Bagi pecinta sepakbola, khususnya Spanyol, nama Frederic Kanoute tidaklah asing. Pemain berkewarganegaraan Mali itu pernah moncer bersama Sevilla. Kanoute terlahir dengan nama Frederic Oumar Kanoute di Lyon, 2 September 1977 silam. Meski dilahirkan di Prancis, Kanoute lebih dekat dengan negara asal kedua orang tuanya, Mali.
Setelah berkarir di Lyon, Kanoute lalu melancong ke Inggris. Ia bergabung bersama West Ham United. Di klub tersebut, Kanoute tampil sebanyak 84 pertandingan. Lebih istimewanya lagi, Kanoute juga sukses sarangkan 29 gol selama berseragam The Hammers.
🇲🇱 Frederic Kanoute
👕 @WestHam
🆚 Wimbledon pic.twitter.com/grEPhqhEbN— Premier League (@premierleague) January 25, 2021
Kanoute sebetulnya mulai diperhitungkan di Inggris, andai saja ia tidak memilih meninggalkan West Ham dan bergabung ke Tottenham. Terlebih ketika pindah ke The Lilywhites, karir Kanoute justru mengalami penurunan.
Padahal Tottenham sudah mengeluarkan biaya 54 miliar rupiah waktu itu untuk menebus Kanoute. Namun, ia hanya mampu menciptakan sebanyak 15 gol dalam dua musim lamanya.
Di White Hart Lane, penampilan Kanoute banyak dicemooh. Dia tak lagi menjadi pusat perhatian dan seolah lupa caranya mencetak gol. Meski dalam benaknya dia ingin terus berjuang, namun kesempatan yang minim diberikan membuatnya sulit untuk kembali ke titik keemasan.
Dua musim ia gagal bersaing di skuad Tottenham Hotspurs. Lalu, Kanoute seolah mendapat keberuntungan usai Monchi, direktur olahraga Sevilla, melihat ada sesuatu yang istimewa darinya. Monchi menawari Kanoute yang tengah dirundung pilu, dengan sebuah surat kontrak.
Tanpa pikir panjang, Kanoute langsung menerima tawaran tersebut dan Monchi menjadi orang yang kemudian membawanya berkarir di Andalusia.
Ketika sudah resmi meneken kontrak dengan Sevilla, Kanoute terbilang beruntung karena bisa mencetak gol di laga final Piala Europa tahun 2006 melawan Middlesbrough. Saat itu, Sevilla menang dengan skor telak 4-0. Selama berkarir di klub tersebut, kecuali musim pertamanya dan musim 2008/09, Kanoute selalu mencetak gol lebih dari 20 gol setiap musimnya.
🏆2⃣0⃣0⃣6⃣
ℹ️ Middlesbrough 0-4 Sevilla⚽️ Luís Fabiano
⚽️⚽️ Enzo Maresca
⚽️ Frédéric Kanouté#UEL pic.twitter.com/RuLIwHU85Z— UEFA Europa League (@EuropaLeague) January 25, 2021
Total, 90 gol berhasil ia borong selama tujuh musim berbaju Sevilla. Meski tak menghasilkan sepeserpun uang ketika memilih pindah ke Beijing Guoan, Kanoute telah memberi lebih dari sekadar uang selama pengabdiannya untuk Sevilla.
Ketika masih aktif bermain untuk Sevilla, cerita Kanoute tidak hanya di seputar sepakbola saja. Dia merupakan salah satu pesepakbola Muslim terbaik, yang banyak diperbincangkan menyusul aksi keberaniannya.
Jauh sebelum Mesut Ozil memprotes situasi yang tengah marak di China, Kanoute lebih dulu menjadi pemain yang benar-benar memperjuangkan nama Islam.
Dia memang seorang Mualaf, yang baru masuk Islam sekitar tahun 1997 silam. Akan tetapi, tindakan yang telah ia lakukan banyak membuat orang memberi sanjungan.
Hidup di dunia barat dan bergelut dengan budaya serta kebiasaan yang banyak bertentangan dengan prinsip hidup seorang Muslim, tergolong berat bagi seorang Kanoute. Terlebih ketika dia mendapati dirinya mencari nafkah di dunia sepak bola, satu bidang olahraga yang paling popular di Eropa dan sangat memberi ruang pada kebebasan duniawi.
Tapi sekali lagi, Kanoute tidak pernah sungkan untuk menunjukkan identitas keislamannya, baik itu di luar maupun di dalam lapangan.
Itu bisa dibuktikan ketika dia berhasil mencetak gol. Ia selalu merayakan golnya sebagaimana seorang Muslim. Misalnya, dengan bersujud dan melakukan gerak tangan seperti orang sedang berdoa, menjadi simbol dari selebrasi yang kerap ditonjolkan Kanoute.
Soal selebrasi, Kanoute pernah kena kasus gara-gara melakukan selebrasi yang tidak disukai sebagian pihak. Cerita bermula ketika konflik di jalur Gaza tengah memanas. Dari kejadian itu ribuan rakyat Palestina syahid akibat agresi kaum Yahudi Zionis.
Frédéric Kanouté reveals support for #Palestine after scoring for Sevilla. The $4,000 fine the least of his worries… pic.twitter.com/JVqoA7f2
— Dai Rhys (@Didz1234) April 25, 2012
Kanoute saat itu tercatat sebagai satu-satunya pesepakbola yang menyampaikan simpati dan dukungannya kepada Palestina. Hal itu ditunjukan dengan cara membuka jersey yang dikenakan untuk memperlihatkan kaos dalamnya yang bertuliskan “Palestine” saat pertandingan Sevilla kontra Deportivo La Coruna.
Aksi tersebut ternyata tidak disukai Federasi Sepakbola Spanyol, yang akhirnya menjatuhkan denda kepada Kanoute sebanyak 3000 euro atau sekitar 45 juta rupiah. Ketika dikenai denda, Kanoute tidak mengeluarkan komentar sama sekali. Dia hanya menerima dan langsung membayar denda yang ditetapkan.
Alasannya, Kanoute merasa bahwa setiap perbuatan akan selalu ada resikonya. Dan ketika itu, dia telah menerima resiko tersebut.
Tak hanya itu, dia bahkan pernah menolak untuk menggunakan jersey Sevilla yang disponsori oleh perusahaan judi 888.com. Alasan dia tidak ingin menggunakan jersey tersebut adalah karena sponsor yang digunakan dirasa sangat tidak sejalan dengan nuraninya sebagai seorang pemeluk Islam.
Sempat terjadi konflik karena persoalan tersebut, Kanoute dengan Sevilla akhirnya membuat kesepakatan. Isinya, Kanoute setuju menggunakan jersey dengan sponsor tersebut nama dengan syarat khusus, yaitu dirinya dibebaskan dari berbagai materi promosi yang berhubungan dengan perusahaan 888.com
Meski banyak yang mencela tindakannya dengan dianggap berlebihan dan kekanak-kanakkan, Kanoute sama sekali tidak peduli. Kanoute merasa bahwa dirinya tengah memegang prinsip spiritual yang menjadi jalan hidupnya.
Keteguhannya sebagai seorang Muslim pun kian terbukti ketika dia tetap melakukan ibadah puasa Ramadhan meski harus menjalani pertandingan dengan Sevilla.
Sevilla seolah dijadikannya sebagai ladang jihad. Karena memang, selain memegang teguh nilai Islam di dalam lapangan, Kanoute juga terus berusaha untuk memberi citra positif bagi agama Islam di tengah-tengah mayoritas pemeluk agama lain di Spanyol.
Di Spanyol, Kanoute tinggal di kota dengan sejarah dan pengaruh Islam yang kuat. Ia juga memiliki andil besar dalam mempertahankan sebuah Masjid yang banyak diagungkan. Kanoute yang mengetahui kalau Sevilla ketika itu hanya memiliki satu bangunan masjid yang memadai, berusaha untuk ikut menjaga eksistensinya.
Plaque outside Sevilla mosque pic.twitter.com/0uejFEpIHB
— Maher Mezahi (@MezahiMaher) March 5, 2017
Tahun 2007, ketika masjid yang terletak di Ponce de Leon di Sevilla itu terancam ditutup karena kontrak sewanya sudah berakhir, Kanoute muncul sebagai sosok penyelamat. Saat itu juga, Kanoute mendonasikan sekitar 700 ribu USD atau setara 7 miliar rupiah untuk menyelamatkan masjid tersebut. Uang itu ia dapat dsti hasil jerih payahnya selama setahun.
Berkat jasanya itu, masjid tersebut masih berdiri kokoh dan berjalan di bawah pengelolaan yayasan Muslim, serta tetap aktif menjadi pusat kultur Islam di Andalusia.
Berkat kegigihannya dalam membela Islam, nama Kanoute sampai dimuat dalam artikel yang dirilis oleh The Guardian dengan judul “Fredi Kanoute: ‘Muslims should not have to prove they are not terrorists before talking’” (Fredi Kanoute: Muslim Tak Berkewajiban Membuktikan Diri Jika Mereka Bukanlah Teroris.’)
“Aku tak pernah menyesal menjadi seorang Muslim,”
“Nyaris semua hal buruk yang terjadi di dunia mengatasnamakan Muslim hanya dimanfaatkan untuk keperluan politik.”
“Jika kalian berinteraksi langsung dengan para Muslim di jalan, kalian akan berkesimpulan bahwa Muslim cenderung toleran.”
Kira-kira begitulah kutipan dari Fredi Kanoute pada artikel tersebut.
Setelah memutuskan pensiun dari dunia sepak bola tahun 2013, Kanoute tercatat masih aktif mengelola berbagai yayasan sosial di negaranya. Salah satunya adalah Sakina Children’s Village, yayasan yang berfokus dalam membantu pendidikan anak-anak Muslim kurang beruntung di Mali.
Anak-anak yatim atau yang tidak punya orang tua sama sekali, akan mendapatkan orang tua asuh dan perhatian, serta pembinaan di sana. Kanoute sangat memperhatikan kondisi bangsanya mengingat Mali termasuk dalam tiga Negara termiskin di dunia.


