Beranda blog Halaman 604

Mario Gotze: Pahlawan Jerman Yang Terlupakan

0

Masih ingat sosok Mario Gotze? Pria yang menjadi pahlawan Jerman di final Piala Dunia 2014 Brazil. Pertandingan final melawan Argentina, Gotze hadir di menit-menit akhir menggantikan sang top scorer, Miroslav Klose. Dengan gol semata wayangnya, Gotze bak pahlawan kesiangan yang mengantarkan Timnas Jerman menjuarai Piala Dunia 2014.

Kini, saat usianya menginjak 29 tahun, Gotze mengalami paceklik karier. Tepat pada tahun 2020 kemarin Gotze menyepakati kontrak bersama PSV Eindhoven ketika usianya 27 tahun. Usia 27 tahun adalah usia yang masih sangat produktif untuk sekelas pemain internasional Jerman, tapi Gotze justru terpelanting begitu saja. 

Tak banyak pesepakbola terkenal yang memutuskan untuk melanjutkan kariernya di Liga Belanda pada usia produktif seperti Gotze. Ia seharusnya masih layak untuk bersaing di tim-tim raksasa di liga-liga top Eropa. Lantas, mengapa Gotze mengalami penurunan karier yang begitu tajam?

Pahlawan Kesiangan 

Mundur pada 2014 silam, Mario Gotze mengejutkan banyak orang ketika dipilih sebagai starter untuk Jerman dalam pertandingan pembuka Piala Dunia melawan Portugal. Apalagi alasannya cukup remeh, Marco Reus tak bisa tampil. Reus yang mengalami cedera kala pertandingan uji coba sebelum Piala Dunia 2014, jadi berkah buat Mario Gotze. 

Cederanya Reus meninggalkan ruang bagi Mario Gotze untuk mencoba peruntungan. Kisah Piala Dunia Gotze mirip-mirip dengan musim pertamanya di Bayern. Dia tampil cukup baik saat Jerman melawan Portugal di laga pertama fase Grup G. Saat menit-menit awal, Gotze memenangkan penalti yang akhirnya dikonversi menjadi gol oleh Thomas Muller.

Dia juga mencetak gol pembuka melawan Ghana di pertandingan berikutnya. Namun usai pertandingan melawan Ghana, penampilan Gotze tak menunjukan konsistensi. Buntutnya, Gotze hanya bermain selama 14 menit kala melakoni pertandingan terakhir Grup G melawan Amerika Serikat.

Joachim Low pasti menyadari bahwa Gotze muda belum siap mendapat tekanan sebesar ini. Meski Mario Gotze adalah salah satu anak emasnya, praktis setelah fase grup, Gotze tak selalu menjadi pilihan utama sang juru taktik. 

Hal itu dibuktikan saat memasuki babak semifinal, saat Jerman berhasil melumat sang tuan rumah, Brazil dengan skor 7-1. Saat Jerman sudah diatas awan, Low lebih memilih memasukan Julian Draxler daripada Gotze.

Puncaknya, ketika Argentina menantang Jerman di final. Joachim Low memainkan skuad terbaik yang ia miliki, seperti memaksa Miroslav Klose yang sudah berusia 36 tahun untuk terus bertahan hingga menit-menit akhir pertandingan. Skor pun masih sama kuat, namun wasit sudah mengisyaratkan akan memberi tambahan waktu.

Dari situlah momen bersejarah itu datang. Low meminta Gotze masuk menggantikan Klose yang belum bisa berkontribusi banyak di lapangan.

Pergantian pemain ini menjadi salah satu pergantian pemain paling bersejarah di sepak bola. Lulusan akademi Dortmund itu tidak mengecewakan.

Gotze mencetak satu-satunya gol di perpanjangan waktu dengan penyelesaian akhir yang mungkin hanya dirinya yang bisa. Pada satu situasi yang sulit, ia dengan tenang mengontrol bola sebelum akhirnya menjebloskan bola ke gawang Sergio Romero.

Namun, itu selain menjadi catatan mengesankan juga menjadi akhir dari kegemilangan seorang Mario Gotze. Selepas itu, kariernya mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Pilihan Yang Salah

Salah satu faktor yang menjadi biang kerok awal penurunan karier Mario Gotze adalah keputusannya untuk membelot ke rival sekaligus pesaing utama Borussia Dortmund di Bundesliga, Bayern Munchen. Kala itu, Bayern Munchen memang sangat meminati pemain lulusan akademi Borussia Dortmund tersebut. 

Terlebih Gotze menunjukan penampilan apiknya di musim 2012/13 bersama Borussia Dortmund, dengan mengantarkan Dortmund melaju ke final Liga Champions, plus mencetak total 16 gol dari 44 penampilan di semua kompetisi.

Belum lagi, ia sempat jadi trio andalan Dortmund era Jurgen Klopp bersama Marco Reus dan Robert Lewandowski. Dengan usianya yang kala itu masih menginjak 21 tahun, Bayern Munchen percaya bahwa Gotze akan memiliki masa depan yang cerah.

Namun, kepindahannya ke Bayern sama sekali tak disambut baik oleh pihak Borussia Dortmund. Bahkan, sang juru taktik sampai harus mengamuk mendengar kenyataan bahwa Gotze harus hengkang ke klub rival.

Sayangnya, nasi sudah menjadi bubur, mau di kecapin atau kasih kuah juga udah nggak ketolong. Kepindahan Gotze di usia yang masih muda ke Bayern Munchen dirasa terlalu terburu-buru. Apalagi ia belum berkembang sepenuhnya di Dortmund, Gotze tak mau lebih bersabar untuk membangun tim bersama Jurgen Klopp dan kompatriotnya, Marco Reus.

Sialnya, pada musim kedua Gotze di Bayern, Pep yang kala itu masih melatih untuk Bayern Munchen ternyata punya rencana lain di Allianz Arena. Sang juru taktik tidak pernah membutuhkan pemain false nine seperti Gotze. Dia lebih memilih Mandzukic untuk masuk ke starting line up.

Karier Mario Gotze pun terus menurun sejak meninggalkan Die Borussen. Gotze sulit berkembang, ia kehilangan kecepatanya dan minim mendapat kesempatan bermain bersama Bayern, hingga membuatnya harus kembali ke Signal Iduna Park pada tahun 2016.

Masalah Metabolisme

Sebenarnya faktor utama dalam menurunnya karier Gotze adalah fakta bahwa Mario Götze telah menderita cedera jangka panjang sejak remaja. Badai cedera Gotze dimulai sejak usianya 19 tahun ketika ia didiagnosis menderita inflammation of the pelvis atau radang panggul. Cedera yang selalu ditakuti oleh para pesepakbola karena penyembuhannya butuh waktu yang cukup lama.

Lalu ia juga mengalami cedera otot paha saat pertandingan semifinal Liga Champions kontra Real Madrid. Ia juga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk kembali pulih dari cedera otot yang ia alami. 

Pada tahun 2015 saat ia membela Jerman di pertandingan melawan Irlandia, Gotze kembali mengalami cedera setelah mendapat tekel keras dari James McCarthy. Benturan keras itu menyebabkan otot selangkangan Mario Götze robek. Ia pun kembali absen selama 116 hari.

Akhirnya, dilakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap otot Mario Gotze, untuk mencari tahu penyebab otot Gotze yang rentan mengalami cedera meski ia selalu melakukan latihan masa otot dengan baik di Dortmund.

Pada tahun 2017, Dortmund mengeluarkan pernyataan resmi tentang kondisi Mario Gotze, mereka menyatakan bahwa sumber cedera otot berulang Mario Götze telah ditemukan. Penyebabnya adalah gangguan metabolisme yang bernama metabolic myopathy, penyakit yang cukup langka dan sulit dideteksi. Pernyataan ini menandakan bahwa Gotze akan absen dalam waktu yang tak bisa ditentukan.

Gotze pun Terlupakan

Di Borussia Dortmund pun Gotze tak bisa menemukan kembali performa terbaiknya, dan lebih banyak berkutat dengan cedera serta gangguan metabolismenya. Selama musim 2019/2020 Gotze hanya mencatatkan 21 penampilan. Bagi pemain sekelas Gotze, itu angka yang sangat minim. 

Pada akhirnya, Gotze mencapai kesepakatan dengan manajemen Borussia Dortmund untuk tidak memperpanjang kontraknya. Setelah itu, ia sempat luntang-lantung tak ada pekerjaan, sampai datang klub eredivisie, PSV Eindhoven menunjukkan ketertarikan. Mereka melakukan pergerakan untuk memboyong Gotze ke Belanda. Proses negosiasi berhasil, Mario Gotze pun resmi bergabung dengan PSV pada Oktober 2020 lalu.

Meski spotlite di Belanda tidak seterang layaknya ia di Jerman, perhatian media tetap ada pada pemain berusia 29 tahun itu. Gotze mengatakan dia sekarang menangani tekanan dengan lebih baik daripada sebelumnya, dan perlahan ia tampil cukup konsisten untuk membangun kembali kariernya.

Sempat menguasai dunia di usianya yang masih muda, Mario Gotze pun akhirnya tergerus oleh pesatnya perkembangan sepak bola. Untung saja Gotze tak hidup di Indonesia, jika ia bermain di sini pasti kariernya sudah hancur dan boleh jadi akan berakhir di Selebritis FC atau Football Traveler.

Sumber: Sportskeeda, Bleacherreport, Goal, Bola.net

Manchester dan Merseyside, Mana yang Lebih Kuat di Sepak bola Inggris?

0

Liverpool bakal malu mengakui kalau Everton adalah tetangga mereka. Itu pun kalau Liverpool lebih segan mengakui Everton sebagai tetangga, bukan rival. Tapi, Everton memang lebih layak disebut tetangga Liverpool ketimbang rival.

Terlebih kualitas keduanya, khususnya hari ini sama sekali tidak layak untuk dirivalitaskan. Liverpool sedang bersaing di papan atas, sedangkan Everton sedang bersaing dengan Norwich City dan Newcastle United agar tidak masuk Championship.

Liverpool dan Everton adalah dua sisi Merseyside yang berbeda. Keduanya ibarat jalan tol dan jalan desa. Entah mengapa kekuatan Merseyside sebegitu timpangnya hari ini. Lain cerita dengan kekuatan Manchester.

Duo Manchester membabi buta bersaing di papan atas Premier League. Manchester United, sekalipun sedang dalam kondisi sakit, setidaknya masih mampu menunjukkan kualitasnya sebagai pesaing Manchester City.

Kita sedang tidak membicarakan klub lain dari Kota Manchester dan Merseyside. Sebab, dengan empat klub itu saja, kita bisa tahu betapa Manchester dan Merseyside adalah dua kota sepak bola di Inggris yang paling disegani.

Meski tidak sebanyak London yang menghasilkan klub-klub petarung di Premier League, setidaknya Merseyside dan Manchester jadi kekuatan Inggris yang acap kali diadu.

Mana yang lebih kuat, Manchester atau Merseyside? Jawabannya sangat kompleks, tentu saja. Akan tetapi, tidak ada salahnya kalau kita mencoba mendedahkannya dari beberapa sisi.

Klubnya Apa Saja?

Mengadu kekuatan kita jeda dulu sebentar. Perlu dipahami dulu, bahwa klub dari Kota Manchester itu bukan hanya duet: Manchester United dan Manchester City. Akan tetapi, kota yang tidak lebih luas dari Jeneponto itu nyatanya memiliki tak kurang dari 37 klub, yang tentu saja tersebar di liga-liga profesional sampai amatir.

Duo Manchester sekarang memang ada di Premier League, tapi dua saudara lainnya, Wigan Athletic dan Bolton Wanderers juga berasal dari Manchester. Kedua klub yang kini bertarung di kasta ketiga itu juga pernah mencicipi betapa ganasnya Premier League.

Selain klub-klub tadi, di Manchester juga menelurkan klub-klub miskin popularitas, macam Oldham Athletic, Ashton United, Rochdale, sampai Cheadle Town. Sementara, Merseyside yang luasnya 645 kilometer persegi itu memang lebih luas dari Manchester yang hanya 115,6 kilometer persegi.

Namun, luas bukan jaminan kalau Merseyside memiliki lebih banyak klub sepak bola. Karena kenyataannya, Merseyside jumlah klubnya sekitar 15 klub saja. Itu sudah termasuk yang tersebar di liga amatir. Pantas saja kalau Merseyside jadi kota dengan jumlah klub tersedikit di antara tiga jagoan Inggris.

Merseyside sendiri lebih sering dikenal dengan Liverpool. Itulah mengapa, jika Manchester punya United yang bisa dibanggakan, Merseyside punya The Reds yang bisa mengangkangi klub-klub dari Kota Manchester.

Sayangnya, cuma Liverpool yang hebat, sisanya ampas. Everton? Klub itu lebih sering konsisten untuk tidak konsisten. Sementara Tranmere, Prescot Cables, Lower Breck, sampai St. Helens Town mana ada yang ngeh kalau mereka itu serahim dengan Liverpool?

Prestasi

Meskipun hanya Everton dan Liverpool, klub dari Merseyside yang bisa diagungkan, tapi kalau soal prestasi di Inggris, kilau keduanya bahkan mampu melebihi lampu Etihad Stadium.

Warga Merseyside boleh akur sejenak dan bersuka cita di hadapan warga Manchester, karena gelar Divisi Satu atau Premier League dari Everton dan Liverpool jauh lebih unggul dari duet Manchester.

Liverpool telah menjuarainya 19 kali, dan Everton menambahi dengan 9 trofi Liga Utama Inggris. Total, trofi Liga Utama Inggris yang dikumpulkan Merseyside adalah 28 trofi. Di Kota Manchester, The Red Devils jadi yang paling banyak gelar Premier League-nya dengan 20 kali.

Sementara, Si Anak Baru, rival MU yang cuma bisa berisik tapi gaib, Manchester City hanya mampu meraih 6 trofi Premier League. Liverpool masih bisa nambah, begitu pula dengan City. Nah, kalau United dan Everton mungkin bisa mulai bergandengan tangan bertemu dengan Derby County, itung-itung silaturahmi dengan Wayne Rooney di kasta kedua.

Etapi, tunggu sebentar, deh. Warga Merseyside boleh bangga dengan gelar-gelar Premier League, tapi jika pelancong yang ingin melihat banyaknya trofi Piala FA, tempatnya justru di Manchester. Karena Manchester City dan United bahu-membahu mengumpulkan gelar Piala FA sampai 30 trofi.

Tak perlu bertanya siapa yang paling banyak. Clue-nya, Manchester City berhasil mengoleksi 13 gelar Piala FA, dan Setan Merah melengkapinya agar genap 30. Sedangkan Merseyside cuma punya 28 gelar Piala FA. Tapi dari keempatnya, plus klub-klub lain dari Kota Merseyside dan Manchester, Liverpool jadi yang terbanyak dengan 23 gelar Piala FA.

Nah, karena dari data terakhir tahun 2020, liga dikuasai Merseyside tapi Manchester mampu mempecundanginya dengan torehan piala domestik lebih banyak, jadi mengkomparasinya harus sampai di level Eropa. Baik di Liga Champions maupun Liga Eropa.

Dan mohon maaf banget bagi penggemar klub Manchester, Merseyside dengan Liverpool-nya justru lebih produktif di kancah Eropa. Liverpool dan Everton mengumpulkan 10 gelar Eropa, sedangkan Manchester hanya 6.

Jadi, dari tiga kota sepak bola terbaik di Inggris berdasarkan jumlah trofinya sampai tahun 2020, jika diurutkan London di urutan pertama, menyusul Merseyside, dan yang paling buncit Manchester.

Lewat torehan-torehan gelar yang didapat, situs olahraga TalkSport pun menempatkan Merseyside atau Liverpool di tempat kedua dengan 135 poin, sedangkan Manchester di posisi tiga dengan 122 poin.

Penggemar

Soal prestasi, Manchester mau nggak mau mesti mengakui kekalahannya. Tapi urusan penggemar sepak bola, untungnya masih ada Manchester United. Urusan banyak-banyakan fans, kita tak perlu berdebat dan harus secara ksatria mengakui kalau Manchester United memang juaranya.

Dari hasil survei Telegraph tahun 2012 saja, jumlah fans Manchester United mencapai 659 juta di dunia. Survei lain bahkan menyebut kalau Setan Merah sukses menggaet 1,6 miliar penggemar secara global dari 72 negara yang disurvei.

Sedangkan Manchester City baru bisa melonjak jumlah fansnya ketika Sheikh Mansour mengakuisisinya. Namun, sampai tahun 2013 jumlah fans The Citizen hanya 18 juta di seluruh dunia. Maka, kamu nggak usah heran kalau suara-suara fans City terdengar lirih banget, karena jumlahnya saja kurang dari 4 persen dari total penggemar MU.

Bagaimana dengan Merseyside? Liverpool tentu yang paling banyak jumlah penggemarnya. Di tahun 2013, jumlah fans Liverpool mencapai 70 juta orang di seantero dunia. Everton malah lebih sedikit lagi.

Pada tahun 2020, Sportbible mencatat, jumlah fans Everton hanya sekitar 728 ribuan. Di Instagram, Everton hanya diikuti 2,8 juta pengikut, dan rata-rata kehadiran di Goodison Park tahun 2012 hanya 9,3 persen.

Klir ya, bahwa soal penggemar Manchester jauh lebih banyak ketimbang klub dari Merseyside. Itu belum dihitung fans klub Bolton Wanderers dan Wigan Athletic yang tentu lebih banyak dari Tranmere dan Prescot Cables.

Finansial

Kekuatan sebuah klub tentu berdasarkan finansialnya. Maka ngaco kalau kita menisbikan faktor ini untuk membandingkan kekuatan Manchester dan Merseyside. Kebetulan Forbes baru saja merilis “Klub Sepak bola Terkaya di Inggris dari Tahun 2020-2022”.

Dan lagi, bagi orang yang dengki pada Manchester United mungkin akan tambah dengki karena MU lah klub terkaya di Liga Inggris tahun 2022 versi Forbes. Total kekayaan Si Setan ditaksir 4,22 miliar US Dollar atau sekitar Rp 60,6 triliun.

The Reds menyusul di posisi kedua, dengan 4,15 miliar US Dollar atau Rp 59,6 triliun. The Citizen berada di tempat ketiga dengan 4,05 miliar US Dollar atau Rp 58,2 triliun, dan Everton ada di peringkat tujuh dengan 660 juta US Dollar atau Rp 9,4 triliun.

Akhirul kalam, faktor-faktor tadi hanyalah komponen yang bisa untuk menilai mana yang lebih kuat di sepak bola Inggris, Manchester atau Merseyside. Tentu selain komponen tadi, masih banyak komponen lain untuk mengukur kekuatan dua kota tersebut, terutama empat klub terhebat yang mereka miliki.

Hanya saja, jika kita paksakan, hal itu bisa mengarah ke subjektivitas belaka. Misalnya, MU boleh menjadi klub terkaya dengan basis fans paling banyak di antara klub-klub Merseyside maupun Manchester lainnya, katakanlah terkuat, tapi jika pengelolaannya cacat, ya… remuk juga.

https://youtu.be/6hUW69MAbJs

Sumber referensi: betting-offers.com, talksport.com, sportbible.com, bleacherreport.com, ugwire.com

7 Hal Yang Tidak Kamu Ketahui Tentang Kai Havertz

Pada September 2020 lalu, Kai Havertz resmi menandatangani kontrak dengan klub asal London, Chelsea. Pemain berusia 21 tahun asal Jerman ini diboyong dengan nilai sebesar 62 juta pounds atau setara 1,2 triliun rupiah. Sempat tampil melempem di awal karirnya bersama the Blues, Havertz lalu berhasil tunjukkan kualitas sesungguhnya secara perlahan, terutama saat Chelsea mulai ditangani oleh Thomas Tuchel.
Puncaknya, dia menjadi penentu kemenangan Chelsea di partai final Liga Champions Eropa. Satu golnya ke gawang Manchester City sukses membuat Chelsea catatkan gelar kedua mereka di ajang prestise tersebut.
Meski saat ini Havertz sudah dikenal banyak khalayak, ada beberapa hal menarik yang mungkin belum kalian ketahui. Apa sajakah itu? Simak ulasannya berikut ini.

Sosok Inspirasinya

Meski di usia muda Havertz sudah menjadi panutan bagi sebagian pesepakbola, dia juga mengaku memiliki sosok inspirasinya sendiri. Havertz sedari muda sudah mengidolakan dua pesohor sepakbola, yaitu Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Dua bintang sepakbola itu memberinya banyak pengaruh dalam bermain sekaligus dalam mencapai sesuatu.
Selain Ronaldo dan Messi, Havertz juga mengikuti sosok Ronaldinho. Tentang Ronaldinho, Havertz hanya menyukai cara pemain asal Brasil tersebut mengolah si kulit bundar dan hanya dijadikannya sebagai tontonan di masa kecil.
“Aku sangat menyukai Ronaldo dan Messi. Mereka akan selalu menjadi idolaku. Ronaldinho juga menjadi pemain yang sering aku tonton di masa kecil, namun aku tidak terlalu menyukainya,”

Dari Jerman sendiri, Havertz juga memiliki sosok panutannya. Adalah Michael Ballack dan Mesut Ozil. Menurut Havertz, Ballack adalah sosok pesepakbola sejati yang rajin mencetak gol. Kepiawaiannya dalam memimpin rekan-rekan setimnya membuat Havertz terkesan. Sementara itu, Ozil dianggapnya sebagai pemain yang punya gaya main cocok dengannya. Maka tak jarang Havertz akan mengikuti sejumlah trik yang diperagakan eks pemain Arsenal tersebut.

Tim Favorit

Sama seperti pesepakbola lainnya, Havertz juga memiliki tim yang selalu jadi impiannya. Pertama datang dari Jerman. Tim yang membuat Havertz jatuh cinta adalah Alemannia Aachen. Alemannia Aachen adalah klub lokal yang menjadi tim masa kecil Havertz untuk berkarir. Dia sempat menimba ilmu di sana sebelum akhirnya bergabung dengan Bayer Leverkusen pada 2010 silam.

Sementara di luar Jerman, Havertz selalu bermimpi untuk bisa tampil di FC Barcelona. Klub asal Spanyol tersebut telah banyak memberinya pengalaman luar biasa di masa kecil. Salah satu momen terbaiknya sebagai penggemar Barcelona adalah ketika dia melihat Samuel Eto’o dan kawan-kawan menumbangkan Arsenal di partai final Liga Champions Eropa tahun 2006.

Pecinta Keledai

Havertz memang kerap terlihat bermain-main dengan anjing sebagai hewan peliharaannya. Namun tahukah kali bila Havertz sangat menyukai keledai lebih dari anjingnya sendiri?
Ya, meski sering dicap sebagai hewan bodoh, Havertz sangat menyukai keledai. Kecintaannya terhadap hewan tersebut bahkan sudah tumbuh sejak ia masih kecil. Kecintaan Havertz kepada keledai pertama kali muncul ketika dia melihat keluarganya menyelamatkan sosok hewan tersebut yang akan dibawa ke tempat pemotongan. Peristiwa itupun akan selalu dikenang olehnya.

“Aku selalu menyukai keledai sejak kecil. Salah satu mimpiku adalah memiliki keledai sendiri atau peternakan keledai. Pada ulang tahunku, orang tuaku memenuhi mimpiku dan menghadiahiku dua keledai yang salah satunya adalah keledai yang kami selamatkan dari tempat pemotongan,” kenang Havertz.

Sahabat Terbaik

Tepat setelah memenangkan gelar Liga Champions Eropa bersama Chelsea, Kai Havertz tentu langsung menjadi sosok idola dan memiliki banyak teman. Namun begitu, dia akan selalu menganggap satu sosok yang benar-benar menjadi teman baiknya. Sahabat yang disebutkan Havertz sendiri tidak berasal dari Chelsea, namun berasal dari tim asal Jerman, Borussia Dortmund.
Sosok sahabat sejati Havertz adalah Julian Brandt. Dua pemain tersebut sama-sama pernah membela Bayer Leverkusen. Ketika Brandt sudah melakoni debut dengan tim utama Leverkusen pada usia 17 tahun, Havertz ketika itu masih berusia 14 tahun. Hal itu lantas membuat Havertz bersemangat untuk mengikuti jejak sahabatnya.

Brandt juga mengakui kalau Havertz memanglah menjadi teman yang terbaik baginya.
“Kai akan selalu menjadi teman baikku. Meski kita sudah tidak berada dalam satu tim lagi, kita masih terus menjalin kontak. Selalu ada tempat terbaik untuknya dalam hidupku,” ucap Brandt.

Punya Bakat Bermain Piano

Selain dianggap sebagai salah satu pesepakbola muda terbaik di dunia, Havertz juga ternyata memiliki bakat terpendam lainnya. Dia yang kini membela Chelsea dikenal sebagai pemain yang jago bermain piano. Kemampuannya itu sudah didapat sejak dini, khususnya ketika masih sering berhubungan dengan sang nenek.
Ya, kecintaan sekaligus kemampuan Havertz dalam bermain piano tumbuh dari sang nenek. Diketahui, nenek pemain asal Jerman tersebut memiliki sebuah grand piano di rumahnya. Maka, wajar bila kemudian Havertz tertarik dan mahir memainkannya.
“Salah satu nenekku memiliki grand piano di rumah yang selalu ku mainkan. Pada satu kesempatan, ibuku bertanya padaku apakah aku akan belajar instrumen. Aku baru memulainya dua tahun lalu. Aku mencoba mempelajari setiap lagu,” tuturnya.

Selain sepakbola, Havertz menambahkan bahwa musik juga menjadi sesuatu hal terbesar dalam hidupnya. Dia bahkan mengaku sering menghabiskan waktu dengan memainkan piano dan menyanyikan sebuah lagu.

Pernah Absen Bermain Karena Harus Mengikuti Ujian Sekolah

Pada tahun 2017 silam, ketika usianya baru menginjak sekitar lebih dari 17 tahun, Havertz harus absen dalam sebuah pertandingan karena alasan yang cukup menggelitik. Meski ini terdengar penting, tapi jarang ada seorang pemain yang absen karena alasan ini.
Pada Maret 2017, Havertz yang masih membela Bayer Leverkusen masuk ke dalam skuad yang akan tampil melawan Atletico Madrid di ajang Liga Champions Eropa. Namun dia lantas diumumkan tidak akan ikut rombongan yang akan bertolak ke pertandingan tersebut karena akan menghadapi ujian sekolah.
Alasan tersebut disampaikan langsung oleh Bayer Leverkusen melalui media sosial twitter resmi mereka.
“Havertz tengah menjalani ujian penting di sekolah,”

Sontak berita itu pun langsung mendapat beragam komentar dari seluruh penggemar sepakbola di media sosial, khususnya dari penggemar Bayer Leverkusen itu sendiri.

Pemecah Rekor

Kai Havertz merupakan pemain yang memang punya talenta luar biasa. Dia menjadi pemain termuda Bayer Leverkusen yang tampil di ajang Bundesliga, ketika dia memulai debutnya pada Oktober 2016 di usia 17 tahun 126 hari.

Kemudian pada April 2018 lalu, dia menjadi pemain termuda sepanjang masa yang berhasil mencapai 50 penampilan Bundesliga pada usia 18 tahun 307 hari. Dalam hal ini, Havertz resmi melewati rekor yang sebelumnya dipegang oleh Timo Werner. Selanjutnya, dia masih menjadi pemegang rekor sebagai pemain termuda Bayer Leverkusen yang mencetak gol dari titik penalti di usia 19 tahun 7 bulan 16 hari. Ketika itu, Havertz mencetak gol ke gawang Wolfsburg dalam kemenangan 3-0 The Werkself.
https://www.youtube.com/watch?v=9HkHKse_ME4

Berita Bola Terbaru 31 Januari 2022 – Starting Eleven News

Berita Bola Terbaru dan Terkini 31 Januari 2022

KLAUSUL KONYOL MU BIKIN LINGARD BATAL PINDAH KE NEWCASTLE

Manchester United sudah membuat Jesse Lingard naik pitam karena batal gabung dengan Newcastle United. Padahal Lingard sudah setuju untuk pindah meski Newcastle ada di zona degradasi. Seperti dilansir Mirror, penyebab kegagalan transfer ini karena Setan Merah membuat klausul bonus yang mengada-ngada. Kabarnya MU sudah meminta bayaran untuk meminjam Lingard dengan transfer 12 juta pounds. Petinggi MU juga sudah memberi tahu Lingard soal ini. Newcastle jelas ogah membayar sebesar itu hanya untuk enam bulan. Newcastle, meski didanai miliuner asal Arab Saudi, hanya mau membayar 2,5 juta pounds saja.

ANDY CAROLL GABUNG WEST BROMWICH ALBION

Dikutip Skysports, West Brom telah menandatangani Andy Carroll dengan kontrak hingga akhir musim. Mantan striker Liverpool dan Newcastle itu adalah agen bebas setelah kontrak jangka pendeknya di Reading berakhir awal bulan ini. Andy Carroll memperkuat opsi menyerang West Brom Albion menyusul cedera hamstring pada Daryl Dike, dan bergabung setelah bermain bersama Reading di mana ia mencetak dua gol selama delapan pertandingan, dua bulan masa tinggal.

PEMULIHAN CEDERA ANSU FATI DIPREDIKSI BUTUH 2 BULAN

Cedera pemain muda Barcelona, Ansu Fati diprediksi akan berakhir pada 60 hari atau dua bulan mendatang. Dengan rentang waktu itu, tim medis klub harus melakukan sederet perawatan agar Fati kembali pulih. Dalam laporan Marca, Sabtu (29/1), dokter spesialis yang ditunjuk memantau kondisi Fati menyebut cedera otot tendon sering ditemukan pada diri seorang pesepakbola. Namun, perawatan masalah ini disebut harus melalui teknik kedokteran konservatif, yaitu dengan tindakan operasi.

PSG BERTABUR BINTANG, COURTOIS JAMIN REAL MADRID TIDAK GENTAR

Penjaga gawang Real Madrid, Thibaut Courtois menjamin Los Blancos tidak gentar menghadapi PSG di babak 16 besar Liga Champions yang akan digelar bulan depan. Meski PSG bertabur pemain bintang, menurut Courtois, sepak bola adalah soal kerja sama tim dan tidak bergantung pada individu tertentu. “Memang benar bahwa seorang pemain berbakat dapat menjadi pembeda dalam pertandingan, tetapi seseorang harus lebih khawatir tentang menghentikan prestasi mereka sebagai sebuah tim.”ucap Courtois dilansir Football Espana.

GARETH BALE LATIHAN LAGI DI REAL MADRID, TAPI….

Bintang Wales, Gareth Bale akhirnya kembali berlatih di Real Madrid setelah lima bulan absen akibat berbagai cedera dan terpapar covid. Eks pemain Tottenham Hotspur itu mengunggah foto dirinya kembali beraktivitas bersama Real Madrid. Terlihat Gareth Bale sedang menggiring bola. Kembalinya Bale disambut baik para penggemar. Namun, ada yang menyoroti perubahan fisiknya, khususnya di bagian ototnya. Beberapa menganggap Bale banyak kehilangan massa ototnya selama absen. Suporter membandingkan dengan Bale pada 6 bulan lalu.

XAVI AJAK INIESTA BALIK KE BARCELONA

Xavi Hernandez belum berhenti memanggil rekan-rekannya dulu untuk kembali gabung ke Barcelona. Setelah mendatangkan Dani Alves, Xavi lantas tidak berhenti sampai di situ. Dia ingin didatangkan Andres Iniesta. Akan tetapi, Xavi tidak meminta Andres Iniesta untuk bermain di lapangan. Xavi diketahui meminta Iniesta untuk bergabung ke jajaran manajemen klub! Tugasnya nanti, Xavi mau meminta bantuan Iniesta untuk menggembangkan bakat para pemain akademi La Masia. Iniesta, yang kini masih berstatus pemain Vissel Kobe, juga akan diminta untuk memantau bibit-bibit muda yang berpotensi di klub-klub lain.

BARCELONA RESMI DATANGKAN MANTAN BEK MAN CITY

Barcelona akhirnya mendapatkan satu lagi pemain baru di bursa transfer Januari 2022 ini. Tim Catalan itu baru saja merampungkan perekrutan mantan pemain muda Manchester City, Alpha Dionkou yang diboyong dari Granada. Pemain berusia 20 tahun ini adalah seorang bek kanan yang juga bisa bermain sebagai stopper. Dionkou menghabiskan tahun lalu sebagai pemain pinjaman di San Fernando, dan kini ia akan bergabung dengan Barcelona B asuhan Sergi Barjuan. Namun bukan tidak mungkin jika penampilannya apik ia akan ditarik ke tim utama.

DI MATA BUFFON, VLAHOVIC SELEVEL DENGAN MBAPPE DAN HAALAND

Kiper veteran asal Italia, Gianluigi Buffon, memuji pemain anyar Juventus, Dusan Vlahovic sebagai salah satu pemain muda terbaik selain Kylian Mbappe dan Erling Haaland. “Dia memiliki sesuatu yang berbeda. Dia adalah evolusi dari penyerang No.9, kuat secara fisik dan dinamis,” puji Buffon untuk Vlahovic. Kedatangan Vlahovic juga akan membuat lini depan Juventus sangat berbahaya karena ia akan berduet dengan Paulo Dybala yang sejauh ini belum memperpanjang kontrak. Buffon pun berharap Juventus bisa mempertahankan Dybala untuk diduetkan dengan Vlahovic.

JUVENTUS TOLAK TAWARAN ASTON VILLA UNTUK BENTANCUR

Raksasa serie A, Juventus dilaporkan telah menolak tawaran senilai 20,5 juta pounds (sekitar Rp 395 miliar) dari Aston Villa untuk gelandang bertahan mereka Rodrigo Bentancur pada bursa transfer Januari ini. Dikutip dari Sky Sports, Jumat (28/1), Villa dikabarkan membuka penawaran pertama sebesar 16,5 juta pounds ditambah bonus sebesar 4 juta pounds. Bianconeri dilaporkan tak puas dengan angka tersebut. Manajemen Nyonya Tua menginginkan setidaknya 21 juta poundsterling atau sekitar Rp 405 miliar.

3 PENYERANG GANAS YANG BISA GANTIKAN DEDIK SETIAWAN DI TIMNAS INDONESIA

Performa Dedik Setiawan bersama timnas Indonesia asuhan Shin Tae Yong sangatlah mengecewakan. Dia jarang mencetak gol dan mainnya dianggap loyo. Sejatinya, ada sederet nama yang dapat diandalkan Shin Tae-yong untuk menggantikan peran Dedik Setiawan. Mereka adalah Dimas Drajat Persikabo Bogor, yang sudah mengoleksi 7 gol di Liga 1 musim ini. Kemudian ada nama Ilija Spasojevic Bali United yang sudah cetak 14 gol, dan Alfriyanto Nico, pemain Persija yang sudah mengemas 3 gol dari 16 kali main di Liga 1. 

SERANG KEKASIH, GREENWOOD DITAHAN POLISI DAN DIBEKUKAN MU

Mason Greenwood dituding menganiaya kekasihnya Harriet Robson sampai babak belur. Dalam foto-foto yang diunggah ke media sosial, Harriet menunjukkan wajah hingga beberapa bagian tubuhnya memar-memar sampai mengeluarkan darah karena aksi keji Greenwood. Sontak unggahan itu membuat warganet ramai-ramai menyerang Greenwood. Pihak MU sendiri membekukan pemain berusia 20 tahun itu. Greenwood tidak boleh ikut latihan sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Selain itu, Greenwood juga ditangkap polisi guna menjalani pemeriksaan atas kasus yang melibatkan kekasihnya.

LUIS DIAZ RESMI BERGABUNG DENGAN LIVERPOOL

Liverpool berhasil mengamankan tanda tangan Luis Diaz dari FC Porto di bursa transfer musim dingin 2022. Pakar bursa transfer Eropa, Fabrizio Romano menyebut bahwa pemain asal Kolombia itu menandatangani kontrak dengan The Reds hingga Juni 2027 mendatang. Romano pun menyebut bahwa biaya yang dikeluarkan untuk mendatangkan Diaz adalah sebesar 40 juta Euro (Rp 641,2 miliar) dengan tambahan 20 juta Euro (Rp 320,6 miliar).

PSG CAPAI KESEPAKATAN DENGAN OUSMANE DEMBELE

Winger Barcelona, Ousmane Dembele dikabarkan segera bergabung dengan PSG setelah gagal sepakat perpanjangan kontrak dengan kubu Camp Nou. Dilansir dari Get Football News France, Dembele telah menyetujui persyaratan transfer dengan PSG. Dia akan segera bergabung pada hari terakhir jendela transfer januari jika kedua klub sudah mencapai kesepakatan soal biaya. Barcelona dikabarkan meminta mahar sebesar 20 juta Euro atau Rp 321 miliar kepada PSG untuk melepas pemain berusia 24 tahun itu.

BARCELONA SELANGKAH LAGI DAPATKAN AUBAMEYANG

Pierre-Emerick Aubameyang dikabarkan tinggal selangkah lagi meninggalkan Arsenal untuk bergabung dengan raksasa La Liga, Barcelona dengan status pinjaman. Klub asal Catalan dikabarkan sudah mendapatkan lampu hijau dari Arsenal untuk membawa Aubameyang. Dikutip dari Standard masalah utama yang tersisa adalah pembayaran gaji Aubameyang sekitar 350.000 poundsterling per minggu. Siapa yang menanggung angka tersebut sampai pembagian besarannya belum ditentukan.

DEJAN KULUSEVSKY MERAPAT KE TOTTENHAM HOTSPURS

Tottenham Hotspur dikabarkan telah mendapatkan pemain sayap Juventus Dejan Kulusevski sebagai pemain pinjaman hingga akhir musim ini. Kesepakatan pinjaman Kulusevski akan mencakup opsi bagi Spurs untuk membeli pemain 21 tahun secara permanen di musim panas. Spurs telah mengajukan tawaran sebesar 25 juta pounds (sekitar Rp 482 miliar) untuk Kulusevski, yang juga telah dikaitkan dengan Aston Villa.

DUH, SERGIO RAMOS CEDERA LAGI?

Sergio Ramos mengalami cedera lagi. Bek PSG itu dilaporkan mengalami cedera otot dan harus meninggalkan sesi latihan lebih cepat di akhir pekan. Ramos mengalami masalah pada ototnya sejak musim lalu, saat masih berkostum Real Madrid. Kondisi itu pula yang membuat El Real kabarnya memilih tidak memperpanjang kontraknya. Ramos kemudian pindah ke PSG pada musim panas lalu. Namun, Ramos harus menunggu beberapa bulan untuk bisa bermain. Kini, ia baru punya 5 penampilan bersama les Parisiens.

DONNY VAN DE BEEK MEMBELOT KE EVERTON

Gelandang Manchester United, Donny van de Beek, akhirnya memutuskan bergabung ke Everton dengan status pinjaman pada bursa transfer Januari. Melansir The Guardian, The Toffees mencapai kesepakatan dengan MU pekan lalu terkait rencana mereka menggunakan jasa Van de Beek selama setengah musim. Diyakini bahwa tim asal Merseyside itu bersedia menanggung gaji sang pemain secara keseluruhan selama enam bulan ke depan.

BRUNO GUIMARAES RESMI GABUNG NEWCASTLE UNITED DARI LYON

Setelah melalui negosiasi yang cukup panjang, akhirnya gelandang Lyon, Bruno Guimaraes resmi bergabung dengan Newcastle United. Guimaraes sendiri dibeli dengan harga sebesar 35 juta pounds dan akan bermain di St James Park sampai musim panas 2026. Guimaraes yang akan mengenakan nomor punggung 39 diperkirakan baru bisa bermain setelah satu pekan untuk menyelesaikan beberapa administrasi.

RONALDO NGELAWAK DI GRUP WA MANCHESTER UNITED

Demi memberikan nasihat secara efektif, Cristiano Ronaldo ikut bergabung ke dalam grup Whatsapp Manchester United yang berisi pemain muda. Tujuan utama menyatukan dan membuat suasana ruang ganti lebih hangat. Ronaldo bertukar candaan dengan pemain belia macam Marcus Rashford (24 tahun), Anthony Elanga (19), James Garner (20), dan Jesse Lingard (29). Peraih 5 kali Ballon d’Or itu tak merasa canggung meski berkelakar bareng orang-orang yang jauh lebih muda darinya.

EVERTON RESMI TUNJUK FRANK LAMPARD

Frank Lampard resmi menjadi pelatih Everton setelah menandatangani kontrak untuk menjadi manajer klub Liga Inggris itu, Minggu (30/1). Dikutip Sky Sports, Lampard yang menganggur sejak dipecat oleh Chelsea pada Januari 2021 telah menyetujui kontrak 2,5 tahun bersama klub Merseyside itu. Eks gelandang Chelsea itu ditunjuk sebagai pelatih untuk menggantikan Rafael Benitez yang dipecat beberapa hari lalu karena kinerja yang buruk.

LOLOS TES MEDIS, ERIKSEN AKHIRNYA MERUMPUT LAGI DI LIGA INGGRIS

Tes medis sudah rampung, eks gelandang Inter Milan Christian Eriksen segera diperkenalkan sebagai pemain anyar klub Liga Inggris, Brentford. Sky Sports melaporkan jika Eriksen bakal segera teken kontrak anyar berdurasi 6 bulan alias hingga musim 2021/22 rampung. Kepindahan Eriksen ke Brentford terjadi setelah ia tidak mendapatkan izin bermain di Italia karena sedang memakai alat pacu jantung.

SELANGKAH LAGI TANGUY NDOMBELE MERAPAT KE LYON

Spekulasi terkait masa depan Tanguy Ndombele di Tottenham Hotspur dalam beberapa pekan terakhir menjadi salah satu topik yang hangat diperbincangkan. Pada awalnya Ndombele ditaksir oleh PSG. Namun syarat yang diajukan oleh Spurs yang menginginkan Ander Herrera masuk ke dalam bagian kesepakatan tak bisa dipenuhi oleh Les Parisiens. Kabar terbaru, Ndombele akan merapat ke Lyon. Ndombele dikabarkan telah tiba di Lyon untuk menjalani tes medis dan transfernya akan segera diumumkan.

HERE WE GO JUVENTUS MENANGKAN PERBURUAN DENIS ZAKARIA

Klub top Juventus dikabarkan telah memenangkan perburuan gelandang milik Borussia Monchengladbach, Denis Zakaria. Kabar ini dipastikan oleh jurnalis asal Italia, Fabrizio Romano. Pemain 25 tahun itu akan menerima kontrak empat setengah tahun atau hingga musim panas 2026 mendatang, dengan upah bersih sebesar 3 juta euro (Rp 48 miliar) per musim. Menurut rumor, kesepakatan transfer Zakaria akan diresmikan setelah kepindahan Kulusevski dan Rodrigo Bentancur ke Tottenham, juga di musim dingin kali ini.

MASA DEPAN ZLATAN IBRAHIMOVIC DI AC MILAN DIRAGUKAN

Masa depan Zlatan Ibrahimovic di AC Milan diragukan karena kekhawatiran tentang kebugarannya menyusul cedera terbaru yang dialaminya. Lelaki berusia 40 tahun itu saat ini sedang bekerja keras di gym untuk memulihkan diri dari masalah tendon Achilles. Cedera ini dideritanya saat bermain imbang 0-0 dengan Juventus akhir pekan lalu. Football Italia menyebut kontrak Ibra berakhir dengan Milan pada akhir musim ini dan keputusan untuk memperbarui tidak akan datang dari pertemuan tetapi akan diputuskan sendiri.

HASIL PIALA AFRIKA: SENEGAL MELANGKAH KE SEMIFINAL

Timnas Senegal melangkah ke semifinal Piala Afrika 2021. Pada pertandingan perempat final melawan Guinea Khatulistiwa di Stadion Ahmadou Ahidjo, Senin (31/1) dini hari WIB, Senegal menang dengan skor 3-1. Tiga gol Senegal dicetak oleh Famara Diedhiou, Cheikhou Kouyate dan Ismaila Sarr. Sementara gol di kubu sebelah dicetak oleh Jannick Buyla.

Selain Senegal, Mesir juga melaju ke semifinal setelah menyikat Maroko 2-1 lewat perpanjangan waktu 2×15 menit. Dua gol Mesir pada laga ini dilesakkan oleh bintang tim Mo Salah dan David Trezeguet. Baik Senegal dan Mesir kini melengkapi empat kontestan semifinal Piala Afrika 2021. Sehari sebelumnya, sudah ada Kamerun dan Burkina Faso.

TIMNAS INDONESIA HAJAR TIMOR LESTE 3-0

Timnas Indonesia sukses menghajar Timor Leste dengan skor 3-0 pada laga kedua Uji Coba di Stadion I Wayan Dipta Gianyar, Minggu Malam. Pada laga ini, tiga gol tim asuhan Tae Yong dicetak oleh trio asal Papua. Mereka adalah Terens Puhiri di menit ke 5, Ramai Rumakiek lewat tendangan mautnya di menit 41, dan aksi berkelas Ricky Kambuaya di menit 74. Usai laga ini, pelatih Shin Tae Yong akan fokus menyiapkan timnas U23 yang akan berlaga di Piala AFF U23 di Kamboja.

 

Kisah Pemain Kolombia di Premier League, Sebelum Luis Diaz

Amerika Latin sering menyumbang talenta-talenta hebat di Premier League. Jika kamu berpikir, mereka-mereka itu hanya datang dari negara-negara seperti Argentina atau Brazil, jelas keliru.

Karena negara Amerika Latin lainnya, Kolombia juga turut menebar para bintangnya yang moncer ke Premier League. Salah satu yang teranyar adalah Luis Diaz yang merapat ke Liverpool.

Kedatangan Luis Diaz ke Liverpool membuat daftar panjang pemain asal Kolombia yang berkarier di Premier League. Lantas, siapa saja pendahulu Luis Diaz dari Kolombia yang memutuskan berkarier di Premier League?

Faustino Asprilla

Pemain asal Kolombia pertama yang menginjakan kaki di Premier League adalah Faustino Asprilla. Faustino Asprilla jadi orang Kolombia pertama yang melakukannya saat dibeli Newcastle United dari Parma pada Februari 1996.

Asprilla tiba di timur laut Inggris sebagai pendatang baru Liga Premier yang semakin kosmopolitan. Pemain Kolombia itu datang ke St James ‘Park di tengah badai salju atau bursa transfer musim dingin di Inggris.

Sejak kedatangannya di pertengahan musim pada tahun 1996, Asprilla berhasil mencetak 18 gol dalam 61 penampilan.

Gayanya yang flamboyan dan kepribadiannya yang eksentrik, membuat dia akan selalu dikenang di Newcastle. Ia bertahan di Newcastle hingga tahun 1998, sebelum kemudian ia memutuskan kembali ke Parma. Jejak Asprilla kemudian diikuti pemain Kolombia lainnya, Hamilton Ricard.

Hamilton Ricard

Hamilton Ricard adalah orang Kolombia kedua yang tiba di Premier League. Selama tahun 1998 hingga 2002, ia memainkan total 132 pertandingan untuk Middlesbrough dan mencetak 43 gol.

Bryan Robson, adalah orang yang pertama melihat potensi Hamilton selama Copa America 1997. Setelah menggali lebih dalam tentang Hamilton, akhirnya Hamilton didatangkan ke Newcastle oleh Robson dari Klub Deportivo Cali.

Karier Hamilton di Middlesbrough boleh dikatakan cukup gemilang. Dia berjuang selama debutnya di Middlesbrough. Hingga pada akhirnya, ia turut membawa Middlesbrough kembali Premier League.

Hamilton bertahan di Middlesbrough selama tiga musim sebelum ia kemudian bergabung dengan CSKA Sofia. Karier akhir Hamilton sebelum pensiun penuh kontroversi. Ia sempat dihukum karena menyerang wasit serta pelanggaran ketika mengemudi yang menyebabkan kematian seseorang di tahun 2002.

Juan Pablo Angel

Salah satu pemain tersukses dari Kolombia di Premier League adalah striker Juan Pablo Angel. Dia datang dari River Plate ke Aston Villa pada tahun 2001. Karier Angel di Aston Villa habis pada tahun 2007.

Namun, Angel sudah memainkan total 205 pertandingan dan mencetak 72 gol. Angel dikenal sebagai striker pembunuh ketika berseragam Aston Villa.

Ia adalah pencetak gol terbanyak Aston Villa bersama Gabriel Agbonlahor. Angel kemudian memutuskan melanjutkan kariernya di AS setelah bergabung dengan New York Red Bulls.

John Viafara

John Viafára, seorang pemain Kolombia kontroversial itu pernah merasakan dinginnya dinding penjara karena terkait dengan perdagangan narkoba. Ia pernah bermain untuk Portsmouth dan Southampton di Premier League.

Bersama Portsmouth ia memainkan 7 pertandingan dan mencetak 1 di musim 2005 / 2006. Bersama Southampton di musim 2017/2018, total dia memainkan 76 pertandingan.

Hugo Rodallega

Hugo Rodallega menjadi salah satu pemain Kolombia dengan masa tinggal terlama di Premier League. Striker itu bermain untuk Wigan dari tahun 2009 hingga 2012. Rodallega bermain 115 pertandingan dan mencetak 24 gol, sebelum dia pindah ke Fulham pada tahun 2012 hingga 2015.

Pablo Armero

Jika Rodellega tinggal di Inggris cukup lama, lain soal dengan Pablo Armero. Bek kiri tersebut memiliki masa tinggal yang sangat singkat di Inggris pada tahun 2014. Di mana dia hanya bermain 5 pertandingan untuk West Ham setelah didatangkan dari klub Serie A Udinese dengan status pemain pinjaman.

David Ospina

David Ospina mencatatkan diri sebagai kiper pertama dari Kolombia yang sukses merumput ke Premier League. Kiper Timnas Kolombia ini berada di Arsenal dari tahun 2014 hingga 2019.

Dia tiba di Arsenal dari Nice setelah tampil luar biasa di Piala Dunia di Brazil 2014. Dengan Arsenal, Ospina memainkan total 70 pertandingan dan sering menjadi kiper cadangan sebelum dia akhirnya hijrah ke Napoli.

Falcao

Bintang timnas Kolombia, Radamel Falcao pernah berseragam raksasa Premier League, Manchester United pada musim 2014-2015, dan Chelsea pada musim 2015-2016.

Bersama ‘Setan Merah‘, ia memainkan total 29 pertandingan di mana ia berhasil mencetak 4 gol. Selama di London bersama Chelsea, ia hanya bermain 12 pertandingan dan mencetak satu gol.

Falcao kemudian hengkang meninggalkan Inggris dan bergabung dengan Monaco. Angin sempat membawanya ke Galatasaray, sampai kemudian sekarang ia membela klub Spanyol, Rayo Vallecano.

Juan Cuadrado

Sayap eksplosif Timnas Kolombia, Juan Cuadrado juga pernah mencicipi panasnya persaingan Premier League. Tak tanggung-tanggung ia pernah membela Chelsea dari tahun 2014-2016.

Chelsea membeli Cuadrado dari Fiorentina menyusul performa mengesankannya di La Viola musim itu.

Dalam dua tahun, Cuadrado memainkan total 15 pertandingan bersama Chelsea, sebelum akhirnya dijual ke Juventus. Sering menjadi rotasi dan tidak betahnya Cuadrado di lingkungan London adalah faktor yang mempengaruhinya pindah.

Meski begitu, nama Juan Cuadrado menjadi yang tersukses setelah mampu mencatatkan dirinya sebagai pemain Kolombia yang pernah mencicipi gelar juara Premier League. Ketika itu Cuadrado juara bersama Chelsea di 2014/2015 bersama Mourinho.

James Rodriguez

Bintang Timnas Kolombia lainnya yang pernah merumput di Premier League adalah James Rodríguez. James hanya bermain selama satu tahun di Liga Inggris pada musim 2020-2021.

Pemain Kolombia itu bermain untuk Everton bersama pelatih Carlo Ancelotti setelah kepindahannya dari Real Madrid. Dia memainkan total 29 pertandingan untuk The Toffees. James mencetak enam gol dan memberikan sembilan assist sebelum kepindahannya ke Qatar bersama Al-Rayyan.

Davinson Sanchez

Selain beberapa pemain yang pernah membela klub klub Premier League, ada juga beberapa yang masih tinggal bahkan baru datang di Premier League di musim 2021/2022.

Di antaranya adalah bek Spurs Davinson Sanchez. Tiba di Tottenham pada tahun 2017, dan ia terus menjadi bagian dari daftar starting eleven Spurs sampai sekarang.

Sejak kedatangannya dari Ajax, bek tengah Kolombia ini telah memainkan total 171 pertandingan dan mencetak 5 gol. Sanchez adalah tipe bek tangguh yang diharapkan Spurs di era Antonio Conte sekarang.

Luis Diaz

Dan yang terakhir tentu saja Luis Diaz. Pemain bintang baru Kolombia di Copa America 2021. Diaz menjadi salah satu transfer mengejutkan Liverpool di musim dingin 2021/2022. Diaz tercatat dalam sejarah sebagai pemain pertama asal Kolombia yang menjadi pemain Liverpool. Rekor pembelian Diaz pun tergolong mahal sekitar 45 juta pound atau sekitar Rp 868 miliar.

Dari beberapa kisah pemain Kolombia yang merumput di Premier League, nama Diaz menjadi nama yang ke 20. sebelumnya juga banyak pemain lain seperti, Zuniga, Ibarbo dan Cucho Hernandez di Watford, Carlos Sanchez di Aston Villa, Mosquera di Wolves, Jefferson Lerma di Bournemouth, Jose Izquierdo dan Alzate di Brighton, serta Yerry Mina di Everton.

Kedatangan Luis Diaz ke Liverpool akan menjadi pertanyaan, apakah dia mampu menyamai rekor Cuadrado yang sudah pernah memegang trophy Premier League. Ataukah ada pemain asal Kolombia lainnya di Premier League yang mampu menyamai prestasi Cuadrado?

https://youtu.be/3iHTtPXEHvM

Sumber Referensi : worldtoday, colossusbets, thefootballfaithful

Selain Vlahovic, 6 Pemain Fiorentina Ini Juga Berkhianat ke Juventus

0

Bagi sebagian besar ultras Fiorentina, Juve adalah rival nomor satu mereka. Kebencian ultras Fiorentina terhadap Juve sudah sampai tahap memunculkan sinisme soal pemain. Adagium “Terserah dari mana saja, yang penting bukan dari Juventus” dari ultras Fiorentina selalu mereka pegang erat-erat.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya, pemain Fiorentina lah yang kerap dibajak Si Nyonya Tua. Terakhir tentu kalian pasti sudah tahu, yup, Dusan Vlahovic belum lama ini sudah berlabuh ke Bianconeri. Vlahovic bukanlah satu-satunya nama pemain Fiorentina yang pada akhirnya justru membelot ke Juventus.

Ada beberapa pemain lain yang setelah menimba ilmu dengan Fiorentina, dan moncer, justru berkhianat ke Juventus. Hal itu tentu saja, membuat La Viola harus rela terlatih patah hati layaknya lagu Endank Soekamti. Well, selain Vlahovic siapa saja pemain Fiorentina yang memilih berkhianat ke sang rival, Juventus?

Roberto Baggio

Roberto Baggio adalah salah satu legenda sepak bola terbaik yang pernah dimiliki Italia. Sang pemain mulai dikenal banyak orang ketika membela Fiorentina. Namun, Baggio pernah mengalami nasib yang kurang baik di usia belia. Ia merobek ligamennya saat usianya baru 18 tahun.

Baggio pernah mengalami cedera lutut yang parah, namun ia masih miskin dan untuk membayar operasi saja tak kuasa. Saat itulah, La Viola datang sebagai dewi penyelamat bagi Roberto Baggio. Fiorentina membiayai seluruh operasi cedera lutut yang diderita Baggio.

Namun, saat ia sudah matang menjadi pemain Fiorentina, Baggio memutuskan hengkang ke Juventus, rival berat Fiorentina. Kepindahan Baggio ke Juve pada 1990 bahkan sempat menimbulkan kerusuhan besar yang mengakibatkan 50 orang luka-luka di sepanjang jalan kota. Hal itu karena pengumuman transfer Baggio bertepatan dengan final Europa League yang mempertemukan Fiorentina dan Juventus.

Ia yang memiliki kedekatan dengan Fiorentina, mengaku terpaksa harus pindah ke Juventus. Karena pada saat itu Fiorentina yang melakukan cuci gudang dengan menjual beberapa pemainya guna menghindari kebangkrut dan Roberto Baggio termasuk ke dalam daftar cuci gudang.

Baggio direkrut ke Turin sebagai pemain termahal di dunia dengan mahar Rp 224 miliar. Bersama Juventus, performa Baggio semakin apik dan ia sukses meraih sejumlah gelar bergengsi. Puncak karier Roberto Baggio tercipta pada tahun 1993. Ketika ia berhasil mendapat trofi Ballon d’Or. Setelah lima tahun membela Juventus, Baggio memutuskan hengkang ke AC Milan

Giorgio Chiellini

Sungguh aneh apabila melihat kapten Juventus sekarang adalah mantan punggawa Fiorentina. Pada tahun 2004 Chiellini datang ke Fiorentina saat ia masih berusia 20 tahun. Meski masih berusia muda, Chiellini sudah menunjukan potensi yang menjanjikan. Ia tercatat bermain untuk Fiorentina sebanyak 42 kali dan mencetak 3 gol serta 2 assist. Salah satu golnya ia cetak kala melawan Juventus.

Giorgio Chiellini hanya bertahan semusim saja bersama Fiorentina, lalu pada tahun 2005 pun Juventus datang membujuk Chiellini untuk datang ke Turin. Chiellini saat itu digaet dengan nominal senilai 7,7 juta euro atau setara Rp. 123 miliar. Siapa sangka, sang pemain justru tampil jauh lebih garang bersama Juventus.

Kini setelah 17 tahun berselang, di usia Chiellini yang sudah menginjak 37 tahun, ia tetap tampil kokoh dan masih menjadi pilihan utama untuk mengawal lini pertahanan SI Nyonya Tua.

Fabrizio Miccoli

Pada tahun 2002 Miccoli sebetulnya sudah berseragam hitam-putih khas Bianconeri, namun satu hari setelah kedatanganya dari Ternana Calcio, ia langsung dipinjamkan ke Perugia selama satu musim. Adanya ketidakcocokan antara Miccoli dengan manajemen Juventus membuatnya memilih pindah ke Fiorentina pada tahun 2004.

Penyerang mungil ini hanya menghabiskan satu musim bersama La Viola. Meskipun menjadi pencetak gol terbanyak Fiorentina di musim 2004/2005 dengan torehan 12 gol. Satu tahunnya bersama Fiorentina bukanlah tahun yang luar biasa bagi Miccoli. Penampilan yang dirasa cukup apik sebagai seorang pemain depan memunculkan niat Juventus untuk memulangkannya ke Turin.

Hal ini sedikit menggores luka di hati para penggemar Fiorentina. Kala mereka mulai menyukai sosok Fabrizio Miccoli yang menunjukan bahwa ia punya kesetiaan dan ingin bertahan di La Viola. Namun, akhirnya pendukung Fiorentina harus kembali merelakan pemain lainnya untuk bergabung dengan rival yang paling mereka benci.

Felipe Melo

Tahun 2008 mungkin jadi waktu yang tepat untuk menjadi fans Fiorentina, selain berhasil kembali ke kompetisi antar klub paling top di Eropa yaitu Liga Champions. Fiorentina juga sedang berada di tren positif karena diperkuat pemain-pemain seperti Sebastien Frey, Alessandro Gamberini, Riccardo Montolivo, hingga Adrian Mutu.

Ditambah pada bursa transfer musim panas 2008, Fiorentina mendatangkan gelandang fighter Felipe Melo dari klub spanyol, UD Almeria dengan biaya transfer Rp 165 miliar. Fiorentina menjadi klub pertama yang dibela Felipe Melo di Liga Italia.

Pemain Brasil tersebut tampil apik kala di duetkan dengan Riccardo Montolivo. Namun, hanya berselang satu tahun, Melo akhirnya direkrut oleh Juventus. Biaya senilai 25 juta euro atau Rp 434 miliar dikeluarkan Bianconeri untuk mendapatkan jasa sang gelandang. Ia tercatat sukses membukukan 78 pertandingan bersama Juventus di semua kompetisi. Dari seluruh penampilannya bersama Juve, Melo mampu mencetak 4 gol serta 1 assist.

Federico Bernardeschi

Federico Bernardeschi adalah lulusan akademi Fiorentina. Setelah menembus skuad utama pada tahun 2013, Bernardeschi menjalani proses peminjaman ke Crotone. Bernardeschi yang tampil apik selama semusim bersama Crotone, lalu kembali ke Fiorentina pada tahun 2014.

Pemain asli Tuscany itu melakoni debut seniornya bersama Fiorentina pada tahun 2014. Tetapi ia justru kehilangan sebagian besar laga pada musim tersebut karena cedera. Baru pada tahun 2015, Bernardeschi mulai dipercaya tampil secara reguler di skuad inti Fiorentina. Dari 93 pertandingan selama dua musim bersama Fiorentina, ia sukses menciptakan 23 gol dan 12 assist untuk klubnya itu.

Juventus lagi-lagi datang pada musim panas 2017. Saat itu, Juventus merogoh kocek sebesar 40 juta euro atau senilai Rp 642 miliar untuk Bernardeschi. Sejauh ini pemain berusia 27 tahun tersebut sudah mencetak 11 gol serta 24 assist dalam 170 laga bersama Juventus.

Federico Chiesa

Sama seperti Bernardeschi, Federico Chiesa juga lulusan akademi Fiorentina. Namun Chiesa tak pernah menjalani proses peminjaman. Fiorentina jadi satu-satunya klub yang pernah ia bela sebelum akhirnya merapat ke Juventus. Ia promosi ke tim utama pada tahun 2016 saat usianya masih 18 tahun. Selama membela Fiorentina, Chiesa mampu mencetak 34 gol dan 25 assist dari 153 pertandingan.

Karena kepincut dengan kualitas Chiesa, Juventus memutuskan untuk meminjamnya pada musim panas 2020 lalu. Chiesa dipinjam selama dua tahun dengan opsi pembelian di akhir musim. Pria berusia 24 tahun itu tampil cukup baik sejauh ini dengan membukukan 18 gol dan 14 assist selama berseragam Juve.

Kepindahan Chiesa membuat fans frustasi, tapi yaudah lah ya masih bisa diterima. Namun, penolakan keras untuk berterima kasih atau bahkan mengucapkan selamat tinggal kepada klub yang telah membesarkannya selama satu dekade, menimbulkan keraguan di hati para fans.

Itulah tadi pemain-pemain Fiorentina yang membelot ke Juventus. Setelah Dusan Vlahovic sebagai pengkhianat Fiorentina yang terakhir, mungkin nanti masih ada lagi. Karena tentu sudah bukan rahasia umum lagi, kalau Juventus, klub kaya itu, lebih suka cara instan dengan memanen pemain matang dari klub-klub semenjana. Salah satunya Fiorentina. Ngakunya sih benci Juventus, tapi kalo udah disodorin duit gede tetep disikat juga.

Sumber: Violanation, CultofCalcio, IdnTimes, Transfermarkt

Investasi Bodong Hertha Berlin

Hertha, Berliner Sport-Club atau yang lebih dikenal dengan nama Hertha Berlin adalah sebuah klub sepak bola profesional yang berbasis di ibu kota Jerman, Berlin. Berdiri sejak 25 Juli 1892, Hertha Berlin adalah salah satu klub tertua yang masih bertahan di kasta teratas Liga Jerman.

Selain itu, Hertha Berlin merupakan salah satu founding member ‘Deutscher Fußball-Bund’ alias Asosiasi Sepak Bola Jerman yang didirikan pada 28 Januari 1900. Oleh karena itulah, julukan “Die Alte Dame” yang artinya Si Nyonya Tua sangat pas disematkan kepada Hertha Berlin.

Sayangnya, sebagai klub bersejarah yang berbasis di ibukota Jerman, Hertha Berlin bukanlah kesebelasan yang bergelimang prestasi layaknya klub ibukota lain di liga top Eropa. Hertha pernah menjadi kampiun German football championship di tahun 1930 dan 1931. Namun, setelah itu hingga era Bundesliga dimulai, mereka tak pernah lagi menjadi kampiun Liga Jerman.

Sementara di kancah Eropa, prestasi terbaik dari klub yang bermarkas di Olympiastadion itu hanyalah menjadi semifinalis Piala UEFA 1979. Prestasi yang Hertha miliki tentu sangat kontras bila dibandingkan dengan prestasi klub ibu kota lainnya, seperti Real Madrid, Ajax, Arsenal, atau bahkan AS Roma.

Sebagai klub ibu kota, Hertha Berlin malah lebih akrab dengan jurang degradasi, skandal suap, dan banyaknya kegagalan dalam merengkuh prestasi. Selain itu, menilik dari trofi terakhir yang mereka raih, “Die Alte Dame” bisa dibilang sebagai raksasa yang tertidur.

Dibeli Lars Windhorst pada 2019, Hertha Berlin Mendadak Kaya

Akan tetapi, angin segar mulai berhembus ke markas Hertha Berlin setelah klub tersebut diakuisisi oleh pengusaha muda asal Jerman, Lars Windhorst. Pada tahun 2019 kemarin, Lars Windhorst sah menjadi pemilik minoritas Hertha Berlin usai membeli 49,9% saham klub senilai 224 juta euro.

Kedatangan Lars Windhorst dengan suntikan dana yang sangat besar kepada Hertha Berlin tentu membuat penggemar “Die Alte Dame” kembali menaruh harapan kepada klub kesayangannya untuk kembali berprestasi.

Windhorst bak penyelamat bagi Hertha Berlin. Pasalnya, suntikan dananya juga membuat “Die Alte Dame” mendadak sah menjadi salah satu klub terkaya di Jerman. Windhorst juga punya mimpi besar untuk menjadikan Hertha Berlin sebagai “Big City Club” yang mampu bersaing untuk gelar Liga Champions.

Dana Berlimpah Tak Membuat Hertha Berlin Berprestasi

Di musim 2019/2020, dana sebesar 110,70 juta euro dibelanjakan Hertha Berlin untuk membeli beberapa pemain baru. Di antaranya, Dodi Lukebakio, Matheus Cunha, Krzysztof Piatek, Lucas Tousart, Marko Grujic, hingga Dedryck Boyata. Hertha juga menunjuk Jürgen Klinsmann sebagai pelatih barunya pada November 2019.

Akan tetapi, dana besar yang sudah dikeluarkan tersebut nyatanya tak membuat performa Hertha Berlin di lapangan jadi membaik. Klinsmann yang ditunjuk secara medadak untuk menggantikan posisi Ante Covic hanya bertahan selama 10 minggu dengan hasil 3 kemenangan dan 4 kali kalah dalam 10 pertandingan.

Setelah itu, giliran Alexander Nouri dan Bruno Labbadia yang menduduki kursi pelatih “Die Alte Dame”. Namun, meski sudah belanja besar-besaran dan jadi salah satu klub terboros di Eropa serta menunjuk 4 pelatih berbeda dalam satu musim, Hertha Berlin hanya sanggup finish di posisi 10 Bundesliga musim 2019/2020.

Di musim berikutnya, Hertha Berlin mencoba berbenah dengan membenahi tim dari sisi manajemen. Legenda mereka, Arne Friedrich ditunjuk sebagai sporting director yang baru di bawah kepemimpinan Michael Preetz sebagai managing director.

Lars Windhorst juga meningkatkan kepemilikannya menjadi 66,6% setelah kembali menyuntikkan dana tak kurang dari 150 juta euro pada Oktober 2020. Semua itu dilakukan Lars Windhorst tanpa melanggar aturan 50+1.

Hertha Berlin kemudian membenahi skuadnya dengan kembali berbelanja di bursa transfer. Dana senilai 27,25 juta euro dihabiskan untuk membeli beberapa nama, seperti Jhon Cordoba, Alexander Schwolow, Mattéo Guendouzi, hingga Sami Khedira.

Sayangnya, nasib Hertha Berlin di musim 2020/2021 malah lebih buruk. Bruno Labbadia hanya bertahan selama 18 pekan dan meninggalkan Hertha Berlin di posisi 14 dengan hanya mampu meraih 4 kemenangan dan 5 kali imbang. Menyusul kepergian Bruno Labbadia, managing director Michael Preetz juga mundur dari posisinya.

Hertha kemudian menunjuk Pál Dárdai sebagai pengganti Bruno Labbadia. Sayangnya, pelatih asal Hongaria itu juga hanya sanggup mengantar Hertha Berlin finish di posisi 14 Bundesliga dengan koleksi 35 poin. Bahkan dalam beberapa pekan, mereka juga harus bersaing di zona degradasi.

Hasil dalam 2 musim pertama pasca akuisisi Lars Windhorst itu tentu mengecewakan. Pasalnya, dana tak kurang dari 137,95 juta euro telah Hertha Berlin habisnya untuk membeli banyak pemain. Selain itu, investasi Windhorst di klub asal Berlin itu juga tak bisa dibilang sedikit.

Fredi Bobic Datang, Hertha Berlin Berbenah

Akhirnya di musim 2021/2022 ini, Hertha Berlin menunjuk Fredi Bobic yang sebelumnya bekerja untuk Eintracht Frankfurt sebagai sporting director yang baru. Di bawah kendali mantan top skor Bundesliga 1996 itu, Hertha Berlin melakukan cuci gudang.

Para striker yang dibeli di era sebelumnya secara bertahap dilepas ke klub lain. Keputusan tersebut memang terpaksa diambil, sebab keempat striker yang didatangkan di awal investasi Lars Windhorst memang tampil tak sesuai dengan harga belinya.

Jhon Córdoba hanya mampu mencetak 7 gol dan 2 asis dalam 21 penampilan. Matheus Cunha hanya mencetak 13 gol dan 10 asis dalam 40 penampilan. Sementara Dodi Lukébakio hanya mencetak 16 gol dan 13 asis dalam 67 penampilan dan Krzysztof Piatek yang hanya mampu mencetak 13 gol dan 4 asis dalam 58 penampilan.

Untungnya, di bawah kendali Fredi Bobic, beberapa pembelian gagal tersebut mampu dijual kembali dengan harga yang cukup menguntungkan. Jhon Córdoba yang sebelumnya dibeli dengan harga 15 juta euro berhasil dijual ke Krasnodar dengan harga 20 juta euro. Matheus Cunha yang sebelumnya dibeli seharga 18 juta euro berhasil dijual ke Atletico Madrid dengan harga 26 juta euro.

Sementara itu, Dodi Lukébakio dan Krzysztof Piatek dipinjamkan ke Wolfsburg dan Fiorentina hingga akhir musim. Berkat langkah itu pula, Hertha Belin berhasil mengantongi dana senilai 48,50 juta euro dari penjualan beberapa pemainnya. Sebagai gantinya, Hertha Berlin hanya mengeluarkan dana senilai 25,60 juta euro untuk membeli beberapa pemain baru.

Kali ini, Hertha tidak mengeluarkan banyak uang untuk pemain mahal. Mereka justru bergantung kepada nama-nama senior semacam Stevan Jovetic, Ishak Belfodil, dan Kevin-Price Boateng. Hertha juga mendatangkan pemain muda semacam Jurgen Ekkelenkamp dari Ajax dan Myziane Maolida dari OGC Nice.

Perubahan yang dilakukan manajemen Hertha Berlin memang tidak memberi hasil instan. Mereka malah langsung kalah 3 kali beruntun di 3 pertandingan pertama Bundesliga musim ini. Dalam 10 pertandingan pertamanya, Hertha juga hanya berhasil meraih 4 kemenangan dan menelan 6 kekalahan.

Atas performa yang kurang meyakinkan itu, suporter “Die Alte Dame” tak kuasa menahan amarah. Usai tunduk dari rival sekotanya, Union Berlin di pekan ke-12, salah seorang suporter Hertha Berlin melempar balik jersey pemberian Davie Selke.

Akhirnya, Pál Dárdai dipecat dari kursi pelatih pada 29 November 2021 dan posisinya kemudian digantikan oleh pelatih asal Turki, Tayfun Korkut. Sayangnya, meski kembali berganti pelatih untuk kesekian kalinya, performa Hertha Berlin tak kunjung meyakinkan.

Ganti Pelatih Lagi, Performa Hertha Berlin Tak Kunjung Membaik

Di bawah asuhan Tayfun Korkut, Hertha mulai lebih banyak mengandalkan pemain-pemain muda potensial. Nama-nama seperti Jurgen Ekkelenkamp, Marco Richter, dan Myziane Maolida dipadu padankan dengan pemain senior seperti Ishak Belfodil, Stevan Jovetić, dan Kevin-Prince Boateng. Sayangnya, skema tersebut belum mampu mengubah nasib Hertha Berlin di papan klasemen Bundesliga.

Meski di pekan ke-17 “Die Alte Dame” berhasil mempermalukan Borussia Dortmund dengan skor 3-2, tetapi dalam 7 pertandingan terakhir, Hertha Berlin hanya mampu memetik 2 kemenangan dan 2 kali imbang. Itupun hasil imbang yang diraih Hertha Berlin didapat saat mereka bertandang ke Stuttgart dan Wolfsburg yang tengah berkutat di zona degradasi.

Masalah lainnya, dalam 7 pertandingan terakhir di Bundesliga, anak asuh Tayfun Korkut sudah menelan 3 kekalahan dengan skor yang tergolong telak. Hertha dibantai 4-0 oleh Mainz, tumbang 1-3 atas FC Koln, dan dicukur Bayern Munchen dengan skor 1-4. Sialnya, kekalahan atas Bayern datang di waktu yang tidak tepat.

Sebelum tumbang atas raksasa Bavaria di pekan ke-20, Si Nyonya Tua lebih dulu tersingkir dari ajang DFB-Pokal dari sang musuh bebuyutan, FC Union Berlin. Tak ayal, pasca kekalahan tersebut, sejumlah fans “Die Alte Dame” marah dan mendatangi sesi latihan tim serta mengancam akan bertindak lebih jauh jika Hertha Berlin tak kunjung meraih hasil positif.

Kini, setelah Bundesliga berjalan 20 pekan, Hertha Berlin masih tertahan di peringkat 13 dengan koleksi 22 poin, hanya berjarak 3 poin dari FC Augsburg yang menghuni zona play-off degradasi. Posisi tersebut tentu tak sesuai dengan ekspektasi dan investasi besar yang sudah dikeluarkan Lars Windhorst kepada “Die Alte Dame”.

Dari kasus Hertha Berlin ini kita belajar bahwa mendadak kaya tidak menjamin sebuah klub bakal meraih prestasi secara instan. Ketimbang langsung membelanjakan uang dalam jumlah besar untuk merekrut pelatih atau pemain mahal, jauh lebih baik membentuk pondasi yang kuat agar pembangun tim bisa berjalan secara berkelanjutan.

Ujung-ujungnya, investasi besar Lars Windhorst yang membuat Hertha Berlin mendadak menjadi tim terkaya di Jerman, tak serta merta mampu membangunkan ‘Die Alte Dame’ yang telah tertidur panjang. Alih-alih bersaing untuk jatah tiket ke Liga Champions, yang ada Hertha Berlin kini harus lebih dulu menyelamatkan diri dari ancaman degradasi.
***
Sumber Referensi: ESPN, Washington Post, Forbes, DW, Sportspromedia, Transfermarkt.

Kisah Kembalinya Si Anak Hilang Adama Traore Ke Barcelona

0

Perpindahan pemain ke klub yang pernah membesarkan bakat pemain jamak dilakukan di berbagai liga top Eropa. Ambil contoh seperti Cristiano Ronaldo yang kembali lagi ke Old Trafford.

Hal serupa banyak terjadi di beberapa pemain tidak, terkecuali di bursa transfer musim dingin Januari 2022. Yakni kembalinya Adama Traore ke Barcelona, klub yang mendidiknya dari kecil.

Pemain yang satu ini cukup unik. Dia mempunyai badan berotot dan atletis bak binaragawan atau pemain WWF. Namun, siapa menyangka, di balik tubuhnya yang atletis itu, karier Adama Traore di dunia sepak bola cukup berliku. Bahkan latar belakang yang membentuk pribadi Adama Traore pun terbilang unik.

Masa Kecil Adama Traore

Adama Traore Diarra lahir di barat daya Barcelona, L’hospitalet, dari orang tua seorang imigran Spanyol asal Mali.

Dia tumbuh di keluarga kelas menengah di Spanyol. Adama tumbuh di kultur keluarga yang mencintai sepak bola. Terlebih di sekitar wilayahnya terdapat klub besar dunia, FC Barcelona.

Adama kecil mulai bermain sepak bola di lapangan dekat rumah milik L’Hospitalet, sekaligus menimpa pendidikan sepakbola di sana.

Adama Traore di La Masia

Di tahun 2004, impian Adama dan keluarga terbayar. Akademi terkenal Barcelona, La Masia memanggil Adama kecil untuk bergabung. Adama bergabung saat usianya baru menginjak 8 tahun.

Di La Masia, Adama menunjukan kemajuan yang pesat, meski secara postur tidak meyakinkan. Adama kecil memiliki speed yang tinggi sampai sampai mendapat julukan “Usain Bolt” (pelari juara dunia).

Di La Masia, Adama Traore sering ditempatkan di posisi bek kanan dan sayap kanan, dan dia menikmati posisi itu.

Pada tahun 2013, Adama Traore mulai menjadi pemain reguler di Barcelona B. Dia mencatatkan lebih dari 40 penampilan di liga ketika itu. Dia juga berjasa membantu tim Barca B menjuarai UEFA Youth League 2014.

Pada tahun yang sama Adama Traore dipromosikan di skuad senior Barcelona. Adama Traore membuat debutnya bagi tim utama Barcelona pada 23 November 2013. Dia menjalani debut di Barca ketika usianya 17 tahun. Sosok pelatih yang memberinya debut bagi tim utama Barcelona saat itu adalah Gerardo Tata Martino.

Karena debut dan prestasi Traore di Barca B, membuat banyak klub klub Eropa mulai melirik Traore. Posisi Adama Traore sendiri ketika itu tim senior hampir dikatakan mustahil untuk menembus line up. Apalagi kala itu Barca sudah diperkuat Neymar, Messi dan Suarez.

Adama Traore ke Aston Villa

Pada agustus 2015, Adama Traore memutuskan bergabung ke Aston Villa. Tim Sherwood adalah sosok pelatih yang membawa Traore ke Aston Villa.

Aston Villa membayar 7 juta pounds atau sekitar Rp 134 miliar untuk membawa remaja berbakat itu ke Villa Park. Traore telah membuat kesan manis secara langsung di lingkungan barunya.

Sebab hanya butuh delapan menit dari debutnya di Premier League bagi Traore untuk menunjukkan kemampuannya. Ketika ia masuk sebagai pemain pengganti ketika melawan Crystal Palace.

Namun karena sikap pelanggaran disiplin yang terjadi berulang kali, baik itu di lapangan maupun di luar lapangan, pada Januari 2016 Adama Traore dikeluarkan dari skuad Aston Villa. Itu menjadi salah satu momen terburuk dalam kariernya.

Debut kariernya di Inggris tidak berjalan sesuai dengan ekspektasinya. Traore hanya berhasil membela Aston Villa sebanyak 12 kali dalam dua musim pertamanya di klub. Dia hanya mencatatkan satu gol dan dua assist. Kariernya di Aston Villa bisa dibilang gagal total.

Adama Traore di Middlesbrough

Gagal di Aston Villa tidak membuat Traore putus asa, sang pemain memilih untuk tetap berada di Inggris. Middlesbrough menjadi klub keduanya di Inggris. The Boro mendatangkan Traore pada Agustus 2016. Saat itu, Middlesbrough dilatih oleh Aitor Karanka, pelatih asal Spanyol yang sudah mengenal betul Traore.

Bersama Middlesbrough, Traore sempat mengalami pasang surut penampilan. Dia bermain dua musim bagi The Boro, yakni di Liga Inggris dan Championship.

Tercatat hingga kariernya berakhir bersama Middlesbrough, pemain asal Spanyol ini berhasil membuat 71 penampilan dengan catatan 5 gol dan 13 assist. Sebuah peningkatan karier yang lebih baik dibandingkan sebelumnya di Aston Villa.

Bahkan di The Boro, Traore mampu menyabet beberapa penghargaan sebagai pemain terbaik Middlesbrough, dan pemain muda terbaik Middlesbrough.

Adama Traore di Wolves

Pada bulan Maret 2018, Terjadi pertandingan Wolves vs Middlesbrough di Riverside kandang Middlesbrough. The Boro kalah 2-1 atas Wolves. Ketika itu Wolves promosi ke Premier League dan sedang merencanakan skuad untuk Premier League musim berikutnya.

Saat itu juga Wolves pertama melirik Adama Traore yang tampil impresif. Larinya yang kencang serta kemampuan fisiknya yang kuat membuat Wolves kepincut.

Pelatih Wolves kala itu, Nuno Espirito Santo pun sangat terkesan dan bersikeras menginginkan pemain Traore.

Benar saja, Wolves akhirnya mendapatkan Traore pada musim panas kala itu, setelah klausul pelepasan 18 juta poundsterling atau Rp 347 miliar dari The Boro ditebus Wolves dengan angka 20 juta poundsterling atau sekitar Rp 385 miliar, sekaligus menjadi rekor pembelian Wolves ketika itu.

Di Wolves Adama Traore tumbuh berkembang seiring kecocokan dirinya bermain di winger kanan. Dengan tubuh yang makin kekar, tak jarang dia dijuluki “atlet angkat besi”.

Fisiknya justru terlihat mirip Dwayne Johnson, alih-alih seperti winger kebanyakan yang berperawakan ramping, dan memunculkan kesan cekatan dan lincah. Namun, perkembangan badan yang berotot tidak serta-merta membuat Traore menjadi lambat.

Pertumbuhan otot kekar milik Traore di Wolves, membuat dirinya sempat ditawari untuk mengikuti pertandingan American Football. Hal itu diketahui dari pengakuan Roman Saiss, rekan Traore di Wolves.

Prestasi di lapangan pun tak kalah mentereng. Adama Traore mencetak 6 gol dan 12 assist di 54 penampilanya bersama Wolves di musim pertamanya. Beberapa klub besar pun mulai melirik jasa Adama Traore.

Perpanjangan kontrak Adama di Wolves mengalami polemik. Perpanjangan kontrak dan gaji yang disodorkan Wolves tidak menyenangkan bagi pihak Adama Traore.

Traore pun enggan menandatangani kontrak barunya di Wolves. Kontrak Adama Traore dengan Wolves akan habis pada tahun 2023. Traore pun sempat beberapa kali menghuni bangku cadangan karena ogah menandatangani kontrak.

Kembali ke Barcelona

Pemilik Wolves tampaknya tidak mau membiarkan kebuntuan kontrak ini berjalan lebih lama. Oleh karena itu Wolves terbuka untuk menawarkan Traore ke beberapa klub.

Dia masih memiliki 18 bulan tersisa dalam kontraknya, yang berarti Wolves bisa menunggu hingga musim panas untuk menjualnya. Tetapi pemilik berniat mendapatkan uang dari Traore daripada kehilangan secara gratis pada tahun 2023.

Spurs pun datang dengan penawaran yang meyakinkan seiring kebutuhan Conte di posisi sayap kanan. Pemilik Wolves tampaknya bertekad untuk tidak melepasnya ke Spurs yang notabene rivalnya di tabel klasemen Premier League.

Di sinilah Barcelona masuk. Traore telah ditawarkan ke Barcelona melalui perantara. Dapat dipahami bahwa kepindahan Traore ke Barcelona sangat dimungkinkan karena faktor ​​tempat tinggal keluarga dan sahabat Traore tinggal.

Barcelona berusaha melepas Ousmane Dembele sebelum batas waktu transfer setelah ia tidak menyetujui kontrak baru di Camp Nou. Traore dipandang sebagai pengganti potensial untuk Dembele, yang telah dibekukan oleh Xavi.

Francisco Trincao yang saat ini dipinjamkan ke Wolves dari Barcelona dapat digunakan sebagai potensi pengganti atau alat tukar. Sementara kesepakatan opsi pembelian Traore juga disertakan.

Kedatangan Adama Traore ke Barcelona membuat kisah manis reuni kembalinya dia di tanah kelahiran dan tempat Adama Traore kecil tumbuh.

Berkumpul dengan sesama pemain Spanyol seperti Ferran Torres, Gavi, Busquets, Pedri, Eric Garcia, Jordi Alba, menjadikan Traore lebih memilih Barcelona ketimbang Spurs.

https://youtu.be/4t3aa7aqNYU

Sumber Referensi : theathletic, birminghammail, sportsmole, skysports, gazettelive