Waktu begitu cepat berlalu, hingga tak terasa sebentar lagi kita bakal kembali menyaksikan lanjutan perjuangan Timnas Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 2026. Patrick Kluivert memanggil 32 pemain yang bakal menjalani TC di Bali. Dari banyaknya penggawa Garuda itu, hampir semua wajah dikenali oleh netizen sebab memang mereka pernah mengisi line up atau sekadar menghangatkan bangku cadangan.
Tak ada kejutan alias nama-nama baru. Tak ada pemain lokal yang tengah moncer dan rasa-rasanya terlewat dan sejauh ini belum ada juga nama pemain naturalisasi anyar. Namun dibalik kesan “biasa-biasa saja” itu, daftar ini justru menyimpan kejutan lain, semacam ada aura reuni yang terbungkus nuansa harapan baru. Siapa saja mereka dan bagaimana kiprahnya hingga bisa kembali dipanggil ke Timnas Indonesia?
Wajah Lama dengan Pembuktian Baru
Nama pertama, Stefano Lilipaly. Coba kita bayangkan, bagaimana perasaan Stefano Lilipaly yang sudah dua tahun lebih tak memperkuat Timnas Indonesia akhirnya dipanggil kembali. Padahal pemain keturunan yang pertama kali memperkuat Skuad Garuda pada 2013 lalu ini selalu tampil apik bersama Borneo FC.
Di era Shin Tae-yong, netizen tanah air pun sempat bingung kenapa Lilipaly yang gacor di Liga 1 jarang mendapat kesempatan. Juru taktik asal Korea Selatan itu lebih memilih pemain seperti Hokky Caraka yang penampilannya kerap jadi ejekan dari netizen.
Namun untungnya, Lilipaly tak patah hati dan kehilangan semangat. Jebolan FC Utrecht ini agaknya punya keyakinan yang mantap, kalau performa menterengnya di klub bakal jadi modal besar dan hanya tinggal menunggu waktu untuk kembali membela panji Merah Putih. Terbukti, Patrick Kluivert pun kini tak menutup mata dan memberi kesempatan pembuktian bagi Lilipaly.
Selain eks pemain Bali United, wajah lama lain yang tak kalah antusias dinantikan oleh netizen adalah Yakob dan Yance Sayuri. Di laga kontra Jepang dan Australia lalu, duo saudara kembar dari tanah Papua ini sempat tak dipanggil Kluivert. Namun mentalitas keduanya tak goyah sama sekali.
Yakob dan Yance sukses jadi tulang punggung Malut United. Sumbangan gol dan assist Sayuri bersaudara ini sukses membawa Malut yang baru promosi langsung bertengger di papan atas Liga 1.
Salah satu momen epik Yakob dan Yance musim ini adalah saat mencetak hattrick di laga terpisah. Pada April lalu, Yakob lebih dulu menggemas tiga gol hanya dalam waktu kurang dari 10 menit di laga kontra Persis Solo. Sementara itu, Yance baru saja mencetak hattrick saat laga melawan PSIS Semarang. Sayuri bersaudara juga tampil memukau di laga vs Borneo FC, di mana saat itu mereka disaksikan langsung oleh Alex Pastoor dan Denny Landzaat.
Satu wajah lama lainnya adalah Asnawi Mangkualam. Kita semua sudah tahu kalau pemuda asal Makassar ini merupakan salah satu pemain kesayangan di era Shin Tae-yong. Namun ketika Kluivert tiba, Asnawi mendapati namanya terhapus dari daftar awal. Awak media yang selalu melihat ke mana-mana STY membawa Asnawi pun sempat bertanya, pertimbangan apa yang membuat Kluivert sempat tak mau memanggil Asnawi. Saat itu legenda Barcelona ini tak ada jawaban khusus.
Banyak yang mengira kalau sang kapten Timnas sebelum Jay Idzes ini bakal tergusur selamanya lantaran posisi bek sayap sudah terlalu banyak. Tapi ternyata Asnawi belum habis. Saat tak dipanggil, ia tidak meratap melainkan terus bekerja keras bersama Port FC di Liga Thailand.
Pemain yang pernah memeras keringat di Korea Selatan bersama Ansan Greeners dan Jeonnam Dragons ini kini kembali dipanggil lagi, membawa keterampilan crossing yang terasah dan mental baja yang ditempa di negeri orang.
Namun setelah pemanggilan pertama ini, ada pertanyaan penting yang mesti dijawab: apakah empat nama itu benar-benar akan menembus susunan sebelas pertama, atau sekadar pajangan di bangku cadangan?
Kepercayaan Kedua dan Sejauh Mana Peluang Mereka
Kembalinya Lilipaly, Sayuri bersaudara dan Asnawi Mangkualam ini adalah simbol bahwa kesempatan untuk memperkuat Skuad Garuda selalu terbuka untuk siapa saja. Namun pemanggilan ini juga bukanlah jaminan mutlak bahwa mereka bakal terpakai. Sebab dari 32 nama, ada kemungkinan mereka bakal dicoret dari skuad list akhir.
Patrick Kluivert dan jajaran tim pelatih pastinya sadar betul, pemain yang terpilih haruslah benar-benar berguna untuk kebutuhan tim. Apalagi dua laga di Juni mendatang tidaklah mudah. Untuk melenggang ke panggung Piala Dunia 2026, Timnas Indonesia wajib mengantongi poin sebanyak-banyaknya.
Melawan China peluang meraih tiga poin itu penuh sangat terbuka. Sementara saat bertandang ke Jepang, bisa mencuri satu poin sudah merupakan hasil yang sempurna. Karena itu keempat pendekar ini harus membuktikan kalau mereka layak diberi kesempatan kedua. Yang jelas setiap pemain dipanggil untuk bersaing secara sehat.
Di sektor depan memang ada ada nama yang sulit digeser seperti Ole Romeny, tapi jika Lilipaly mampu menunjukan permainan progresif dan menyalakan kreativitas di sesi gim internal, ia pun berhak menjadi otak serangan dan tumpuan di lini depan.
Begitu juga jika Asnawi memperlihatkan kestabilan saat berduel satu lawan satu, alih-alih Sandy Walsh, Dean James, atau Elliano Reijnders, posisi bek sayap kanan bisa menjadi milik Asnawi. Sama halnya dengan Yakob dengan kecepatan di sisi sayapnya dan Yance dengan naluri menjaga lebar lapangan, keduanya juga punya peluang masuk dalam daftar nama final.
Tentu bakal jadi menarik melihat Yakob kembali menari di sisi kanan, menggiring bola melewati lawan dengan langkah gesit seperti yang ia tunjukan saat memberi assist ke Marselino Ferdinand di laga kontra Irak. Lalu Yance, yang beroperasi sedikit di belakangnya, berlari tanpa lelah mengawal lini pertahanan sembari menyuplai umpan silang. Dua bersaudara itu bagai duet senar yang bakal menghasilkan harmoni indah untuk Timnas Indonesia.
Namun itu hanya dalam benak mimin saja. Imaji ini hanya bakal terjadi kalau nama-nama tersebut bisa terpilih. Sekali lagi, Patrick Kluivert hanya akan memilih pemain yang sekiranya bisa menjawab kebutuhan taktis. Menarik untuk menantikan, siapa yang akhirnya bakal bertahan dan yang tercoret?
Penutup
Sambil menunggu waktu itu tiba, Lilipaly, Asnawi, serta si kembar Sayuri barangkali sudah menyadari satu hal sederhana: bahwa panggilan ini bukan semata hadiah atas performa apik mereka di kancah domestik, melainkan pengingat bahwa kesempatan kedua datang bersama tenggat yang lebih pendek dan tuntutan yang lebih tinggi.
Patrick Kluivert telah membuka pintu, tetapi ia juga memegang kunci untuk menutupnya. Jika empat wajah lama itu ingin terus berdiri di barisan Garuda, mereka harus menunjukan sisi istimewanya. Akankah, di Stadion Utama Gelora Bung Karno dan di negeri Sakura kelak, kita akan melihat Lilipaly kembali beraksi dan mencetak gol emosional seperti yang pernah dilakukannya di Asian Games 2018.
Akankah juga kita melihat Asnawi tampil spartan seperti ketika mengantongi Alejandro Garnacho. Akankah pula duet langka saudara kembar antara Yakob dan Yance akan tersaji? Entah para pemain ini nantinya bakal mencetak gol, membuat blok dan tekel krusial, mengirim umpan manis, dan sebagainya. Atau jika nantinya nasib baik tak berpihak, ya mentok-mentok hanya mendukung dari bangku cadangan atau lebih pahit lagi cuma bersorak memberi dukungan dari tribun. Semuanya masih tanda tanya dan misteri waktu.
Yang tak lagi misteri adalah pesan di balik pemanggilan ini: Lilipaly, Sayuri bersaudara dan Asnawi adalah penanda bahwa pemain yang sempat tersisih belum tentu tamat, tentu karena mereka mau berlatih lebih keras, menolak menyerah, dan karena itu mereka tetap layak dipercaya.
Dan yang jelas pula panggilan ini sesuatu yang telah lama mereka nantikan Mereka memang sempat menghilang dari radar tapi tidak pernah benar-benar tenggelam melainkan berjuang untuk kembali. Dan semua yang mereka perjuangkan itu membawa mereka ke titik semula: memakai seragam merah putih dan menyanyikan Indonesia Raya bersama.


