan amal yang bernama “Common Goal”. Setiap anggota yang bergabung dengan gerakan tersebut menyumbangkan 1% dari pendapatan mereka setiap tahunnya.
Sejak inisiatifnya, sudah banyak pemain, pelatih, dan tokoh terkenal yang bergabung dengan “Common Goal”. Mengutip dari website-nya, Common Goal sudah punya 393 members. Beberapa insan sepak bola dunia yang mengikuti langkah Juan Mata tersebut antara lain, Timo Werner, Giorgio Chiellini, Paulo Dybala, hingga Jurgen Klopp dan Jualian Nagelsmann.
Bagaimana football lovers, tertarik untuk mengikuti langkah mereka? Semoga saja aksi para pesepak bola tadi dalam berbagai kegiatan amal bisa memberi inspirasi dan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.
***
Referensi: Dirk Kuyt Foundation, Foot the Ball, Didier Drogba Foundation, Spors Brief, CNN, Sport en Commun, Khel Now, Common Goal, Sky Sports, Borgen Magazine.


