Pelatih Manchester City, Josep Guardiola, membebaskan sang striker Sergio Aguero untuk memilih klub barunya pada musim depan. Ia menilai bahwa pilihan terbaik Aguero akan mendapat dukungan dari Man City. Guardiola menegaskan bahwa ia akan menerima keputusan apapun terkait masa depan Aguero pada musim depan. Termasuk jika pemain berpaspor Argentina itu akan memilih pergi ke klub lain di Liga Inggris. Seperti diketahui, Aguero sudah dipastikan akan meninggalkan Man City pada musim ini setelah satu dekade membela The Citizens.
Antonio Conte Mau Balik Ke Premier League? Coba Pikirkan Hal Ini
Desas desus kepergian Antonio Conte dari Giuseppe Meazza semakin mencuat, pasalnya baru saja muncul berita jika mantan pelatih Chelsea tersebut belum mau membahas perpanjangan kontraknya bersama Inter Milan yang akan berakhir pada musim panas tahun depan. Jika kita masih ingin untuk berpositif thinking, anggap saja Conte belum mau membahas tentang kelanjutan masa baktinya karena sedang fokus mengantarkan Romelu Lukaku dan kawan-kawannya meraih Scudetto, setelah lebih dari sedekade silam cuma numpang lewat. Ini amat mungkin mengingat Juventus dan AC Milan sebagai pesaing terdekat mereka belum mau mengendurkan semangatnya menyabet juara tertinggi Liga Italia.
Tapi yang namanya media kan perlu lah ya ada sesuatu yang bisa digoreng biar berubah menjadi cuan, spekulasi terkait kepulangan Conte ke Premier League pun ikut diseret-seret oleh mereka. Meskipun pihak klub belum memberikan pernyataan resmi terkait bagaimana nasib Conte nanti, namun mari kita usut tuntas sambil menghalu ria berbagai kemungkinan yang nantinya akan terjadi apabila Antonio Conte benar-benar ingin menginjakkan kaki di tanah Britania Raya.
Jika dilansir dari Tuttosport, kepergian Conte dikarenakan konflik dengan manajemen perihal transfer pemain. Jajaran petinggi di Inter Milan tidak bisa menjamin akan mendatangkan pemain pilihan sang pelatih, meskipun mereka mengakhiri musim sebagai juara. Ini yang bikin Conte agak kesel juga mengingat Inter selalu saja pasif di bursa transfer. Eh sebentar, bukannya Conte lumayan aktif juga ya bund dengan mungutin pemain Premier League dan ngebangun skuad PL Reborn bersama Inter?
Dilihat dari nilai kontraknya, terpantau sulit juga apabila Conte tetap bertahan di Serie-A. Angka 12 juta euro, atau setara dengan 205 miliar rupiah dinilai cukup mahal untuk sekelas klub Italia. Liga yang paling realistis bisa memberikan Conte kontrak setara dengan nilai diatas adalah Premier League. Terpantau sudah ada dua klub yang akhir-akhir ini digosipkan berminat untuk merekrut Antonio Conte. Yaitu ada Tottenham Hotspur dan Manchester United.
Daftar Isi
Antonio Conte Bisa Gantikan Jose Mourinho di Tottenham Hotspurs
Pertama adalah Tottenham Hotspurs, berita tersebut dilansir dari Daily Express, salah satu media di Inggris yang kredibilitasnya agak meragukan. Tapi untuk kasus Conte ini cukup relate apabila dia nantinya akan kembali ke London, mengingat Jose Mourinho, pelatih Tottenham saat ini sedang ada dibawah tekanan yang serius karena gagal di berbagai kompetisi yang dia ikuti bersama The Lilywhite. Kesempatan untuk menggantikan posisi Mou di kursi manajerial Tottenham diyakini akan diisi oleh sosok Conte.
Jika Tottenham merekrut Antonio Conte sebagai pengganti Jose Mourinho, sejatinya tidak akan berbeda jauh dari segi permainan, mengingat keduanya juga cukup sering menggunakan formasi parkir bus, bukan sosok pelatih yang mendewakan permainan cantik nan menyerang. Maklum gaes, bagaimanapun juga Conte adalah orang Italia, timnas yang sudah sangat kental dengan DNA pertahanan mereka yang mumpuni. Bagaikan perjudian jika mereka mau mendatangkan pelatih berusia 51 tahun tersebut, karena perlu diingat lagi jika Conte bukanlah Pochettino yang kalaupun kalah masih bisa menyuguhkan permainan cantiknya.
Meskipun begitu, urusan memoles pemain tidak perlu diragukan lagi bagaimana kemampuan Conte ini. Kalaulah kalian lupa mari saya ingatkan, jika Nerrazurri berhasil menjadi pemuncak klasemen Serie-A sejauh ini tak lain dan tak bukan adalah berkat segerombolan pemain tak terpakai, atau istilah kasarnya buangan Liga Inggris. Romelu Lukaku, Alexis Sanchez, Matteo Darmian, Ashley Young, adalah deretan nama yang tersingkir dari kejamnya kompetisi sepak bola Negeri Ratu Elizabeth. Belum ditambah dengan mantan pemain Tottenham sendiri yaitu Christian Eriksen, meskipun kepindahannya disebabkan karena kontraknya yang mau habis. Tapi nama-nama diatas, yang di Liga Inggris sudah jarang diperhitungkan bisa disulap menjadi pesaing juara bersama Conte. Bisa dibayangkan jika Conte melatih Tottenham, dimana komposisi skuad Tottenham jika kita lihat diatas kertas jauh lebih unggul karena diisi cukup banyak pemain berlabel bintang, kalo Harry Kane nggak pindah ya gaes.
Mental juara yang disalurkan oleh Conte juga bukan main-main, terakhir Inter Milan juara Serie-A adalah pada tahun 2010 silam saat ditangani oleh Jose Mourinho, bongkar pasang skuad untuk bersaing selalu gagal dan ternyata jodohnya adalah musim ini bersama Conte. Barangkali Tottenham ingin mengikuti jejak Inter dengan menggantikan posisi Mou dengan kehadiran Conte, karena sudah lebih dari dua tahun ini mereka bersama sang pelatih asal Portugal namun belum juga mendapatkan hasil yang baik.
Kemungkinan Conte berlabuh ke Tottenham juga sebenarnya masih bisa ditepis, iya kalau saja nanti Mourinho mampu membawa Tottenham juara Carabao Cup. Kompetisi kaleng-kaleng sih, tapi itu trofi agaknya lumayan juga untuk seukuran klub yang belasan tahun sudah puasa gelar, barangkali trofi kaleng itu bisa menjadi penyelamat karir Mourinho di Tottenham nanti.
Rumor Selanjutnya Antonio Conte Ke Manchester United
Selanjutnya adalah Manchester United, kedatangan Conte ke Old Trafford kalau kita ingat-ingat pertama mencuat juga saat MU masih dilatih Jose Mourinho. Kabarnya juga Conte memang ingin melatih klub Manchester merah tersebut, kalau itu mah nggak usah dijelasin juga udah kelihatan lah ya cuy, pemain bekasan MU aja dia pungutin dan bikin dream team sendiri di klubnya yang sekarang, dan gokilnya lagi bisa sukses pula. Ole yang udah dikasih modal gede di MU apakabar? hahaha…
Permasalahannya sama dengan Tottenham, yaitu kinerja manager saat ini yang dinilai kurang memuaskan, kaya media ya weh. Ole sejak pertamakali tanda tangan kontrak menjadi manager Setan Merah masih belum juga memberikan trofi, padahal gelontoran dana lumayan besar sudah dikeluarkan MU untuk membangun kembali komposisi skuad agar bisa menjadi pesaing juara. Terhitung dari nama Bruno Fernandes, Van De Beek, Harry Maguire, dan Aaron Wan-Bisaaka yang didatangkan dengan harga sangat tidak murah.
Masih abu-abu memang terkait hal ini, tapi Manchester United adalah salah satu klub yang sangat realistis bisa menggaji Conte di angka kontraknya yang tinggi itu. Mengingat meskipun sedang berada di kondisi pandemi seperti sekarang, manajemen MU masih terbilang cukup mumpuni untuk mengatur keuangan mereka sehingga tidak sampai kolaps seperti beberapa klub lainnya. Hanya saja apakah MU siap menerima beberapa konsekuensinya jika mereka benar-benar akan merekrut Conte sebagai pengganti Ole?
Keuntungan Manchester United Jika Diasuh Oleh Conte
Memang jika kita lihat sekilas seharusnya Conte bisa lebih sukses andaikata beneran ngelatih MU yang original, deretan pemain tidak terpakai milik MU aja bisa dia jadikan winning team di Inter Milan yekan, apalagi jika hanya menangani pemain MU sesungguhnya yang sudah memiliki skillful. Ikatan tidak langsung ini memang menguntungkan bagi MU maupun Conte.
Bersama Antonio Conte di Inter Milan, Romelu Lukaku bertransformasi menjadi Lukaku yang kita kenal kala di Everton dulu. Striker buas nan mematikan setiap mendapatkan bola, padahal bersama Solskjaer di MU dirinya harus ikhlas dan sabar menjadi pilihan kesekian, terhalang oleh deretan nama pemain muda seperti Marcus Rashford, Anthony Martial, bahkan Mason Greenwood. Tapi lihat sekarang, berkat Conte, Lukaku yang dulu akhirnya bisa kembali lagi, dengan statistik dan catatan gol yang jauh lebih baik dari ketiga nama diatas.
BIGGEST year for Romelu⁉️ #stats #Lukaku #Inter #SerieA #tonybet pic.twitter.com/HVyk7klCeD
— TonyBet (@TonyBet) March 15, 2021
Kerugian Jika Antonio Conte Menangani Manchester United
Itu beberapa keuntungan jika MU serius ingin mendatangkan Antonio Conte, adakah kerugiannya? Tentu saja ada. Dari segi permainan pun juga jelas terlihat jika Conte tak lebih cantik dari Ole Gunnar Solskjaer. Ini bertolak belakang dengan fans MU yang selalu menuntut timnya untuk bermain menyerang nan indah apapun hasilnya, attack attack attack begitu bahasa kerennya kata mereka. Bisa dibayangkan apakah kalian fans MU sudah pada siap melihat parkir bus jilid dua di Old Trafford nanti? Berngantuk ngantuk ria kala menonton tim kesayangan sedang bertanding? Coba pikirkan lagi.
Yang kedua adalah sifat temperamental Conte yang amat berbanding terbalik dengan sifat pendiam seperti Ole. Conte bukanlah sosok penurut yang iya iya doang dengan segala keputusan manajemen klub, dirinya cukup vokal dan berani jika dirasa itu merugikan tim. Mengkritik pemain pun juga tak sungkan untuk Conte lakukan. Nah seperti yang kita ketahui pula, ruang ganti Manchester United baru saja harmonis dan jauh dari kata boiling room saat ditangani Ole, apakah manajemen MU akan siap untuk menerima Antonio Conte yang mempunyai sisi bersebrangan dengan klub?
Terakhir adalah soal urusan mendatangkan pemain, tidak jauh juga dengan Mourinho, Conte adalah tipikal pelatih yang hobi mendatangkan pemain yang sudah matang dan siap langsung bertarung di lapangan. Bukan pemain muda dengan segala janji potensi dan embel-embel ‘The Next,’ maka seharusnya tidak heran jika Conte seringkali mendatangkan pemain berusia lebih dari 30 tahun. Ini pun sangat berbeda dengan filosofi MU yang lebih suka membangun skuad dengan regenerasi pemain muda, entah itu mereka ambil dari akademi sendiri atau membeli dari klub lain, pokoknya harus pemain muda. Jikalau ada pemain yang sudah senior, harganya lebih sering mencari yang diskonan. Tradisi itu pula yang menyebabkan MU sempat berkonflik dengan Mourinho, saat itu Mou ingin mendatangkan Ivan Perisic dari Inter Milan dengan menyertakan Anthony Martial dalam kesepakatan, tapi ditolak mentah-mentah karena manajemen MU menilai jika Martial mempunyai bakat terpendam dan kelak akan menjadi pemain brilian. Wrong direction.
Tantangan Antonio Conte Jika Kembali Ke Premier League
Track record Conte di Premier League jika kita kembali lihat tentu tak bisa dibilang buruk, di musim perdananya menjadi pelatih Chelsea dirinya mampu membawa The Blues menjuarai Premier League, disusul dengan FA Cup sebelum kontraknya berakhir. Tapi tekanan saat ini jelas akan berbeda dengan beberapa tahun saat Conte pertama datang ke Premier League, Tottenham yang sudah mulai menuntut juara, MU yang selalu mendapat sorotan dari berbagai media, tentu akan menjadi tantangan lebih berat jika Conte tetap memilih bergabung di Premier League. Lagipula membangun skuad juara di Inggris atau minimal bisa bersaing di posisi 6 jelas membutuhkan dana yang lebih besar, keajaiban Leicester City yang juara dengan skuad seadanya hanya terjadi dalam rentang waktu seabad sekali mungkin.
Jadi bagaimana Antonio? Take it, or leave it?
Politik “Cantera”, Tradisi Athletic Bilbao Melawan Modernitas
Euskadi atau yang lebih populer dengan sebutan Basque Country begitu identik dengan Athletic Bilbao. Meski bukan satu-satunya klub La Liga dari Basque, Bilbao jauh lebih dikenal dari rivalnya. Salah satu penyebabnya adalah kebijakan klub yang hanya merekrut pemain keturunan Basque saja.
Kebijakan tersebut bernama “Politik Cantera”. Istilah “Cantera” sendiri berasal dari filosofi Athletic Bilbao yang berbunyi, “Con cantera y aficion, no hace falta importacion.” Artinya, “Dengan talenta lokal dan dukungan suporter, impor pemain tak diperlukan.”
Sejak kapan politik tersebut ditegakkan?
Setelah secara resmi bernama Athletic Club de Bilbao sejak 1903, Los Leones mulai berlaga dengan 100% pemain asli Basque pada musim kompetisi 1912/1913. Sejak saat itu, filosofi cantera terus ditegakkan klub yang berasal dari provinsi Biscay itu hingga hari ini.
The Athletic Bilbao team that won the first ever Copa del Rey, 1903 pic.twitter.com/w6TGqhPH8J
— The Antique Football (@AntiqueFootball) April 16, 2014
Politik tersebut membuat Athletic Bilbao hanya merekrut pemain dari Basque saja. Dulunya, klub yang berjuluk Los Leones itu bahkan hanya mau merekrut pemain yang punya darah asli Basque dan yang terlahir di wilayah otonom tersebut.
Artinya, bila ada pemain yang punya keturunan Basque, tapi lahir di luar wilayah tersebut, mereka secara otomatis ditolak dan tak bisa bermain dengan seragam Athletic Bilbao. Alhasil kebijakan politik cantera tersebut dianggap rasis dan bertentangan dengan HAM.
Seiring dengan perkembangan zaman, Los Leones sedikit memodifikasi filosofinya itu. Pemain yang punya keturunan dengan Basque meski dilahirkan di luar Basque punya kesempatan untuk memperkuat Athletic Bilbao.
Kini, klub yang bermarkas di San Mames itu juga bersedia merekrut pemain berdarah Basque dari klub manapun. Pemain yang pernah menimba ilmu di salah satu klub Basque, meski dari tim rival juga dapat membela Athletic Bilbao.
Namun, perlu dipahami, bahwa politik tersebut tidak berlaku di sektor kepelatihan. Oleh karena itu, Athletic Bilbao pernah dilatih Marcelo Bielsa yang berkewarganegaraan Argentina dan kini sedang dilatih Marcelino Garcia Toral yang merupakan orang Asturias, bukan keturanan Basque.
Marcelino García Toral has revolutionised Athletic Club since taking over. 🦁
The Asturian had turned a team mired in mid-table mediocrity into a force to be reckoned with. 💪
How’s he done it, and who is he? Let’s find out.👇#LLL
🧡🇪🇸⚽️ pic.twitter.com/TKAhAiBVvK— La Liga Lowdown 🧡🇪🇸⚽️ (@LaLigaLowdown) January 29, 2021
Pertanyaannya, apa alasan Athletic Bilbao menerapkan politik tersebut dan mempertahankannya hingga hari ini?
Untuk mengetahuinya, mari kita tilik sedikit sejarah negara Spanyol. Negeri Matador dulu pernah dipimpin oleh seorang diktator kejam, yaitu Jenderal Fransisco Franco. Franco jadi pemimpin Spanyol pada 1939 hingga 1975. Selama masa kepemimpinannya itu, Franco punya kebijakan yang cukup diskriminatif.
Di bawah kekuasaan Franco, seluruh Spanyol mesti tunduk kepada kerajaan. Untuk itu, dia menghendaki homogenisasi budaya, tradisi, dan bahasa. Untuk mencapai hal tersebut, seluruh budaya, tradisi, dan bahasa yang tidak Spanyol akan diberangus.
Kebetulan, bersama Katalunya, Basque adalah salah satu wilayah otonom yang punya kekhasan budaya, tradisi, dan sejarah yang unik dibanding wilayah lain di Spanyol. Mereka juga punya bahasa daerahnya sendiri. Perbedaan itu coba dihanguskan oleh Franco yang punya paham fasis.
Alhasil, gelombang perlawanan terhadap rezim Franco tak terelakkan. Basque tak mau tunduk dengan Franco yang mau menghapus kekhasan mereka. Sebagai bentuk dukungannya kepada Basque, Athletic Bilbao memakai “politik cantera” untuk melawan kebijakan Franco sebagai bentuk nasionalisme mereka kepada etnisnya. Momen itulah yang semakin meyakinkan Athletic Bilbao untuk bangga dan mempertahankan kebijakannya.
Ketika diwawacarai The Guardian, mantan pelatih Athletic Bilbao, Gaizka Garitano juga mengaku demikian. Garitano menjelaskan makna filosofi “cantera” bagi dirinya dan bagi rakyat Basque. Baginya, “cantera” adalah sebuah kebanggan tersendiri.
“Kami sangat bangga melakukan banyak hal dengan cara ini. Menurut saya, kami adalah tim paling unik di dunia karena alasan ini dan kami sangat bangga. Ini adalah gaya kami dan kami tidak akan berubah karena sepanjang sejarah banyak hal berjalan dengan baik untuk kami dan kami harus melanjutkan dengan cara ini” kata Gaizka Garitano, mantan pelatih Los Leones dikutip dari mundodeportivo.com (13/8/2019).
Lalu, bagaimana politik “cantera” ini bekerja hingga mampu menghidupi Athletic Bilbao?
Fakta sejarah dan geografis wilayah Basque sedikit membantu Athletic Bilbao dalam membentuk kesebelasan yang kuat. Basque Country terletak dekat dengan Semenanjung Iberia dan kota Bilbao dulunya merupakan daerah industri yang maju.
Banyak pekerja imigran yang datang ke Bilbao, terutama dari Inggris. Alasan ini pula yang membuat orang-orang Basque menguasai 3 bahasa, bahasa Basque, Spanyol, dan Inggris. Banyaknya pekerja imigran dari Inggris juga memberi dampak kepada sepak bola.
Para pekerja imigran itulah yang memperkenalkan sepak bola kepada orang-orang Basque. Athletic Bilbao sendiri dibentuk oleh dua kelompok, yaitu pekerja imigran dari Inggris dan pelajar lokal yang pulang kampung setelah bersekolah ke Inggris. Jadi salah satu klub tertua dan yang pertama mengembangkan sepak bola di wilayahnya membuat kawasan Basque tak pernah kehabisan bakat sepak bola.
Athletic Bilbao sendiri tak menunggu bakat-bakat sepak bola muncul dari wilayahnya. Mereka bukan menunggu, melainkan menciptakannya. Los Leones sadar bahwa bila ingin mempertahankan filosofinya, maka mereka juga perlu melakukan aksi untuk menjaganya.
Aksi itu tertuang dalam pembuatan fasiltas latihan dan akademi klub yang didirikan sejak 1971. Los Leones mulai memproduksi sendiri para pemainnya melalui akademi klub yang terletak di Lezama, sekitar 15 km sebelah timur kota Bilbao. Sejak saat itu hingga detik ini, Lezama tak henti-hentinya memproduksi pemain berbakat dari wilayah Basque.
Lezama bukan sekadar fasilitas latihan dan akademi biasa. Berdiri di atas kompleks seluas 13 hektar, Lezama punya 4 lapangan rumput, 4 lapangan sintesis, 1 lapangan indoor, gymnasium, dan pusat medis. Selain itu, ada pula lapangan buatan dan ruang “goalkeepers’ cage” yang khusus dibuat untuk melatih penjaga gawang. Inilah sebab Athletic Bilbao mampu membuat rekor bermain sebanyak 483 pertandingan resmi beruntun dengan penjaga gawang lulusan Lezama.
El Athletic lleva 483 partidos oficiales consecutivos jugando con un portero de la cantera de Lezama.
El último no canterano fue Armando, que jugó el 15/05/2010 su último partido con el Club.
En la Liga actual, sólo Athletic y Celta han jugado con porteros canteranos.#Lezama pic.twitter.com/k5mMOpeOlm
— Adurizpedia™️ (@DatAthle) December 29, 2019
Lezama jadi kandang bagi 17 tim yunior klub, baik tim pria maupun wanita, mulai dari U-11 hingga tim cadangan klub. Lezama juga jadi markas bagi tim Bilbao Athletic, yaitu tim B Athletic Bilbao yang berkompetisi di Segunda Division, liga kasta ketiga Spanyol. CD Basconia, tim afiliasi Athletic Bilbao yang jadi wadah untuk menampung pemain U-20 yang berlaga di Tercera Division, liga divisi 4 Spanyol juga bermarkas di Lezama.
Lebih lanjut, Jose Mari Amorrortu, mantan direktur olahraga Athletic Bilbao pernah mengungkap kepada The Guardian bahwa klubnya punya 20 pencari bakat dan 150 klub grassroots yang tersebar di seluruh provinsi Biscay. Mereka inilah yang ikut menyuplai pemain ke akademi Lezama. Berbagai fakta inilah yang membuat Athletic Bilbao tak sulit mencari pemain berbakat.
Sejatinya, yang memakai “Politik Cantera” tak cuma Athletic Bilbao saja. Kebanyakan klub besar di Spanyol juga punya kebijakan ini. Hanya saja, klub seperti Barcelona dengan La Masia-nya, Madrid dengan La Fabrica-nya, atau Atletico Madrid dan Valencia dengan tim mudanya cukup longgar dalam menerapkan kebijakan cantera.
Tak seperti klub lain, 85% skuad tim utama Athletic Bilbao berasal dari akademinya sendiri. Dulu, kebijakan “cantera” ala Bilbao juga pernah diterapkan rival abadinya, Real Sociedad. Namun, sejak 1989, politik “cantera” sudah mulai ditinggalkan Real Sociedad atas dasar kepentingan prestasi.
Politik Cantera itulah yang juga menolong Bilbao bertahan melawan kapitalisme sepak bola. Dengan tak henti-hentinya memproduksi pemain hebat di akademi Lezama, Athletic Bilbao juga dapat pemasukan dari penjualan pemainnya yang jadi incaran banyak klub.
Dengan kebijakan “cantera”, Athletic Bilbao berinvestasi dan hanya merekrut pemain Basque saja. Alhasil selama 10 tahun terakhir ini saja, mereka hanya menghabiskan 121 juta euro untuk transfer. Namun, pemasukan dari penjualan pemain mencapai 221 juta euro. Angka tersebut berasal dari penjualan beberapa pemain lulusan Lezama yang dipagari dengan klausul rilis yang fantastis.
Javi Martinez misalnya, dia dijual ke Bayern Munchen dengan harga 40 juta euro. Sementara Ander Herrera dijual ke Manchester United dengan mahar 36 juta euro. Namun, rekor penjualan termahal Athletic Bilbao masih dipegang Kepa Arrizabalaga yang dibeli Chelsea dengan harga 71 juta euro. Rekor itu memecahkan penjualan Aymeric Laporte ke Manchester City dengan harga 65 juta euro.
📝 DEAL DONE: Athletic Bilbao have confirmed that Chelsea have activated Kepa Arrizabalaga’s €80m release clause. He will become the world’s most expensive goalkeeper. (Source: @AthleticClub) pic.twitter.com/UgAn6knXtp
— Transfer News Live (@DeadlineDayLive) August 8, 2018
Pemasukan dari penjualan pemain itu dialihkan oleh pihak klub ke investasi fasilitas. Baik fasilitas latihan maupun akademi klub. Oleh karena itulah, akademi Lezama tergolong modern dan paling maju di Eropa. Los Leones juga berinvestasi ke stadion mereka Sam Mames. Kini, San Mames jadi stadion terbesar kedelapan di Spanyol dengan fasilitas modern.
Lantas, bagaimana pengaruh “politik cantera” terhadap prestasi Athletic Bilbao?
Alasan lain yang membuat Bilbao mempertahakan filosofinya adalah fakta bahwa Los Leones jadi salah satu tim yang belum pernah terdegradasi dari La Liga. Sejak Athletic Bilbao ikut mendirikan La Liga pada 1929, bersama Real Madrid dan Barcelona, mereka belum pernah turun kasta.
Los Leones sendiri jadi klub tersukses keempat di La Liga setelah Real Madrid, Barcelona, dan Atletico Madrid dengan koleksi 8 trofi La Liga. Sementara di ajang Copa del Rey, Los Leones jadi tim terbaik kedua setelah Barcelona dengan koleksi 23 piala Copa del Rey. Selain itu, Athletic Bilbao juga punya 2 trofi Supercopa de Espana dan pernah dua kali menjadi runner-up Liga Europa.
Di samping itu, timnas Spanyol rasanya juga perlu berterima kasih kepada Athletic Bilbao. Pasalnya, bakat-bakat terbaik mereka pernah membantu negara tersebut meraih prestasi di turnamen internasional. Saat menjuarai Piala Dunia 2010 dan Euro 2012, timnas Spanyol terbantu oleh bakat-bakat Basque. Javi Martinez, Fernando Llorente, dan Xabi Alonso adalah orang Basque yang jadi penggawa timnas Spanyol saat itu.
Ternyata filosofi yang diusung Athletic Bilbao tak mempengaruhi prestasi mereka di atas lapangan. Memang, beberapa musim terakhir, saat sepak bola telah jadi industri dan zaman makin modern, prinsip Athletic Bilbao sempat terguncang.
Pada musim 2018/2019, pernah ada rumor Bilbao akan mengubah kebijakan politiknya. Namun, beradasarkan survei yang dilakukan El Mundo, sebanyak 76% penggemar klub lebih memilih melihat Athletic Bilbao terdegradasi ketimbang menghapus politik cantera-nya.
Pada akhirnya, Athletic Bilbao memilih bertahan dengan politik “cantera” yang sudah jadi tradisi mereka untuk melawan modernitas. Bagi Los Leones dan para pendukungnya, politik “cantera” bukan soal kebijakan etnis semata, tetapi juga bentuk penghargaan terhadap identitas dan keluarga serta upaya menjaga mimpi talenta lokal agar senantiasa punya kesempatan menjadi pesepakbola profesional.
***
Sumber Referensi: Sportskeeda, Spanish Pro Football, Mundo Deportivo, The Guardian, Athletic Club
