Klub Portsmouth tentu tidak asing dengan para penggemar sepakbola, khususnya yang berada di Inggris. Klub yang identik dengan corak warna biru ini kerap menemani waktu santai kita kala ingin menikmati sepakbola Inggris. Di era 2000 an, nama Portsmouth cukup dikenal sebagai salah satu yang punya deretan pemain berbakat.
Dimulai pada tahun 1898, klub ini resmi didirikan pada tanggal 5 April. Berjuluk The Pompey, yang merujuk pada panggilan warga lokal disana, Portsmouth mulai tunjukkan eksistensinya sebagai salah satu klub yang siap bersaing di kasta tertinggi.
Mereka baru merasakan bermain di kasta tertinggi pada musim 1928/29. Bukan hal mudah bagi Portsmouth untuk bertahan. Mereka benar-benar merasakan ketatnya kompetisi tertinggi saat itu. Hasilnya, mereka nyaris terdegradasi. Perlahan tapi pasti, apa yang menjadi tujuan mereka pun tercapai. Portsmouth mulai terbiasa dengan tangga tertinggi di level atas, dan bahkan berhasil menjuarai Piala FA pada musim 1938/39.
Perlu diketahui bahwa sebelum merebut gelar juara di musim tersebut, Portsmouth sudah dua kali tampil di laga final, namun sayang mereka harus menelan kekalahan. Pertama dari Bolton Wanderers dan kedua dari Manchester City.
Dua kegagalan itulah yang pada akhirnya dibayar tuntas pada musim 1938/39 dimana mereka berhasil menghentikan perlawanan Wolverhampton Wanderers dengan skor 4-1.
Seiring berkembangnya zaman, Portsmouth juga pernah mengalami masa keemasan. Tepat setelah Bob Jackson ditunjuk sebagai pelatih, The Pompey mampu menggondol trofi Liga Inggris untuk pertama kalinya pada musim 1948/49. Di musim tersebut, mereka juga nyaris mengawinkan trofi Liga Primer Inggris dan Piala FA, sayangnya, di fase semifinal, mereka harus takluk dari Leicester City.
Kendati gagal meraih Piala FA untuk kali kedua, hal itu tidak mengapa. Pasalnya di musim berikutnya, Portsmouth berhasil mempertahankan gelar Liga Primer Inggris mereka setelah unggul produktivitas gol dari pesaing terdekat Wolverhampton.
Memasuki era 60 an, Portsmouth mulai digoncang isu krisis finansial. Mereka turun kasta dan sempat tampil di divisi ketiga pada 1960/61. Hal tersebut membuat mereka semakin terpuruk setelah terjepit masalah keuangan. Dampak dari masalah internal yang dihadapi ketika itu, mereka bahkan harus merasakan tampil di divisi empat pada 1978/79.
Mulai menata diri untuk bangkit, Portsmouth mulai tuai hasilnya. Pada musim 1987/88, atau sepuluh tahun setelah mereka terpuruk, kompetisi teratas di Inggris kembali menjadi lahan bermain bagi mereka. Nahas, hal tersebut tidak bertahan lama setelah mereka kembali turun kasta akibat krisis finansial yang dihadapi.
Masalah finansial yang tak jarang datang sebagai penghadang membuat mereka kesulitan naik ke kasta teratas. Bahkan ketika kompetisi Inggris sudah berganti format menjadi Liga Primer Inggris, mereka belum juga mampu cicipi kompetisi tertinggi. Barulah pada musim 2003/04, mereka akhirnya bisa kembali ke divisi utama, atau yang sekarang dikenal sebagai English Premier League.
Dari musim tersebut, Portsmouth boleh dibilang mulai terbiasa dengan kompetisi Liga Primer Inggris. Bahkan pada tahun 2006, Pengusaha Asal Prancis, Alexandre Gaydamak, datang untuk mengakuisisi The Pompey. Dengan bermodalkan dana besar dan janji-janji yang sulit untuk ditolak, dia datang ke Fratton Park dengan penuh harapan.
Gaydamak langsung membangun Portsmouth menjadi salah satu kesebelasan dengan penuh talenta luar biasa. Gelontoran dananya ketika itu mampu menciptakan skuad yang berisikan pemain-pemain seperti Nwankwo Kanu yang dibajak dari West Bromwich Albion, Andy Cole dan David James yang didatangkan dari Manchester City, serta mantan bek Arsenal dan Tottenham Hotspurs, Sol Campbell, yang akan semakin memperkuat lini belakang mereka.
Dengan bermaterikan pemain tersebut, manajer Portsmouth saat itu, Harry Redknapp tak kesulitan untuk mengembangkan permainan. Portsmouth mampu menembus papan tengah Liga Inggris dan menjadi tim yang tak boleh diremehkan.
Sang manajer yang tergiur dengan persaingan ketat kompetisi Inggris pun tak berhenti untuk menambah pasukan. Nama seperti Jermaine Defoe, Sulley Muntari, John Utaka, Peter Crouch, hingga Younes Kaboul, didatangkan untuk semakin memperkuat lini serang.
Dengan deretan pemain yang tak bisa diremehkan itu, Portsmouth berhasil memenangkan Piala FA pada tahun 2008. Di partai puncak, mereka berhasil menumbangkan perlawanan Cardiff City. Dalam perjalanannya, mereka sukses mengalahkan tim-tim kuat semacam Manchester United hingga West Bromwich Albion.
Namun seperti sudah menjadi sebuah hal lumrah bagi mereka, tim yang saat ini berkompetisi di League One, kembali mengalami masalah finansial. Dimulai dari catatan hutang bank senilai 43 juta euro atau setara 638 miliar rupiah, mereka harus rela ditinggal oleh sejumlah nama terbaiknya termasuk manajer Harry Redknapp.
Di tahun 2009, seorang pria kaya asal Timur Tengah bernama Al Fahim telah menyatakan minatnya untuk membeli Portsmouth. Dengan begitu, harapan besar pun muncul. Para penggemar mulai kegirangan dan siap menyambut era kebangkitan untuk kesekian kali.
Namun sayang, Al Fahim yang sudah menjanjikan dan transfer senilai 50 juta euro atau setara 858 miliar rupiah, malah tak mampu buktikan apa-apa. Parahnya lagi, banyak pemain Portsmouth yang mengaku bila gaji mereka belum dibayar oleh pihak klub selama berbulan-bulan.
Akhirnya, para penggemar pun menyerah dan menyebut bahwa mereka telah ditipu oleh pria Abu Dhabi yang mengaku punya banyak uang. Imbasnya, hutang semakin melonjak hingga mencapai 60 juta poundsterling atau setara 1,1 triliun rupiah.
Karena terus mengalami masalah finansial dan berbagai hal merugikan lainnya, Portsmouth mengalami pengurangan sebanyak sembilan poin pada Maret 2010. Hasilnya, di akhir musim 2009/10 mereka resmi terdegradasi dan harus turun kasta setelah menempati posisi ke 20 klasemen akhir.
Di musim berikutnya, atau tepat pada 2010/11, mereka yang masih berjuang di divisi Championship pun terus dihantui dengan isu likuidasi.
Kedatangan pengusaha kaya asal Rusia bernama Vladimir Antonov juga sama sekali tidak membantu. Hutang masih belum terbayar dan klub harus menerima kenyataan bahwa sang taipan asal Rusia mengalami ketidakpastian setelah terlibat kasus dalam masalah Bank di Lithuania.
Beruntung, di tengah situasi pelik, Portsmouth punya banyak pendukung setia. Mereka yang tergabung dalam sebuah komunitas bernama “Pompey Supporter Trust” memutuskan untuk mengakuisisi saham klub. Dibawah kendali dan pengawasan mereka, Portsmouth resmi dinyatakan bebas hutang pada tahun 2014 silam.
Dengan segala perjuangan yang masih terus dilakukan, akankah Portsmouth mampu kembali ke kompetisi Liga Primer Inggris dalam waktu dekat?
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=aJ5Rbi1nMBM[/embedyt]
Sumber referensi: taleoftwohalves, gantigol, footballtribe


