Belum lama ini Juventus dihajar Chelsea 0-4 di laga lanjutan Liga Champions Eropa. Juventus yang melawat ke London sebetulnya sangat percaya diri mampu meladeni penampilan Chelsea yang tengah impresif. Mereka tampil dengan skuad penuh.
Tapi sayang, kepercayaan diri saja tidaklah mencukupi. Chelsea, bagaimanapun tampak lebih matang. Gol- dari pemain muda The Blues menjadi buktinya.
Trevoh Chalobah (22 tahun), Reece James (21), dan Callum Hudson-Odoi (21) membuka pesta gol The Blues lewat golnya masing-masing di menit ke-25, 56, dan 58. Sedangkan pada proses gol keempat yang dicetak Timo Werner menit ke-90, ada peran Ruben Loftus-Cheek, pemain jebolan akademi Chelsea. Ia terlibat melalui sebuah gerakan kaki indah untuk memberi assist kepada Hudson-Odoi sebelum ditutup oleh sang pemain asal Jerman.
CHELSEA 4 vs Juventus 0 and the LAST 16 here we come 💪🏻💙⚽️#CFC | #UCL | #PRIDE | #CTID pic.twitter.com/wYSQE4kcot
— Chelsea Pride ⭐️⭐️ (@ChelseaPride_) November 23, 2021
Kekalahan atas Chelsea yang mengandalkan para pemain muda, membuat Juve mengalami masa terkelam. Ini adalah kekalahan paling telak yang pernah dialami Juventus di Liga Champions. Sekaligus kali pertama Si Nyonya Tua kalah dengan margin empat gol di semua kompetisi sejak menyerah 0-4 dari Roma di Serie A pada Februari 2004.
Sementara bagi Chelsea sendiri, kemenangan itu selain menempatkan mereka di tangga teratas Grup H UCL, juga pertanda baik. Itu artinya, pemain jebolan akademi mereka berkembang pesat. Selain skill yang diperlihatkan, mental menghadapi tim besar dan di kompetisi besar tidak menjadi masalah.
Maka benar apa yang disampaikan komentator sepakbola, Rio Ferdinand, bahwa Chelsea telah menuai hasil dari membangun akademi dengan dana yaang tentu saja tidak sedikit. Chelsea, khususnya di tangan Thomas Tuchel berhasil menemukan formula kemenangan dengan para pemain muda.
“Selama bertahun-tahun Chelsea telah berinvestasi pada pemain muda. Namun, mereka tidak memiliki manajer yang percaya diri seperti Frank dan Thomas sekarang,”
“Mereka telah bertahan dan mereka telah berhasil. Mereka contoh positif dari pembinaan yang berhasil, hingga bisa melenggang ke tim utama, dan memberikan pengaruh besar,” kata Ferdinand.
Mengenal Akademi Cobham
Talenta hebat yang dihasilkan Chelsea, tidak bisa lepas dari akademi mereka, Akademi Cobham. Ketika penggemar sepak bola hanya mengenal nama La Masia hingga School van De Toekomst, Chelsea diam-diam juga mempunyai akademi yang tak kalah mumpuni.
9 academy players featured for Chelsea this season.
Mason Mount
Reece James
Callum Hudson-Odoi
Billy Gilmour
Andreas Christensen
Tammy Abraham
Fikayo Tomori
Ruben Loftus-Cheek
Faustino AnjorinCobham. The Champions. 🏆🔵 pic.twitter.com/6IJNS1ht77
— Football Talent Scout – Jacek Kulig (@FTalentScout) May 29, 2021
Cobham menjadi satu elemen penting bagi perkembangan klub. Ketika bos Roman Abramovich datang pada tahun 2003 silam, fasilitas di akademi Chelsea menjadi perhatian Roman. Dia memiliki misi untuk membangun fasilitas Cobham demi mendapatkan bakat terbaik dari akademi sendiri.
Setelah melalui berbagai proses, pembangunan Cobham mulai dilakukan pada tahun 2005. Dua tahun berselang, segala perbaikan telah mencapai tahap akhir dan diumumkan bakal segera beroperasi.
“Kami sangat dekat dengan puncak kerja keras selama bertahun-tahun untuk menemukan dan membangun fasilitas yang merupakan kunci masa depan klub, dan akan menjadi salah satu yang paling hebat di dunia.” kata Peter Kenyon, CEO Chelsea pada 2007.
Setahun kemudian, Cobham benar-benar mencapai tahap final dan secara resmi pembangunannya telah selesai.
Canggih, mungkin menjadi kata yang tepat untuk menggambarkan betapa berkualitasnya fasilitas Cobham. Lokasi yang dekat dengan pedesaan membuat Cobham terasa nyaman dan jauh dari kata bising, seperti yang sempat dikritik oleh Frank Leboeuf, mantan pemain bintang Chelsea.
Melalui dana sebesar 390 miliar rupiah, lahan seluas 140 hektar diisi oleh sebanyak 37 lapangan, 6 diantaranya memiliki ukuran yang sama persis dengan Stamford Bridge. Lebih lanjut, di sana juga terdapat 3 lapangan yang memiliki pemanas bawah tanah.
Roman Abramovich benar-benar serius dalam mengembangkan fasilitas Cobham. Hal itu terbukti, selain lapangan yang tersedia, baik itu indoor maupun outdoor, juga terdapat fasilitas lainnya seperti pusat rehabilitasi dan gedung medis.
Cobham juga menyediakan pusat kebugaran atau gimnasium (gym), sauna, kolam renang air dingin, ruang uap dan sebuah kolam hidroterapi HydroWorx.
Dalam proses pembangunannya, Cobham tak lupa untuk memperhatikan keselarasan lingkungan. Artinya, mereka mengikuti peraturan pemerintah yang tidak memperbolehkan untuk membuat bangunan lebih tinggi dari area sekitar. Maka dari itu, sepertiga dari bangunan Cobham terletak di bawah tanah.
Untuk menghemat penggunaan listrik, Cobham memanfaatkan sebuah parit besar untuk memantulkan cahaya ke dalam ruangan bawah tanah.
Prestasi Pemain Muda Chelsea
Dengan fasilitas memadai, melalui data yang dilansir CIES Football Observatory, Chelsea menjadi tim ke-9 bersama dengan Manchester United dan AS Monaco soal menelurkan pemain muda yang berlaga di 5 liga top Eropa.
Sebelum ada Cobham, tim muda Chelsea tidak pernah menjuarai berbagai kompetisi junior. Setelah itu, baru di musim 2010/11, Chelsea duduk sebagai juara kompetisi Premier League U23 sebanyak dua kali. Mereka hanya kalah dari tim muda Manchester United yang sukses meraih juara sebanyak 3 kali.
Selain Premier League U23, Chelsea juga sempat menjadi jawara di kompetisi Premier League U18. Mereka berhasil mengoleksi sebanyak dua gelar, dan hanya kalah dari Manchester City yang memimpin dengan tiga gelar.
Chelsea U23 Talents 🤩🔵 pic.twitter.com/Ly1G69ApGc
— ARIN (@bluesempireCFC) June 14, 2021
Selain kompetisi tersebut, tim muda Chelsea juga beberapa kali mampu menjuarai ajang FA Youth Cup. Tak hanya di level domestik, ajang UEFA Youth League pun sukses mereka libas sebanyak dua kali, di mana raihan itu hanya kalah dari FC Barcelona yang berhasil memenangkannya sebanyak tiga kali.
Pemain Jebolan Akademi Chelsea
Prestasi yang diraih tentu merupakan buah dari kerja keras para pemain berkualitas. Chelsea, dalam hal ini, telah menelurkan banyak sekali pemain berkelas melalui akademi mereka. Sebut saja Daniel Sturridge, Ryan Bertrand, Nathan Ake, Kurt Zouma, Ruben Loftus-Cheek, Andreas Christensen, Fikayo Tomori, Tammy Abraham, sampai Mason Mount.
Para pemain jebolan akademi Chelsea biasanya akan dipinjamkan terlebih dahulu ke tim lain demi mendapat jam terbang. Ketika dirasa cocok untuk tampil bersama tim utama, maka Chelsea akan memulangkan dan memasukkannya ke tim utama.
Akan tetapi tidak sedikit dari mereka yang kemudian memang berjaya di klub lain, misalnya Fikayo Tomori yang akhirnya dijual. Pemain jebolan akademi Chelsea itu sukses berkarier di Italia bersama AC Milan setelah sebelumnya hanya dilepas melalui status pinjaman.
💰 Chelsea have raised more than £50m from the sales of Fikayo Tomori and Tammy Abraham to Serie A this summer
💪 The Cobham Academy strikes again pic.twitter.com/hhyjXNagvA
— WhoScored.com (@WhoScored) August 17, 2021
Chelsea tentu saja tidak merugi, walau kehilangan salah satu bakat terbaik mereka. Pasalnya, dalam melepas Tomori mereka tidak hanya membiarkannya pergi begitu saja, melainkan juga mendapat dana sebesar 25 juta pounds atau Rp 480 miliar dari raksasa Italia sebagai tebusan.
Hal serupa juga dialami oleh pemain lain. Jadi, meski terkadang tidak mendapat manfaat dari pemain akademi secara langsung, Chelsea tetap mendapat cuan dari pemain yang dihasilkan.
Sumber referensi: Marca, Peluit Panjang, Tribun


