Lontaran kritik itu seperti deru mesin di telinga Diego Simeone. Pasukan Simeone dituntut jadi pesaing Barcelona dan Real Madrid di La Liga. Dituntut pula agar selalu tampil mengesankan di Eropa. Tapi Atletico justru meredup.
Dari sekian tim-tim hebat di Eropa, hanya Atletico Madrid yang menutup jeda kompetisi dengan catatan yang sangat buruk. Tidak berlebihan mengatakan itu, karena Los Colchoneros bahkan terbuang dari kompetisi Eropa, usai ditaklukkan Porto 2-1. Bagaimana ini, Simeone? Mengapa Atletico Madrid jadi begini?
Daftar Isi
Gagal di Liga Champions
Musim ini benar-benar menjadi antitesis Atletico Madrid dari musim-musim sebelumnya. Penderitaan mereka kian nyata di Liga Champions. Datang sebagai klub paling diunggulkan di Grup B. Catat itu sekali lagi: klub paling diunggulkan. Namun, Atletico Madrid justru menjelma klub terlemah.
Tergabung dengan Porto, Club Brugge, dan Bayer Leverkusen, Atletico Madrid justru bermain seperti tim amatiran. Lawan Club Brugge saja takluk 2-0. Lawan Bayer Leverkusen yang sedang terpuruk di liga saja, Atletico justru kalah 2-0.
Total, dari 6 laga di fase grup Liga Champions, Atletico Madrid hanya mampu memenangkan laga pertama melawan Porto. Sisanya 2 kali berujung imbang dan 3 kali menelan kekalahan. Atletico hanya mengumpulkan 5 poin dan tersingkir dari Liga Champions sekaligus Liga Eropa.
Hancur di La Liga
Jika tampil buruk di level Eropa, umumnya akan ada harapan di kompetisi domestik. Tapi tren negatif Atletico Madrid juga menular ke liga domestik. Di La Liga, jangankan menjadi pesaing Barcelona dan Real Madrid, untuk lebih kompetitif saja, Atletico tak mampu.
Tiga laga sebelum jeda Piala Dunia, Los Rojiblancos bahkan tidak memenangi satu pun laga. Alih-alih mencuri barang satu poin, pada pertandingan terakhir La Liga sebelum Piala Dunia, Atletico Madrid justru takluk atas Mallorca 1-0.
Sebelumnya, pasukan Diego Simeone ditahan imbang Espanyol. Dan sebelumnya lagi, Atletico Madrid kalah dari tim gurem, Cadiz 3-2. Hasil-hasil minor itu membuat Atletico Madrid untuk sementara, terdepak dari zona Liga Champions.
Los Colchoneros mendekam di peringkat lima La Liga. Sejauh ini Atletico Madrid baru mengumpulkan 24 poin di La Liga. Terpaut 13 poin dari pemuncak klasemen, Barcelona.
Masalah Finansial
Pijakan Atletico Madrid memang kurang mantap di awal musim 2022/23. Awal musim ini, Los Colchoneros sudah terlilit masalah keuangan. Atletico Madrid terjebak kebijakan pembatasan gaji dari Liga Spanyol. Mengutip Marca, Atletico Madrid memiliki tuntutan gaji yang sangat tinggi. Total mencapai 200 juta euro atau sekitar Rp3,1 triliun.
🔴⚪️ Enrique Cerezo, sobre los fichajes del @Atleti
✅ “El medio ya lo tenemos. Todos sabéis que @axelwitsel28 está hecho”
💰 “Son 40 millones los que tenemos que vender y en eso estamos. Pero no está fácil el mercado”
📻 #PartidazoCOPE pic.twitter.com/vELCP4gefB
— El Partidazo de COPE (@partidazocope) June 27, 2022
Dengan kata lain, untuk bisa mendatangkan pemain baru Atletico harus menjual beberapa pilarnya. Oleh karena itu, nama seperti Renan Lodi akhirnya dilepas ke Nottingham Forest. Namun, Atletico tak memiliki cukup banyak pemasukan.
Atletico bahkan hanya bisa menginvestasikan sekitar 33 persen pendapatan mereka dari penjualan pemain di musim lalu. Akibatnya, ruang gerak transfer Los Colchoneros kian menyempit. Atletico kesulitan mendatangkan pemain baru. Mereka hanya menerima kepulangan pemain-pemain yang dipinjamkan, seperti Saul dan Morata.
Musim ini, Los Rojiblancos hanya menambah empat amunisi baru. Axel Witsel yang dibeli tanpa harga dari Borussia Dortmund, Reguilon yang dipinjam dari Tottenham Hotspur, Samuel Lino yang dibeli dari klub Liga Portugal Gil Vicente, dan Nahuel Molina yang dibeli seharga 20 juta euro dari Udinese.
Pengambilan Keputusan Simeone Buruk
Amunisi yang didatangkan, termasuk Antoine Griezmann yang akhirnya dibeli secara permanen, ternyata belum cukup untuk mendongkrak permainan Atletico Madrid. Karena bukan cuma itu masalahnya. Melainkan juga sang pelatih. Atletico tak diragukan lagi memiliki pelatih yang hebat.
Diego Simeone merupakan salah satu pelatih dengan bayaran tinggi di Eropa. Ia telah menciptakan legacy di Atletico Madrid sejak datang ke Vicente Calderon tahun 2011. Akan tetapi, tampaknya era emas Simeone mulai tergerus. Ia beberapa kali tidak tepat dalam mengambil keputusan.
#UCL Group B FT:
Atletico Madrid 2-2 Bayer Leverkusen
⚽️ Diaby 9’
⚽️ Carrasco 22’
⚽️ Hudson-Odoi 29’
⚽️ De Paul 50’
❌ Carrasco missed penalty 90’ pic.twitter.com/N6jvPUUHjm— TNC Football ⚽️ (@TNC_Football) October 26, 2022
Misal, ketika Atletico Madrid ditahan imbang 2-2 oleh Bayer Leverkusen pada pertandingan kelima Grup B Liga Champions. Saat itu, Simeone menurunkan Hermoso, alih-alih Stefan Savic yang sudah teruji bersama Jose Maria Gimenez. Padahal Hermoso pada musim ini baru tiga kali masuk starting line up.
Hasilnya, gawang Atletico Madrid kebobolan oleh Moussa Diaby menit ke-9. Bisa dipahami, barangkali Simeone tidak memasukkan Savic karena untuk berjaga-jaga. Pemain Montenegro itu sudah terkena kartu kuning.
Menurunkannya adalah resiko. Satu lagi terkena kartu kuning membuat Savic akan melewatkan potensi laga yang menentukan menghadapi Porto. Tapi itu justru pertaruhan karena Atletico Madrid malah gagal memetik kemenangan atas Leverkusen.
Hermoso jadi titik lemah yang masif dieksploitasi anak asuh Xabi Alonso. Sang pemain pun pada akhirnya ditarik keluar di babak kedua. Pada menit 46, Hermoso digantikan gelandang Saul Niguez. Malangnya, di laga penentuan kontra Porto, anak asuh Simeone justru tak berdaya.
Lini Depan yang Kacau
Hasil minor yang didapat Atletico Madrid kontradiktif dengan apa yang mereka punya. Utamanya di lini depan. Atletico dianugerahi bakat-bakat hebat di lini depan. Ada Alvaro Morata, Antoine Griezmann, sampai Joao Felix dan Matheus Cunha di sana. Tapi tak satu pun dari mereka yang bisa diandalkan.
Lini depan pasukan Simeone kurang menggigit. Bahkan dari lima pertandingan di Liga Champions musim ini, para penyerang Atletico hanya bisa mencetak satu gol. Gol penentu kemenangan dari Griezmann atas Porto di laga pertama Liga Champions, jadi satu-satunya gol yang datang dari penyerang Atletico Madrid di kompetisi tersebut.
@todd_boehly You promised us a marquee signing there is no one better that’s available now, give Atletico Madrid whatever they want just get me João Felix please. pic.twitter.com/gO24IL8cG2
— Mudi (@CFCFan010) November 17, 2022
Padahal di kompetisi La Liga, para penyerang Atletico Madrid cukup tajam. Total para penyerang Atletico Madrid sudah mencetak 21 gol di La Liga, kecuali Mateus Cunha. Lalu ada masalah pada Joao Felix. Pemain itu didatangkan sebagai rekor pembelian tim. Namun, performanya sejauh ini justru meredup tak seperti tahun 2019.
Pertahanan yang Mudah Ditembus
Atletico yang sekarang tidak seperti Atletico yang kita kenal. Dulu pertahanan brutal Atletico Madrid ala Simeone sulit ditembus. Tapi kiwari, itu adalah barisan pertahanan yang mudah sekali dirusak. Struktur pertahanan Simeone tidak kokoh lagi.
Jelang jeda Piala Dunia 2022, Atletico Madrid sudah kebobolan 14 gol di La Liga. Sementara di Liga Champions, Atletico Madrid kebobolan 9 gol. Jumlah itu terbanyak dari semua anggota Grup B.
Pertahanan yang sudah gampang ditembus itu, pada akhirnya membuat fans menuntut agar Simeone mengubah pendekatan taktiknya. Atletico diminta lebih menyerang.
Ia melakukan itu kala menghadapi Cadiz di La Liga dan Porto di laga terakhir Grup B Liga Champions. Simeone memasang format tiga bek dengan maksud lebih menyerang, tapi yang terjadi Atletico justru kalah.
Knocked out of the Champions League ✅
Lost to 18th place Cádiz to a 90 + 9 winner ✅
Not a good week for Diego Simeone and Atlético Madrid. pic.twitter.com/BvMEmPjXFj
— CBS Sports Golazo ⚽️ (@CBSSportsGolazo) October 29, 2022
Simeone Tak Pede dengan Sistemnya
Penampilan klubnya yang buruk membuat Simeone masygul dengan sistemnya sendiri. Alih-alih tetap menjaga asa, Simeone justru pesimis. Dalam laporan Football Espana, Simeone mengungkap pernyataan yang bernada putus asa usai tersingkir dari Liga Champions.
“Itu sulit bagi kami. Kami harus menerimanya. Kami telah kebobolan lebih banyak dari setiap pertandingan,” kata Simeone.
Selain perkara taktik, mentalitas juga menjadi problem anak asuh Simeone. Hal itu harus segera dicari jalan keluarnya. Meskipun boleh jadi kekhawatiran masih menjangkiti pikiran Simeone. Well, setelah Piala Dunia nanti, ini menjadi tantangan bagi Diego Simeone dan Atletico Madrid.
Sumber: Football-Espana, pmnewsnigeria, eurosport, intothecalderon1, intothecalderon2, Marca, Transfermarkt


