Dibalik Sepinya Bursa Transfer Liga Inggris di Januari 2024

spot_img

Saking sunyinya bursa transfer musim dingin kali ini, BRfootball sampai membuat animasi tentang betapa gabutnya para ahli transfer macam Fabrizio Romano dan David Ornstein. Dalam video tersebut, keduanya menjalani hari-hari yang membosankan karena minimnya kesepakatan yang terjadi.

Padahal biasanya mereka disibukan dengan pergerakan bursa transfer dari liga-liga top terutama Liga Inggris. Tapi, kali ini Liga Inggris seperti enggan untuk menunjukan kekuatan finansialnya. Bahkan, BRfootball berani mencap kalau bursa transfer kali ini jadi bursa transfer paling buruk yang pernah ada. Lantas, mengapa hal ini terjadi?

Perbandingan Dengan Musim Lalu

Sebetulnya, sepinya bursa transfer tak hanya terjadi di Liga Inggris saja. Di berbagai kompetisi level atas lainnya pun demikian. Namun, karena Liga Inggris jadi kompetisi paling populer dan selalu menjadi destinasi favorit dari pemain-pemain bintang, maka kita akan mengambil contoh dari kompetisi yang memiliki logo kepala singa ini.

Selain itu, dalam beberapa tahun terakhir Liga Inggris memang telah membangun reputasi sebagai kompetisi yang boros dalam hal mendatangkan pemain. Sebagai perbandingan saja, Januari tahun 2023 jadi salah satu bursa transfer musim dingin terhebat di Liga Inggris. Di periode itu, bursa transfer terasa seperti festival kepindahan pemain. Karena memang sebanyak itu kesepakatan yang tercipta.

Apabila ditinjau dari situs Transfermarkt, setidaknya ada ratusan transaksi yang terjadi hanya dalam satu bulan saja. Dengan rincian ada 104 pemain yang didatangkan dan ada 88 pemain yang dilepas oleh klub Liga Inggris. Itu angka yang gila jika dibandingkan dengan Januari tahun 2024. Di edisi kali ini hanya ada 74 kedatangan termasuk pemain-pemain yang dipulangkan dari masa peminjaman.

Klub Liga Inggris tercatat justru lebih sering melepas pemain. Di Januari 2024, mereka telah melepas setidaknya 94 pemain. Entah dengan kesepakatan permanen atau pinjaman. Secara pengeluaran pun menurun drastis. Menurut Transfermarkt, Januari musim lalu Liga Inggris menggelontorkan dana untuk mendatangkan pemain sekitar 842,5 juta euro atau Rp14,3 triliun.

Sementara tahun ini, Liga Inggris hanya mengeluarkan dana sebanyak 121 juta euro atau Rp2 triliun saja. Perbedaaan angka pengeluaran ini menunjukan bahwa ada penurunan yang begitu drastis. 

Gara-gara Klub Big Six

Fenomena ini bahkan membuat beberapa peneliti tak bisa diam begitu saja. Mereka ternyata juga penasaran mengapa klub-klub Inggris berat untuk mengeluarkan uang di Januari. Menurut laporan Deloitte Sports Business Group, pada Januari 2024 tim-tim Liga Inggris hanya mengeluarkan 121 juta euro dalam aktivitas transfer. Itu menjadi angka pengeluaran terendah Liga Inggris dalam tiga tahun terakhir.

Nah, penyebab yang paling mempengaruhi pengeluaran dalam belanja pemain adalah pergerakan dari klub-klub Big Six. Mereka seakan tak mau membuat jempol Fabrizio Romano kram karena terlalu banyak ngetik “Here We Go”.

Tercatat, Tottenham jadi tim yang melakukan pembelian termahal di bursa transfer musim dingin kali ini. Ange Postecoglou yang membaca adanya permasalahan di sektor pemain belakang, mendatangkan bek Rumania berusia 21 tahun, Radu Dragusin dari Genoa dengan bandrol 25 juta euro (Rp424 miliar).

Pemain termahal kedua justru datang dari klub Crystal Palace. Mereka mendatangkan Adam Wharton yang dibeli dari Blackburn Rovers dengan bandrol 21 juta euro (Rp356 miliar). Selain dua pemain itu, paling ya ada si Claudio Echeverri. Pemain muda yang didatangkan Manchester City dari River Plate.

Pemuda 18 tahun itu ditebus City dengan bandrol sekitar 14 juta euro atau Rp237 miliar. Namun, ia tak langsung bergabung dengan City. Echeverri kembali dipinjamkan ke River Plate hingga Januari musim depan. Klub lain ada yang melakukan transfer, tapi cuma pemain-pemain murah di bawah 10 juta euro.

Sementara di periode yang sama musim lalu, Liga Inggris benar-benar gila dalam mendatangkan pemain. Geliat transfer yang paling mencolok dilakukan oleh Chelsea. Bayangkan saja, transfer yang melibatkan ratusan juta euro saat mendatangkan Enzo Fernandez dan Mikhaylo Mudryk terjadi di waktu yang sesingkat itu.

Pinjam atau Meminjamkan

Januari kali ini klub-klub besar Liga Inggris justru lebih memprioritaskan kesepakatan pinjaman. Seperti yang dilakukan Tottenham kala meminjam Timo Werner dari RB Leipzig. Upaya ini dilakukan untuk mengatasi permasalahan yang bersifat tentatif. Ia didatangkan untuk menggantikan Son Heung-min yang masih berada di Qatar bersama Timnas Korea Selatan.

Tentu tak cuma Spurs, klub-klub medioker macam Brentford, Fulham, dan Burnley juga demikian. Meminjam pemain di tengah kebutuhan yang mendesak memang jadi solusi paling ekonomis yang bisa dilakukan.

Beberapa klub juga lebih fokus untuk melepas pemain secara permanen atau pinjaman untuk sedikit meringankan beban gaji. Skema ini cukup gencar dilakukan oleh klub-klub yang memiliki kelebihan pemain muda seperti Brighton atau kelebihan pemain nggak guna seperti Manchester United dan Tottenham.

Manchester United melepas beberapa pemain seperti Donny Van De Beek, Jadon Sancho, Hannibal Mejbri, dan Facundo Pallestri dengan kesepakatan pinjaman. Hal serupa juga dilakukan Spurs. Mereka bahkan melepas sang legenda, yakni Hugo Lloris ke Los Angeles FC.

Mewaspadai “PSR” 

Deloitte Sport Business juga membaca pergerakan beberapa klub Liga Inggris sebagai langkah yang penuh kehati-hatian. Mereka menyimpulkan kalau beberapa klub sedang mengatur ulang keuangan setelah menghabiskan banyak uang di dua periode transfer sebelumnya.

“Setelah memecahkan rekor pengeluaran dalam tiga jendela transfer terakhir di musim panas kemarin, pengeluaran klub-klub Premier League pada Januari ini telah berkurang,” kata Timothy Bridge dari Grup Bisnis Olahraga Deloitte.

Pengeluaran klub-klub Premier League berkurang karena ada kekhawatiran terhadap potensi sanksi karena gagal mematuhi aturan keuntungan dan keberlanjutan yang sudah diterapkan oleh Liga Inggris. 

Ya, klub kaya macam Manchester City, Newcastle United, Aston Villa, hingga Chelsea takut dengan Profit and Sustainability Rules atau bisa disebut PSR. Peraturan ini sebetulnya sudah diterapkan sejak 2013 dan sudah disepakati oleh seluruh klub dalam sebuah voting yang dilakukan oleh operator liga.

Peraturan ini untuk menyamakan kedudukan dan mencegah klub dengan kelompok kepemilikan kaya menghabiskan banyak uang untuk membeli pemain. Artinya, klub hanya diperbolehkan menelan kerugian maksimal di angka 105 juta pound (Rp2 triliun) saja dalam jangka waktu tiga tahun.

Nah, dalam beberapa bulan terakhir, FA dan Premier League sangat sensitif soal isu tersebut. PSR setidaknya sudah memakan dua korban dalam satu tahun terakhir. Kedua klub tersebut adalah Everton dan Nottingham Forest. 

The Toffees yang sudah mengantongi sanksi pengurangan sepuluh poin saja masih dijatuhi dakwaan lagi pada pertengahan Januari kemarin. Hal tersebut yang membuat Everton tak berkutik di bursa transfer Januari kemarin. Manchester City pun dikabarkan tak bisa lepas dari potensi sanksi serupa.

Bersabar Hingga Akhir Musim

Maka dari itu, beberapa klub yang belum terindikasi melakukan pelanggaran, seperti Arsenal, Liverpool, dan Manchester United memilih untuk bersabar dan menghabiskan uang di bursa transfer musim panas. Toh, ketiga klub ini merasa komposisi timnya sudah cukup baik untuk mengarungi sisa musim 2023/24.

Di luar alasan-alasan tadi, di bursa transfer kali ini memang tidak banyak pemain bintang yang tersedia. Kalau ada, pasti harganya mahal. Selain itu beberapa dari mereka juga menghormati kontrak yang ada. Seperti halnya Kylian Mbappe yang ingin merampungkan kontraknya di PSG dan pindah ke Real Madrid secara cuma-cuma di akhir musim nanti.

Sumber: BBC, The Athletic, 90min, Deloitte, New York Times

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru