Kenangan-Kenangan yang Akan Ditinggalkan Jurgen Klopp di Liverpool

spot_img

“I will leave the club, at the end of the season.” Kalimat yang singkat, namun sangat mengharukan bagi fans Liverpool di seluruh dunia. Junjungan mereka, Jurgen Klopp harus mengakhiri pengabdiannya di Anfield akhir musim nanti.

Kemesraan ini akhirnya harus berlalu. Klopp kini harus pergi. Ia nampak sudah lelah. Keputusan ini mengejutkan dan membuat publik Anfield bersedih. Mereka masih berharap, Klopp jangan pergi dulu meninggalkannya. Ya, jasa “The Normal One” sudah terlalu banyak bagi Liverpool.

Keramahan Klopp

Klopp datang ke Anfield di pertengahan musim 2015/16. Dipilihnya Jurgen Klopp termasuk kebijakan yang tepat. Di hari-hari pertamanya melatih, Klopp sudah mencerminkan sosok yang hangat dan cair pada setiap pemain.

Ia juga bukan pribadi yang songong dan show off di depan media. Masih ingat ketika ia menanggapi sosok The Special One yang disandang Mourinho? Klopp malah menyebut dirinya sebagai “I’m The Normal One”.

Kondusifitas tim serta sikap tak neko-neko Klopp, membuat mental pasukan Liverpool tak terlalu oleng pasca ditinggal Rodgers. Selain itu, tak ada konflik atau penentangan dari para pemain terhadap kepemimpinannya.

Kedisiplinan Klopp

Kedisiplinan adalah ruh dari sebuah kesuksesan. Klopp dikenal sebagai teladan soal kedisiplinan sejak di Dortmund. Saat awal melatih di Melwood, tempat latihan Liverpool, ia sudah menerapkan pentingnya kedisiplinan. Baik di luar maupun di dalam lapangan.

Pada Oktober 2015, Klopp sudah berani menerapkan hukum melarang istri atau pacar pemain Liverpool hadir di Melwood. Kabarnya, hukum tersebut masih berlaku hingga sekarang.

Selain itu, soal jam latihan. Intensitas latihan Liverpool di bawah Klopp cenderung padat. Prinsip Klopp sejak awal adalah mengurangi waktu istirahat berlebihan si pemain, yang pernah terjadi di rezim pelatih-pelatih Liverpool sebelumnya.

Klopp juga tak segan menghukum setiap pemainnya kalau lalai terhadap kedisiplinan. Seperti misal menerapkan denda sejumlah uang ketika terlambat datang latihan. Bahkan denda tersebut masih berlaku lho di latihan online via Zoom ketika periode Covid-19.

Gegenpressing

Di bawah Klopp permainan Liverpool banyak perubahan. Intensitas pressing ala Klopp yang dijuluki gegenpressing itu mulai ditanamkan. Itulah pondasi awal yang ditanamkan Klopp pada setiap pemainnya. Klopp sudah mulai menanamkan pentingnya sebuah filosofi dan gaya bermain bagi Liverpool sejak 2015.

Dari segi format, Liverpool yang sering memakai pola 3-5-2 di bawah Rodgers, juga langsung diubah menjadi 4-2-3-1 atau 4-3-3. Perombakan ini bukan tanpa alasan. Anak ideologis Ralf Rangnick ini menilai, Liverpool diyakininya lebih baik dengan formasi empat bek untuk mewujudkan sepakbola gegenpressing.

Hasilnya terbukti, filosofi gegenpressing ala heavy metal-nya, menjadi gaya khas pelatih bertopi itu selama bertahun-tahun menukangi Liverpool.

Mental Juara Liverpool

Selain doktrin filosofi yang berhasil, Klopp juga membangun doktrin lain, yakni mental juara. Pasalnya mental juara tersebut mulai menurun sejak gelar demi gelar luput di era kepemimpinan Roy Hodgson maupun Rodgers.

Mantan pemain Liverpool, Coutinho sempat merasakan sendiri doktrin Klopp soal mental juara tersebut. Ia menyampaikan bahwa bos barunya tersebut dulu selalu menekankan pentingnya mental juara pada setiap pemainnya. Kepercayaan diri dan mental juang meraih gelar tiap musimnya adalah hal yang selalu ia katakan pada sesi latihan.

Ya, mental yang ditanamkan Klopp tersebut perlahan menjangkiti setiap pemainnya. Sebagai bukti, di awal masa kepemimpinannya, Liverpool sudah bisa ia antarkan ke final Piala Liga 2016, final Liga Europa 2016, serta final Liga Champions 2018. Meski semuanya berakhir tanpa trofi, tak dipungkiri level Liverpool di bawah Klopp sudah naik kelas pada tahap “meraih gelar di akhir musim”.

Mengorbitkan Pemain dan Warisan Transfer Klopp

Meraih gelar tentu bukan hal mudah. Sebuah proses yang baik diperlukan untuk mencapainya. Meski sering gagal juara, Klopp selalu tak menyerah begitu saja. Never Give Up, itulah kata-kata Klopp yang selalu dibisikkan pada setiap pemainya.

Namun menurutnya untuk meraih gelar, tak cukup hanya mengandalkan kondusifitas, mental, maupun filosofi bermain saja. Sebuah tim juara pasti butuh pemain hebat.

Klopp hidup di zaman pemilik John W. Henry. Pemilik asal Amerika yang dianggap perhitungan dalam mengeluarkan uang untuk transfer. Namun, dengan segala keterbatasan tersebut, toh nyatanya Klopp bisa memanfaatkan seefektif mungkin transfernya tiap musim.

Nama seperti Sadio Mane, Virgil Van Dijk, Allison, Wijnaldum, Robertson, Fabinho, maupun Mohamed Salah adalah beberapa pemain yang dibeli berkat kejelian seorang Klopp dan timnya. Terbukti dengan pemain-pemain itulah The Reds bergelimang trofi.

Selain pembelian pemain yang efektif, Klopp juga mampu memaksimalkan peran pemain akademi. Contohnya Trent Alexander-Arnold yang disulap menjadi bek kanan terbaik Inggris di usia yang masih sangat muda. Selain Arnold, ada banyak pemain lagi yang diorbitkan Klopp dari akademi seperti Joe Gomez, Curtis Jones, Harvey Elliott, maupun kini Quansah dan Bradley.

Pencapaian Klopp

Menyebut Jurgen Klopp sebagai pelatih terbaik dalam sejarah Liverpool tampaknya tak berlebihan. Pasalnya sudah selayaknya pelatih Jerman tersebut menyandangnya kalau melihat dari capaiannya selama ini di Anfield sejak 2015.

Klopp memiliki tingkat kemenangan tertinggi dari pelatih Liverpool lainnya di semua kompetisi. Rekor tersebut sudah dicatat dalam buku sejarah Liverpool. Persentase kemenangannya mencapai 60,73 %.

Selain itu, yang tak banyak diketahui orang, yakni soal rekor Klopp menciptakan gol di waktu injury time. Mendengar rekor tersebut, pasti semua langsung ingat “Fergie Time”. Tak dipungkiri 26 tahun Fergie di MU terkenal dengan magis gol-nya di injury time.

Namun ternyata, rekor membukukan gol di injury time tersebut telah dilewati oleh Klopp. Menurut Planet Football, Liverpool di bawah Klopp sudah bukukan 17 gol di masa injury time, melewati rekor 16 gol MU di injury time pada masa Fergie. Padahal durasi Klopp melatih Liverpool tak selama Fergie melatih MU.

Dominasinya Atas MU

Meski bukan derby satu kota, rivalitas MU dan Liverpool terbukti sudah mendarah daging sejak dulu. Ketika publik United tersenyum di masa kejayaan Sir Alex Ferguson, mereka sering menertawakan Liverpool yang masih saja puasa gelar Liga Inggris.

Namun sejak datangnya Klopp, situasi itu mulai berubah. Liverpool makin pede jika bertemu United. Di era Klopp, justru rekor kemenangan Liverpool atas MU gemilang. Dari 18 kali pertemuan sejak Oktober 2016, Liverpool menang 7 kali dan hanya 3 kali kalah. Klopp juga tak pernah kalah kala menjamu MU di Anfield. Malah justru dari segi kemenangan yang diraih Liverpool, cenderung diraih dengan skor besar.

Juara Liga Inggris Dan Liga Champions

Tapi justru yang lebih menyakitkan bagi publik MU adalah ketika melihat Liverpool akhirnya bisa meraih mimpi juara Liga Inggris 2020 lalu. Mereka juara setelah puasa 30 tahun lamanya. The Reds sukses meraih gelar Liga Inggris ke-19 dan hanya tertinggal satu gelar saja dari Manchester United.

Penantian indah tersebut bukan satu-satunya bagi Klopp. Di tahun 2019, Klopp sudah persembahkan gelar Liga Champions ke-6 bagi Liverpool. Mengulangi cerita Miracle of Istanbul 14 tahun sebelumnya.

Sungguh indah dan bahagianya Liverpool punya pelatih seperti Klopp. Legacy-nya tak terhitung di Anfield. Tapi, semuanya itu tak akan abadi. Publik Liverpool kini hanya bisa bangga punya pelatih seperti dirinya. Auf Wiedersehen Jürgen!

Sumber Referensi : liverpool.com, anfieldindex, theanalyst, liverpoolecho, fourfourtwo, mirror, aiscore

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru