Dengan Faktor Ini, Masihkah Prancis Sangar di Piala Dunia 2022?

spot_img

Allez Les Bleus. Perasaan was-was masih menyelimuti kubu Prancis yang masih tak tahu nasibnya bakal menghindari kutukan juara bertahan atau tidak. Namun beberapa masalah yang menimpa skuad mereka perlahan mulai dibereskan. Termasuk gelombang para pilarnya yang mengalami cedera. Dengan kondisi dan performa seperti ini, lantas apakah masih layak menyebut Les Blues akan tetap perkasa di Piala Dunia kali ini?

Siapa Ganti Para Pemain Yang Cedera?

Permasalahan gelombang para pemain cedera seakan menghantui Prancis setiap saat. Setelah Kante, Pogba, Maignan, Kimpembe, kini giliran Nkunku dan Benzema.

Masalah Kante, Kimpembe dan Pogba sudah beres dan sudah diumumkan juga siapa penggantinya. Kemudian penyerang Leipzig, Christopher Nkunku yang juga sudah digantikan oleh penyerang Frankfurt, Randal Kolo Muani.

Khusus Benzema, Deschamps akhirnya berbicara kepada media Prancis bahwa Benzema tidak akan digantikan dengan siapa pun. Artinya, Prancis tetap hanya dengan 25 skuad di Piala Dunia 2022 kali ini.

Melihat kedalaman skuad minus para pemain yang gagal tampil, sebenarnya mereka masih layak untuk bertahan lebih lama di Qatar nanti. Kedalaman lini pertahanan dan penyerangan mereka masih tergolong menakutkan. Hal itulah yang seharusnya tetap menjadi modal kepercayaan diri Prancis.

Format Lini Tengah Bekas Juara 2018

Namun yang menjadi soal adalah lini tengah mereka. Mempercayakan pemain seperti Tchouameni dan Camavinga memang adalah terobosan regenerasi yang bagus. Namun dengan kualitasnya yang masih jauh dari Pogba dan Kante, harusnya Deschamps segera kerja keras mencari solusi lain untuk mengatasi permasalahan ini.

Bagaimanapun lini tengah adalah kelemahan utama Les Bleus di Piala Dunia kali ini. Tanpa tiga pilar bekas juara dunia 2018, yakni Pogba, Kante, dan Matuidi, membuat kekuatan Prancis sebagian berkurang signifikan.

Komposisi lini tengah Prancis sejak di Nations League sering inkonsisten. Walaupun ada Kante maupun Pogba. Kita tahu meskipun Kante dan Pogba kualitasnya adalah pemain bintang, namun di level klub mereka sama-sama menurun performanya dan sering diganggu cedera musim ini.

Artinya memang sudah seharusnya Deschamps menyiapkan “Plan B” untuk komposisi lini tengah mereka. Namun dengan segala eksperimen yang dicoba, hasilnya ternyata kurang memuaskan. Dari enam laga terakhir mereka di Nations League hanya sekali menang, dua kali seri, dan tiga kali kalah.

Mereka ketika itu menggunakan komposisi gelandang yang berubah-ubah. Para gelandang yang dibawa Deschamps ke Piala Dunia kali ini seperti Tchouameni, Fofana, Rabiot, Guendouzi, maupun Camavinga terus dicoba kombinasinya.

Untuk mengatasi inkonsistensi gelandangnya, Deschamps nampaknya segera harus kembali pada pola tiga gelandangnya seperti pada Piala Dunia 2018. Dengan komposisi tiga gelandang sekaligus, lebih memungkingkan menciptakan keseimbangan dalam menyerang maupun bertahan.

Mengubah salah satu dari Camavinga atau Rabiot yang berkaki kiri untuk menjadi penjaga kedalaman di sayap kiri adalah solusi. Dengan begitu, di sisi kiri penyerangan akan lebih didominasi Fullback kiri mereka, yakni Theo maupun Lucas Hernandez.

Kedua Fullback kiri yang punya kemampuan menyerang yang lebih baik, akan lebih nyaman untuk merangsek ke depan tanpa harus memikirkan lini pertahanan. Karena areanya sudah otomatis di-backup oleh salah satu dari Rabiot atau Camavinga.

Empat Bek Deschamps

Pola taktik yang fleksibel dari Deschamps seperti inilah yang patut ditunggu. Ia pernah berhasil ketika di Rusia 2018 lalu. Ketika itu di Matchday pertama, ia hanya menggunakan double pivot yakni Pogba dan Kante saja. Kemudian di partai selanjutnya, ia menambah Matuidi sebagai gelandang ekstra yang ditempatkan di sisi kiri. Harusnya, di Piala Dunia kali ini Deschamps perlu mencoba untuk menerapkannya lagi.

Tak dipungkiri, Deschamp setelah sukses di Piala Dunia 2018 telah membuat kesalahan. Kesalahan ketika ia beralih dari pakem empat bek menjadi tiga bek. Eksperimen pola tiga beknya di babak knockout Euro 2020 yang lalu, dapat dikatakan sebagai eksperimen yang gagal. Begitupun apa yang ia teruskan ketika di Nations League. Hasilnya juga kacau. Prancis tak lolos ke Final Four dan hanya menang sekali.

Maka dari itu, Deschamps pun sudah legowo dan mengakui kesalahanya. Jelang Piala Dunia, ia pun sempat menunjukan gelagat untuk memakai pola empat bek lagi. “Saya tidak menggunakan sistem tiga bek lagi. Bukan hanya karena daftar pemain yang ada. Namun keputusan ini melalui beberapa refleksi yang panjang,” kata Deschamps pada laman resmi France Football Federation.

Percaya Komposisi Lini Depan Bekas Juara 2018

Dengan format empat bek, Prancis juga nantinya akan lebih cair dalam membangun serangan. Ditambah stok para penyerangnya yang masih tergolong mumpuni meskipun ditinggal Nkunku dan Benzema.

Kita tahu pola 4-2-3-1 milik Deschamps yang sukses di Piala Dunia 2018 itu, lini depannya diisi oleh para pemain seperti Mbappe di kanan, Giroud di ujung tombak, dan Griezmann sebagai second striker. Tak dipungkiri, sistem itulah yang membuat Les Bleus stabil selama di Rusia.

Sedangkan di Euro 2020 yang lalu, ketika ditambah dengan adanya Benzema malah mereka terbukti gagal total. Deschamps harusnya tetap percaya diri menggunakan komposisi penyerangan bekas juara 2018. Toh di bangku cadangan masih ada beberapa alternatif macam Dembele maupun Koman.

Yang paling menonjol tentu dengan hadirnya kembali Giroud sebagai starter di lini penyerangan Prancis. Fungsinya sebagai pemantul bola sekaligus pembuka ruang, terbukti menciptakan kenyamanan sendiri bagi Griezmann maupun Mbappe untuk lebih banyak mencetak gol.

Lawan Yang Tak Terlalu Berat Di Grup

Jika melihat lawan yang ada di Grup, harusnya dengan materi seperti ini mereka akan tetap bisa menjadi juara grup. Australia dan Tunisia di atas kertas tak terlalu meyakinkan kekuatannya. Hanya Denmark yang akan jadi musuh alot bagi mereka.

Parameter pembuktian kekuatan Prancis yang sesungguhnya harusnya mulai bisa dilihat dari partai melawan Tim Dinamit ini. Inilah sebenarnya yang dijuluki sebagai partai balas dendam.

Pasalnya di Nations League musim ini, Prancis pernah dijungkalkan Denmark dua kali. Di Piala Dunia 2018 yang lalu, meskipun jadi juara, Prancis juga belum bisa mengalahkan Denmark ketika di fase grup.

Mungkin inilah saatnya bagi Prancis untuk menuntaskan dendamnya. Sekaligus di Grup D ini Prancis harus bisa mengungguli Denmark apa pun caranya agar mereka menjadi juara grup. Karena nasib mereka akan terancam ketika hanya menjadi runner up. Mengingat kemungkinan mereka akan berhadapan dengan juara Grup C yang diprediksi akan ditempati oleh tim kuat Argentina.

Mengembalikan format lini tengah bekas juara 2018, komposisi penyerang bekas juara 2018, dan lawan di grup yang tak terlalu kuat, adalah beberapa indikator yang membuat asa Prancis terhindar dari kutukan gugur di fase grup akan semakin besar.

Sumber Referensi : theathletic, sportingnews, sportingnews, skysports

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru