Ditinggal Pas Lagi Sayang-Sayangnya, Apa Alasan Para Pelatih Ini Memilih Pergi?

  • Whatsapp
Ditinggal Pas Lagi Sayang Sayangnya, Apa Alasan Para Pelatih Ini Memilih Pergi
Ditinggal Pas Lagi Sayang Sayangnya, Apa Alasan Para Pelatih Ini Memilih Pergi

Musim 2020/21 memang penuh kejutan. Selain banyak juara baru di liga-liga top Eropa, ada juga sejumlah keputusan pelatih yang benar-benar membuat terkejut khalayak. Ya, banyak pelatih yang memutuskan untuk pergi, bahkan setelah mereka berhasil mengantar klub yang dibesutnya meraih gelar juara.

Kira-kira siapa sajakah pelatih tersebut? Berikut kami berikan daftarnya.

Hansi Flick (FC Bayern)

Meski tidak terjadi baru-baru ini, keputusan pengunduran diri Hansi Flick dari FC Bayern banyak membuat publik terkejut. Betapa tidak, Hansi Flick merupakan pelatih yang selama ini disebut serasi dengan Bayern. Bahkan, pria 56 tahun tersebut berhasil membawa Bayern meraih tiga gelar dalam satu kompetisi, untuk kedua kalinya.

Hansi Flick mengumumkan bahwa dirinya telah mundur dari kursi kepelatihan Bayern sejak April lalu, meski sejatinya dia baru benar-benar pergi setelah musim ini resmi berakhir. Posisinya sendiri sudah digantikan oleh pelatih muda berbakat, Julian Nagelsmann.

Flick mengumumkan pengunduran dirinya setelah dirinya berhasil membawa Bayern menekuk Wolfsburg dengan skor 3-2. Dalam pernyataan yang dirilis, Flick mengaku senang karena telah menjadi bagian dari era kesuksesan Bayern. Dia senang dan juga merasa bahwa hal ini harus diberitahukan secara langsung kepada manajemen klub.

Awalnya banyak yang menyebut bila alasan pengunduran diri Flick terjadi karena dia berselisih dengan Direktur Olahraga Hasan Salihamidzic. Namun jurnalis kenamaan asal Italia, Fabrizio Romano, lantas mengonfirmasi bahwa keputusan Flick untuk berhenti melatih Bayern adalah karena dia ingin mengambil pekerjaan sebagai pelatih timnas Jerman. Hal itu terjadi karena sebelumnya, Joachim Low telah menyatakan bahwa dia akan segera cabut dari kursi pelatih Jerman usai gelaran Piala Eropa 2020.

Christophe Galtier (Lille)

Ligue One Prancis musim 2020/21 juga memberi kabar yang tak kalah mengejutkan. Pertama, mereka kedatangan juara baru, yaitu Lille, yang berhasil memutus dominasi Paris Saint Germain selama kurang lebih sepuluh tahun terakhir. Berikutnya, ketika para penggemar terus memuji kinerja pelatih Christophe Galtier yang berhasil membawa tim kesayangannya juara, mereka justru harus merasakan pilu, setelah sang pelatih putuskan untuk pergi di masa akhir kontraknya.

Kabar ini jelas bukan kabar biasa. Bagaimana bisa seorang pelatih yang berhasil memberikan trofi juara malah menolak untuk bertahan?

Christophe Galtier sudah empat tahun membesut Lille. Ketika itu, Galtier didatangkan untuk menyelamatkan Lille dari jerat degradasi. Misi tersebut pada akhirnya sukses sebelum empat tahun berselang, dia malah berhasil sumbangkan trofi liga. Namun sekali lagi, hal tersebut ternyata tidak membuatnya ingin lanjutkan karir bersama Lille.

Tidak ditemukan alasan yang memuaskan dari keputusan mundurnya Galtier, namun yang pasti, dia sudah merasa cukup menjalani karir bersama Lille. Lebih dari itu, dia menganggap bahwa inilah momen yang tepat untuk pergi meninggalkan Lille.

“Ini saatnya meninggalkan Lille,”

“Aku menemukan keyakinan sederhana bahwa waktu ku di sini sudah cukup . Aku merasa ini saatnya untuk meninggalkan klub yang indah dan luar biasa ini,” ujar Galtier.

Selanjutnya, ketika banyak yang bertanya kemana dia akan lanjutkan langkah, Galtier tidak memberikan respon apapun. Yang terdengar hanya kabar bahwa sejumlah klub seperti Olympique Lyon dan OGC Nice tertarik untuk mendapatkan tanda tangannya.

Antonio Conte (Inter Milan)

Serie A Italia juga berhasil memunculkan juara baru, setelah Inter Milan muncul sebagai kekuatan tak terhentikan usai kandaskan dominasi Juventus.

Dalam kurun waktu sepuluh tahun lamanya, Inter yang sebelumnya sama sekali tidak pernah meraih trofi, kini bisa sedikit berbangga. Dibawah arahan pelatih Antonio Conte, Inter sukses tuntaskan misi untuk kembali berjaya di kompetisi domestik.

Namun yang mengejutkan adalah, bukannya mempertahankan pelatih yang memberinya gelar juara, Inter justru mengumumkan bahwa mereka sudah tidak lagi bekerja sama dengan pelatih asal Italia itu. Sontak, banyak yang terkejut dan mempertanyakan apa alasan Inter membuat keputusan tersebut.

Setelah ditelusuri, ternyata memang benar bila kepergian Conte dari Inter adalah karena keputusan bersama. Dalam hal ini, Conte mengaku tidak mampu bertahan dengan kebijakan baru yang diterapkan klub. Seperti diketahui, Conte akan memangkas sejumlah gaji pemain sekaligus bakal menjual beberapa pemain intinya. Hal itu dilakukan karena Inter tengah alami masalah financial. Mereka dituntut untuk mendapatkan dana besar secepat mungkin demi menyeimbangkan neraca keuangan.

Di sisi lain, Conte justru ingin Inter memberinya dana untuk digunakan sebagai jaminan dirinya datangkan pemain anyar. Conte ingin Inter menambah kekuatan bila ingin berjaya di Eropa. Dari situlah, kedua belah pihak merasa sudah tidak sejalan. Lalu, daripada timbulkan masalah nantinya, Conte memutuskan untuk benar-benar pergi dari klub yang baru dibawanya juara itu.

Carlo Ancelotti (Everton)

Kabar yang tak kalah mengejutkan juga datang dari tanah britania. Adalah Carlo Ancelotti. Pelatih yang tangani Everton itu tiba-tiba memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai juru taktik The Toffees demi bergabung dengan tim yang pernah ditanganinya pada tahun 2013 sampai 2015 silam, Real Madrid.

Banyak sekali penggemar Everton yang kecewa. Hal tersebut tentu terasa sangat wajar. Pasalnya, Ancelotti disiapkan sebagai pelatih yang menjadi bagian dari proyek besar Everton. Bahkan, Ancelotti sudah berhasil mendatangkan sejumlah pemain incarannya untuk memperkuat Everton. Sebut saja Allan sampai James Rodriguez.

Dua pemain tersebut bersedia gabung dengan Everton karena terdapat sosok Ancelotti disana.

Namun kini, Ancelotti malah pergi. Dia mengundurkan diri dan langsung menandatangani kontrak dengan Real Madrid. Setelah ditanya, Ancelotti menjelaskan alasan mengapa dia memutuskan pergi dari Goodison Park.

Sejatinya Ancelotti sangat menikmati pekerjaannya di Everton. Namun dia lantas mengatakan bahwa tiba-tiba ada tawaran tak terduga datang. Tawaran tersebut tentu datang dari Real Madrid. Ancelotti mengaku ingin menerima tantangan sekali lagi untuk membawa Real Madrid ke panggung juara.

“Aku memutuskan untuk pergi karena aku memiliki tantangan baru dengan tim yang selalu ada dihatiku, Real Madrid,”

Zinedine Zidane (Real Madrid)

Selain nama pelatih yang telah disebut, kepergian Zinedine Zidane tak kalah menghebohkan. Ini adalah kedua kalinya pelatih asal Prancis itu putuskan untuk tinggalkan Madrid. Sebelumnya, dia sempat tinggalkan Madrid pada tahun 2018 karena menganggap bahwa klub telah membatasi geraknya.

Kemudian, pada tahun 2019, Zidane kembali ditunjuk sebagai pelatih el Real untuk menggantikan posisi Santiago Solari yang dianggap gagal membawa tim tampil konsisten. Keputusan untuk kembali mendatangkan Zidane tentu bukan tanpa alasan. Dia dianggap sebagai pelatih kualitas tinggi yang sebelumnya sukses berikan tiga trofi Liga Champions secara beruntun.

Saat kembali melatih el Real, Zidane bahkan berhasil berikan trofi La Liga. Namun kini, seperti yang sudah dijelaskan, dia kembali pergi dan menyatakan bahwa keputusan ini murni karena kesepakatan kedua belah pihak.

Setelah sempat bungkam, Zidane akhirnya buka suara. Dia menjelaskan alasan mengapa tinggalkan Madrid. Menurutnya, Real Madrid memiliki pandangan yang sudah tidak sejalan dengan dirinya. Lebih lanjut, Zidane merasa kesal karena terus mendapat kabar bila dirinya akan segera dipecat bila gagal memenangkan pertandingan tertentu.

Dalam situasi tersebut, Zidane merasa bila dirinya hanya dipuji ketika ciptakan prestasi, namun diacuhkan begitu saja ketika gagal berikan kemenangan.

“Aku pergi karena merasa klub sudah tidak lagi mempercayaiku, atau memberi dukungan untuk membangun sesuatu dalam jangka menengah atau panjang,”

“Hal yang sangat penting telah dilupakan, semua yang aku bangun sehari-hari telah dilupakan, apa yang aku bawa ke dalam hubungan ku dengan para pemain, dengan 150 orang yang bekerja dengan dan di tim, semua lenyap begitu saja” jelas Zidane.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *