Di fase gugur Liga Eropa musim 2023/24, tim-tim yang tergolong tim besar masih melaju. Ada dua raksasa Italia, AS Roma dan AC Milan; tim yang baru menjuarai Carabao Cup, Liverpool; tim yang musim lalu meraih Liga Konferensi Eropa, West Ham; hingga tim Jerman yang sedang populer, Bayer Leverkusen.
Menariknya, tim-tim besar tidak ada yang saling tikam di babak 16 besar. Hal itu membuka peluang terjadinya final yang diidam-idamkan banyak orang. Nah, berikut ini adalah final yang bisa saja terjadi di Liga Eropa musim ini.
Daftar Isi
Liverpool vs AC Milan
Sang juara Piala Liga Inggris, Liverpool akan menjadi unggulan di kompetisi ini. Salah satu lawan yang sepadan untuk bertikai di final dengan Liverpool adalah AC Milan.
AC Milan vs Liverpool akan menjadi final yang tidak hanya sarat akan gengsi, tapi juga bersejarah. Kita akan melihat final UCL 2005 dan 2007 terulang kembali, tapi di kompetisi kasta kedua.
Rossoneri punya kenangan buruk saat bertemu Liverpool di Istanbul. Dan itu adalah kekalahan yang tampak menjadikan AC Milan tim pecundang. Tim Milan 2005 diisi para mega bintang.
Selain Carlo Ancelotti di balik kemudi, sebagian besar pemain yang turun sudah menjuarai Liga Champions dua tahun sebelumnya. Belum lagi il Diavolo Rosso juga dihuni juara Piala Dunia: Cafu, Dida, dan Kaka. Belum termasuk para bintang Italia seperti Paolo Maldini, Andrea Pirlo, Gattuso, hingga Costacurta.
Benar saja, Milan unggul mudah di babak pertama dengan skor yang luar biasa menyayat hati (3-0). Namun, sepak bola bukan hanya dimainkan satu babak. Setelah jeda Liverpool tampil dengan wajah yang berbeda. Menit 54, kapten muda Steven Gerrard memperkecil ketertinggalan menjadi 3-1. Dua menit berselang giliran Vladimir Smicer mengurangi defisit skor menjadi 3-2.
#OnThisDay in 2005
— Tribun Liverpool Indonesia (@TribunLFC_Indo) May 25, 2020
Liverpool sukses membuat dunia takjub dgn usaha dan kerja keras yang akhirnya bisa comeback pada final UCL saat melawan Ac milan di istanbul.
Sempat tertinggal 3-0, liverpool berhasil menyamakan skor di babak kedua dalam waktu 6 menit.
MIRACLE OF ISTANBUL 🤘🏆 pic.twitter.com/zVYqY8rizb
Milan terguncang, begitu pula pendukungnya. Mereka masih unggul, tapi denyar kekhawatiran masih terasa dalam dada. Hanya butuh lima menit usai gol kedua, Xabi Alonso membuat Stadion Attaturk bergetar.
Malam itu mental para pemain Milan runtuh. Andrea Pirlo yang biasanya tenang, gagal mengeksekusi penalti. Milan pun dipaksa menyerah di babak adu penalti. Dua tahun kemudian kedua tim bertemu lagi. Dengan juru taktik yang sama: Ancelotti dan Benitez. Dengan skuad yang sebagian besar sama.
Namun, kali ini tempatnya yang berbeda. Tidak di Istanbul, melainkan Athena. Bermain di tanah para filsuf, AC Milan mengemban misi balas dendam. Di sisi lain, keyakinan fans Liverpool masih terpelihara. Mereka yakin Liverpool akan mengulangi kesuksesan dua tahun lalu.
Tensi laga sudah memanas dari sepak mula. Jual-beli serangan terjadi. Liverpool mengandalkan serangan balik, sedangkan Milan dengan senang hati mengontrol permainan. Tak ada satu gol hingga jelang babak pertama usai.
Namun, sebelum benar-benar selesai, Milan mendapat kesempatan tendangan bebas. Pirlo mengambil kesempatan itu. Reina bergerak ke arah tembakan Pirlo. Tapi bola yang mengenai Filippo Inzaghi membuat Reina tampak bodoh.
Milan memimpin 1-0 di paruh pertama. Di babak kedua giliran Liverpool yang berinisiatif menguasai bola. Tentu demi mencari gol penyeimbang. Namun, Milan kini tak mudah dibobol.
Justru delapan menit jelang laga bubar, Reina kembali diperdaya oleh Pippo. Dua gol Inzaghi pada akhirnya cuma bisa dibalas satu gol oleh Dirk Kuyt. Kisah dua final UCL itu akan menjadi bumbu apabila Liverpool kembali bertemu Milan di final Liga Eropa musim ini.
AC Milan vs AS Roma
Salah satu yang cukup dirindukan di final kompetisi Eropa adalah terjadinya All Italian Final. Baik di Liga Champions maupun Liga Eropa, All Italian Final jarang terjadi. Bahkan sejak kompetisi ini bernama Europa League tidak pernah ada dua tim Italia melaju ke final.
Terakhir kali kedua tim Italia bertemu di final adalah di UEFA Cup musim 1997/98. Kala itu Inter sukses menenggelamkan Lazio lewat skor keparat, 3-0. Sementara di Liga Champions, terakhir kali mempertemukan dua tim Italia di final adalah tahun 2003, kala AC Milan mati-matian merebut gelar melawan Juventus di Old Trafford.
🇧🇷 Ronaldo vs Lazio, 1998 UEFA Cup final 🔥#ThrowbackThursday | @Inter pic.twitter.com/mMrpb44cVr
— UEFA Europa League (@EuropaLeague) January 9, 2020
Musim ini kesempatan terjadinya All Italian Final di Liga Eropa terbuka. Dan dua kandidat paling meyakinkan sampai ke sana adalah AS Roma dan AC Milan. Coba bayangkan, ini akan jadi All Italian Final pertama di Europa League! Selain itu ini akan menjadi pertarungan dua kota besar di Italia.
Kedua tim juga sama sekali belum pernah meraih gelar Liga Eropa. Kendati demikian, keduanya punya modal trofi di kompetisi Eropa. Giallorossi dengan trofi Liga Konferensi dan Milan tentu saja dengan tujuh gelar UCL-nya.
Liverpool vs Bayer Leverkusen
Selain Liverpool vs AC Milan yang menciptakan nostalgia, Liverpool vs Bayer Leverkusen juga akan menjadi final paling dinantikan. Tentu saja karena sosok Xabi Alonso di sana. Alonso berada di persilangan antara Leverkusen dan Liverpool.
Belakangan ini ia gencar diisukan menjadi penerus supremasi Jurgen Klopp. Liverpool bahkan sudah bergerak untuk melancarkan bujuk rayu pada Alonso. Selain itu, jika ini terjadi dan apabila belum dipecat, Alonso untuk pertama kali akan menghadapi Liverpool, termasuk kala masih bermain.
Selama melatih Leverkusen, kecuali Munchen, Alonso juga belum pernah melawan mantan timnya yang lain. Ini juga bisa menjadi semacam uji kelayakan bagi Xabi Alonso. Apakah ia pantas menggantikan Klopp?
🚨 UPDATE: Liverpool kini telah melakukan kontak dengan agen Xabi Alonso.
— Liverpool Garis Keras – LGK (@id_lgk) February 28, 2024
Bos Leverkusen telah diberitahu dan yakin dia (Xabi) akan menolak tawaran dari Liverpool.
📝 [@cfbayern]
*Affah iyaahh bang jurnalis bayern?🤣 pic.twitter.com/6DwpUffHrd
Namun, di sisi lain laga ini akan menjadi rumit sekaligus sentimentil bagi fans Liverpool. Mereka ingin menyaksikan betapa hebatnya calon pengganti Klopp, tapi di satu sisi tak mau timnya dipecundangi Leverkusen.
Secara rekam jejak, kedua tim jarang bertemu. Hanya empat kali mereka berjumpa satu sama lain. Pertemuan terakhir terjadi di babak 16 besar Liga Champions musim 2004/05 di Jerman. Kala itu, Leverkusen kalah telak 3-1. Jadi, fans Liverpool siap jika dua tim ini bertemu di final?
AS Roma vs Bayer Leverkusen
Di Liga Eropa, Alonso sebetulnya pernah membawa timnya melaju hingga semifinal. Tapi taktik parkir pesawat Jose Mourinho membuat asa Leverkusen ke final roboh. Mourinho yang kala itu menukangi AS Roma mengajari bagaimana caranya memenangkan pertandingan.
Dalam dua leg, Giallorossi bertahan total dengan bek-bek mereka yang agresif memotong umpan. Leverkusen yang selalu cair dalam melakukan penguasaan bola sampai bingung, ini gimana nembusnya? Di leg pertama anak asuh Alonso berkali-kali coba menembusnya, tapi sangat sulit.
Malahan Roma yang berhasil mencuri gol di menit 63 lewat Edoardo Bove. Setelah itu, seperti yang sudah-sudah, Roma berusaha semaksimal mungkin tidak kebobolan. Di leg kedua di Jerman, Mourinho sama sekali tak peduli bagaimana supaya mencetak gol.
Satu-satunya yang ia pedulikan adalah bagaimana agar tidak kebobolan. Dan benar, di leg kedua, Roma cuma melepas satu tembakan. Itu pun tidak tepat sasaran. Mungkin banyak yang tak suka dengan taktik seperti ini.
Bayer Leverkusen stats vs AS Roma 😳🙆🏾♂️
— Pulse Sports Nigeria (@PulseSportsNG) May 18, 2023
⚽ Shots: 23 – 1
🥅 Shots off target: 9 – 1
🛡 Blocked shots: 8 – 0
🎯 Shots on target: 6 – 0
📊 Possession: 71.7% – 28.3%
📍 Corners: 5 – 1
Is Mourinho the best defensive coach in world football? 🤔#PulseSportsNigeria #EuropaLeague pic.twitter.com/SAGR9zeyF8
Namun sepak bola bukan cuma mencetak gol, tapi juga bagaimana agar tidak kebobolan. Roma pun menang dengan taktik semacam itu. Nah, jika bertemu Roma lagi, ini akan jadi arena balas dendam bagi Xabi Alonso. Mumpung Roma tak lagi dilatih Mourinho. Etapi, Roma di tangan Daniele De Rossi juga sedang dalam tren positif. Nah, lho!
Bayer Leverkusen vs Brighton
Selain Liverpool dan West Ham, ada satu lagi tim Inggris yang masih melaju. Ia adalah Brighton and Hove Albion. Meski bukan tim kuat, Brighton bisa saja mengejutkan dan boleh jadi malah bisa melangkah ke final Liga Eropa musim ini. Apalagi orang di baliknya adalah Roberto De Zerbi.
Coba bayangkan jika Brighton masuk final dan musuh yang dihadapi adalah Bayer Leverkusen. Wah, sudah pasti ini akan menjadi tontonan yang lebih menghibur dari Ikatan Cinta. Kita akan menonton sepak bola indah yang sesungguhnya. Betapa tidak? Dua pelatih mazhab penguasaan bola bertemu, je!
Laga ini tak ubahnya seperti sabung ayam di pasar. Orang-orang akan melihat dua pelatih paling laris saat ini beradu taktik di atas lapangan. Menariknya lagi, De Zerbi dan Alonso adalah dua pelatih yang sama-sama diincar Liverpool.
"The two candidates for me are Xabi Alonso and Roberto De Zerbi"
— Sky Sports News (@SkySportsNews) February 26, 2024
Former Liverpool defender Stephen Warnock discusses who he'd like to replace Jurgen Klopp as manager 🔴 pic.twitter.com/1PWIgbukR2
Keduanya juga belajar dari guru yang sama. Laga ini juga akan menjadi pembuktian bagi keduanya. Mana pelatih generasi baru terhebat, Xabi Alonso atau Roberto De Zerbi.
Well, dari final-final tadi, mana kira-kira yang berpotensi besar terwujud dan mana yang ingin kalian tonton, football lovers?
Sumber: CNN, PlanetFootball, EuroSport, SempreMilan, RomaPress, UEFA, Hayters


