Pelatih Everton, Carlo Ancelotti kembali memperingatkan PSG. Ancelotti memperingatkan PSG jika mereka ingin mempertahankan Moise Kean maka raksasa Prancis itu harus membuka negosiasi dengan The Toffees. Seperti diketahui, Kean sedang dalam masa peminjaman di PSG dan ia menemukan bentuk permainan terbaiknya. Namun sayangnya sang pemain secara teknis harus kembali ke Everton pada musim depan kecuali Les Perisiens memilih mempermanenkan status sang pemain. Everton sendiri menurut pelatih mereka, Carlo Ancelotti memastikan tidak akan memaksakan kehendak mereka terhadap sang pemain, tetapi tentunya tidak akan begitu saja memberikan sang penyerang.
Ronaldo dan Kisah Satu-satunya Trofi Yang Didapat Bersama Inter Milan
Inter Milan pernah sangat beruntung namun sekaligus buntung, ketika berhasil mendatangkan pemain asal Brasil berjuluk il fenomeno. Ronaldo Nazario de Lima, didatangkan dari FC Barcelona dengan banderol lebih dari 19 juta pounds, yang merupakan transfer terbesar di dunia saat itu. Ronaldo, sedari awal memang sudah menjadi pemain incaran banyak klub. Dia yang pertama kali tampil di Eropa bersama PSV Eindhoven sukses menjadi salah satu pemain yang mengundang banyak kekaguman khalayak.
Datang ke Stadion Giuseppe Meazza, tak butuh waktu lama bagi Ronaldo untuk tunjukkan kualitas. Dia langsung menjadi ancaman bagi bek-bek Italia yang terkenal tangguh, sekaligus menjadi penyerang yang masuk ke dalam sejarah Serie A, sebagai salah satu yang paling fenomenal.
Di musim pertamanya, Ronaldo langsung tancap gas dengan berhasil mencetak 34 gol dari 47 pertandingan yang dijalani. Catatan itu jelas tidak bisa diremehkan. Ronaldo seolah-olah langsung menunjukkan siapa dirinya kepada para penggemar sepakbola di Italia.
Namun sayangnya, seperti yang sudah dijelaskan, meski Inter menjadi tim yang sangat beruntung karena telah berhasil mendatangkan Ronaldo ke kota Milan, mereka juga merasakan betapa sakitnya hati ketika tahu bahwa sang fenomenal juga harus menghabiskan banyak waktu di ruang perawatan. Ronaldo mengalami cedera lutut yang membuatnya harus beristirahat selama lebih dari semusim.
Maka dari itu, meski tercatat sebagai pemain Inter Milan selama lima musim lamanya, Ronaldo hanya mampu mempersembahkan satu trofi saja kepada klub berjuluk I Nerazzurri.
Trofi yang dipersembahkan Ronaldo hadir di musim pertamanya, ketika dia tengah berada di puncak performa, pasca meninggalkan jejak luar biasa di FC Barcelona.
Ronaldo berhasil membawa Inter Milan tampil di partai puncak PIala UEFA pada tahun 1998.
Di musim tersebut, sebelumnya Inter telah mengalami banyak kekecewaan. Seperti kalah telak dari rival sekota AC Milan dengan skor 5-0 di ajang Copa Italia, serta kalah dalam perebutan juara Serie A usai terjungkal dalam duel menyakitkan dengan sang juara, Juventus, dimana satu momen ketika Ronaldo dijatuhkan di kotak penalti lawan masih menjadi perdebatan sampai sekarang.
Dengan rasa sakit yang cukup menusuk, apalagi pada musim sebelumnya mereka gagal merengkuh trofi juara UEFA Cup usai kalah dari Schalke, kesempatan final untuk kali kedua secara beruntun itu jelas tidak ingin disia-siakan.
Namun bukan hal mudah bagi Inter untuk bisa meraih gelar juara. Pasalnya, di partai final mereka harus berhadapan dengan Lazio, yang tengah berada di puncak performa. Ketika itu, tim elang ibukota memang tengah mengalami masa indah dibawah asuhan pelatih Sven Goran Eriksson. Mereka menjadi salah satu tim terbaik di Italia saat itu, dengan diisi nama-nama seperti Roberto Mancini, Pavel Nedved, Pierluigi Casiraghi, sampai Giuseppe Signori.
Di sisi lain, Inter juga punya skuad tangguh racikan Luigi Simone. Klub biru hitam itu dibentengi dengan nama hebat semacam Ivan Zamorano, Youri Djorkaeff, Diego Simeone, Javier Zanetti, hingga Gianluca Pagliuca. Dalam hal ini, nama Ronaldo tetap layak disebut sebagai yang terhebat.
Tepat pada 6 Mei 1998, stadion Parc de Princes yang ada di Paris ditunjuk sebagai venue penyelenggara partai final. Inter Milan kembali harus berhadapan dengan tim asal Italia di partai puncak, setelah sebelumnya, atau pada tahun 1991, mereka berhasil mengalahkan AS Roma di partai final kompetisi tersebut. Di musim itu, Inter berhasil menang dengan skor agregat 2-1, dengan rincian menang 2-0 di kandang dan kalah 0-1 di ibukota.
Kini, di partai yang cuma digelar sekali, Ronaldo diandalkan untuk membombardir gawang lawan, meski saat itu, Inter benar-benar berada di momen yang cukup was-was, mengingat di kompetisi Serie A, mereka gagal mengalahkan Lazio dalam dua partai. Mereka harus bermain imbang 1-1 dan juga harus mengakui keunggulan Lazio dengan keunggulan 3-0 di partai berikutnya.
Nama Alessandro Nesta yang jadi salah satu bek terbaik saat itu, diprediksi bakal mampu menghentikan pergerakan Ronaldo. Persis seperti apa yang dilakukannya di kompetisi lokal.
Namun final tetaplah final. Satu pertandingan krusial yang memungkinkan segala situasi terjadi.
Benar saja, Inter yang memasang Ronaldo untuk menggempur pertahanan lawan langsung menggeber sejak awal. Dia beberapa kali dijatuhkan dan pergerakannya dihentikan.
Inter yang diprediksi bakal kalah tipis dari Lazio malah tampil kesetanan. Melalui aksi Ivan Zamorano, Inter berhasil membuka keunggulan pada menit ke 5.
Demi mengejar ketertinggalan, Lazio sama sekali tidak mengendurkan serangan. Mereka terus menggempur pertahanan Inter dengan berbagai cara. Namun sampai waktu 45 menit pertama berakhir, kedudukan 1-0 untuk Inter tetap bertahan.
Berlanjut babak kedua, Inter dan Lazio masih sama-sama ngotot untuk menjebol gawang lawan. Malang bagi Lazio, bukannya menyamakan kedudukan, mereka malah harus kembali kebobolan pada menit ke 60. Kali ini, aksi bintang asal Argentina, Javier Zanetti, berhasil membuat Inter unggul lebih jauh. Melalui tendangan keras dari luar kotak penalti, salah satu pemain legendaris itu sukses catatkan namanya di papan skor.
Tertinggal dua gol sebetulnya tidak lantas membuat Lazio menyerah. Mereka terus mencoba untuk memperkecil kedudukan, sampai akhirnya keadaan memaksa mereka untuk berhenti menyerang.
Tepat pada menit ke 70, Ronaldo yang berhasil lepas dari jebakan offside tak ragu untuk membawa bola sampai ke depan gawang. Saat situasi mengharuskannya berhadapan dengan penjaga gawang lawan, Ronaldo dengan santainya memainkan bola dan sukses melewati pria terakhir yang menjaga pertahanan.
Luca Marchegiani, tak kuasa menahan laju Ronaldo hingga harus rela melihat gawangnya dibobol oleh Inter untuk ketiga kalinya.
Skor 3-0 bertahan sampai akhir pertandingan dan memunculkan Inter sebagai sang juara.
Ronaldo yang menjadi bintang di kebanyakan laga yang dijalani Inter pun berhasil membawa pulang medali Piala Europa.
Kendati demikian, seperti yang kita tahu, itu menjadi trofi yang pertama dan terakhir, yang dipersembahkan Ronaldo kepada Inter Milan.
Lima musim berlalu, hari-harinya lebih banyak dihabiskan dengan masalah cedera, sebelum akhirnya pada tahun 2002, dia resmi dilepas ke Real Madrid dengan biaya senilai 46 juta euro atau setara 781 miliar rupiah. Ronaldo didatangkan ke kubu el Real, dengan tujuan untuk melengkapi skuad bertabur bintang yang juga diisi dengan nama-nama seperti Zinedine Zidane, Luís Figo, Roberto Carlos dan David Beckham.
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=TbNUkwmoqEs[/embedyt]
Sumber referensi: planetfootball, panditfootball, bola, bolanet
8 Aturan Sepakbola Yang Pasti Tidak Kamu Ketahui
Sepakbola menjadi olahraga yang banyak digemari. Di dalamnya, terdapat berbagai aturan yang berlaku dengan tujuan agar permainan ini berjalan dengan rapi. Sudah ada banyak sekali aturan yang kita kenal seperti offside, handball, hingga pelanggaran. Lebih dari itu, peraturan dalam sebuah pertandingan tidak hanya sebatas hal itu saja, masih ada beberapa lainnya, yang mungkin tidak kalian ketahui.
Penasaran aturan apa sajakah itu? Simak ulasannya berikut ini.
Daftar Isi
Wasit Bertanggung Jawab Atas Invasi Yang Dilakukan Penonton Di Stadion
Selama menikmati pertandingan sepakbola, pasti kalian pernah melihat momen langka dimana ada satu, dua, atau lebih penonton di stadion yang memaksa masuk ke dalam lapangan. Tujuannya beragam, mulai dari menghampiri pemain idola sampai yang hanya timbulkan sensasi belaka.
Saat ada insiden tersebut, pasti kalian juga tahu kalau langsung ada petugas di pinggir lapangan, lengkap dengan jaket hi-viz, yang langsung menghalangi sekaligus mengamankan orang nekat tersebut.
Namun meski para petugas terlihat sigap, menghampiri sekaligus mengamankan para penonton nekat itu bukanlah tugas mereka. Itu merupakan tugas seorang wasit, dimana hal itu sudah tertulis dalam sebuah hukum pertandingan.
Penjaga Gawang Hanya Bisa Menahan Bola Selama 6 Detik
Dalam sebuah pertandingan, seorang kiper tentu berkesempatan memegang sebuah bola. Namun tahukah kalian bila ada durasi tertentu bagi seorang kiper dalam menjaga bola untuk tetap di tangan?
Ya, aturan FIFA menyebut bila seorang kiper hanya boleh menahan bola selama enam detik saja. Bila ingin lebih mengulur waktu, kiper boleh memantulkan bola ke lapangan setelah enam detik, untuk kemudian kembali mereka kuasai.
Akan tetapi, tetap saja, bila seorang kiper dianggap sengaja mengulur waktu, maka dia akan mendapat hukuman dari sang pengadil lapangan.
Penendang Penalti Tidak Boleh Menyentuh Bola Sebanyak Dua Kali
Dalam sebuah tendangan penalti yang diberikan dalam sebuah pertandingan, sang eksekutor tidak boleh menyentuh bola sebanyak dua kali. Jadi, jika bola sudah tersentuh, maka dia harus menunggu pemain lain untuk menyentuhnya, agar dia bisa kembali berkesempatan menyentuh bola.
Namun begitu, terkadang, aturan tersebut justru sering dimanfaatkan oleh sejumlah pemain untuk menjebol gawang lawan dengan cara berbeda. Biasanya, sang eksekutor penalti secara sengaja tidak menjebol gawang lawan dan malah mengirim umpan kepada rekan terdekat. Dengan trik tersebut, pemain yang mendapat umpan dari hasil tendangan penalti akan dengan mudah menjebol gawang lawan. Hal ini pernah dilakukan oleh Lionel Messi dan Luis Suarez ketika keduanya masih bermain untuk FC Barcelona.
Tendangan Bebas Langsung Ke Gawang Sendiri Tidak Akan Dianggap Sebagai Gol
Meski aturan ini tampak sederhana, namun banyak yang belum mengetahuinya.
Situasinya adalah, jika sebuah tim mendapat tendangan bebas dan sang eksekutor langsung memasukkannya ke dalam gawang sendiri, maka itu tidak dihitung sebagai gol dan hanya akan berbuah tendangan sudut bagi tim lawan.
Namun berbeda bila bola hasil tendangan bebas yang diarahkan ke gawang sendiri lebih dulu membentur pemain lain sebelum melewati garis gawang. Bila hal itu terjadi, maka gol akan diberikan.
Seorang Pemain Dapat Dikeluarkan Bahkan Sebelum Pertandingan Dimulai
Biasanya, seorang pemain dikeluarkan dari lapangan setelah mendapat kartu merah dari wasit, dalam sebuah pertandingan. Namun ternyata, wasit memiliki wewenang untuk mengeluarkan seorang pemain, bahkan sebelum pertandingan dimulai.
Aturan ini diperkenalkan pada tahun 2016. Tujuan dari aturan ini adalah agar tidak terjadi perkelahian sebelum pertandingan, yang biasanya dilakukan para pemain di terowongan menuju stadion.
Salah satu pemain yang pernah dikeluarkan sebelum pertandingan dimulai adalah Patrice Evra. Pemain asal Prancis tersebut dikeluarkan setelah kedapatan melancarkan tendangan ke arah penonton saat masih membela Marseille.
Jumlah Pemain Yang Sama Selama Adu Penalti
Bila sebuah pertandingan berakhir sama kuat, biasanya, adu tendangan penalti akan dilakukan guna menentukan sang pemenang. Namun harus diperhatikan pula bila jumlah penendang dari masing-masing tim harus tetap sama.
Artinya, bila selama pertandingan ada salah satu tim yang kehilangan pemain karena kartu merah, maka tim lawan hanya bisa mengirim sepuluh penendang saja selama adu tendangan penalti.
Aturan itu pernah digunakan pada babak final Piala Dunia 2006. Ketika itu, timnas Prancis hanya bisa mengirim sebanyak 10 penendang saja setelah Zinedine Zidane dikeluarkan oleh wasit usai menanduk dada Marco Materazzi. Di pertandingan tersebut, Gli Azzurri mengorbankan salah satu pemainnya, yaitu Gennaro Gattuso.
Tidak Ada Aturan Offside Dalam Kondisi Tertentu
Aturan Offside akan diberlakukan ketika seorang pemain menerima umpan dari rekan setimnya, dimana posisinya melebihi garis terakhir pertahanan lawan. Namun ternyata ada momen ketika aturan ini tidak berlaku.
Dalam aturan sebuah pertandingan sepakbola, pemain tidak akan dianggap offside ketika berhasil mencetak gol, hasil dari tendangan sudut, lemparan ke dalam atau tendangan gawang.
Setiap Tim Setidaknya Harus Memiliki Sebanyak 7 Pemain Untuk Bisa Melanjutkan Pertandingan
Dalam sebuah pertandingan, setiap tim diberi kesempatan untuk menurunkan sebanyak sebelas pemain. Namun sejatinya setiap tim bisa menurunkan hanya tujuh pemain saja, dimana itu menjadi batas minimal yang harus dipatuhi.
Bila dalam sebuah pertandingan, salah satu tim terkena kartu merah sebanyak empat kali, mereka masih bisa melanjutkan pertandingan. Namun begitu, apalagi kartu merah diberikan kepada lebih dari empat orang, maka tim tersebut akan dinyatakan kalah karena dianggap tidak memenuhi syarat untuk melanjutkan laga.
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=sLNJOyofhzY[/embedyt]
Sumber referensi: punditfeed, libero
Kisah Portsmouth FC yang Hampir Bangkrut dan Diselamatkan oleh Penggemarnya
Klub Portsmouth tentu tidak asing dengan para penggemar sepakbola, khususnya yang berada di Inggris. Klub yang identik dengan corak warna biru ini kerap menemani waktu santai kita kala ingin menikmati sepakbola Inggris. Di era 2000 an, nama Portsmouth cukup dikenal sebagai salah satu yang punya deretan pemain berbakat.
Dimulai pada tahun 1898, klub ini resmi didirikan pada tanggal 5 April. Berjuluk The Pompey, yang merujuk pada panggilan warga lokal disana, Portsmouth mulai tunjukkan eksistensinya sebagai salah satu klub yang siap bersaing di kasta tertinggi.
Mereka baru merasakan bermain di kasta tertinggi pada musim 1928/29. Bukan hal mudah bagi Portsmouth untuk bertahan. Mereka benar-benar merasakan ketatnya kompetisi tertinggi saat itu. Hasilnya, mereka nyaris terdegradasi. Perlahan tapi pasti, apa yang menjadi tujuan mereka pun tercapai. Portsmouth mulai terbiasa dengan tangga tertinggi di level atas, dan bahkan berhasil menjuarai Piala FA pada musim 1938/39.
Perlu diketahui bahwa sebelum merebut gelar juara di musim tersebut, Portsmouth sudah dua kali tampil di laga final, namun sayang mereka harus menelan kekalahan. Pertama dari Bolton Wanderers dan kedua dari Manchester City.
Dua kegagalan itulah yang pada akhirnya dibayar tuntas pada musim 1938/39 dimana mereka berhasil menghentikan perlawanan Wolverhampton Wanderers dengan skor 4-1.
Seiring berkembangnya zaman, Portsmouth juga pernah mengalami masa keemasan. Tepat setelah Bob Jackson ditunjuk sebagai pelatih, The Pompey mampu menggondol trofi Liga Inggris untuk pertama kalinya pada musim 1948/49. Di musim tersebut, mereka juga nyaris mengawinkan trofi Liga Primer Inggris dan Piala FA, sayangnya, di fase semifinal, mereka harus takluk dari Leicester City.
Kendati gagal meraih Piala FA untuk kali kedua, hal itu tidak mengapa. Pasalnya di musim berikutnya, Portsmouth berhasil mempertahankan gelar Liga Primer Inggris mereka setelah unggul produktivitas gol dari pesaing terdekat Wolverhampton.
Memasuki era 60 an, Portsmouth mulai digoncang isu krisis finansial. Mereka turun kasta dan sempat tampil di divisi ketiga pada 1960/61. Hal tersebut membuat mereka semakin terpuruk setelah terjepit masalah keuangan. Dampak dari masalah internal yang dihadapi ketika itu, mereka bahkan harus merasakan tampil di divisi empat pada 1978/79.
Mulai menata diri untuk bangkit, Portsmouth mulai tuai hasilnya. Pada musim 1987/88, atau sepuluh tahun setelah mereka terpuruk, kompetisi teratas di Inggris kembali menjadi lahan bermain bagi mereka. Nahas, hal tersebut tidak bertahan lama setelah mereka kembali turun kasta akibat krisis finansial yang dihadapi.
Masalah finansial yang tak jarang datang sebagai penghadang membuat mereka kesulitan naik ke kasta teratas. Bahkan ketika kompetisi Inggris sudah berganti format menjadi Liga Primer Inggris, mereka belum juga mampu cicipi kompetisi tertinggi. Barulah pada musim 2003/04, mereka akhirnya bisa kembali ke divisi utama, atau yang sekarang dikenal sebagai English Premier League.
Dari musim tersebut, Portsmouth boleh dibilang mulai terbiasa dengan kompetisi Liga Primer Inggris. Bahkan pada tahun 2006, Pengusaha Asal Prancis, Alexandre Gaydamak, datang untuk mengakuisisi The Pompey. Dengan bermodalkan dana besar dan janji-janji yang sulit untuk ditolak, dia datang ke Fratton Park dengan penuh harapan.
Gaydamak langsung membangun Portsmouth menjadi salah satu kesebelasan dengan penuh talenta luar biasa. Gelontoran dananya ketika itu mampu menciptakan skuad yang berisikan pemain-pemain seperti Nwankwo Kanu yang dibajak dari West Bromwich Albion, Andy Cole dan David James yang didatangkan dari Manchester City, serta mantan bek Arsenal dan Tottenham Hotspurs, Sol Campbell, yang akan semakin memperkuat lini belakang mereka.
Dengan bermaterikan pemain tersebut, manajer Portsmouth saat itu, Harry Redknapp tak kesulitan untuk mengembangkan permainan. Portsmouth mampu menembus papan tengah Liga Inggris dan menjadi tim yang tak boleh diremehkan.
Sang manajer yang tergiur dengan persaingan ketat kompetisi Inggris pun tak berhenti untuk menambah pasukan. Nama seperti Jermaine Defoe, Sulley Muntari, John Utaka, Peter Crouch, hingga Younes Kaboul, didatangkan untuk semakin memperkuat lini serang.
Dengan deretan pemain yang tak bisa diremehkan itu, Portsmouth berhasil memenangkan Piala FA pada tahun 2008. Di partai puncak, mereka berhasil menumbangkan perlawanan Cardiff City. Dalam perjalanannya, mereka sukses mengalahkan tim-tim kuat semacam Manchester United hingga West Bromwich Albion.
Namun seperti sudah menjadi sebuah hal lumrah bagi mereka, tim yang saat ini berkompetisi di League One, kembali mengalami masalah finansial. Dimulai dari catatan hutang bank senilai 43 juta euro atau setara 638 miliar rupiah, mereka harus rela ditinggal oleh sejumlah nama terbaiknya termasuk manajer Harry Redknapp.
Di tahun 2009, seorang pria kaya asal Timur Tengah bernama Al Fahim telah menyatakan minatnya untuk membeli Portsmouth. Dengan begitu, harapan besar pun muncul. Para penggemar mulai kegirangan dan siap menyambut era kebangkitan untuk kesekian kali.
Namun sayang, Al Fahim yang sudah menjanjikan dan transfer senilai 50 juta euro atau setara 858 miliar rupiah, malah tak mampu buktikan apa-apa. Parahnya lagi, banyak pemain Portsmouth yang mengaku bila gaji mereka belum dibayar oleh pihak klub selama berbulan-bulan.
Akhirnya, para penggemar pun menyerah dan menyebut bahwa mereka telah ditipu oleh pria Abu Dhabi yang mengaku punya banyak uang. Imbasnya, hutang semakin melonjak hingga mencapai 60 juta poundsterling atau setara 1,1 triliun rupiah.
Karena terus mengalami masalah finansial dan berbagai hal merugikan lainnya, Portsmouth mengalami pengurangan sebanyak sembilan poin pada Maret 2010. Hasilnya, di akhir musim 2009/10 mereka resmi terdegradasi dan harus turun kasta setelah menempati posisi ke 20 klasemen akhir.
Di musim berikutnya, atau tepat pada 2010/11, mereka yang masih berjuang di divisi Championship pun terus dihantui dengan isu likuidasi.
Kedatangan pengusaha kaya asal Rusia bernama Vladimir Antonov juga sama sekali tidak membantu. Hutang masih belum terbayar dan klub harus menerima kenyataan bahwa sang taipan asal Rusia mengalami ketidakpastian setelah terlibat kasus dalam masalah Bank di Lithuania.
Beruntung, di tengah situasi pelik, Portsmouth punya banyak pendukung setia. Mereka yang tergabung dalam sebuah komunitas bernama “Pompey Supporter Trust” memutuskan untuk mengakuisisi saham klub. Dibawah kendali dan pengawasan mereka, Portsmouth resmi dinyatakan bebas hutang pada tahun 2014 silam.
Dengan segala perjuangan yang masih terus dilakukan, akankah Portsmouth mampu kembali ke kompetisi Liga Primer Inggris dalam waktu dekat?
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=aJ5Rbi1nMBM[/embedyt]
Sumber referensi: taleoftwohalves, gantigol, footballtribe
Kisah Sergio Arribas Yang Jadi Penanda Generasi Emas La Fabrica
Real Madrid sampai saat ini masih menjadi salah satu klub terbaik di dunia. Mereka masih terus konsisten persembahkan gelar untuk para penggemar. Satu hal yang sudah sangat melekat dengan nama Real Madrid adalah, mereka begitu terkenal dengan skuad bertabur bintang yang dimiliki. Sudah sejak lama memang klub berjuluk Los Blancos ini mengumpulkan pemain-pemain bintang yang tersebar di seluruh dunia. Mereka selalu berada di garda terdepan, ketika ada nama pemain yang banyak diperbincangkan.
Hal ini jelas berbeda yang apa yang dilakukan oleh sang rival, FC Barcelona. Klub yang kini dibesut Ronald Koeman telah banyak kumpulkan pemain-pemain hebat, yang diambil dari akademi mereka sendiri. Satu yang paling fenomenal tentu nama Lionel Messi.
Namun seiring berjalannya waktu, hal tersebut mulai beralih ke cara yang berbeda. Kini, di tengah kondisi bumi yang diterjang pandemi, mengharuskan banyak klub, yang berstatus raksasa sekalipun, untuk mengirit pengeluaran. Keuangan klub-klub besar Eropa, termasuk Real Madrid, memang masih banyak yang terganggu.
Meski mengalami masa-masa sulit, hal tersebut justru memberi hikmah tersendiri bagi el Real. Demi menekan pengeluaran, Real Madrid yang dilanda krisis lebih memilih untuk mencari harta karun di akademi mereka. Mereka tidak berniat mencari pemain bintang, dan mengamati satu demi satu, pemain mana yang layak dimasukkan ke tim utama untuk menambal kekurangan.
Setelah dilakukan pemantauan, sampailah pada satu nama, yaitu Sergio Arribas.
Sergio Arribas merupakan perwujudan dari sosok pemain muda dengan sejuta harapan. Meski belum terlalu banyak menyita perhatian, Arribas merupakan pemain muda yang sudah dipanggil Zinedine Zidane ke skuad utama pada tahun 2017 silam. Ketika itu, dia masih berusia 16 tahun. Meski dipanggil ke skuad utama hanya untuk melengkapi jumlah pemain yang harus dipanggil, itu sudah menjadi sebuah tanda, bahwa nama Arribas memang sudah punya potensi sejak dini.
Dalam perjalanannya beberapa tahun lagi untuk menuju tim utama, nama Sergio Arribas semakin jauh berkembang. Dia menjadi salah satu penggawa terbaik di tim muda Madrid, dengan membawa klub tersebut menjuarai kompetisi UEFA Youth League. Perlu diketahui bahwa itu merupakan gelar pertama Real Madrid sepanjang sejarah dalam kompetisi tersebut, setelah berhasil mengalahkan Benfica di partai final.
Tim muda Real Madrid, selama bertahun-tahun, selalu tumbang di fase semifinal. Kini, di bawah asuhan Raul Gonzales, mereka berhasil menjadi yang terbaik di kompetisi muda benua biru.
Bintang Real Madrid dalam kompetisi tersebut, sudah tidak perlu diragukan lagi. Adalah Sergio Arribas, yang menampilkan performa gemilang dalam banyak laga. Seperti pada awal babak penyisihan, Arribas menjadi inspirator dari keberhasil Real Madrid dalam menyingkirkan Juventus. Kemudian, pada pertandingan selanjutnya, dia mengirimkan sebanyak tiga assist dalam kemenangan 3-0 Real Madrid melawan Inter Milan.
Di babak semifinal, dia juga berhasil menjadi pemain penting dalam kemenangan el Real atas Red Bull Salzburg, untuk kemudian menumbangkan Benfica di partai puncak.
Buah dari perjuangannya itu adalah, dia resmi dimasukkan ke tim utama pada musim ini, dimana pertandingan melawan Real Sociedad menjadi penanda debutnya bersama el Real.
Pada September 2020, dia melakukan debut di laga resmi bersama Real Madrid, setelah masuk menggantikan Vinicius Jr pada menit ke 91. Sementara itu, di level yang lebih tinggi, dia turut tampil di laga Liga Champions Eropa, pada Desember 2020. Dia menjadi bagian Real Madrid yang berhasil menumbangkan perlawanan Borussia Monchengladbach dengan skor 2-0.
Sergio Arribas memiliki kemampuan luar biasa, sehingga dia dijuluki sebagai penerus bintang Real Madrid, Isco. Pemain berusia 19 tahun ini diberkati dengan kaki kiri ajaib. Dia dapat beroperasi di lini tengah maupun di posisi yang sedikit lebih melebar.
Musim lalu, seperti yang sudah dijelaskan, dia memiliki peran sempurna di barisan skuad muda Real Madrid. Selain berhasil membawa Real Madrid meraih gelar juara UEFA Youth League, dia juga berhasil menyumbangkan 18 gol dan 13 assist dalam 34 penampilannya.
Pada awal 2021 lalu, dia juga baru saja mendapat sebuah penghormatan, dimana namanya masuk ke dalam daftar 50 pemain muda terbaik yang dirilis oleh UEFA. Dia terpilih sebagai satu diantara pemain berbakat lainnya yang layak mendapat pemantauan dari berbagai pihak.
Secara permainan, dia memang terlihat berbahaya kala berada di kotak penalti lawan. Dia mampu menyisir dengan cepat di sisi lapangan hingga secara tiba-tiba mengirim umpan silang ke rekan setimnya. Dengan kecepatannya, dia juga mampu membuat pemain lawan terperdaya.
“Dia adalah pemain yang sangat tepat. Kalian bisa mengatakan dia sangat terampil. Dia memiliki kemampuan yang mengingatkan kalian pada Isco,”
“Dia bisa tampil lebih dari seorang gelandang, seorang finisher tanpa menjadi penyerang tengah. Dia menunjukkan kemampuan yang menarik. Karena itu, dia banyak mendapat perhatian. Dia sangat intuitif,” kata mantan pelatih Arribas, Dani Poyatos, kepada Fabrica Madrid.
Dengan kegemilangannya di kompetisi UEFA Youth League, serta keberhasilannya dalam menjadi pemain muda yang dipanggil ke skuad utama, banyak yang berharap pada sosok Arribas, tak terkecuali sang pelatih Raul Gonzalez.
“Kami bangga. Ada banyak pemain di seluruh dunia yang datang ke Real Madrid yang kemudian dijual ke semua liga. Kami adalah tim yang paling banyak memenangkan Liga Champions dan sebagai klub kami juga membutuhkan gelar ini,” kata Raul usai memenangi turnamen UEFA Youth League.
Arribas, dalam hal ini, juga menjadi penanda dari generasi emas La Fabrica. Dia memimpin rekan-rekan setimnya, seperti Bruno Iglesias, Miguel Gutierrez, Pablo Roman, Luis Lopez dan Isra Salazar, untuk bisa mendapat kesempatan tampil di tim utama Real Madrid.
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=2Lew2fioUwc[/embedyt]
Sumber referensi: libero, football-espana, goal
10 Algojo Penalti Yang Tak Pernah Gagal
Mendapat kesempatan tendangan penalti tentu menjadi berkah tersendiri bagi sebuah klub, apalagi bila posisi mereka sedang terdesak. Namun begitu, tidak mudah bagi seorang pemain yang ditunjuk sebagai penendang untuk bisa memasukkan bola ke dalam gawang, meski melalui tendangan 12 pas. Tekanan serta faktor lain bisa membuat mereka kesulitan untuk menceploskan bola ke dalam gawang.
Kendati memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi, para pemain ini nyaris tidak pernah gagal kala ditunjuk sebagai algojo. Berikut kami sajikan 10 algojo tendangan penalti terbaik yang pernah ada.
Daftar Isi
Marco van Basten
Nama Marco van Basten begitu lekat dengan salah satu penyerang terbaik yang pernah ada. Pria yang kini berusia 56 tahun itu pernah berjaya bersama AC Milan dan Timnas Belanda. Salah satu momen terbaiknya adalah ketika berhasil mencetak gol spektakuler di laga final Piala Eropa 1988 melawan Uni Soviet.
Di atas lapangan, Marco van Basten memang begitu garang. Mulai dari kaki kiri, kanan, sampai kepala, semua berhasil dikuasainya. Maka wajar bila dia sangat ditakuti lawan. Selain pandai menjebol gawang lawan di berbagai situasi, van Basten juga tak jarang ditunjuk sebagai penendang penalti bagi klub yang dibelanya.
Selama bertugas sebagai algojo, rata-rata kesuksesannya mencapai 94,9 %. Dengan kata lain, dia berhasil mencetak 56 gol tendangan penalti dari 59 kesempatan yang didapat.
Ferenc Puskas
Ketika menyebut tentang salah satu penyerang terbaik sepanjang masa, maka nama Ferenc Puskas layak dimasukkan ke dalam daftar. Ferenc Puskas merupakan salah satu penyerang dengan torehan gol luar biasa. Dia merupakan salah satu pemain terbaik yang pernah dimiliki Real Madrid di era kejayaan klub, bersama dengan Alfredo Di Stefano.
Sama seperti Marco van Basten, Ferenc Puskas juga lihai dalam mengeksekusi tendangan 12 pas. Dia memiliki rataan sukses 95,9% selama ditunjuk sebagai seorang algojo. Secara rinci, dia mampu menjebol gawang lawan sebanyak 70 kali dari 73 kesempatan yang diberi.
Antonin Panenka
Dua gelar liga dan tiga piala domestik lainnya membuat nama Antonin Panenka layak disebut sebagai legenda di negaranya. Meski tidak pernah bermain untuk klub sebesar FC Barcelona atau Real Madrid, Antonin Panenka begitu melegenda dengan sebuah tendangan unik di area 12 pas.
Menjadi penendang pertama di laga final melawan Jerman Barat di Piala Eropa 1976, Antonin Panenka mengeksekusinya dengan sangat tenang. Dia menendang bola dengan power yang tidak terlalu besar namun memiliki tingkat akurasi luar biasa. Hasilnya adalah tendangan spektakuler, yang kita kenal sekarang dengan sebutan tendangan ‘panenka’. Tendangan tersebut begitu melegenda sampai sekarang.
Tendangan penalti yang melegenda di laga final itu pun menjadi satu diantara 24 tendangan penalti lainnya yang berhasil dicetak oleh Panenka. Sepanjang karirnya, Panenka hanya gagal menendang penalti sebanyak satu kali saja.
Laszlo Kubala
Laszlo Kubala merupakan satu nama yang pernah membuat FC Barcelona berjaya di kancah Eropa. Sepanjang karirnya, dia sendiri pernah membela sebanyak empat negara. Bersama FC Barcelona, Laszlo Kubala telah bermain selama 13 musim dan berhasil memenangkan 13 trofi.
Ketika itu, Barcelona memang begitu ditakuti ketika ada nama Laszlo Kubala didalamnya. Banyak bek yang dibuat kewalahan hingga kiper yang tak berdaya ketika Laszlo Kubala sudah berada di depan gawang.
Dipandang sebagai salah satu penyerang mematikan, Laszlo Kubala juga memiliki citra terbaik sebagai seorang penendang penalti. Dari total 28 kesempatan yang diberi, dia berhasil mencetak 27 diantaranya.
Jari Litmanen
Finlandia harus berbangga karena punya pemain seperti Jari Litmanen. Jari Litmanen merupakan pemain legendaris yang pernah tenar bersama Ajax Amsterdam sampai FC Barcelona. Di tahun 1995, ketika berhasil membawa Ajax Amsterdam menjuarai Liga Champions Eropa, Jari Litmanen berhasil duduk di peringkat ketiga peraih Ballon D’or.
Jari Litmanen mungkin dikenal sebagai pemain yang sering bergonta ganti klub. Namun sebanyak dia berganti klub pula, gelontoran lebih dari 200 gol berhasil dia ciptakan, dimana 28 gol lainnya dicetak melalui tendangan penalti, dari total 29 kesempatan yang didapatkan.
Dengan begitu, dia memiliki tingkat kesuksesan tendangan penalti sebesar 96,6 %.
Gaizka Mendieta
Dua kali membawa Valencia masuk ke final Liga Champions Eropa, Gaizka Mendieta layak disebut sebagai salah satu pemain terbaik yang dimiliki tim kelelawar. Selain membawa Valencia masuk ke partai final sebanyak dua kali, Gaizka Mendieta juga berhasil mempersembahkan Copa del Rey, Piala Super Spanyol, dan juga Piala Intertoto.
Meski berposisi sebagai seorang gelandang, Gaizka Mendieta memiliki kemampuan mencetak gol yang cukup baik. Kepercayaan diri yang dimiliki juga membuatnya ditugaskan untuk menjadi algojo tendangan penalti.
Sepanjang karir, dia telah mendapat sebanyak 30 kesempatan tendangan penalti, dimana 29 diantaranya berhasil dia ceploskan bola ke dalam gawang.
Zico
Zico mungkin tidak terlalu populer dari nama Pele, Ronaldo, hingga Ronaldinho. Namun begitu, boleh dibilang, dia adalah seniman sesungguhnya asal negeri Samba. Selama tampil untuk timnas Brasil dalam 72 pertandingan, Zico berhasil mencetak sebanyak 52 gol. Zico dikenal sebagai pemain jenius, yang mampu membaca permainan dengan baik. Selain itu, akurasi tendangannya juga sangat baik.
Zico layak dimasukkan ke dalam salah satu eksekutor tendangan bebas terbaik sepanjang masa. Karena ketenangan serta kejeniusannya dalam mengeksekusi bola mati, Zico juga ditugaskan untuk menjadi algojo tendangan 12 pas.
Sama seperti mengeksekusi tendangan bebas, Zico juga lihai dalam menjadi penendang penalti. Buktinya, dia berhasil mencetak sebanyak 93 gol dari 96 kesempatan.
Cuauhtemoc Blanco
Penyerang asal Meksiko, Cuauhtemoc Blanco, masuk dalam daftar prestise ini. Nama Cuauhtemoc Blanco tidak banyak dikenal orang karena memang dia tidak pernah tampil di tim besar Eropa. Pemain yang pernah mempersembahkan Piala Konfederasi untuk Meksiko itu telah mencetak lebih dari 200 gol sepanjang karirnya.
Dikenal sebagai penyerang tajam, Cuauhtemoc Blanco juga lihai dalam menjadi algojo penalti. Dari sebanyak 73 kesempatan yang diberikan, dia berhasil mencetak sebanyak 71 diantaranya.
Matt Le Tissier
Pemain berjuluk Le God, Matt Le Tissier, dikenal sebagai pemain yang pandai meliuk melewati banyak pemain lawan. Dia merupakan pemain yang menghabiskan sebagian besar karirnya bersama Southampton. Dia tidak berniat membela klub seperti MU, Liverpool, atau Chelsea, karena memang dia sudah sangat mencintai Southampton.
Matt Le Tissier merupakan sosok sensasional dalam sejarah Liga Primer Inggris. Dia kerap mencetak gol spektakuler yang sulit ditiru oleh pemain lain. Dalam karir profesionalnya, dia juga dikenal sebagai penendang penalti terbaik yang pernah dimiliki Southampton.
Tercatat, dalam 50 kesempatan yang didapat, Matt Le Tissier hanya melewatkan satu tendangan penalti saja yang gagal dikonversi menjadi gol.
Ledio Pano
Gelandang asal Albania yang kini berusia 52 tahun, Ledio Pano, menjadi penendang penalti terbaik, dimana dia tidak pernah melewatkan satupun kesempatan yang gagal dikonversi menjadi gol, dari total 50 kesempatan yang diberikan.
Sepanjang karir profesionalnya, Ledio Pano adalah seorang pemain yang banyak menghabiskan waktunya di Yunani dan negara asalnya Albania.
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=rnchky3z5fc[/embedyt]
Sumber referensi: punditfeed, sportbible
Oliver Bierhoff, “Raja Udara” dan Pahlawan Jerman di Euro 1996
Timnas Jerman tak pernah kehabisan striker handal. Sepanjang sejarahnya, Der Panzer punya deretan striker yang ditakuti lawan, sebut saja Gerd Muller, Karl-Heinz Rummenigge, Rudi Voller, hingga Miroslav Klose dan yang terbaru Timo Werner. Namun, ada satu striker timnas Jerman yang punya keahlian paling unik. Dialah Oliver Bierhoff.
Jerman terakhir kali menjadi juara Piala Eropa pada 1996. Di partai final melawan Republik Ceko, Oliver Bierhoff menjadi pahlawan Der Panzer berkat dua golnya. Itulah momen terbaik Bierhoff bersama Der Panzer.
Namun, perjalanan striker yang dikenal tampan pada zamannya itu tidaklah mudah. Lahir di kota Karlsruhe, Bierhoff kecil lahir dari keluarga kaya raya. Ayahnya, Rolf Bierhoff adalah seorang mantan kiper dan CEO dari perusahaan energi Jerman yang cukup besar.
Lahir dari keluarga terpandang membuat karier yunior Bierhoff berjalan sulit. Dia harus menghadapi stereotip dari teman-temannya. Sebagai anak orang kaya, Bierhoff kecil kerap mendapat cemooh.
Meski begitu, bakat sepak bola tetap mengalir dari sang ayah. Bierhoff tergolong pemuda yang berbakat. Setelah menimba ilmu sebagai seorang striker di akademi SW Essen, ia memulai karier profesionalnya di Bayer Uerdingen pada tahun 1986 saat usianya masih 17 tahun.
Oliver BIERHOFF – Bayer 05 Uerdingen 1987-88 pic.twitter.com/syqXO0gxgj
— Old School Panini (@OldSchoolPanini) April 19, 2013
Diberkati tinggi badan yang menjulang, 191 cm, Bierhoff digadang-gadang sebagai calon striker masa depan Jerman. Sayangnya, harapan itu tak mampu dijawab Bierhoff muda.
Dua musim bersama Uerdingen, Bierhoff hanya mampu mencetak 4 gol dari 31 penampilan. Kemudian, dia pindah ke Hamburg SV dan bertahan selama 2 musim sebelum kembali pindah ke Borussia Monchengladbach.
Sepertinya, Bundesliga Jerman bukan tempat yang ditakdirkan untuknya. Namun, meski hanya mampu mencetak 10 gol dari 73 penampilannya di Bundesliga, Bierhoff tetap mendapat panggilan Jerman U-21.
Bersama timnas Jerman U-21, Bierhoff justru tampil apik dengan mengemas 7 gol dari 10 penampilan. Ia juga mulai memanfaatkan keunggulan postur tubuhnya dan memperlihatkan kemampuan sundulannya yang di atas rata-rata.
Walau sempat tampil bagus di timnas kelompok usia, kritik tetap mengarah kepada Bierhoff yang dianggap gagal memanfaatkan bakatnya. Meski punya aerial ability yang bagus, Bierhoff kerap dikritik karena tak mampu menguasai bola dengan kakinya.
Setelah kegagalannya di Bundesliga, kepercayaan diri Bierhoff sempat hancur, bahkan niatan pensiun dini sempat ia pikirkan. Terus dikritik dan mendapat sentimen negatif, Bierhoff yang kala itu masih berusia 21 tahun memutuskan keluar dari Jerman. Di musim 1990/1991, klub Liga Austria, Austria Salzburg memberinya kesempatan.
Jauh dari sorotan media Jerman, Bierhoff mampu tampil lepas. Ia berhasil membawa klubnya finish di posisi lima. Tak cuma itu, Bierhoff sukses menunjukkan kemampuannya dengan mampu mencetak 23 gol dari 31 penampilan.
Performa yang menawan di Liga Austria membuat Bierhoff kembali mendapat tawaran di klub besar. Kala itu, Inter Milan datang menawar Bierhoff dengan mahar 400 ribu paun. Ironisnya, Bierhoff langsung didepak usai kedatangan Corrado Orrico, pelatih baru Inter di musim 1991/1992.
Bierhoff kemudian terbuang ke klub promosi, Ascoli. Musim pertamanya di Serie A berjalan buruk. Ascoli langsung terdegradasi kembali ke Serie B dan Bierhoff hanya mampu mencetak dua gol di musim pertamanya. Atas hal tersebut, pendukung Ascoli lantas mengkambinghitamkan Bierhoff.
#OnThisDay photo from Serie A, 1992.
Juventus vs Ascoli.
Oliver Bierhoff vs Jürgen Kohler. pic.twitter.com/06Mi7BzY1a
— Culture of Football Classics (@CFclassics) April 12, 2020
Walau seakan coba dibuang oleh para penggemar Ascoli, Bierhoff memutuskan untuk bertahan setelah mendapat dukungan dari para rekannya. Tak disangka, Bierhoff justru jadi pemain terbaik Ascoli di Serie B. Di musim pertamanya, dia langsung menghasilkan 20 gol.
Meski tampil bagus, Bierhoff gagal mengangkat Ascoli ke Serie A. Selama 3 musim, Bierhoff terjebak bersama Ascoli di Serie B. Namun, dia menjelma jadi idola suporter. Mencetak 49 gol dari 124 penampilannya untuk Ascoli, Bierhoff kemudian pindah ke Udinese seiring dengan terdegradasinya Ascoli ke Serie C.
Bierhoff dibeli oleh Udinese yang kala itu baru promosi ke Serie A dengan mahar 1 juta paun. Alberto Zaccheroni, pelatih Udinese saat itu adalah sosok dibalik transfer Bierhoff. Di bawah asuhan Mr. Zac, Bierhoff langsung dipercaya sebagai ujung tombak tim.
Lewat polesan Zaccheroni, bakat Bierhoff mulai terasah dan mekar. Di Serie A musim 1995/1996, Bierhoff sukses mencetak 17 gol. Performa apiknya di Italia membuat Bierhoff mendapat panggilan pertama timnas Jerman. Saat itu, Bierhoff yang sudah berusia 27 tahun jadi bagian skuad Berti Vogts jelang Euro 1996.
Di laga keduanya bersama timnas Jerman, Bierhoff mampu mencetak 2 gol ke gawang Denmark dalam sebuah laga persahabatan. Penampilan apiknya itulah yang membuat Vogts membawa Bierhoff ke ajang Euro 1996.
Bierhoff tampil di dua laga babak grup melawan Ceko dan Rusia. Sayang, dia gagal tampil apik dan berujung jadi penghangat bangku cadangan. Kesempatan kedua akhirnya datang di laga final. Jerman yang terdesak setelah ketinggalan 1 gol, memasukkan Bierhoff di menit ke-69.
Empat menit berselang, Bierhoff yang baru masuk sebagai pemain pengganti sukses menyamakan kedudukan. Memanfaatkan sepakan bebas Christian Ziege, Bierhoff yang memakai nomor punggung 20 datang menyambut umpan tersebut dengan sundulan kepala.
Gol dari Bierhoff itu membuat laga berlanjut ke babak perpanjangan waktu. Di menit ke-95, Jerman yang mengandalkan duet Klinsmann dan Bierhoff mendapat peluang bagus di depan gawang Ceko. Klinsmann lalu mengirim umpan kepada Bierhoff. Pemain Udinese itu lalu menguasi bola sebentar sebelum melepas sepakan kaki kiri yang berbuah golden goal untuk timnas Jerman.
#TBT – 20 years ago today Oliver Bierhoff’s golden goal won #GER the EURO 1996 title. pic.twitter.com/9B6FDrjF99
— 🇺🇸 FC Bayern US 🇨🇦 (@FCBayernUS) June 30, 2016
Laga pun berakhir untuk kemenangan 2-1 Jerman atas Ceko. Bierhoff yang masuk sebagai pemain pengganti langsung dielu-elukan pendukung Jerman. Momen itu sekaligus jadi titik balik karier Bierhoff. Dari pemain yang terus disudutkan hingga sempat berniat pensiun dini, Bierhoff menjelma jadi raja udara timnas Jerman.
Tahun-tahun berikutnya, Bierhoff bertransformasi jadi andalan Der Panzer. Ia bahkan ditunjuk sebagai kapten tim usai Jurgen Klinsmann pensiun di tahun 1998. Bierhoff jadi ujung tombak Jerman di ajang Euro 2000, Piala Dunia 1998 dan Piala Dunia 2002.
Setelah membawa Jerman duduk sebagai runner-up Piala Dunia 2002, Bierhoff memutuskan pensiun dari tim nasional. Sepanjang kariernya, Bierhoff tampil sebanyak 70 kali dan menyumbang 37 gol untuk Der Panzer.
Sementara itu, di level klub, Bierhoff mencapai puncak kariernya di tahun 1998. Dia menjelma sebagai seorang target-man yang berbahaya. Selain membawa Udinese tampil ganas, Bierhoff sendiri sukses mengakhiri musim 1997/1998 dengan gelar top skor Serie A berkat 27 golnya.
Oliver Bierhoff 1998.
Udinese Calcio.© Bongarts/Getty Images pic.twitter.com/XF1jOONUZm
— Olympia (@olympia_vintage) March 22, 2018
Setelah 3 musim berseragam Udinese, Bierhoff mengikuti jejak pelatihnya, Alberto Zaccheroni ke AC Milan. Kala itu, striker timnas Jerman tersebut direkrut dengan harga fantastis, 11 juta paun. Seakan berjodoh dengan Zaccheroni, Bierhoff mampu meneruskan performa apiknya bersama rival abadi Inter itu.
Bierhoff langsung memberi dampak positif. Di musim pertamanya berseragam rossoneri, dia langsung menghasilkan 19 gol di Serie A. Uniknya, 15 gol di antaranya Bierhoff hasilkan dari sundulan kepala. Sebuah rekor yang hingga detik ini belum ada tandingannya.
Tak hanya itu, berkat kegemilangan Bierhoff, Milan berhasil mendapat scudetto di musim 1998/1999. Seakan mengulang memori final Euro 1996, Bierhoff jadi penentu kemenangan Milan di pertandingan terakhir lewat hattrick-nya ke gawang Empoli yang membuat rossoneri melewati Lazio di puncak klasemen Serie A.
Scudetto bersama Milan adalah trofi satu-satunya Bierhoff di level klub. Setelah kesuksesan itu, Bierhoff bertahan di Milan selama 2 musim berikutnya. Selama membela rossoneri, dia mencetak 44 gol dari 119 penampilannya di semua ajang.
Oliver Bierhoff. 119 games, 44 goals.
Milan
Serie A: 1998–1999 🏆Excellent in the air and in the right place at the right time. A traditional striker who was a textbook “target man”. pic.twitter.com/GtQvJNcQ9b
— Remember1899 (@storiadimilano) June 30, 2020
Setelah itu, ia menyebrang ke AS Monaco. Setahun bersama tim Ligue 1 Prancis itu, Bierhoff kembali ke Italia dengan seragam Chievo. Bierhoff hanya semusim bersama Chievo sebelum memutuskan pensiun di akhir musim 2002/2003 saat usianya sudah 35 tahun.
Bierhoff boleh saja hanya mencetak 7 gol di musim tersebut. Namun, ia mengakhiri kariernya dengan sangat indah. Di laga terakhirnya, Bierhoff sukses mencetak 3 gol ke gawang Juentus. Meski gagal membawa Chievo menang, namun hattrick Bierhoff sukses mencuri perhatian sekaligus jadi akhir manis perjalanan kariernya.
Kini, pria kelahiran 1 Mei 1968 itu akan genap berusia 53 tahun di tahun ini. Sudah sejak 2004 lalu, ia jadi manager dan direktur teknik timnas Jerman. Dialah sosok dibalik layar dari keberhasilan Der Panzer menjuarai Piala Dunia 2014.
Bierhoff adalah contoh striker yang mampu mengatasi kesulitan dan menjawab keraguan serta cemoohan dengan prestasi. Tak diberkahi kecepatan, Bierhoff mengakali keterbatasannya dengan bermain efisien.
Dari seorang pemuda yang dicemooh oleh pendukungnya sendiri, Oliver Bierhoff sukses mengakhiri kariernya sebagai pahlawan, baik bagi timnas negaranya maupun bagi klub yang ia bela.
***
Sumber Referensi: CNN Indonesia, AC Milan, Liputan 6, These Football Times
