Ketika Brazil Terhindar dari Kutukan Juara Bertahan di Fase Grup

spot_img

Di setiap perhelatan Piala Dunia, sebagian orang menyebut bahwa “kutukan” itu nyata adanya. Bagaimana tidak? Akhir-akhir ini setiap para juara bertahan disangsikan untuk berhasil di edisi berikutnya. Itu sudah terjadi sejak Prancis gagal di Piala Dunia 2002. Mereka bahkan gagal di fase grup. Anehnya, hingga edisi terakhir di tahun 2018 yang lalu, sebagian besar para juara bertahan juga bertumbangan di babak fase grup.

Namun tidak dengan tim nasional Brazil. Mereka adalah salah satu negara yang terhindar dari “kutukan” itu. Bahkan dulu Brazil sejak jaman Pele, pernah melakukan “back to back” menjadi juara dunia pada tahun 1958 dan 1962.

Piala Dunia 1994 Juara, Piala Dunia 1998 Runner Up

Brazil di pertengahan tahun 90-an juga hampir mengulangi kisah yang sama. Mereka hampir saja melakukan “back to back” juara Piala Dunia. Yakni di Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat, dan Piala Dunia 1998 di Prancis.

Berawal dari Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Brazil ketika itu berhasil menggondol gelar ketiganya. Tim Samba pada waktu itu juga mengakhiri penantian panjang puasa gelar selama 24 tahun, sejak terakhir kali mereka menjuarai Piala Dunia 1970.

Ketika itu Brazil dilimpahi banyak pemain bintang. Mulai dari Dunga, Bebeto, sampai Romario. Melangkah mulus dari babak grup, anak asuh Carlos Alberto Parreira itu pun mampu mulus melaju ke partai puncak.

Di babak final, Tim Samba mampu menghentikan perjuangan tim kuat Italia lewat adu tendangan penalti. Kegagalan penalti Roberto Baggio ketika itu menjadi sangat ikonik.

Menapaki Piala Dunia di edisi berikutnya yakni di Prancis 1998. Skuad Brazil makin tambah matang. Mereka difavoritkan publik dunia untuk mempertahankan gelarnya. Publik Brazil sendiri pun berharap kisah “back to back” menjadi juara dunia di Piala Dunia 1958 dan 1962 bakal terulang kembali.

Berbekal materi sebagian besar bekas juara 1994 seperti Bebeto, Dunga maupun Romario, skuad Selecao asuhan Mario Zagallo juga ditambah amunisi kekuatan para bintang baru. Mereka adalah Ronaldo Nazario, Rivaldo, Cafu, Roberto Carlos, Denilson maupun Edmundo.

Kutukan kegagalan juara bertahan di edisi Piala Dunia selanjutnya pun tak berlaku saat itu bagi Brazil. Mereka justru mampu tampil dominan di fase grup. Sampai akhirnya generasi bintang emas Brazil itu mampu kembali tampil ke partai puncak melawan sang tuan rumah Prancis. Namun sayang, gelar “back to back” yang diimpi-impikan itu harus ditunda. Mereka menyerah oleh keperkasaan tuan rumah Prancis dengan skor telak 3-0.

Piala Dunia 2002 Juara, Piala Dunia 2006 Perempatfinal

Nah, kutukan yang banyak diomongin banyak orang selama ini tentang juara bertahan, baru muncul di Piala Dunia 2002. Di Korea Jepang, secara tak terduga juara dunia 1998 Prancis gugur di fase grup. Mereka bahkan menjadi juru kunci di bawah Senegal, Denmark dan Uruguay.

Padahal secara skuad, Prancis ketika itu juga tak jauh beda dengan skuad juara dunia 1998. Artinya Prancis tak mampu menyamai pencapaian Brazil sebelumnya. Brazil selalu konsisten mencapai partai puncak sejak dari Piala Dunia 1994 hingga Piala Dunia 2002.

Sementara itu, Brasil di Piala Dunia 2002 datang dengan skuad yang bisa dibilang baru. Bintang mereka yang tersisa di Piala Dunia 1998 hanya Roberto Carlos, Cafu, Ronaldo maupun Rivaldo. Selebihnya diisi muka baru macam Ronaldinho, Gilberto Silva, Lucio, Kleberson maupun sang pelatihnya, Luiz Felipe Scolari.

Perjalanan skuad racikan Scolari di 2002 pun berjalan dengan mulus dan tak terkalahkan di fase grup. Pola permainan Jogo Bonito ala Brazil pun terlihat mempesona. Selecao akhirnya mampu kembali mencapai partai puncak.

Brazil ditantang wakil Eropa, Jerman. Brazil pun berhasil mewujudkan gelar ke limanya. Kegacoran Ronaldo Nazario sangat iconic di Piala Dunia waktu itu. Jerman pun menyerah 2-0 atas Brasil.

Berlanjut pada edisi Piala Dunia selanjutnya yakni 2006 di Jerman. Perbincangan mengenai kutukan yang dialami Prancis di 2002 pun kembali menyeruak. Brazil sebagai juara bertahan diprediksi akan mengalami nasib yang sama dengan apa yang dialami Prancis ketika gugur di fase grup Piala Dunia 2002.

Brazil menuju 2006 masih dengan sebagian besar skuad juara dunia 2002. Hanya ada beberapa penambahan pemain macam Emerson, Ze Roberto, Kaka maupun Adriano.
Namun dari segi pelatih, mereka ada perubahan. Brazil tak lagi dilatih Luiz Felipe Scolari. Penggantinya yakni Carlos Alberto Parreira. Pelatih yang pernah menjuarai Piala Dunia bersama Brazil di tahun 1994.

Dengan komposisi skuad seperti itu, Brazil diprediksi kembali menjuarai Piala Dunia untuk keenam kalinya. Namun ketika itu muncul sinisme, kalau para superstar yang berkumpul di skuad Brazil ketika itu akan kesusahan karena ego masing-masing yang tinggi.

Namun sinisme yang diprediksi banyak orang pun terpatahkan. Brazil justru dengan skuad bertabur bintangnya itu mampu mulus melibas lawan-lawannya di babak grup. Kroasia, Australia, dan Jepang mereka tumbangkan. Selecao melaju dari grup dengan nilai sempurna dan menyandang sebagai juara grup.

Kutukan yang dialami Prancis di 2002 pun tidak berlaku bagi Brazil. Namun itu tak serta merta menghilangkan perbincangan tentang kutukan. Perbincangan kutukan itu pun akhirnya kembali menyeruak ketika Brasil terhenti langkahnya di babak perempat final.

Setelah mengalahkan Ghana di 16 besar, Ronaldinho dan kawan-kawan kandas di babak perempatfinal oleh Prancis. Saat itu, gol semata wayang Thierry Henry-lah yang bisa memulangkan Brasil dari Jerman.

Namun sekali lagi yang perlu dicatat, meskipun Brazil adalah juara bertahan yang selalu gagal “back to back” juara, baik di Piala Dunia 1998 maupun Piala Dunia 2006, namun mereka selalu terhindar dari keguguran di babak fase grup.

Juara Bertahan Lainnya Terbukti Selalu Terhenti Di Fase Grup

Nasib Brazil berbeda dengan negara-negara lainnya yang menjadi juara bertahan. Tradisinya mereka selalu gagal di fase grup. Bahkan hal itu masih berlaku hingga edisi terakhir Piala Dunia Rusia 2018.

Dimulai dari Prancis yang gagal di fase grup Piala Dunia 2002. Italia di Piala Dunia 2010, Spanyol di Piala Dunia 2014, dan terakhir Jerman di Piala Dunia 2018. Sampai sekarang, hanya Brazil yang mampu terhindar dari kutukan gugur di fase grup. Mereka mampu menjawabnya di Piala Dunia 1998 dengan menjadi runner up, dan di Piala Dunia 2006 sampai babak perempat final.

Nah, di edisi Piala Dunia Qatar 2022 kali ini, apakah Perancis sebagai juara bertahan akan mengulangi kisah kutukannya di Piala Dunia 2002 dengan gugur di fase grup, atau jangan-jangan Perancis malah bisa meniru kisah Brazil yang terhindar dari kutukan gugur di fase grup?

Sumber Referensi : goal, bbc, mirror, talksport, sportskeeda, skysports

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru