Derby Madrid: Duel Bernuansa Balas Dendam Politik di Liga Champions 2024/25

spot_img

Pemicu rivalitas antar kedua tim sepakbola tidak selalu berdasar pada kesamaan wilayah semata. Banyak persaingan yang berakar dari perbedaan ideologi, kelas sosial, bahkan faktor sejarah. Namun, bagaimana jika ada derby yang berdasarkan dari itu semua? Berada dalam satu kota yang sama, tapi juga memiliki perbedaan sosial dan sejarah yang beririsan?

Ya, derby yang sedang kita maksud adalah Derby Madrid yang mempertemukan Real Madrid dan Atletico Madrid. Di Spanyol, Derby El Clasico barangkali lebih sering kita bicarakan. Namun, Derby Madrid tak pernah punya hak untuk dikesampingkan. Derby yang satu ini menyimpan intrik, emosi, hingga sejarah yang panjang di dunia sepakbola.

Derby sekota tersaji di kompetisi liga mungkin biasa. Tapi, musim ini Derby Madrid juga tersaji di kompetisi antarklub paling akbar di dunia, Liga Champions. Hasil drawing 16 besar yang dilangsungkan di Swiss memperlihatkan Real dan Atletico harus bertemu di fase tersebut. Real akan berperan sebagai tim tuan rumah terlebih dahulu pada tanggal 5 Maret, disusul Atletico seminggu kemudian.

Terlalu sering bertemu di liga, justru membuat kedua tim diprediksi lebih berhati-hati dalam memainkan sepak bolanya. Lantas, siapa yang akan melaju ke babak berikutnya? Selengkapnya akan kita bahas. 

Kedalaman Skuad Atletico

Sebelum menarik kesimpulan siapa yang layak lolos ke babak berikutnya, kita akan bahas kondisi kedua tim terlebih dahulu. Dimulai dari Atletico Madrid, mereka sedang dalam tren positif di musim 2024/25. Di tengah jadwal yang padat, Atletico mampu tampil konsisten di berbagai ajang. 

Kedalaman skuad yang mewah barangkali jadi pondasi kuat yang membuat Atletico kokoh meski terus dihempas badai. Musim ini, Atletico Madrid memang jadi klub paling rajin di Spanyol soal urusan belanja pemain. Mereka rela menggelontorkan triliunan rupiah untuk memperkuat setiap lini tanpa terkecuali. 

Di sektor pertahanan, Los Colchoneros mendatangkan beberapa nama seperti Robin Le Normand yang ditebus dari Real Sociedad. Lalu ada Juan Musso, serta Clement Lenglet yang didatangkan sebagai pemain pinjaman.

Yang menarik justru komposisi lini serang Atletico Madrid. Dengan dua tambahan pemain baru, yakni Julian Alvarez dan Alexander Sorloth, Atletico memiliki racikan lini depan yang fresh. Kedua pemain itu datang menggantikan Memphis Depay dan Alvaro Morata yang dibiarkan pergi.

Performa Atletico?

Nah, dengan modal kuat itu, akhirnya pasukan Diego Simeone mampu tampil maksimal di setiap laga. Simeone punya keleluasaan untuk merotasi dan membongkar pasang skuadnya sesuai kebutuhan tim. Itu dibuktikan dengan performa tim di La Liga dan Liga Champions. Di kompetisi domestik misalnya, Atletico sedang berusaha mendobrak kenyamanan dua rivalnya, Real Madrid dan Barcelona.

Hingga narasi ini ditulis, dengan dua kekalahan, Atletico masih jadi tim dengan jumlah kekalahan paling sedikit di La Liga. Tak cuma itu, Atletico juga berstatus sebagai tim dengan pertahanan paling kokoh. Mereka baru kebobolan 16 gol dari 25 pertandingan. Namun, mereka nyangkut di urutan ketiga karena terlalu banyak menelan hasil imbang. 

Sementara di UCL, sepak terjang Atletico Madrid musim ini lebih baik dari Real Madrid. Los Rojiblancos mengamankan posisi 16 besar secara langsung tanpa play off. Dari delapan pertandingan di babak penyisihan grup, Atletico menang enam kali dan hanya kalah dua kali. Hasil ini membuat mereka menduduki urutan kelima dengan 18 poin.

Tim yang berhasil dikalahkan pun bukan sembarangan. Dari enam kemenangan, tiga diantaranya diperoleh dari tim-tim raksasa. Atletico menang dengan skor identik 2-1 saat bersua PSG, Bayer Leverkusen, dan RB Leipzig.

Bagaimana dengan Madrid?

Lantas, bagaimana kondisi Real Madrid jelang pertemuan ini? Kedalaman skuad yang dimiliki oleh El Real tidak sebagus Atletico. Yang cukup mengkhawatirkan adalah sektor pertahanan. Bek senior Madrid yang fit cuma dua. Antonio Rudiger dan David Alaba. Khusus Alaba, dirinya belum beroperasi maksimal karena baru pulih dari cedera panjang.

Di sektor bek kanan, Real Madrid bahkan tidak punya pemain pasti yang bisa diandalkan mengisi posisi ini. Dengan cederanya Dani Carvajal, Lucas Vazquez dan Federico Valverde pun bergantian untuk mengisi pos tersebut. Untuk mengatasi keterbatasan pemain, Carlo Ancelotti pun mengorbitkan bek muda berbakat, Raul Asencio. 

Dalam beberapa bulan terakhir, Asencio kerap mengambil peran lebih banyak di lini bertahan Madrid. Pemain berusia 22 tahun itu bahkan jadi pilihan utama Don Carlo saat bersua Manchester City di babak play off 16 besar Liga Champions. Ya, klub yang katanya paling sukses di Eropa itu harus susah payah mengalahkan City untuk lolos ke fase gugur.

Sebelumnya, Rodrygo cs gagal finis di urutan delapan besar karena hanya mengoleksi 15 poin dari delapan pertandingan. Selisih satu poin dari zona aman. Anehnya, Madrid sempat kalah dari tim yang sedang tak stabil di Serie A, AC Milan. Mungkin kemenangan Milan agak berbau keberuntungan. Tapi, laga itu sempat membuat beberapa pengamat sepakbola ragu dengan komitmen Madrid di kompetisi ini.

Madrid Wajah Spanyol di Eropa

Tapi, mau bagaimanapun, Real Madrid unggul segalanya jika dibandingkan dengan Atletico Madrid. Apalagi, jika yang dibicarakan adalah bagaimana reputasi Madrid selama berkompetisi di Liga Champions. Sampai detik ini, Madrid masih berstatus sebagai tim tersukses di kompetisi tersebut. 15 trofi di lemari besi, jelas jadi bukti.

Namun, kejayaan Madrid di Eropa menyimpan kisah yang lebih dalam dari sekadar trofi bergengsi. Kejayaan Madrid tak lahir begitu saja. Itu sudah terbangun, bahkan sejak puluhan tahun lalu. Berstatus klub asal Ibukota Spanyol, Real adalah wajah sepakbola Spanyol di kancah Eropa bahkan dunia.

Madrid mulai menyandang status itu usai mencetak sejarah pada tahun 1950-an. Saat itu, Los Merengues dengan gagah menjuarai Liga Champions yang kala itu masih bernama Piala Champions sebanyak lima kali secara beruntun. Perjalanan luar biasa itu dimulai pada 1956 dengan mengalahkan klub Prancis, Reims dan berakhir di tahun 1960 dengan mengalahkan Frankfurt.

Dalam lima musim Piala Champions itu, El Real mencetak 112 gol dan begitu digdaya di kandang dengan 17 kemenangan. Sejak saat itu, Liga Champions bak sebuah kompetisi yang memang diciptakan untuk Los Merengues

Anak Emas Kerajaan

Lucunya, kejayaan Real Madrid di masa lalu tidak bisa diterima oleh semua pihak. Suara-suara sumbang bermunculan. Salah satu yang populer dan kemudian dianggap masuk akal ialah soal Madrid yang mendapat uluran tangan dari diktator Francisco Franco untuk menguasai jagat bola Spanyol dan Eropa. Asumsi tersebut didasarkan pada kasus transfer Alfredo Di Stefano.

Ada cerita yang berkembang bahwa Franco rela mengeluarkan uang demi menghalangi tim-tim lain agar tidak bisa mendekati Di Stefano yang kala itu masih dipinjamkan River Plate ke Millonarios. Salah satu yang yang disingkirkan adalah Barcelona. Padahal saat itu Barca sampai mengirim utusan untuk melakukan pendekatan langsung dengan pihak River.

Namun, dengan liciknya Franco justru yang tak terima dengan pendekatan Barca langsung kongkalikong dengan Millonarios untuk menggagalkan transfer Di Stefano. Millonarios tiba-tiba mengadukan transfer ini ke federasi sepakbola Spanyol. Menurut pihak klub, pemain bertinggi 178 cm itu masih milik Millonarios. Jadi, Barcelona salah melakukan tindakan karena melakukan negosiasi dengan River Plate.

Real Madrid yang sudah tahu jika Barca dalam masalah, mengambil tindakan. Mereka tahu jika karier Di Stefano sedang dalam ketidakpastian. Pada akhirnya karena keakraban dengan kubu Millonarios, Los Blancos melakukan negosiasi. Kesepakatan pun tercapai. Millonarios setuju jika striker andalan mereka merapat ke Madrid tahun 1953.

Terlepas dari tingkat akurasi kebenarannya, kisah tersebut memperlihatkan simbol kekuatan Franco sebagai pemimpin rezim. Franco membangun banyak pengaruh dengan menggunakan taktik politik di belakang layar guna menegaskan kontrolnya pada sepakbola di negaranya. 

Real Madrid penting bagi diplomasi Franco. Bahkan, kata “Real” di depan nama klub pun diberikan langsung oleh Franco. Itu agar Madrid dapat merefleksikan gagasan tentang Spanyol yang kaya, bahagia, dan bersatu. Kedua, dukungan terhadap Madrid dapat digunakan Franco sebagai kritik terhadap Catalunya dan Basque yang menggunakan sepakbola untuk mengekspresikan identitas budaya serta suar penolakan terhadap rezim.

Sebelum Itu, Atletico Dulu

Namun, untuk tim yang disebut-sebut sebagai favorit kerajaan, Real Madrid sebenarnya tidak terlalu sukses pada tahun-tahun awal La Liga dan rezim Francisco Franco. Meskipun mereka memenangkan gelar pada 1932 dan 1933, mereka butuh waktu yang lama untuk mencapai peak performa.

Sebelum Real menjadi perhiasan yang begitu dibanggakan oleh rezim Franco, Atletico justru yang menjadi anak kesayangan rezim. Bukan tanpa sebab, mengingat sejak 1939 hingga 1947, Atletico punya ikatan kuat dengan Angkatan Udara Spanyol. Dalam hal ini artinya Atletico lebih dulu punya kedekatan dengan rezim ketimbang Real Madrid.

Bukan cuma itu, dengan kuat kaitannya dengan Angkatan Udara, pernah ada suatu masa dimana Atletico Madrid menjadi klub paling berkuasa di Madrid. Atletico pun menuai prestasi di kompetisi domestik di medio 1930-an sampai 1951. Persis tiga tahun sebelum kebangkitan El Real yang dibantu oleh Franco.

Bukannya membukakan jalan kepada Atletico Madrid yang sudah lebih dulu jadi bagian rezim, Franco justru lebih mengandalkan Real Madrid sebagai alat propagandanya. Keputusan krusial ini, bikin Atletico sakit hati. Mereka merasa dianaktirikan. Atletico merasa Real telah merebut kasih sayang Franco.

Emosi itulah yang menjelma jadi DNA di tubuh Atletico Madrid. Dari tahun ke tahun, DNA itu terus ditanamkan ke dalam diri pelatih, staf, pemain, hingga diamini oleh puluhan ribu fans Atletico yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Pada akhirnya, emosi itu selalu dibawa saat Atletico menghadapi Real. 

Bahkan, ada satu kutipan terkenal dari legenda Atletico, Fernando Torres yang begitu jelas menggambarkan semangat ini. Kalimat itu berbunyi, “Fans kami dibelenggu perasaan, fans mereka (fans Madrid) dibelenggu prestasi.” Yang mana artinya, Real selalu bergelimang trofi dengang mengandalkan segala privilege yang ada. Sedangkan Atletico selalu berjibaku untuk membangun reputasi.

Pertemuan di Eropa

Sulit untuk menyebut bahwa rivalitas Real Madrid dan Atletico Madrid hanya didasarkan pada gengsi. Mungkin, dalam beberapa hal itu benar. Namun, lebih dari itu, rivalitas Real dan Atletico adalah pertentangan segala hal yang mungkin dipertentangkan. Dengan sejarah panjang itu pula, jadilah Derby Madrid yang selalu menyuguhkan atmosfer berbeda. 

Di kompetisi La Liga, mungkin kedua tim sudah puluhan bahkan ratusan kali bertemu. Mereka pun saling mengalahkan di setiap pertemuannya. Namun, pertemuan di Liga Champions, layaknya musim ini jadi fenomena yang cukup langka terjadi. Dalam sejarahnya, El Real baru enam kali menghadapi Los Rojiblancos di UCL.

Menurut data Transfermarkt, dari pertemuan-pertemuan tersebut, Real Madrid mendominasi dengan empat kemenangan. Sementara Atletico hanya meraih satu kemenangan, dan satu laga lainnya berakhir imbang. Nah, duel pada awal Maret nanti akan jadi duel ketujuh dan delapan mereka di Eropa. Pertandingan ini diprediksi akan berlangsung sengit dan penuh gengsi

Secara produktivitas gol, Real Madrid pun unggul telak. Dalam enam pertemuan, El Real sudah mencetak 15 gol ke gawang Atletico. Sementara skuad asuhan Diego Simeone baru mampu mencetak tujuh gol ke gawang Real. Dari 15 gol yang dicetak Real, empat diantaranya lahir dari aksi Cristiano Ronaldo. Hingga saat ini, dirinya pun masih jadi top skor Derby Madrid dengan torehan 22 gol.

Head to Head sang Pelatih

Bukan cuma Real Madrid dan Atletico Madrid saja yang sering bertemu satu sama lain. Kedua pelatih yang saat ini menangani masing-masing klub pun tercatat punya sejarah rivalitas yang panjang. Ya, Carlo Ancelotti di Real dan Diego Simeone di Atletico setidaknya pernah 26 kali bersua di berbagai kompetisi.

Mayoritas pertemuan kedua pelatih ini terjadi saat semuanya berkarir di Spanyol. Namun, di antara banyaknya pertemuan, Simeone pernah menghadapi Ancelotti saat pelatih asal Italia itu masih menukangi Bayern Munchen. Pertemuan ini terjadi di babak penyisihan grup Liga Champions musim 2016/17. 

Dalam dua kali pertemuan, Ancelotti menang sekali dan Simeone menang sekali. Secara keseluruhan, head to head dua pelatih kawakan ini juga berimbang. Dari 26 pertemuan, Ancelotti sudah memenangkan sembilan kali pertemuan. Pun demikian dengan Simeone. Delapan laga sisanya berakhir tanpa pemenang.

Atletico atau Real?

Dari head to head kedua tim dan kedua pelatih, sepertinya terlihat cukup berimbang. Namun, jika Atletico Madrid ingin meraih kembali statusnya di hadapan puluhan ribu masyarakat Madrid, maka ini adalah momen yang tepat. Lantas, momen apa yang bisa jadi pembeda di laga ini?

Barangkali permainan late game dan daya juang pemain-pemain Atletico bisa jadi kunci. Musim ini, Atletico sering mencetak gol di babak injury time. Tak jarang, gol itu justru jadi pengunci kemenangan. Contohnya saja saat mengalahkan PSG dengan skor 2-1. Gol Angel Correa di menit 90++ bikin Atletico membawa pulang tiga poin dari Paris.

Selain itu, dukungan dari tim-tim lain di babak 16 besar mungkin bisa jadi suntikan motivasi. Banyak klub yang berharap Atletico bisa menyingkirkan Real Madrid dari perebutan gelar Liga Champions musim ini. Jika tanpa Madrid, persaingan menuju tangga juara pasti akan lebih menarik. Bosen nggak sih, yang juara Madrid mulu? Sekali-kali Atletico. Atau ngga PSV sekalian.

Sumber: Eurosport, Real Madrid, SI, Goal, Kumparan, Tirto

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru