Pelatih Arsenal Mikel Arteta tidak bisa sepenuhnya merayakan kemenangan 3-0 atas Sheffield United, Senin (12/4) dini hari WIB, menyusul cedera yang dialami Bukayo Saka. Sang pemain tertatih-tatih dengan masalah paha dan diragukan tampil untuk leg kedua perempat final Liga Europa melawan Slavia Praha. Arteta mengaku timnya kehilangan pemain besar dan ia berharap tidak ingin kehilangan pemain lain.
Seberapa Penting Lampu Stadion Sepakbola?
Sepak bola adalah jenis olahraga yang bisa dimainkan kapan saja. Bahkan, saat ini kita cukup terbiasa dengan pertandingan yang digelar pada malam hari. Sampai akhirnya kita menganggap keberadaan lampu sorot di stadion adalah hal yang wajar.
Lampu stadion adalah komponen dalam stadion sepakbola yang memang jarang sekali dibahas. Untuk itu, pada kesempatan kali ini, kami akan membahas tentang seberapa penting pemakaian lampu di stadion sepak bola.
Lampu sorot atau floodlight adalah bagian penting dalam setiap stadion. Dengan adanya lampu ini, pertandingan sepakbola bisa diselenggarakan di malam hari.
Meski begitu, jenis olahraga yang pertama kali menggunakan lampu sorot adalah polo. Lampu sorot mulai diterapkan pada 18 Juli 1878, saat pertandingan polo antara Klub Polo Ranelagh dan Klub Hurlingham di Fulham. Adanya lampu sorot tersebut membuat pertandingan polo waktu itu dapat disaksikan sampai malam.
Selanjutnya, pada 14 Oktober 1878, sepakbola mulai mengikutinya. Bramall Lane, stadion milik Sheffield United adalah yang pertama menggunakan lampu stadion. Dengan memanfaatkan baterai dan dinamo, lampu-lampu sorot itu mulai coba diterapkan dalam pertandingan eksperimental yang dimainkan oleh sekelompok pemain lokal.
Tapi, penggunaan lampu di stadion pada waktu itu bukannya tanpa masalah. Adanya lampu yang dipasang di menara kayu dengan listrik dari dinamo itu ternyata kurang aman dan efektif, bahkan cenderung merugikan. Karena, lampu sorot itu membuat sekitar 6.000 orang berhasil nyelonong masuk ke stadion melalui sisi gelap yang tidak disorot.
Setelah pertandingan di Bramall Lane, lampu baru benar-benar digunakan di stadion 78 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1956, dalam laga antara Portsmouth kontra Newcastle United. Laga itu menjadi yang pertama menggunakan lampu di Inggris.
Pada tahun 1957, di stadion Nuevo Estadio Chamartin (sekarang Santiago Bernabeu) dilakukan percobaan dengan memasukkan unsur teknologi berupa penerangan lampu sorot. Sebelumnya, stadion milik Real Madrid ini hanya digunakan untuk menggelar laga di siang atau sore hari.
Sejak saat itulah, stadion-stadion di Eropa banyak yang memasang lampu sorot. Dan seiring berjalannya waktu, FIFA pun akhirnya mengeluarkan regulasi bahwa dalam konteks penerangan, setiap stadion wajib memiliki lampu sorot.
Mengapa diwajibkan memiliki lampu sorot? Mengapa FIFA sampai mengeluarkan aturan tentang lampu sorot? Seberapa penting lampu stadion sepakbola?
Selain, untuk memenuhi kebutuhan saat laga digelar malam hari, lampu sorot juga digunakan untuk mengatasi terbatasnya waktu pada siang hari saat musim dingin di Eropa.
Meski terkesan sepele, tak sembarang lampu sorot dapat dipasang dalam stadion. Bahkan, ada aturan yang menyebutkan soal ketinggian lampu sorot pada stadion yang memiliki atap atau yang tak beratap. Selain itu, pemakaian LED lighting juga harus sejalan dengan kampanye transisi energi Uni Eropa.
FIFA dalam pedomannya punya aturan khusus soal kategorisasi standar jenis lampu untuk pertandingan tingkat rekreasional sampai internasional. Selain itu, FIFA juga punya aturan terkait temperatur, listrik, warna, dan ukuran lampu stadion.
Dalam lampu sorot stadion, biasanya kekuatan lampu yang diperlukan tidak terlalu kuat. Namun, meski begitu kekuatan lampu untuk keperluan siaran langsung di televisi biasanya lebih kuat, terutama untuk siaran high definition (HD).
Setiap konfederasi punya standar masing-masing terkait pencahayaan pada lampu sorot stadion.
Misalnya federasi sepak bola asia (AFC), yang menetapkan minimal 1200 lux untuk kompetisi AFC Champions League dan AFC Cup.
Sedangkan, untuk tingkat pencahayaan di Arena Corinthians, tempat berlangsungnya Piala Dunia 2014 lalu, ditetapkan sebesar 5000 lux.
Beberapa peristiwa yang menjadi bukti betapa pentingnya lampu sorot stadion adalah peristiwa yang dikenal dengan sebutan One team in Tallinn dan saat Liga Malta.
Kejadian One team in Tallinn tercipta pada 9 Oktober 1996 di Kadrioru Stadium, Tallinn.
Laga tersebut mempertemukan tuan rumah Estonia melawan Skotlandia pada kualifikasi Piala Dunia 1998. Namun, laga hanya berlangsung 3 menit karena tuan rumah justru tidak datang karena masalah lampu stadion.
Saat itu, Skotlandia yang akan bertandang ke Estonia mengajukan surat permohonan kepada FIFA perihal kurang memadainya lampu sorot di Stadion Kadriorg. Mereka merasa pencahayaan di beberapa sisi lapangan masuk kategori buruk.
Kondisi tersebut dialami Skotlandia saat melakukan latihan plus uji coba lapangan pada malam sebelum pertandingan. Permainan tim terganggu karena seluruh pemain merasakan gelap di salah satu sisi lapangan.
Skotlandia keberatan bila partai melawan Estonia dilangsungkan pada malam hari. Pelatih Craig Brown pun menyurati FIFA dan segera menerima respons dari salah seorang anggota FIFA.
Solusi kemudian diputuskan untuk memainkan laga di waktu sore pukul 15.00 pada keesokan harinya. Namun saat hari pertandingan tiba, Estonia tidak menampakkan diri. Mereka tidak mau main karena alasan hak siar. Akhirnya di lapangan itu cuma ada wasit dan tim Skotlandia.
Wasit akhirnya memutuskan kemenangan WO untuk Skotlandia dan meminta pemain masuk lapangan, melakukan sepak mula, kemudian menembak bola ke gawang yang kosong. Sebuah formalitas yang umum dilakukan dalam situasi WO.
Sedangkan, kejadian lainnya yang bisa dibilang sangat unik, terjadi pada November 2020 kemarin, saat St. Andrews melawan Marsa dalam Liga Malta.
Tepat, di menit 62, Marsa yang sudah unggul 2-0 mendapatkan penalti. Namun, ketika sang algojo sudah menendang bola, tiba-tiba lampu di Stadion Centenary mati.
Dan ternyata hal itu terjadi karena saat itu sedang ada pemadaman bergilir di Malta. Karena gelap, bola yang ditendang sang algojo Marsa pun tak diketahui masuk ke gawang atau tidak. Alhasil, pertandingan itu tak lagi diteruskan dan sisa waktunya pun akan diteruskan di waktu lain.
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=rrPJl7He1ag[/embedyt]
Sven Mislintat, Pemandu Bakat Si “Mata Berlian” Yang Jadi Rebutan Stuttgart & Dortmund
Salah satu tim yang tampil mengejutkan di Bundesliga musim ini adalah Vfb Stuttgart. Datang sebagai tim promosi, Stuttgart tampil menawan dengan pasukan mudanya.
Stuttgart, juara Bundesliga 5 kali itu kembali promosi ke Bundesliga musim ini setelah jadi runner-up divisi dua liga Jerman. Mereka promosi bersama Arminia Bielefeld yang jadi juara divisi dua.
Namun, untuk sementara ini, performa Stuttgart jauh lebih baik ketimbang Arminia. Pasalnya, klub berjuluk Die Schwaben itu tengah menghuni peringkat 9 klasemen Bundesliga hingga pekan ke-28. Hasil tersebut didapat berkat 10 kemenangan dan 9 hasil imbang.
Hasil yang bertolak belakang dengan Arminia yang menghuni peringkat 15 dan terancam degradasi. Yang lebih mengejutkan, Stuttgart tampil di Bundesliga dengan skuad muda. Dilansir dari transfermarkt, rerata usia pemain Stuttgart adalah 24,3 tahun.
Banyak yang menyanjung Pellegrino Matarazzo dibalik sukses Stuttgart musim ini. Pelatih 43 tahun asal Amerika Serikat itu memang pelatih berbakat dan merupakan lulusan Hennes Weisweiler Akademie, seangkatan dengan Julian Nagelsmann.
We aren’t giving nearly enough credit to the job Pellegrino Matarazzo has done with VfB Stuttgart.
Last season, they finished 2nd in the 2. Bundesliga, earning promotion.
This season, back in the Bundesliga, they’re currently 8th in the table — 4 points out of Europa League 👏 pic.twitter.com/xGVQ6j8XMw
— USMNT Only (@usmntonly) April 9, 2021
Akan tetapi, Matarazzo tak akan mampu menjalankan seluruh taktiknya dengan baik bila tak didukung pemain yang mumpuni. Untuk itulah, dia mesti berterima kasih kepada sosok Sven Mislintat yang telah menyediakan amunisi bagus di dalam skuad Stuttgart.
Sven Mislintat pula yang menunjuk Matarazzo sebagai pelatih kepala Stuttgart pada Desember 2019. Lalu, siapa sebenarnya Sven Mislintat ini? Berikut ulasannya.
Restrukturisasi Stuttgart Pasca Degradasi di Tahun 2019
Perubahan besar Stuttgart di awali pada bulan Februari 2019, dimana terjadi pergantian di jajaran direktur Stuttgart. Michael Reschke, kepala direktur olahraga klub diberhentikan, lalu Stuttgart menunjuk legenda mereka, Thomas Hitzlsperger sebagai kepala direktur olahraga yang baru.
Hitzlsperger lalu membuat langkah besar berikutnya. Di bulan April 2019 dia menunjuk Sven Mislintat sebagai direktur olahraga. Mislintat hadir setelah pada bulan Februari sebelumnya baru saja dipecat Arsenal sebagai kepala pencari bakat.
OFFICIAL: @VfB confirm they have appointed Sven Mislintat as their new sporting director on a two-year contract. pic.twitter.com/Fnch8JfpYN
— Squawka News (@SquawkaNews) April 11, 2019
Mulai aktif bekerja pada bulan Mei 2019, Mislintat dihadapkan dengan situasi sulit. Stuttgart terdegradasi ke divisi dua setelah kalah di playf-off relegasi melawan Union Berlin. Alhasil, Die Schwaben kehilangan banyak pemain andalannya yang memilih hengkang, seperti Benjamin Pavard, Santiago Ascacibar, dan Ozan Kabak yang terpaksa dijual ke klub rival.
Setelah itu, Sven Mislintat melakukan perombakan besar di Stuttgart. Pasca beberapa pemain seniornya dijual, Mislintat merekrut beberapa pemain muda berbakat ke dalam skuad.
Yang juga mengejutkan adalah keputusan klub memecat Tim Walter dari kursi pelatih pada Desember 2019 meski Stuttgart tampil cukup lumayan. Disitulah peran Mislintat yang berani menunjuk Pellegrino Matarazzo sebagai pelatih kepala.
Sebuah keputusan berani dari Mislintat. Pasalnya, Matarazzo belum pernah sekalipun memegang tim utama. Malang melintang di tim yunior berbagai klub Jerman, Matarazzo adalah asisten pelatih Hoffenheim sebelum ditunjuk sebagai pelatih kepala Stuttgart.
Namun ternyata, keputusan Mislintat tepat. Di bawah asuhan Matarazzo, Stuttgart tampil menjanjikan. Stuttgart di bawanya finish di posisi kedua dan promosi ke Bundesliga. Tak hanya itu, rekrutan muda yang didatangkan Mislintat juga mampu dimaksimalkan Matarazzo.
Penampilan apik dengan formasi 3-4-2-1 bersama skuad muda itu berlanjut di musim ini. Stuttgart mendapat sorotan, sebab starting eleven mereka didominasi para pemain muda. Bahkan, pemuncak daftar top skor dan top asis mereka masih berusia sangat muda.
Di daftar top skor ada striker 23 tahun, Sasa Kalajdzic dengan koleksi 14 gol. Di bawahnya ada Silas Wamangituka yang masih berusia 21 tahun dengan torehan 11 gol. Di daftar top asis, ada Borna Sosa, bek kiri yang masih berusia 23 tahun tapi sudah membukukan 10 asis.
Musim ini, Stuttgart sangatlah mengandalkan pemain muda, seperti Sasa Kalajdzic, Mateo Klimowicz, Silas Wamangituka, Wataru Endo, Gregor Kobel, Waldemar Anton, dan Philipp Forster. Dan otak dibalik semua perekrutan pemain berbakat itu adalah Sven Mislintat.
Dialah sosok dibalik restrukturiasi skuad Stuttgart pasca terdegradasi 2 tahun lalu. Kejelian Mislintat dalam mencium pemain muda berbakat berdampak baik ke performa klub. Tak hanya itu, kini beberapa rekrutan Mislintat, seperti Sasa Kalajdzic, Silas Wamangituka, dan Wataru Endo jadi incaran klub lain.
Sukses di Stuttgart, Sven Mislintat Diincar Borussia Dortmund
Kesuksesan Mislintat sebagai direktur olahraga Stuttgart mengundang decak kagum. Tak hanya itu, Mislintat kini tengah jadi buah bibir. Pasalnya, dia tengah diincar oleh Borussia Dortmund untuk mengisi jabatan direktur sepak bola yang akan ditinggalkan Michael Zorc di akhir musim nanti.
Melihat kejelian dan keberhasilannya di Stuttgart, wajar bila klub lain seperti Dortmund tertarik memakai jasa Mislintat. Apalagi, rasa-rasanya Mislintat bakal sulit menolak tawaran Dortmund. Sebab ini berkaitan dengan perjalanan karier Mislintat.
Sven Mislintat mendapat reputasinya dari Borussia Dortmund. Dia memulai kariernya sebagai pencari bakat di klub tersebut pada 2006 silam dan bekerja di bawah komando Michael Zorc.
Mislintat bekerja untuk Dortmund dari 2006 hingga 2017. Selama masa itu, dia 2 kali naik pangkat, yaitu menjadi kepala pencari bakat dan direktur pencari bakat Borussia Dortmund.
Mislintat adalah orang di balik layar yang membantu Jurgen Klopp membangun tim Borussia Dortmund. Saling bahu membahu bersama Klopp, Dortmund meraih 2 trofi Bundesliga, 2 trofi DFL-Supercup, dan 2 trofi DFL-Pokal saat Mislintat masih di Dortmund.
Dialah yang memberi Jurgen Klopp amunisi untuk meruntuhkan dominasi Bayern Munchen. Dari 2006 hingga hengkang pada 2017 silam, beberapa rekrutan terbaik Mislintat di Dortmund antara lain, Mats hummels, Robert Lewandowksi, Lukas Piszczek, Ousmane Dembele, Pierre-Emerick Aubameyang, Henrikh Mkhitaryan, Marco Reus, Ilkay Gundogan, Neven Subotic, dan Shinji Kagawa.
Sven Mislintat will be leaving his role as head of recruitment at Arsenal on February 8th, 2019.
He has made some incredible signings for the Gunners and Dortmund over the years 👏 pic.twitter.com/7xPX5wXCxX
— Football on BT Sport (@btsportfootball) January 21, 2019
Seperti yang kita ketahui, sebagian besar rekrutan Mislintat tersebut sudah hengkang dari Signal Iduna Park. Mereka tadinya dibeli dengan harga murah, bahkan ada yang gratis, lalu sukses dijual ke klub lain dengan harga mahal.
Namun, momen yang sebetulnya mengubah hidup Mislintat terjadi pada tahun 2010 silam. Kala itu, Mislintat nekat bolak-balik 6 kali untuk menonton dan menganalisi pertandingan Cerezo Osaka. Di sana dia merekam dan memantau permainan Shinji Kagawa.
Pembelian gratis Kagawa terbukti jadi momen yang mengubah karier Mislintat. Sebab, Kagawa adalah salah satu kunci permainan Dortmund saat itu. Mislintat sendiri mengakui hal tersebut saat diwawancarai SoccerDays 2 tahun silam.
“Pemain kunci untuk karir saya adalah Kagawa. Jika Anda dapat menemukan pemain muda di divisi dua dan dia direkrut dengan sedikit bayaran, kemudian membuat dampak di Bundesliga, itulah momen penting yang dibutuhkan semua orang dalam karier mereka,” ujar Sven Mislintat dikutip dari bundesliga.com.
Momen itulah yang membuat Sven Mislintat mendapat julukan ‘Diamond Eye’ atau si ‘Mata Berlian’. Sebuah julukan yang masuk akal, sebab Mislintat terbukti jeli melihat dan mencium bakat-bakat terbaik sepak bola.
Akan tetapi, bakat Mislintat tidak hanya itu. Dialah yang mengawasi ‘Footbonaut’ Dortmund yang terkenal. Sebuah teknologi pelatihan inovatif yang menembakkan bola ke pemain dari berbagai sudut dan dengan kecepatan yang bervariasi untuk membantu meningkatkan kontrol, sentuhan, dan waktu reaksi.
Atas dasar itulah, Dortmund sangat menyadari betapa pentingnya kehadiran Sven Mislintat untuk mereka di masa depan. Dortmund jelas punya kedekatan emosional dengan Mislintat. Namun, posisinya di Stuttgart saat ini juga sedang tinggi-tingginya.
Stuttgart pasti mati-matian mempertahankan Mislintat. Namun, tak ada salahnya pendukung Dortmund berharap agar ‘Mata Berlian’ mereka mau kembali dan mengangkat prestasi Borussia Dortmund seperti sedia kala.
Jadi, mau ke mana Sven Mislintat musim depan? Bertahan atau menerima tawaran Dortmund? Mari kita tunggu jawabannya di akhir musim nanti.
***
Sumber Referensi: Goal, Bundesliga 1, Bundesliga 2, Transfermarkt, Liga Olahraga
Cetak Gol Lagi, Benzema Ikuti Jejak Ronaldo, Bale Dan Nistelrooy
Karim Benzema menjadi satu dari empat pemain yang pernah mencetak gol dalam tujuh pertandingan beruntun di La Liga, usai mengukir gol pembuka dalam laga El Clasico kemarin. Striker asal Prancis itu mengikuti jejak Ruud van Nistelrooy, Cristiano Ronaldo, dan Gareth Bale ketika memaksimalkan umpan silang Lucas Vazquez untuk menaklukkan Marc-Andre ter Stegen dengan sepakan cungkilnya.
