Masih ingat sosok Mario Gotze? Pria yang menjadi pahlawan Jerman di final Piala Dunia 2014 Brazil. Pertandingan final melawan Argentina, Gotze hadir di menit-menit akhir menggantikan sang top scorer, Miroslav Klose. Dengan gol semata wayangnya, Gotze bak pahlawan kesiangan yang mengantarkan Timnas Jerman menjuarai Piala Dunia 2014.
Kini, saat usianya menginjak 29 tahun, Gotze mengalami paceklik karier. Tepat pada tahun 2020 kemarin Gotze menyepakati kontrak bersama PSV Eindhoven ketika usianya 27 tahun. Usia 27 tahun adalah usia yang masih sangat produktif untuk sekelas pemain internasional Jerman, tapi Gotze justru terpelanting begitu saja.
Tak banyak pesepakbola terkenal yang memutuskan untuk melanjutkan kariernya di Liga Belanda pada usia produktif seperti Gotze. Ia seharusnya masih layak untuk bersaing di tim-tim raksasa di liga-liga top Eropa. Lantas, mengapa Gotze mengalami penurunan karier yang begitu tajam?
Daftar Isi
Pahlawan Kesiangan
Mundur pada 2014 silam, Mario Gotze mengejutkan banyak orang ketika dipilih sebagai starter untuk Jerman dalam pertandingan pembuka Piala Dunia melawan Portugal. Apalagi alasannya cukup remeh, Marco Reus tak bisa tampil. Reus yang mengalami cedera kala pertandingan uji coba sebelum Piala Dunia 2014, jadi berkah buat Mario Gotze.
Cederanya Reus meninggalkan ruang bagi Mario Gotze untuk mencoba peruntungan. Kisah Piala Dunia Gotze mirip-mirip dengan musim pertamanya di Bayern. Dia tampil cukup baik saat Jerman melawan Portugal di laga pertama fase Grup G. Saat menit-menit awal, Gotze memenangkan penalti yang akhirnya dikonversi menjadi gol oleh Thomas Muller.
Dia juga mencetak gol pembuka melawan Ghana di pertandingan berikutnya. Namun usai pertandingan melawan Ghana, penampilan Gotze tak menunjukan konsistensi. Buntutnya, Gotze hanya bermain selama 14 menit kala melakoni pertandingan terakhir Grup G melawan Amerika Serikat.
Joachim Low pasti menyadari bahwa Gotze muda belum siap mendapat tekanan sebesar ini. Meski Mario Gotze adalah salah satu anak emasnya, praktis setelah fase grup, Gotze tak selalu menjadi pilihan utama sang juru taktik.
On this day in 2014, Mario Gotze’s extra-time goal won Germany the World Cup 🇩🇪🏆 pic.twitter.com/A9fMCyTuSJ
— B/R Football (@brfootball) July 13, 2018
Hal itu dibuktikan saat memasuki babak semifinal, saat Jerman berhasil melumat sang tuan rumah, Brazil dengan skor 7-1. Saat Jerman sudah diatas awan, Low lebih memilih memasukan Julian Draxler daripada Gotze.
Puncaknya, ketika Argentina menantang Jerman di final. Joachim Low memainkan skuad terbaik yang ia miliki, seperti memaksa Miroslav Klose yang sudah berusia 36 tahun untuk terus bertahan hingga menit-menit akhir pertandingan. Skor pun masih sama kuat, namun wasit sudah mengisyaratkan akan memberi tambahan waktu.
Dari situlah momen bersejarah itu datang. Low meminta Gotze masuk menggantikan Klose yang belum bisa berkontribusi banyak di lapangan.
Pergantian pemain ini menjadi salah satu pergantian pemain paling bersejarah di sepak bola. Lulusan akademi Dortmund itu tidak mengecewakan.
Gotze mencetak satu-satunya gol di perpanjangan waktu dengan penyelesaian akhir yang mungkin hanya dirinya yang bisa. Pada satu situasi yang sulit, ia dengan tenang mengontrol bola sebelum akhirnya menjebloskan bola ke gawang Sergio Romero.
Namun, itu selain menjadi catatan mengesankan juga menjadi akhir dari kegemilangan seorang Mario Gotze. Selepas itu, kariernya mengalami penurunan yang cukup signifikan.
Pilihan Yang Salah
Salah satu faktor yang menjadi biang kerok awal penurunan karier Mario Gotze adalah keputusannya untuk membelot ke rival sekaligus pesaing utama Borussia Dortmund di Bundesliga, Bayern Munchen. Kala itu, Bayern Munchen memang sangat meminati pemain lulusan akademi Borussia Dortmund tersebut.
Terlebih Gotze menunjukan penampilan apiknya di musim 2012/13 bersama Borussia Dortmund, dengan mengantarkan Dortmund melaju ke final Liga Champions, plus mencetak total 16 gol dari 44 penampilan di semua kompetisi.
Belum lagi, ia sempat jadi trio andalan Dortmund era Jurgen Klopp bersama Marco Reus dan Robert Lewandowski. Dengan usianya yang kala itu masih menginjak 21 tahun, Bayern Munchen percaya bahwa Gotze akan memiliki masa depan yang cerah.
Namun, kepindahannya ke Bayern sama sekali tak disambut baik oleh pihak Borussia Dortmund. Bahkan, sang juru taktik sampai harus mengamuk mendengar kenyataan bahwa Gotze harus hengkang ke klub rival.
Sayangnya, nasi sudah menjadi bubur, mau di kecapin atau kasih kuah juga udah nggak ketolong. Kepindahan Gotze di usia yang masih muda ke Bayern Munchen dirasa terlalu terburu-buru. Apalagi ia belum berkembang sepenuhnya di Dortmund, Gotze tak mau lebih bersabar untuk membangun tim bersama Jurgen Klopp dan kompatriotnya, Marco Reus.
Mario Gotze tells Bild he’s staying at Bayern; huge blow to Liverpool transfer plans – https://t.co/GVpWJsvM7I pic.twitter.com/5mAsQbAunc
— Empire of the Kop (@empireofthekop) May 23, 2016
Sialnya, pada musim kedua Gotze di Bayern, Pep yang kala itu masih melatih untuk Bayern Munchen ternyata punya rencana lain di Allianz Arena. Sang juru taktik tidak pernah membutuhkan pemain false nine seperti Gotze. Dia lebih memilih Mandzukic untuk masuk ke starting line up.
Karier Mario Gotze pun terus menurun sejak meninggalkan Die Borussen. Gotze sulit berkembang, ia kehilangan kecepatanya dan minim mendapat kesempatan bermain bersama Bayern, hingga membuatnya harus kembali ke Signal Iduna Park pada tahun 2016.
Masalah Metabolisme
Sebenarnya faktor utama dalam menurunnya karier Gotze adalah fakta bahwa Mario Götze telah menderita cedera jangka panjang sejak remaja. Badai cedera Gotze dimulai sejak usianya 19 tahun ketika ia didiagnosis menderita inflammation of the pelvis atau radang panggul. Cedera yang selalu ditakuti oleh para pesepakbola karena penyembuhannya butuh waktu yang cukup lama.
Lalu ia juga mengalami cedera otot paha saat pertandingan semifinal Liga Champions kontra Real Madrid. Ia juga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk kembali pulih dari cedera otot yang ia alami.
Pada tahun 2015 saat ia membela Jerman di pertandingan melawan Irlandia, Gotze kembali mengalami cedera setelah mendapat tekel keras dari James McCarthy. Benturan keras itu menyebabkan otot selangkangan Mario Götze robek. Ia pun kembali absen selama 116 hari.
An unspecified metabolism disorder has brought Mario Gotze’s season to an end, according to Borussia Dortmund https://t.co/sPBJH8vSLS pic.twitter.com/y7uFQgjDld
— Sky Sports Premier League (@SkySportsPL) March 15, 2017
Akhirnya, dilakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap otot Mario Gotze, untuk mencari tahu penyebab otot Gotze yang rentan mengalami cedera meski ia selalu melakukan latihan masa otot dengan baik di Dortmund.
Pada tahun 2017, Dortmund mengeluarkan pernyataan resmi tentang kondisi Mario Gotze, mereka menyatakan bahwa sumber cedera otot berulang Mario Götze telah ditemukan. Penyebabnya adalah gangguan metabolisme yang bernama metabolic myopathy, penyakit yang cukup langka dan sulit dideteksi. Pernyataan ini menandakan bahwa Gotze akan absen dalam waktu yang tak bisa ditentukan.
Gotze pun Terlupakan
Di Borussia Dortmund pun Gotze tak bisa menemukan kembali performa terbaiknya, dan lebih banyak berkutat dengan cedera serta gangguan metabolismenya. Selama musim 2019/2020 Gotze hanya mencatatkan 21 penampilan. Bagi pemain sekelas Gotze, itu angka yang sangat minim.
Pada akhirnya, Gotze mencapai kesepakatan dengan manajemen Borussia Dortmund untuk tidak memperpanjang kontraknya. Setelah itu, ia sempat luntang-lantung tak ada pekerjaan, sampai datang klub eredivisie, PSV Eindhoven menunjukkan ketertarikan. Mereka melakukan pergerakan untuk memboyong Gotze ke Belanda. Proses negosiasi berhasil, Mario Gotze pun resmi bergabung dengan PSV pada Oktober 2020 lalu.
Meski spotlite di Belanda tidak seterang layaknya ia di Jerman, perhatian media tetap ada pada pemain berusia 29 tahun itu. Gotze mengatakan dia sekarang menangani tekanan dengan lebih baik daripada sebelumnya, dan perlahan ia tampil cukup konsisten untuk membangun kembali kariernya.
Sempat menguasai dunia di usianya yang masih muda, Mario Gotze pun akhirnya tergerus oleh pesatnya perkembangan sepak bola. Untung saja Gotze tak hidup di Indonesia, jika ia bermain di sini pasti kariernya sudah hancur dan boleh jadi akan berakhir di Selebritis FC atau Football Traveler.
Sumber: Sportskeeda, Bleacherreport, Goal, Bola.net
