Tidak berlebihan bila menyebut Jose Mourinho sebagai si mulut besar. Pedas kala mengkritik dan menohok kala menasihati. Akan tetapi, suka atau tidak, banyak omongan The Special One yang jadi kenyataan. Salah satunya perihal Dele Alli.
Pada September 2020, Amazon Prime Video merilis serial dokumenter olahraga berjudul “All or Nothing: Tottenham Hotspur”. Berisi 9 episode, serial tersebut berisi dokumentasi perjalanan Tottenham Hotspur di musim 2019/2020.
Dalam sebuah adegan, Jose Mourinho, yang kala itu menggantikan Mauricio Pochettino, memanggil Dele Alli ke ruangannya. Keduanya terlibat perbincangan personal dengan manajer asal Portugal tersebut menasihati anak asuhnya agar berupaya lebih keras supaya tak menyesal di kemudian hari.
“Saya berusia 56 tahun sekarang dan kemarin saya berusia 20 tahun. Waktu berlalu. Dan saya pikir, suatu hari kamu akan menyesalinya, jika kamu tidak mencapai apa yang dapat kamu capai,” ujar Mourinho kepada Alli di tahun 2020.
“Saya tidak berharap kamu menjadi pemain terbaik di setiap pertandingan. Saya tidak berharap kamu mencetak gol di setiap pertandingan. Saya hanya ingin memberi tahumu bahwa saya pikir kamu akan menyesal.”
“Kamu harus menuntut lebih dari dirimu sendiri, bukan aku yang menuntut lebih darimu. Bukan siapa pun. Kamu. Kamu yang harus menuntut lebih dari dirimu sendiri,” kata Mourinho dikutip dari Marca.
Kini, rekaman tersebut kembali viral dan mungkin sudah ratusan ribu kali diputar. Penyebabnya sederhana, apa yang dikatakan Jose Mourinho nyaris 3 tahun silam mulai terbukti. Setelah terbuang ke Besiktas di usia 26 tahun, nasib Dele Alli masih bisa menjadi lebih parah lagi.
If you don’t love Jose Mourinho after watching this video, then you must be related to Players like Dele Alli and Paul Pogba who never listened..
— Ibukun Aluko (@IbkSports) August 16, 2022
Dele Alli, Mantan Pesepak Bola Berharga 100 Juta Euro
Sebelum bernasib seperti hari ini, dulu Bamidele Jermaine Alli atau yang lebih kita kenal dengan nama Dele Alli adalah seorang wonderkid. Ia sempat masuk radar Liverpool dan Bayern Munchen tak lama setelah membantu MK Dons membantai MU 4-0 di ajang Piala Liga 2014/2015.
Namun, Alli yang kala itu berusia 18 tahun memilih berlabuh ke Tottenham Hotspur yang memberinya kontrak lima setengah tahun. Dana 5 juta pounds digelontorkan Spurs demi memenangkan perburuan Dele Alli di awal Februari 2015. Sebuah harga yang cukup murah bagi gelandang muda serba bisa yang sudah jadi langganan timnas muda The Three Lions.
Alli tetap menghabiskan sisa musim bersama MK Dons di League One. Setelah mencetak 24 gol dan 15 asis dalam 88 penampilan, barulah dirinya resmi berseragam The Lilywhites di musim 2015/2016.
Musim tersebut jadi debut manis Dele Alli di Premier League. Spurs membuat iri para pesaingnya, sebab Alli yang masih berusia 19 tahun terpilih sebagai PFA Young Player of the Year dan PFA Team of The Year usai mencetak 10 gol dan 9 asis di Premier League. Capaian serupa berhasil ditorehkan Dele Alli di musim keduanya usai mencatat 18 gol dan 9 asis di Liga Inggris.
Just five years ago, Dele Alli became the first player to win consecutive PFA Young Player of the Year awards since Wayne Rooney 😲 pic.twitter.com/M0qwAZoXDX
— ESPN UK (@ESPNUK) August 25, 2022
Prestasi dan performa apik yang ditorehkan di dua musim tersebut membuat nama Dele Alli langsung jadi incaran banyak klub top Eropa. Real Madrid adalah yang paling serius. Madrid menjadikan Dele Alli sebagai target transfer setelah gelandang serang bertinggi badan 188 cm itu dua kali membobol gawang Madrid dalam kemenangan 3-1 Tottenham Hotspur di pertandingan babak grup Liga Champions, 11 November 2017.
Akan tetapi, hambatan terbesar mereka adalah harga. Dilansir dari Telegraph, ketua klub Daniel Levy “tidak mau menjual Alli bahkan untuk harga 100 juta pounds”.
Singkat cerita, di akhir musim 2017/2018 atau tepatnya pada 28 Mei 2018, harga pasaran Dele Alli benar-benar menyentuh angka 100 juta euro. Harga tersebut tercatat bertahan hingga 19 Desember 2018. Sayangnya, musim itu juga jadi penanda penurunan performa Dele Alli.
Alli hanya mencetak 14 gol 17 asis dalam 50 caps di musim 2017/2018. Setelahnya, ia hanya menorehkan 7 gol dan 8 asis dalam 38 penampilan. Memang, di musim tersebut cedera mengganggunya, tetapi hal tersebut tak menampik kalau dirinya memang inkonsisten.
Sempat membaik di periode pertama Jose Mourinho dengan torehan 9 gol dan 6 asis di musim 2019/2020, performa Dele Alli kembali inkonsisten jelang musim baru. Itulah yang memicu Mourinho untuk menasihati Dele Alli. Namun sepertinya, nasihat itu tak didengar.
Dele Alli terus kehilangan menit bermainnya, baik di era Nuno Espirito Santo maupun Antonio Conte. Puncaknya, pada akhir Januari 2022, ia dilepas secara gratis ke Everton.
Dulu Jose Mourinho, Kini Giliran Frank Lampard yang Mengeluh
Pergi ke Goodison Park, kebangkitan yang diharapkan tidak terjadi. Justru, sebuah cerita lama terulang kembali. Alih-alih memperbaiki diri, Alli malah mengecewakan Frank Lampard, sosok yang memberinya tempat di Everton.
Sepanjang kampanye musim 2021/2022, mantan pemain inti Inggris di Piala Dunia 2018 itu hanya sanggup mencetak 2 gol dan 1 asis. Performa menyedihkan di satu musim itu sudah cukup untuk membuat Everton kapok.
Harry Redknapp told Frank Lampard to sign Dele Alli but admits move was a ‘disaster’ pic.twitter.com/gYFOOTzwaW
— The Hitman Tipster (@hitman_tipster) September 3, 2022
Dele Alli kemudian dilepas ke Besiktas di bursa transfer 2022. Ia dipinjamkan selama semusim penuh dengan opsi pembelian permanen.
Tak lama setelah transfer tersebut, Lampard mengutarakan keluh kesahnya. Ternyata, mirip dengan mantan bosnya di Chelsea, ia juga sempat memperingatkan Dele Alli tentang risiko kariernya yang sia-sia apabila Dele Alli tak kembali fokus dan latihan.
“Setelah bekerja sama dengannya selama satu periode, saya harus mengatakan bahwa dia benar-benar perlu memahami hubungan antara latihan dan fokus dengan apa artinya bagi performa di level tertinggi. Saya bukan orang suci, tapi saya tahu apa yang bisa dilakukan lewat latihan dan fokus, dan itu adalah sesuatu yang harus dia camkan. Jika dia bisa, itu bukan hanya hal yang hebat baginya, tetapi juga bagi rekan-rekan setim di sekitarnya dalam skuad,” kata Frank Lampard, dikutip dari The Guardian.
Dicemooh Fans, Besiktas Cari Jalan Untuk Melepas Dele Alli
Mampu bermain di semua posisi di lini tengah, bahkan menjadi winger ataupun playmaker, Alli seharusnya bisa menjadi world class player, seperti itu pula harapan banyak orang kepadanya. Maka dari itu, terbuang ke Turki di usia yang baru menyentuh 26 tahun menjadi sebuah ironi bagi bakat besar Dele Alli.
Sayangnya, ironi tersebut belum selesai. Terasing ke Turki memang membuat Dele Alli mampu sejenak menepi dari media dan tekanan besar di Inggris. Namun, sorotan kembali tertuju kepadanya usai pelatih Besiktas, Senol Gunes mengaku muak dengan Dele Alli.
“Jangan membahas Dele Alli, dia di bawah ekspektasi dalam hal efisiensi,” begitu kata Senol Gunes pada awal November tahun lalu. Gunes pantas muak, sebab mantan pemain Spurs tersebut hanya menorehkan 1 gol dalam 7 pertandingan Liga Super Turki.
Senada dengan Gunes, General Manager Besiktas, Ceyhun Kazanci juga bingung bagaimana cara mengembalikan performa terbaik Dele Alli.
“Tidak ada yang bisa menjawab apakah Dele Alli bisa melakukannya sekarang. Dia bekerja sangat keras. Dia adalah pemain yang mencapai 100 juta euro tiga tahun lalu. Dia mengalami kejatuhan,” kata Ceyhun Kazanci dikutip dari Talksport.
Setelah komentar tersebut, Dele Alli diparkir di 4 pertandingan beruntun di Liga Super Turki. Ia baru kembali di laga Piala Turki kontra klub Divisi 3, Sanliurfaspor, Kamis 21 Desember 2022. Sayangnya, laga itu seperti jadi puncak jatuhnya karier Dele Alli di Turki.
🇹🇷 I hope things can change for Dele Alli in Turkey.
Last night, with his side losing 2-0 in the cup at home to a team from the third division, he was hooked off on 30 mins to a less than favourable reception.
Besiktas turned it around and won 4-2. pic.twitter.com/EHmMO87qQR
— English Players Abroad (@EnglishAbroad1) December 22, 2022
Alli yang menjadi starter hanya merumput selama 29 menit. Ia ditarik keluar Senol Gunes setelah Besiktas tertinggal 2-0. Di momen tersebut, para suporter Besiktas menyoraki dan mencemooh Dele Alli. Tanpa Dele Alli, Besiktas sanggup membalikkan keadaan dan menang 4-2.
Berkaca dari kejadian tersebut, rasanya sulit untuk menyelamatkan karier Dele Alli. Besiktas sendiri santer dikabarkan berniat mengakhiri peminjaman Dele Alli, tetapi Everton sebagai klub induk juga ogah menampung.
🦅❌ Beşiktaş wish to terminate Dele Alli’s loan but Everton don’t want him back either. It is likely he will remain the season in Turkey, reports @sabahspor. pic.twitter.com/M8ZsBHCBsI
— EuroFoot (@eurofootcom) January 6, 2023
Sementara harian Sabah mengklaim kalau Besiktas juga mempertimbangkan untuk mencarikan Alli klub di Timur Tengah atau Asia. Namun, Alli dikabarkan tidak tertarik.
Satu-satunya jalan adalah bertahan di Besiktas, meski pemilik 37 caps bersama timnas Inggris tersebut sudah kehilangan tempatnya di tim Black Eagles. Dele Alli tidak bisa bermain di klub Eropa lainnya di sisa musim ini karena sudah membela Everton dan Besiktas.
Kini, peringatan Jose Mourinho benar-benar jadi kenyataan. Seharusnya, Alli jadi pihak yang paling menyesal. Itu pun kalau dia sadar diri, sebab jika membaca lagi keterangan Mourinho, Lampard, dan terbaru Senol Gunes, dia sendiri lah yang menghancurkan kariernya.
Dulu, Dele Alli boleh berbangga diri karena pernah dihargai 100 juta euro. Namun kini, Dele Alli tak ubahnya sebuah paket yang tak diakui siapa pun.
Apa yang terjadi dengan Dele Alli adalah bukti, kalau “Tuhan tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
https://youtu.be/lchM7aX_1dc
***
Referensi: Marca, BBC, BleacherReport, The Guardian, Goal, Talksport, Inside Futbol, Sky Sports.


