Tangis bahagia mengiringi Jose Mourinho mengantarkan klub ibukota, AS Roma untuk mencapai partai final Europa Conference League edisi pertama. Gol tunggal Tammy Abraham ke gawang Leicester City menunjukan siapa serigala lapangan hijau yang sebenarnya.
Meski trofi Mourinho jauh menurun di beberapa tahun terakhir, tak menampik bahwa selama hidupnya, Jose Mourinho dikenal sebagai pelatih yang ahli dalam memenangkan trofi. Bahkan, sebelum bersama AS Roma, Mourinho sendiri telah berhasil mencapai empat final utama kompetisi antarklub Eropa.
Pelatih asal Portugal tersebut tak pernah kalah di final kompetisi besar sejagad Eropa. Dari Europa League hingga Champions League semua bisa ia raih bersama tim yang ia latih.
Daftar Isi
FC Porto, Piala UEFA 2003
Kisah manis Jose Mourinho yang berhasil mencapai laga final bersama empat klub berbeda dimulai ketika ia melatih klub asal tanah kelahirannya, FC Porto tahun 2003.
Final Piala UEFA 2003 ini cukup krusial bagi Mourinho kala itu. Karena final ini jadi panggung pertama bagi Mourinho untuk memperkenalkan diri kepada publik bahwa dia datang dan akan menjadi salah satu pelatih tersukses di masa mendatang.
Piala UEFA ini sekarang lebih dikenal sebagai Europa League. Kala itu Porto asuhan Jose Mourinho harus melewati RC Lens, wakil Turki, Denizlispor, Panathinaikos dan wakil Italia, Lazio sebelum akhirnya menumbangkan Celtic di final yang diselenggarakan di Estadio Olimpico yang terletak di Kota Sevilla.
Final tersebut menjadi yang luar biasa bagi FC Porto, utamanya bagi seorang Jose Mourinho. Bermain dengan skuad terbaik, Porto justru kelimpungan menghadapi pemain Celtic, Henrik Larsson. Pemain berkebangsaan Swedia itu mampu dua kali menyamakan kedudukan melalui sundulannya. Hal itu membuat laga harus berlanjut ke babak perpanjangan waktu.
Sang juruselamat FC Porto pun muncul dalam diri striker Brazil, Vanderlei Fernandes Silva, atau yang biasa dikenal dengan Derlei. Gol telat Derlei akhirnya memberikan trofi Eropa pertama bagi Mourinho.
FC Porto, Champions League 2004
Kisah ajaib Porto kembali berlanjut di musim berikutnya. Di ajang kompetisi antarklub paling bergengsi di Benua Biru, Liga Champions, FC Porto asuhan Jose Mourinho tak diunggulkan sama sekali. Bahkan dianggap sebagai tim pelengkap turnamen saja.
The 2004 Champions League final, when Mourinho lifted the trophy with Porto 🙌pic.twitter.com/UcxYIxQjVP
— GOAL (@goal) November 20, 2019
Namun, kenyataan berkata lain. Champions League musim tersebut memang berjalan cukup aneh. Keanehan mulai kelihatan ketika Porto tak disangka melumat Manchester United era Sir Alex di babak 16 besar. Lalu, sang juara bertahan AC Milan yang malah diobok-obok Deportivo di leg kedua perempat final.
Sehingga di semifinal hanya menyisakan empat tim termasuk Porto, Deportivo, AS Monaco dan si orang kaya baru Chelsea. Tentu dengan peta kekuatan empat tim itu, Mourinho sedikit percaya diri bahwa ia bisa mencapai final.
Porto bertemu Deportivo La Coruna di semifinal. Meski sama-sama berstatus kuda hitam, Deportivo jauh lebih difavoritkan untuk lolos ke partai puncak karena bisa mengalahkan AC Milan. Namun itu tak sepenuhnya benar. Laga justru berjalan alot.
Di leg pertama kedua kesebelasan hanya mampu bermain imbang 0-0. Sementara, di pertemuan kedua, Deportivo tampil menyerang dan melakukan tekanan sporadis kepada Deco CS. Namun anak asuh Mourinho tak tinggal diam.
Memasuki babak kedua, giliran Porto mengobrak-abrik pertahanan Deportivo. Petaka muncul ketika Deco dilanggar di dalam kotak penalti. Derlei yang mengeksekusi berhasil membawa Porto unggul 1-0 di menit 60.
Skor 1-0 pun bertahan hingga peluit panjang dibunyikan. Porto berhasil menembus final Liga Champions dan menantang Monaco yang juga secara mengejutkan berhasil mengalahkan Chelsea di semifinal.
Di laga final, Mourinho menginstruksikan kepada tim untuk bermain menyerang sejak awal laga. Dan benar saja, mereka bermain dengan tensi tinggi dan membuat permainan Monaco tidak berkembang. Akhirnya, Porto menang telak 3-0 atas AS Monaco, dan Mourinho kembali memberikan trofi Liga Champions pertama sejak 17 tahun lalu ketika Porto pertama kali meraihnya.
Inter Milan, Liga Champions 2010
Prestasinya bersama Porto, membawa Mourinho ke Liga Inggris untuk menangani Chelsea. Namun, ketika masa kerjanya di Chelsea, meski meraih trofi liga, Mourinho gagal menghadirkan satu pun trofi kompetisi Eropa untuk The Blues.
Selepas membantu Chelsea di beberapa musim, pada tahun 2008 Mourinho terbang ke Italia untuk mencari tantangan baru bersama Inter Milan. Tak butuh waktu lama, Mourinho langsung menghadirkan dua trofi domestik untuk Inter di musim pertamanya.
📆 On this day in 2010…
35′ ⚽️ Diego Milito
70′ ⚽️ Diego MilitoInter Milan added the Champions League to their Serie A and Coppa Italia titles to complete the treble 🏆🏆🏆 pic.twitter.com/gkwsHCz5zx
— Football on BT Sport (@btsportfootball) May 22, 2019
Puncaknya, pada musim 2009/10. Inter asuhan Jose Mourinho merajut asa di Champions League dalam misi meraih treble setelah berhasil mengamankan trofi Serie A dan Coppa Italia. Lolos fase grup sebagai runner-up di bawah Barcelona, membuat Inter versi Mourinho tak begitu diunggulkan.
Sayang, anggapan itu meleset. Inter justru menghajar Chelsea di babak 16 besar. Pasukan Jose Mourinho juga membuat Barca malu menjadi juara grup karena kalah dari Inter di semifinal, lewat skor dramatis 3-2. Inter melaju ke final dan mesti menghadapi Bayern Munchen asuhan Van Gaal.
Tanpa pikir panjang, dengan mengandalkan trisula Pandev, Samuel Eto’o dan Diego Milito, Inter menunjukkan bahwa Bayern Munchen hanya sebutir debu. Tak tanggung-tanggung pasukan Mourinho berhasil menggiling anak asuh Louis Van Gaal berkat dua gol Milito yang tak mampu dibalas satu gol pun.
MU, Europa League 2017
Terbang ke Inggris untuk melatih Manchester United pada tahun 2016, Mourinho kembali ke kompetisi Piala UEFA yang sudah berganti nama menjadi Europa League untuk memperbarui trofi tersebut.
Meski difavoritkan sejak awal, nyatanya perjalanan pasukan Jose Mourinho menuju final di Stockholm menemui jalan terjal. Dengan diperkuat pemain sekaliber Paul Pogba hingga Zlatan Ibrahimovic, MU hanya lolos fase grup sebagai runner-up di bawah Fenerbahce.
🔴 Zlatan Ibrahimović had 9 goal involvements for Manchester United in their 2017 Europa League campaign (5G, 4A) 🏆
🤔 How will he get on against them for Milan? #UELdraw | #UEL pic.twitter.com/SlbYSS33Xf
— UEFA Europa League (@EuropaLeague) February 28, 2021
Tak sampai di situ saja. Manchester United juga kesulitan di babak 16 besar. Setan Merah hanya mampu menang tipis 2-1 atas klub Rusia, FC Rostov. Lalu, di perempat final MU juga menemui jalan berliku ketika menghadapi wakil Belgia, Anderlecht. Skuad Mourinho hanya bisa menang agregat tipis 3-2.
Lalu, MU juga mesti kerja keras ketika menumbangkan Celta Vigo di semifinal, sebelum akhirnya menantang Ajax di partai puncak. Ibra yang sedang cedera, membuat Paul Pogba dan Henrikh Mkhitaryan keluar jadi pahlawan kemenangan United. Hasil tersebut mengukuhkan rekor Mourinho yang tak terkalahkan di setiap laga final kompetisi Eropa.
Nah, jika Mourinho kembali berhasil mengatasi Feyenoord di laga final Europa Conference League, ia bakal jadi manajer pertama yang berhasil memenangi ketiga kompetisi besar antarklub Eropa tersebut. Semoga sukses, Mou!
https://youtu.be/bZS5VLBm8JY
Sumber: Planetfootball, Sportingnews, Sportzpoint, Bola, Transfermarkt


