Allez Les Bleus. Perasaan was-was masih menyelimuti kubu Prancis yang masih tak tahu nasibnya bakal menghindari kutukan juara bertahan atau tidak. Namun beberapa masalah yang menimpa skuad mereka perlahan mulai dibereskan. Termasuk gelombang para pilarnya yang mengalami cedera. Dengan kondisi dan performa seperti ini, lantas apakah masih layak menyebut Les Blues akan tetap perkasa di Piala Dunia kali ini?
Daftar Isi
Siapa Ganti Para Pemain Yang Cedera?
Permasalahan gelombang para pemain cedera seakan menghantui Prancis setiap saat. Setelah Kante, Pogba, Maignan, Kimpembe, kini giliran Nkunku dan Benzema.
France are struggling to stay healthy for the 2022 World Cup. 🇫🇷
Out:
Paul Pogba ❌
N’Golo Kante ❌
Christopher Nkunku ❌
Mike Maignan ❌
Presnel Kimpembe ❌Doubtful:
Karim Benzema ⌛️ pic.twitter.com/oc0KEmEHCN
— CBS Sports Golazo ⚽️ (@CBSSportsGolazo) November 19, 2022
Masalah Kante, Kimpembe dan Pogba sudah beres dan sudah diumumkan juga siapa penggantinya. Kemudian penyerang Leipzig, Christopher Nkunku yang juga sudah digantikan oleh penyerang Frankfurt, Randal Kolo Muani.
Khusus Benzema, Deschamps akhirnya berbicara kepada media Prancis bahwa Benzema tidak akan digantikan dengan siapa pun. Artinya, Prancis tetap hanya dengan 25 skuad di Piala Dunia 2022 kali ini.
There will be no replacement for Karim Benzema, France coach Deschamps confirms. 🚨🇫🇷 #Qatar2022
After Kolo-Muani replacing Nkunku, no new changes in France list for the World Cup. pic.twitter.com/j5oELC4791
— Fabrizio Romano (@FabrizioRomano) November 20, 2022
Melihat kedalaman skuad minus para pemain yang gagal tampil, sebenarnya mereka masih layak untuk bertahan lebih lama di Qatar nanti. Kedalaman lini pertahanan dan penyerangan mereka masih tergolong menakutkan. Hal itulah yang seharusnya tetap menjadi modal kepercayaan diri Prancis.
Format Lini Tengah Bekas Juara 2018
Namun yang menjadi soal adalah lini tengah mereka. Mempercayakan pemain seperti Tchouameni dan Camavinga memang adalah terobosan regenerasi yang bagus. Namun dengan kualitasnya yang masih jauh dari Pogba dan Kante, harusnya Deschamps segera kerja keras mencari solusi lain untuk mengatasi permasalahan ini.
Bagaimanapun lini tengah adalah kelemahan utama Les Bleus di Piala Dunia kali ini. Tanpa tiga pilar bekas juara dunia 2018, yakni Pogba, Kante, dan Matuidi, membuat kekuatan Prancis sebagian berkurang signifikan.
[#EDF🇫🇷] Pogba🇫🇷 et Matuidi🇫🇷 avec leur bague de Champion du monde 💍 pic.twitter.com/rj1i2amlvq
— Footballogue (@Footballogue) March 20, 2019
Komposisi lini tengah Prancis sejak di Nations League sering inkonsisten. Walaupun ada Kante maupun Pogba. Kita tahu meskipun Kante dan Pogba kualitasnya adalah pemain bintang, namun di level klub mereka sama-sama menurun performanya dan sering diganggu cedera musim ini.
Artinya memang sudah seharusnya Deschamps menyiapkan “Plan B” untuk komposisi lini tengah mereka. Namun dengan segala eksperimen yang dicoba, hasilnya ternyata kurang memuaskan. Dari enam laga terakhir mereka di Nations League hanya sekali menang, dua kali seri, dan tiga kali kalah.
Mereka ketika itu menggunakan komposisi gelandang yang berubah-ubah. Para gelandang yang dibawa Deschamps ke Piala Dunia kali ini seperti Tchouameni, Fofana, Rabiot, Guendouzi, maupun Camavinga terus dicoba kombinasinya.
FEATURE | France World Cup midfield options: Who will replace Paul Pogba and N’Golo Kanté? 🇫🇷
🖊️ @LukeEntwistle
🔗➡️ https://t.co/osaCgQrPiV pic.twitter.com/ezvlAg495A— Get French Football News (@GFFN) November 19, 2022
Untuk mengatasi inkonsistensi gelandangnya, Deschamps nampaknya segera harus kembali pada pola tiga gelandangnya seperti pada Piala Dunia 2018. Dengan komposisi tiga gelandang sekaligus, lebih memungkingkan menciptakan keseimbangan dalam menyerang maupun bertahan.
Mengubah salah satu dari Camavinga atau Rabiot yang berkaki kiri untuk menjadi penjaga kedalaman di sayap kiri adalah solusi. Dengan begitu, di sisi kiri penyerangan akan lebih didominasi Fullback kiri mereka, yakni Theo maupun Lucas Hernandez.
LUCAS 🫂 THEO
Così Lucas Hernandez in conferenza stampa a proposito del Mondiale che giocherà con suo fratello Theo 🇫🇷
Vi piacerebbe vederli giocare insieme? 🤝🏻#theohernandez #milanpress pic.twitter.com/3e4LTb5z4a
— MilanPress.it (@MilanPress_it) November 19, 2022
Kedua Fullback kiri yang punya kemampuan menyerang yang lebih baik, akan lebih nyaman untuk merangsek ke depan tanpa harus memikirkan lini pertahanan. Karena areanya sudah otomatis di-backup oleh salah satu dari Rabiot atau Camavinga.
Empat Bek Deschamps
Pola taktik yang fleksibel dari Deschamps seperti inilah yang patut ditunggu. Ia pernah berhasil ketika di Rusia 2018 lalu. Ketika itu di Matchday pertama, ia hanya menggunakan double pivot yakni Pogba dan Kante saja. Kemudian di partai selanjutnya, ia menambah Matuidi sebagai gelandang ekstra yang ditempatkan di sisi kiri. Harusnya, di Piala Dunia kali ini Deschamps perlu mencoba untuk menerapkannya lagi.
🔴 Didier Deschamps pourrait aligner un 4-2-3-1 contre l’Australie ! 🇫🇷
Adrien Rabiot occuperait le coté gauche, dans un rôle comparable à celui de Blaise Matuidi en 2018.
(L’Équipe) pic.twitter.com/PPGjMuuIdu
— Footballogue (@Footballogue) November 17, 2022
Tak dipungkiri, Deschamp setelah sukses di Piala Dunia 2018 telah membuat kesalahan. Kesalahan ketika ia beralih dari pakem empat bek menjadi tiga bek. Eksperimen pola tiga beknya di babak knockout Euro 2020 yang lalu, dapat dikatakan sebagai eksperimen yang gagal. Begitupun apa yang ia teruskan ketika di Nations League. Hasilnya juga kacau. Prancis tak lolos ke Final Four dan hanya menang sekali.
🇫🇷Didier Deschamps’ France over the last year;
🗓️Oct 2021-Wins 1st UEFA Nations League Finals without losing a single game
🗓️Sep 2022-Finish 3rd in their group with only 5 points out of 18 points.
🤔Next:FIFA World Cup Qatar 2022#DENFRA|#France|#NationsLeague pic.twitter.com/jATe8WCFAt
— FIFA World Cup Stats (@alimo_philip) September 25, 2022
Maka dari itu, Deschamps pun sudah legowo dan mengakui kesalahanya. Jelang Piala Dunia, ia pun sempat menunjukan gelagat untuk memakai pola empat bek lagi. “Saya tidak menggunakan sistem tiga bek lagi. Bukan hanya karena daftar pemain yang ada. Namun keputusan ini melalui beberapa refleksi yang panjang,” kata Deschamps pada laman resmi France Football Federation.
Didier Deschamps has announced that France will play with a back four at the World Cup. 🇫🇷 pic.twitter.com/ptv0rlwVYP
— Football Tweet ⚽ (@Football__Tweet) November 9, 2022
Percaya Komposisi Lini Depan Bekas Juara 2018
Dengan format empat bek, Prancis juga nantinya akan lebih cair dalam membangun serangan. Ditambah stok para penyerangnya yang masih tergolong mumpuni meskipun ditinggal Nkunku dan Benzema.
Kita tahu pola 4-2-3-1 milik Deschamps yang sukses di Piala Dunia 2018 itu, lini depannya diisi oleh para pemain seperti Mbappe di kanan, Giroud di ujung tombak, dan Griezmann sebagai second striker. Tak dipungkiri, sistem itulah yang membuat Les Bleus stabil selama di Rusia.
Comme en 2018, notre attaque sera entre vos pieds Grizou, Kik’s et Gigi.
Faites nous rêver encore une fois, on croit en vous. ❤️🇫🇷 pic.twitter.com/yUAdzhBaYx
— BeFootball (@_BeFootball) November 19, 2022
Sedangkan di Euro 2020 yang lalu, ketika ditambah dengan adanya Benzema malah mereka terbukti gagal total. Deschamps harusnya tetap percaya diri menggunakan komposisi penyerangan bekas juara 2018. Toh di bangku cadangan masih ada beberapa alternatif macam Dembele maupun Koman.
Yang paling menonjol tentu dengan hadirnya kembali Giroud sebagai starter di lini penyerangan Prancis. Fungsinya sebagai pemantul bola sekaligus pembuka ruang, terbukti menciptakan kenyamanan sendiri bagi Griezmann maupun Mbappe untuk lebih banyak mencetak gol.
Lawan Yang Tak Terlalu Berat Di Grup
Jika melihat lawan yang ada di Grup, harusnya dengan materi seperti ini mereka akan tetap bisa menjadi juara grup. Australia dan Tunisia di atas kertas tak terlalu meyakinkan kekuatannya. Hanya Denmark yang akan jadi musuh alot bagi mereka.
🇫🇷😰 Will France be the latest victim of ‘the Curse of the Champions’ in Group D? 🇩🇰🇦🇺🇹🇳
— FIFA World Cup (@FIFAWorldCup) November 15, 2022
Parameter pembuktian kekuatan Prancis yang sesungguhnya harusnya mulai bisa dilihat dari partai melawan Tim Dinamit ini. Inilah sebenarnya yang dijuluki sebagai partai balas dendam.
Pasalnya di Nations League musim ini, Prancis pernah dijungkalkan Denmark dua kali. Di Piala Dunia 2018 yang lalu, meskipun jadi juara, Prancis juga belum bisa mengalahkan Denmark ketika di fase grup.
France in the 2022 Nations League:
▪️ 2-1 loss to Denmark
▪️ 1-1 draw vs. Croatia
▪️ 1-1 draw vs. Austria
▪️ 1-0 loss vs. Croatia
▪️ 2-0 win vs. Austria
▪️ 2-0 loss vs. DenmarkRough for the holders 😬 pic.twitter.com/N40omTUJgZ
— B/R Football (@brfootball) September 25, 2022
Mungkin inilah saatnya bagi Prancis untuk menuntaskan dendamnya. Sekaligus di Grup D ini Prancis harus bisa mengungguli Denmark apa pun caranya agar mereka menjadi juara grup. Karena nasib mereka akan terancam ketika hanya menjadi runner up. Mengingat kemungkinan mereka akan berhadapan dengan juara Grup C yang diprediksi akan ditempati oleh tim kuat Argentina.
Mengembalikan format lini tengah bekas juara 2018, komposisi penyerang bekas juara 2018, dan lawan di grup yang tak terlalu kuat, adalah beberapa indikator yang membuat asa Prancis terhindar dari kutukan gugur di fase grup akan semakin besar.
Sumber Referensi : theathletic, sportingnews, sportingnews, skysports


