Hijrah Ke Milan, Asa Pulisic Keluar dari Mimpi Buruknya di Chelsea

spot_img

Usai sudah perjalanan Christian Pulisic di Stamford Bridge. Impian indah “Kapten Amerika” sebagai wonderkid masa depan, ternyata tak sesuai yang dibayangkan. Mimpi buruk yang diterimanya selama empat musim berseragam The Blues.

Nahas bagi karir pemuda yang masih berusia 24 tahun ini. Namun, ia kini sudah bersikap. Langkahnya untuk hijrah dari London merupakan pilihan yang harus dipilih. AC Milan telah dipilih menjadi pelabuhan barunya. Lalu, apakah ia akan menemukan mimpi indah barunya bersama Rossoneri?

Bujuk Rayu Chelsea Dan Maurizio Sarri

Tampil baik dan menjadi wonderkid menjanjikan, Pulisic jadi komoditi panas transfer klub besar. Digadang-gadang sebagai The Next Hazard, Chelsea langsung kepincut talentanya. Januari 2019, Marina Granovskia telah meyakinkan Dortmund untuk merekrut Pulisic.

Mahar sebesar 60 juta pounds untuk pemain yang masih berusia 20 tahun merupakan jumlah yang lumayan tinggi. Selain Marina dan tim manajemen Chelsea yang berhasil meyakinkan Pulisic dengan iming-iming pundi-pundi uang, ada juga peran pelatih Maurizio Sarri yang membuat Pulisic semakin yakin bergabung ke Chelsea.

Menurut The Athletic, Sarri diketahui telah meyakinkan ayah Pulisic dalam sebuah pertemuan. Selain diproyeksikan sebagai penerus Hazard, ia direncanakan Sarri akan ditempatkan di sayap seperti Callejon atau Insigne ketika ia melatih Napoli. Sarri bahkan meyakinkan ayah Pulisic kalau anaknya itu cocok di formatnya 4-3-3.

Tak Terlalu Disukai Lampard

Namun sayang seribu sayang, Pulisic yang baru bisa bergabung di Chelsea pada awal musim 2019/20 sudah ditinggal oleh Maurizio Sarri. Posisi Sarri digantikan oleh Frank Lampard.

Lampard yang berbeda strategi dengan Sarri, tak terlalu menyukai gaya permainannya. Dilihat dari cara Lampard memperlakukan Pulisic, ia terkadang enggan memasukan Pulisic sebagai starter di sayap serang The Blues.

Menurut Transfermarkt, dari total 34 laga yang ia jalani di musim 2019/20, ia hanya jadi starter sebanyak 24 kali. Sisanya ia jadi pengganti dan penghuni bangku cadangan tetap. Meski begitu, Pulisic tetaplah menyumbang kontribusi yang signifikan. 9 gol dan 10 assist adalah hasil yang cukup memuaskan untuk debut Pulisic di Chelsea.

Maka dari itu, meski tak terlalu disukai oleh Lampard ia masih dipertahankan oleh klub di musim berikutnya. Padahal menurut The Athletic, ia juga sempat lho meminta Chelsea meminjamkannya di bulan Januari 2020, supaya mendapat menit bermain lebih.

Tak Terlalu Disukai Tuchel

Setelah Lampard cabut di musim 2020/21, harapan besar karir Pulisic akan cerah kembali semakin besar. Apalagi penggantinya adalah Thomas Tuchel, pelatih Pulisic ketika di Dortmund. Tak dipungkiri Tuchel lah yang memberinya debut ketika masih berusia 17 tahun.

Ketika harusnya semuanya berjalan lancar, namun nyatanya tidak. Tuchel malah menganggap Pulisic yang ditemuinya di Chelsea tak seperti Pulisic yang dulu ketika ia latih di Dortmund. Ia menganggap Pulisic tak berkembang permainannya.

Hal itu harap dimaklumi, ketika ia lebih sering keluar-masuk meja perawatan akibat cedera hamstring yang ia derita di musim itu. Tuchel tak mau berisiko menganakemaskan Pulisic hanya karena romantisme belaka ketika di Dortmund.

Pulisic sendiri akhirnya ikut angkat bicara pada sikap Tuchel itu. Dalam buku pribadinya yang berjudul “My Journey So Far”, ia mengungkapkan ketidakpatuhannya terhadap Tuchel. Dalam satu bagian buku itu juga terungkap bahwa ia sangat kecewa dan marah saat tak dipilih sebagai starter di laga semifinal leg kedua Liga Champions kala melawan Real Madrid, maupun final melawan Manchester City.

Di Bawah Pemilik Baru dan Graham Potter

Setelah Tuchel pergi, bersama pelatih Graham Potter sebenarnya ia tidak terlalu masalah. Pulisic merasa visi Potter cocok dengan gaya permainannya yang atraktif. Yang justru menjadi masalah adalah, sang pemilik Todd Boehly yang mendatangkan banyak stok pemain yang mirip dengan posisinya. Seperti Mudryk, Sterling, maupun Noni Madueke.

Dengan begitu, semakin kecil pula peluang Pulisic untuk tampil reguler sebagai andalan Potter. Dan kembali kejadian, Pulisic tak punya banyak waktu bermain di bawah Potter. Setelah Potter dipecat dan kembali Lampard yang mengambil alih, nasib Pulisic juga makin tak karuan di musim lalu. Dari total 30 laga yang ia lakoni, hanya 10 laga ia jadi starter. Golnya pun hanya satu.

Chelsea Mart

Hal itu membuat pertimbangan tersendiri bagi Chelsea musim baru ini di bawah pelatih Mauricio Pochettino. Era baru Chelsea itu ternyata menghendaki dirinya pergi. Disaat Chelsea lagi getol-getolnya cuci gudang pemain, Pulisic adalah salah satunya.

AC Milan beruntung telah dipilihnya sebagai rumah barunya ketimbang Lyon yang juga sempat menawarnya. Ia diboyong Rossoneri dengan mahar sekitar 22 juta pounds, plus bonus. Ia akan melanjutkan tradisi “Chelsea Mart” di AC Milan.

Sebelumnya, pemain yang dari Chelsea pindah ke Milan sudah banyak. Ada Hernan Crespo, Michael Essien, Alex, Olivier Giroud, Fikayo Tomori, dan yang terakhir ada Ruben Loftus-Cheek.

Proyek “Chelsea Mart” tersebut, terbilang cukup sukses. Lihat saja Giroud atau Tomori. Artinya kesempatan Pulisic untuk bangkit dari keterpurukannya terbuka lebar di San Siro.

Pulisic di Skema Pioli

Lalu bagaimana kansnya masuk dalam skema Stefano Pioli? Ia diprediksi akan menjadi pemain “Nomor 10” di belakang striker, atau menempati sayap kanan penyerangan AC Milan. Toh, kini AC Milan juga sudah kehilangan Brahim Diaz.

Dengan format yang masih dipertahankan Pioli 4-2-3-1, Pulisic akan sangat cocok masuk dalam skema itu. Bersama Rafael Leao, ia akan bahu-membahu menyisir sisi flank lawan dengan kecepatan dan gocekan mautnya. Dalam skema counter attack pun, Pulisic juga akan sangat berguna bagi Pioli. Disamping itu, ia juga punya kelebihan versatile di beberapa posisi di lini serang.

Namun kalau bicara statistik detail, musim lalu tak bisa jadi parameter. Pasalnya, ia di Chelsea banyak absen dan dalam kondisi tidak prima. Statistik terdekat mungkin bisa diambil di mana ia menjadi pilar di USMNT di Piala Dunia 2022 lalu.

Menurut catatan Opta, ia berada di lima besar Expected Assist atau peluang menciptakan assist di angka 1,1. Sedangkan Ball Carry Distance atau jarak tempuh ketika seorang pemain membawa bola, angkanya adalah 965m. Angka itu hanya kalah dari Pedri (972m) dan Messi (1187m).

Mimpi Baru Pulisic

Dengan kelebihan Pulisic tadi, setidaknya bisa menjadi tolak ukur ketika ia nanti akan dimanfaatkan oleh Pioli. Yang jelas kini sang “Kapten Amerika” sudah memulai petualangan barunya yang penuh ambisi. Ya, ambisi pribadi Pulisic tentu ingin menjaga performanya tetap prima jelang Copa America 2024, dan Piala Dunia 2026 yang akan dihelat di rumahnya sendiri.

Dengan bergabung ke AC Milan, menit bermainnya haruslah terjaga. Melihat rekan-rekannya yang dari Chelsea seperti Giroud atau Tomori yang berhasil, harusnya sih Pulisic bisa lebih berhasil. Terlebih ketika melihat usia dan catatan individunya yang masih mentereng.

Yang terpenting sekarang Pulisic sudah menutup mimpi buruknya selama di Chelsea. Paling tidak kini ia bisa bernafas lega menghirup udara segar di Milan, sambil mengais asa untuk membuka mimpi barunya lagi.

https://youtu.be/JGWO5QXE5Ek

Sumber Referensi : theathletic, transfermarkt, cbssports

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru