Dipecatnya Graham Potter Menandai Proyek Ngawur Chelsea

spot_img

Ada dua hal di dunia ini yang sulit dimengerti. Pertama, perempuan. Lalu yang kedua, Chelsea di era Todd Boehly. Sedang asyik masyuk melatih Chelsea. Membangun filosofi sepak bola di Stamford Bridge. Dan tentu saja mengikuti kemauan sang pemilik. Namun, tak membuat Graham Potter punya nasib yang lebih cerah daripada pelatih sebelumnya.

Dia diberhentikan alias dipecat. Ya, ini bukan sebuah gurauan. Kekalahan dari Aston Villa menjadi laga terakhir Graham Potter di Chelsea. Pelatih yang membangun reputasinya bersama Brighton and Hove Albion itu bisa jadi rusak citranya setelah pemecatan tersebut.

Tapi mengapa? Apa yang bikin Graham Potter mesti dipecat secara brutal? Kalau mau mengikuti yang sudah-sudah, Potter toh bukan pelatih yang neko-neko. Dia setidaknya berbeda dengan Thomas Tuchel yang kepala batu.

Graham Potter Pantas Dipecat?

Terlepas dari pemecatan tersebut, sejatinya Graham Potter memang pantas untuk melatih tim. Tapi bukan Chelsea, melainkan tim lain yang levelnya setingkat Brighton and Hove Albion. Chelsea terlalu besar untuk Graham Potter. Ini bukan berarti Potter tidak bagus dalam melatih.

Semua sepakat Potter adalah pelatih yang hebat. Pelatih yang punya gaya permainan atraktif. Pelatih yang juga sangat cocok ditunjuk untuk proyek jangka panjang. Tapi buat melatih The Blues, maqam Graham Potter belum sampai ke sana.

Terlalu tinggi tekanan di klub besar. Meski dijanjikan proyek jangka panjang, tapi kalau tak ada tanda perkembangan, siap-siap bakal diusir. Chelsea kan memang begitu. Apalagi selama menukangi Chelsea, Potter tak menunjukkan kiprah yang baik. Walaupun di awal cukup mengesankan.

Jika dibandingkan dengan pelatih lain yang pernah menukangi Chelsea, Potter punya catatan poin per game terendah, yaitu 1,42 dari 31 laga. Itu bahkan jauh lebih kecil dari salah satu periode buruk Chelsea di bawah Andre Villas-Boas yang rata-rata poin per game-nya 1,75 dari 40 laga.

Tentu dasar itu saja kurang kuat karena ada perbedaan jumlah laga. Namun jika mengacu pada pemerosotan jelang dipecat, Potter juga lebih kentara. Dalam 12 laga sebelum dipecat, Potter hanya memenangkan empat laga dan kalah di empat laga lainnya.

Sementara dalam 12 laga sebelum didepak, Thomas Tuchel dan Frank Lampard memenangkan lima laga. Sarri dan Antonio Conte bahkan masing-masing memenangkan enam dan tujuh laga.

Tampaknya cuma Jose Mourinho yang lebih buruk dari Graham Potter. Sebab jelang pemecatannya di periode kedua, Mourinho hanya mengantarkan Chelsea menang empat kali dan kalah lima kali dalam 12 laga terakhir.

Selain itu, dilansir Goal, situasi kemarahan di ruang ganti juga disinyalir mendorong pemecatan Graham Potter. Namun, di sisi lain pemecatan Graham Potter bisa jadi menunjukkan ada yang salah dari proyek Chelsea.

Kedatangan Todd Boehly Mengacaukan Segalanya

Situasi sulit ini diawali ketika Roman Abramovich terpaksa harus menjual Chelsea. Dan konsorsium dari Amerika Serikat yang dipimpin Todd Boehly mengakuisisi klub London tersebut. Sejak saat itu wajah Chelsea berubah.

Thomas Tuchel menjadi korban. Dia dipecat lalu menyusul Marina Granovskaia bersama gerbongnya termasuk Petr Cech hengkang. Tak sampai di bagian kepelatihan dan perekrutan saja. Kekejaman Todd Boehly juga dirasakan anggota staf klub lainnya.

Kepala Fisioterapi Chelsea, Thierry Laurent yang sudah bekerja selama 17 tahun diberhentikan oleh Todd Boehly. Lucunya, Laurent dipecat dengan cara yang tidak terhormat via panggilan Zoom singkat, sebagaimana dilaporkan Daily Mail.

Selain kepala fisioterapi, Direktur Medis, dr. Paco Biosca yang sudah mengabdi selama 11 tahun juga dipecat oleh Todd Boehly. Pria kelahiran 1973 itu tampaknya berhasrat merombak total Chelsea. Dia tak sudi “antek” Roman Abramovich ada di timnya. Namun, tindakannya itu justru menimbulkan kritik.

Direktur Olahraga Mainz, Christian Heidel pernah mengecam keputusan Boehly memecat Tuchel. Dilansir Goal, Heidel mengatakan, Chelsea akan menyesal memecat Thomas Tuchel. Chelsea, kata Heidel, tidak akan mendapatkan pelatih sehebat dia lagi dengan cepat.

Rencana Boehly yang Bisnis Terus, Bisnis Ajah

Seperti kentut di siang hari, kritik-kritik yang bermunculan tak dipedulikan Boehly. Setelah memecat Tuchel bersama antek-anteknya, Boehly mendapatkan Graham Potter di kursi pelatih. Dia lantas mencari sosok untuk jabatan sporting director.

Seolah tak ada yang ingin bekerja sama dengannya. Para kandidat kuat yang sejatinya diinginkan Boehly untuk jadi direktur olahraga undur diri. Mulai dari Luis Campos sampai Michael Edwards. Sempat diambil alih sendiri, pada akhirnya Laurent Stewart dan Paul Winstanley ditunjuk sebagai direktur olahraga yang baru.

Nah, sampai di sini Boehly mulai terbuka membicarakan proyeknya di Chelsea. Betul, ada proyek yang berkaitan dengan sepak bola. Dilansir Mirror, Boehly ingin menciptakan jaringan olahraga, sehingga mudah untuk mengakomodasi bakat muda. Boehly ingin meniru City Football Group.

Apa pun itu, garis besar rencana Boehly adalah membentuk Chelsea sebagai merek global. Tentu saja untuk bisnis. Melalui Chelsea dia ingin merancang jaringan bisnis raksasa.

Gelontoran Banyak Uang

Nafsu manusia sulit terbendung. Setelah mengakuisisi Chelsea dan mendepak orang-orang yang perlu didepak, Boehly menggelontorkan banyak uang untuk Chelsea. Musim ini Chelsea pun belanja besar-besar. Gengsi Todd Boehly sepertinya tak tertolong.

Dilaporkan Deloitte seperti dikutip Added Minutes, total belanja klub Premier League musim 2022/23 musim ini adalah 2,8 miliar poundsterling (Rp51,8 triliun). Chelsea berada di urutan teratas dengan mengeluarkan 546,1 juta poundsterling (Rp10,1 triliun). Angka itu jauh lebih banyak dari MU (217,3 juta pounds) dan Manchester City (134,4 juta pounds).

Ironisnya, dengan biaya sebanyak itu, Chelsea malah terpuruk. Sampai pada dipecatnya Graham Potter, The Blues masih berkutat di papan tengah klasemen saat tim seperti Newcastle United sedang berebut jatah Liga Champions.

Cocot Boehly Tak Konsisten

Dalam menakhodai Chelsea, Todd Boehly sepertinya menggunakan jurus yang kalau dalam istilah orang Jawa disebut cocot kencono. Asal ngomong saja. Sementara praktiknya masih jauh panggang dari api. Misalnya soal pemain muda. Boehly katanya berniat untuk mengembangkan pemain muda.

Tapi kenyataannya dia malah mengangkut banyak pemain muda. Wesley Fofana, Noni Madueke, Benoit Badiashile, Gabriel Slonina, Enzo Fernandez, Mykhailo Mudryk, sampai Carney Chukwuemeka semuanya diangkut. Bahkan dengan biaya yang mendekati 400 juta poundsterling (Rp7,4 triliun).

Pembelian para pemain muda ini justru bisa berdampak pada pemain akademi. Pemain dari Cobham makin kesulitan bersaing. Sudahlah harus bersaing dengan yang lebih senior, ini bersaing dengan pemain muda lainnya yang tentu saja, harganya lebih mahal.

Soal Graham Potter, Boehly juga mengingkari omongannya sendiri. Dulu ketika ditunjuk, Potter akan diberikan kesempatan untuk membangun Chelsea. Potter ditunjuk untuk rencana jangka panjang. Kontraknya saja lima tahun dengan jaminan kesabaran dan dukungan. Tapi setahun saja belum sudah dipecat.

Kepala penulis bola BBC, Phil McNulty menulis, pemecatan Potter makin memperlihatkan bahwa Chelsea tak punya rencana. Semua yang direncanakan Boehly pepesan kosong belaka.

Selain itu, pemecatan Potter menunjukkan era Boehly lebih parah dari Abramovich. Sebab selama kepemimpinan orang Rusia itu, Chelsea tidak pernah memecat lebih dari satu pelatih dalam semusim.

Kini, Esok, dan Nanti

Perjuangan Potter diteruskan oleh Bruno Saltor. Chelsea dan Todd Boehly rupanya tidak mau terburu-buru untuk merekrut pelatih baru. Meski nama-nama besar seperti Julian Nagelsmann, Zinedine Zidane, sampai Pochettino dirumorkan akan melatih Chelsea.

Namun, yang jadi persoalan bukan siapa yang akan melatih. Tapi bagaimana pemilik bersikap. Kalau cara-cara lama masih saja dipakai, sampai satu hari menjelang kiamat pun, Chelsea tetap sama. Seperti apa yang ditulis Phil McNulty, Boehly tidak hanya harus mengambil keputusan besar, tapi juga benar.

https://youtu.be/c7y5eOJznI4

Sumber: CNN, Goal, Kumparan, SportingNews, Express, TheAthletic, TheAthletic2, ChelseaFC

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru